Filsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Demokrasi Kita

humansoul.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Filsafat adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan. Ini adalah pernyataan faktual historis. Selama lebih dari 2500 tahun, filsafat mewarnai pemikiran dan kebudayaan Eropa, dan nantinya mempengaruhi seluruh dunia, seperti kita rasakan sekarang ini. Oleh karena itu, sampai sekarang, gelar pendidikan tertinggi masih menggunakan kata Philosophy Doctor (Ph.D) di negara-negara berbahasa Inggris, atau Doktor der Philosophie (Dr. phil) di negara-negara berbahasa Jerman.

Di sisi lain, walaupun sumbangannya dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia tak bisa lagi diragukan, filsafat, sebagai displin akademik, terutama di Indonesia, mendapat amat sedikit perhatian. Beberapa orang berpikir, bahwa filsafat adalah sejenis mistik, dan terkait dengan dunia perdukunan. Beberapa orang lain berpikir, bahwa filsafat adalah hamba agama, maka harus selalu dipelajari dalam kaitan dengan agama. Tempat terhormat yang dulu diduduki filsafat, sebagai alat utama manusia untuk memahami dunia, kini digantikan oleh ilmu pengetahuan.

Filsafat dan Sains

Yang pasti adalah filsafat tidak terkait dengan dunia mistik, atau perdukunan. Filsafat juga tidak selalu terkait dengan agama, walaupun ada kajian filsafat agama. Filsafat juga berbeda dengan sastra, karena filsafat menekankan pencarian rasional untuk mendapatkan pengetahuan yang sifatnya intersubyektif. Dan yang terakhir, sebagaimana ditekankan oleh Julian Friedland, filsafat bukanlah salah satu cabang dari ilmu pengetahuan. Filsafat memiliki metode yang unik untuk memahami dunia, dan menghasilkan pengetahuan yang unik pula tentang dunia.

Sekarang ini, aliran saintisme bertumbuh pesat. Aliran ini berpendapat, bahwa hanya ilmu pengetahuan yang bisa mengantarkan manusia pada kebenaran tentang kehidupan, pikiran, manusia, dan alam. Pandangan ini begitu kuat tertanam di dalam dunia ilmu pengetahuan sekarang ini. Bahkan, banyak filsuf yang sekarang ini mengabdikan dirinya untuk mengabdi pada satu jenis ilmu pengetahuan. “Penelitian yang mereka lakukan”, demikian tulis Friedland, “biasanya berfungsi untuk menajamkan tombak ilmu pengetahuan, atau pembalut untuk membuat hasil penelitian ilmiah lebih diterima masyarakat umum.” (Friedland, 2012)

Ilmu pengetahuan, dengan pendekatannya yang bersifat kuantitatif dan eksperimental, merasa menjadi satu-satunya jalan untuk sampai pada kebenaran. Tidak ada alternatif lain. Seni, agama, filsafat, dan budaya hanya merupakan jalan-jalan sekunder yang statusnya lebih rendah daripada ilmu pengetahuan. Pada hemat saya, sejalan dengan Friedland, filsafat juga bisa menawarkan kebenaran yang sifatnya rasional dan intersubyektif (dipahami dan berguna bagi banyak orang). Bahkan, dalam banyak hal, pengetahuan yang ditawarkan filsafat jauh lebih rasional dan “berguna” untuk memperbaiki kehidupan banyak orang.

Pengetahuan Khas

Pengetahuan apa yang ditawarkan oleh filsafat? Jika ilmu pengetahuan bergulat dengan data hasil eksperimen yang sifatnya sementara, filsafat sibuk dengan analisis rasional dan logis tentang suatu konsep yang bisa menawarkan suatu bentuk pengetahuan yang lebih menyeluruh dan tahan lama. Pendekatan semacam ini, menurut Friedland, jika dilakukan dengan baik, akan menghasilkan pengetahuan yang sifatnya intersubyektif, dan berguna untuk menciptakan kebaikan bersama bagi banyak orang. Ia menulis begini, “Pengukuran ilmu pengetahuan pada prinsipnya selalu dapat diubah tergantung pada pengamatan atau uji coba lain di masa datang. Sementara, argumen filosofis yang bagus seringkali mencapai tingkat keabadian”, dalam arti tahan lama, dan mencerahkan banyak orang. (Friedland, 2012)

Saya amat setuju dengan pendapat ini. Inilah sebabnya, saya amat menyukai filsafat, karena di dalamnya banyak terkandung argumen-argumen dan pengetahuan-pengetahuan yang amat dalam, yang bertahan lama, dan mencerahkan kehidupan. Sementara, ketika belajar ilmu pengetahuan, kita akan berpijak pada pengetahuan yang sifatnya terbatas, relatif, dan selalu berubah. Sejentik perubahan di dalam realitas akan membuat seluruh bangunan ilmu pengetahuan berubah, dan kita harus mulai dari “awal” lagi.

Dalam konteks era sekarang, menurut Friedland, filsafat harus menggunakan pendekatannya yang khas untuk membantu memahami dan memecahkan masalah-masalah kehidupan sekarang ini. Tugas filsafat adalah sebagai “penjaga akal budi”, yakni sebagai penjamin, bahwa akal budi manusia selalu digunakan secara maksimal untuk mencoba memahami dan memecahkan masalah-masalah kehidupan. Jika ilmu pengetahuan berurusan dengan fakta, maka filsafat berurusan dengan fakta sekaligus nilai yang memandu kehidupan manusia. Fakta dibangun dari eksperimen, sementara nilai dibangun dari analisis rasional dan logis atas konsep-konsep yang digunakan dalam hidup manusia.

Demokrasi Kita

Filsafat jelas amat dibutuhkan di dalam mempertahankan dan mengembangkan iklim demokrasi di Indonesia. Pada hemat saya, demokrasi kita terlalu “ilmiah”, dalam arti terlalu terpaku pada fakta, dan lupa berpijak pada nilai. Kita dibutakan oleh data dan fakta, serta lupa, bahwa kepemimpinan adalah soal membangun nilai sebagai dasar dan arah kehidupan bersama, dan bukan keterpakuan pada fakta-fakta kering kuantitatif semata, yang sifatnya amat sementara, labil, dan kerap kali menyesatkan, karena tidak sesuai dengan apa yang sesungguhnya terjadi.

 
Pengetahuan filosofis bisa menyediakan hal itu. Dengan melalui analisis yang logis dan rasional terkait dengan konsep-konsep yang penting untuk kehidupan bersama kita, seperti konsep keadilan, kemiskinan, korupsi, kepemimpinan, demokrasi, dan bahkan soal seks, kita bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih kokoh dan berguna untuk mengarahkan kebijakan-kebijakan publik yang ada.  Kita bisa hidup dengan nilai serta harapan yang rasional, dan tak lagi terjebak pada data ataupun fakta yang memang mengenaskan, ketika dipandang mata.

Diinspirasikan dan dikembangkan dari tulisan Julian Friedland, Philosophy Is Not a Science – NYTimes.com http://opinionator.blogs.nytimes.com/2012/04/05/philosophy-is-not-a-science/ 25 April 2012

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 thoughts on “Filsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Demokrasi Kita”

  1. setidaknya saya beruntung karena saya bisa belajar filsafat dan saya mendapatkan banyak hal dari pelajaran tersebut. terutama pemikiran2 yg tidak pernah saya tahu sebenarnya. ada satu pernyataan di dalam pikiran saya, menurut bapak berarti apakah ilmu pengetahuan itu semu?

    Suka

    1. Semu dalam arti sementara dan rapuh. Filsafat juga bisa berubah, namun argumennya memang lebih mantap, dan tahan lama. Segala di dunia ini semu. Ada beberapa yang sungguh semu, seperti gosip. Ada yang lebih dekat dengan kebenaran, seperti sains dan filsafat.

      Suka

  2. ikut nimbrung lagi pa Reza.apa iya sains bisa dimasukkan sebagai domain yang dekat dengan kebenaran, padahal dalam tulisan di atas disebutkan pengetahuan bergulat dengan data eksperimental yang sifatnya sementara? kebenaran tentatif?
    jika nilai yang hilang dalam menentukan dan merumuskan suatu kebenaran, maka semestinya sains tidak mesti dimasukan sebagai domain yang dekat dengan kebenaran. Hal ini yg sy tahu telah terjadi semenjak Comte menyemaikan paham positivisnya dan menolak mentah-mentah filsafat.
    jangan-jangan demokrasi menjadi mitos baru yang angkuh dan tidak bisa disentuh oleh nilai di seluarannya seperti juga sains. demokrasi=sains?

    Suka

    1. Apapun yang ada di tangan manusia tidak akan bisa sampai pada kebenaran yang mutlak, termasuk sains dan filsafat. Tentang kaitan antara demokrasi dan sains, saya pikir, tentu saja, pola berpikir saintifik amat membantu pengembangan demokrasi. Yang terjadi di Indonesia, pola berpikir saintifik tak berkembang, dan demokrasi juga jalan di tempat. Hubungan keduanya memang masih perlu untuk diteliti lebih dalam.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s