Sosok Giorgio Agamben, Filsuf Italia (1942-…)

http://www.babelio.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Lahir pada 1942, Agamben kini menjadi sosok ternama dalam konteks filsafat Italia.[1] Ia banyak menulis tentang teori-teori politik dengan menggunakan sudut pandang yang khas. Pemikirannya mempengaruhi wacana politik kontemporer di level internasional. Ia belajar filsafat dan hukum di Universitas Roma. Tesis doktoralnya berisi tentang pemikiran politik Simone Weil. Ia juga sempat belajar dari Martin Heidegger, terutama dalam kuliah-kuliah Heidegger tentang Hegel dan Herakleitos. Agamben telah mengajar di banyak universitas, terutama di Italia, Prancis, AS, dan Swiss.

Karya-karya Agamben tidak memiliki arah perkembangan ide yang jelas. Sebaliknya, ia berusaha untuk menanggapi berbagai persoalan politik yang muncul di dunia dengan cara-cara yang tak tertebak. Dalam hal ini, ia banyak terinspirasi dari gaya pemikiran Walter Benjamin, filsuf asal Jerman yang hidup pada awal abad 20. Di sisi lain, Agamben juga banyak mengambil inspirasi dari pemikiran Heidegger, Carl Schmidt, Aristoteles, Hannah Arendt, dan Hegel.[2] Tidak hanya dari dunia filsafat, Agamben juga banyak mempelajari karya-karya sastra Eropa, seperti yang telah ditulis oleh Kafka, Dante, dan Caproni.

Perpaduan antara gaya berpikir ketat ala filsafat, dan gaya menulis yang memikat ala sastra, memberikan sentuhan yang khas pada gaya menulis dan berpikir Agamben. Semua ini digunakannya untuk memikirkan terobosan-terobosan konseptual di bidang politik, etika, linguistik, filsafat sejarah, humanisme, serta metafisika.[3] Lebih jauh dari itu, Agamben memberikan terobosan di dalam filsafat politik dengan pemikirannya tentang biopolitik, kekuasaan, dan konsep “sekedar hidup” (bare life). Pada level metafisika dan filsafat bahasa (linguistik), argumen-argumennya tentang representasi simbol (bahasa) dan subyektivitas manusia mengajak kita mempertanyakan ulang, apa atau siapa itu manusia, dan mengapa kita berbahasa?[4] Kontribusinya semakin jelas, ketika ia mengangkat aspek negativitas di dalam setiap konsep yang kita pakai dalam berpikir dan berbahasa. Saya akan jelaskan argumen ini lebih jauh nanti.

Agamben menulis dengan gaya yang sulit, karena memang ide yang ia sampaikan amat halus dan rumit, sehingga hampir tak mungkin untuk dibahasakan secara sederhana, tanpa kehilangan kedalaman maknanya. Kesulitan juga muncul, karena ia seringkali menggunakan begitu banyak sumber dalam tulisannya, terutama sumber-sumber yang memang agak asing di kalangan filsuf kontemporer, yakni pemikiran para filsuf renaisans Italia. Perpaduan antara pemikiran filosofis Hegel, Heidegger, dan Benjamin serta pemahaman humanistik para sastrawan renaisans digunakan oleh Agamben untuk mengamati berbagai fenomena kehidupan manusia, mulai dari estetika, agama, politik, budaya, hukum, dan moral. Di dalam bukunya yang berjudul The End of the Poem and Stanzas, Agamben, sebagaimana diamati oleh Mills, memulai bukunya dengan puisi cinta karangan Stilnovo.[5]

Gaya menulis Agamben mirip dengan gaya menulis Heidegger dan Derrida. Ia berusaha untuk mengungkap apa yang ada di belakang teks ke hadapan pembaca, sehingga pembaca tidak hanya terfokus pada apa yang terkatakan, tetapi juga pada apa yang tak terkatakan. Ia menunda kepastian makna teks, dan mengajak pembaca untuk melihat suatu masalah dengan cara baru, dengan gaya bahasa yang baru. Sebagaimana dicatat oleh Mills, buku-buku Agamben seringkali amat pendek, kadang tidak lebih dari 150 halaman. Namun, ide-ide yang ia ajukan, juga dengan gaya menulisnya, seringkal memprovokasi kita untuk berpikir secara berbeda tentang masalah-masalah yang sama. Dengan mencampurkan gaya sastra yang indah dan memikat dengan argumen-argumen filosofis yang rasional dan ketat, Agamben “mendorong filsafat dari batas-batasnya sendiri.”[6]

Semua ini membuat kita sulit menemukan sistematika yang jelas di dalam karya-karya Agamben. Yang lebih kelihatan, seperti dicatat oleh Mills, adalah gaya berputar pada satu masalah untuk melihat kemungkinan-kemungkinan lain di dalam memahami masalah tersebut. Ia seringkali melengkapi, dan bahkan mengubah, pandangannya tentang satu hal di dalam tulisan-tulisan berikutnya. Dengan demikian, “kita”, demikian tulis Mills, “bisa menemukan jaringan konseptual yang padat sekaligus terhubung, tetapi tidak dengan cara yang linear”[7] di dalam pemikiran Agamben. Jaringan tersebut, yakni keterhubungan antara satu konsep dan konsep lainnya di dalam pemikiran Agamben, tidak langsung tampak, melainkan tersembunyi di dalam teks-teks yang ia tulis. Tugas kitalah sebagai pembaca untuk menafsirkan teks-teks tersebut, merangkai maknanya, mencari relevansinya, dan memberikan tanggapan kritis atasnya.

Mills memberikan contoh yang menarik, terkait dengan gaya menulis dan gaya berpikir Agamben. Ia pernah mengajukan pertanyaan berikut, apakah artinya, bahwa “saya berbicara”? Di dalam pertanyaan tersebut, terkandung dua hal, yakni pengandaian, bahwa saya bisa berbicara, dan pengandaian, bahwa saya bisa berbahasa. Pertanyaan berikutnya adalah, jika saya bisa berbicara, dan berbicara mengandaikan bahasa, apa arti dari bahasa? Apa artinya menjadi mahluk (manusia) yang mampu berbahasa dan berbicara? Lebih dalam lagi, apa artinya “saya”?

Sekilas, pada hemat saya, pertanyaan-pertanyaan ini kelihatan tidak masuk akal. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang amat mendasar, dan amat perlu untuk dipikirkan ulang, karena ini menjadi fondasi yang paling dalam dari semua pemahaman kita tentang manusia, moral, politik, dan bahkan seni. Semua bidang kehidupan manusia, mulai dari ekonomi, seni, pendidikan, politik, dan hukum, mengandaikan adanya pemahaman tertentu tentang apa dan siapa itu manusia, serta apa perannya di dalam dunia ini. Sebelum memasuki refleksi-refleksi yang lebih lanjut tentang bidang-bidang itu, Agamben mengajak kita untuk memikirkan ulang fondasi dari seluruh pemahaman kita manusia, yang menjadi subyek sekaligus tujuan dari semua jenis ilmu pengetahuan.[8] Konsep-konsep di dalam pemikiran Agamben berikutnya akan saya jabarkan di dalam tulisan selanjutnya.


[1] Untuk selanjutnya, saya terinspirasi dari uraian yang cukup otoritatif dari Internet Encylopedia of Philosophy http://www.iep.utm.edu/agamben/ 16 Mei 2012, 9.07.

[2] Ibid, “his work constitutes an elaborate and multifaceted recursive engagement with the problems introduced into Western philosophy by the highly original and often enigmatic works of Walter Benjamin, most notably in his book on German trauerspiel, The Origins of German Tragic Drama, but also in associated essays and fragments, such as his “Critique of Violence.” This is not to say that Agamben is not influenced by, nor engaged with, a number of other canonical or contemporary figures in Western philosophy and political, aesthetic and linguistic theory. He certainly is, most notably Heidegger and Hegel, as well as the scholarship that follows from them, but also Aby Warburg’s iconography (Agamben worked at the Warburg Institute Library in 1974-5), Italian Autonomism and Situationism (especially Guy Debord’s influential Society of the Spectacle), Aristotle, Emile Benveniste, Carl Schmitt and Hannah Arendt amongst others..”

[3] Ibid, “This breadth of reference and the critical stylistics it gives rise to no doubt contribute to the appearance of intimidating density characteristic of Agamben’s work. Even so, Agamben’s engagement with these figures is often mediated by his deep conceptual and thematic debt to Benjamin (he served as editor of the Italian edition of Benjamin’s collected works from 1979 to 1994) evident in his central focus on questions of language and representation, history and temporality, the force of law, politics of the spectacle, and the ethos of humanity.”

[4] Untuk selanjutnya, saya terinspirasi dari Mills, Catherine, The Philosophy of Agamben, McGill-Queen University Press, 2008, hal pertama bagian Introduction. In the process, his complex and philosophically dense reflections on contemporary prob­ lems of sovereignty, biopolitics and ethics have transformed the terms of much of the critical discourse of radical theory. Terms such as sovereignty, the exception, biopolitics and life can scarcely be used today withOlit re­ ference to Agamben. Moreover, his approach to questions of language, subjectivity and representation has reoriented discussion away from the deconstructive approach that has largely dominated in the Anglo-American context of late.”

[5] Ibid, “There are several sources of this complexity, the first of which is sim­ ply its breadth of reference. In often sharp contrast to most contemporary philosophers and theorists, Agamben is perhaps more akin to the classical learned figure of the ltalian Renaissance – schooled in various fields of study, including aesthetics, religion, politics, law and ethics, rigorously faithful to the original text, and studiously attentive to philological detail.”

[6] Ibid, “Additionally, and more importantly, over the past several decades Agamben has used various literary forms within ostensibly philosophical texts in what is ultimately a complex exercise in pushing philosophy to its limits.”

[7] Ibid, “In this way, there is a densely interconnected conceptual web, but no (more or less linear) system as such.”

[8] Ibid, “One of these concerns, and arguably the most central one, is the question of what it means to say “1 speak”. Agamben himself indicates the centrality of this problem in his self-interpretation offered in the preface to the English translation of Infancy and History. While such self-interpretations are not always to be taken at face value, in this case it is unquestionably accurate. The question of what it means to say “1 speak” crystallizes a number of threads of enquiry that run throughout Agamben’s œuvre. The most obvious of these is the question of language itself: what is language and what is it to speak? What is it to be a being that has language? What is ”l” ? These questions yield several sets of problems for Agamben and, in his view, have immeasurable consequence across fields such as politics, ethics and aesthetics.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s