Kisah “Kasih” Jono dan Sinta

http://maa9.files.wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Namanya adalah Jono. Ia tinggal di sebuah kota besar di Indonesia. Sama seperti banyak anak remaja lainnya, Jono punya banyak teman, baik di sekolah, maupun di kampung tempat tinggalnya. Sejak SMP, ia sering berkumpul bersama teman-temannya.

Di waktu senggang, mereka merokok bersama. Siapa yang tidak merokok akan dianggap lemah, cemen. Jono pun ikut merokok. Ia membeli rokok dari uang jajan yang diberikan oleh orang tuanya, atau meminta dengan paksa dari adik kelasnya yang lebih lemah.

Jono sebenarnya anak pemalu, terutama jika bergaul dengan perempuan. Namun, jika ia bersama teman-temannya, sambil merokok, ia sering menggoda perempuan yang kebetulan lewat di depannya. Ya, sama seperti anak muda lainnya, Jono takut jika sendirian, namun berani jika bersama-sama temannya.

Sama seperti banyak anak muda lainnya di Indonesia, Jono tak peduli soal kebersihan. Sehabis jajan, ia sering membuang sampahnya di jalan raya, walaupun sudah diajarkan berkali-kali, bahwa sampah itu merusak keindahan kota, dan menjadi penyebab utama terjadinya banjir di kota-kota besar.

Puntung rokok pun ia buang di got paling dekat. Akhirnya, ketika hujan deras, got rumahnya mampet. Rumahnya pun banjir. Jono tetap tak peduli. Yang penting ia bisa tetap tampak jagoan di hadapan teman-temannya.

Jono juga suka naik motor. Sebenarnya, ia tak punya SIM, dan tak ada rencana untuk mengurusnya. Seringkali, ia naik motor tanpa helm. Ia juga senang sekali mengebut. Lampu lalu lintas tak dipedulikannya. Di malam hari, ia juga suka naik motor bertiga dengan teman-temannya, bahkan kadang-kadang berempat. Ia tak peduli keselamatan orang lain dan dirinya, selama ia bisa tampak seperti jagoan di hadapan teman-temannya.

Jono juga suka telat, jika berjanji. Ia selalu telat mengumpulkan tugas sekolahnya. Akibatnya, nilainya jelek. Jika janjian untuk berjumpa dengan temannya, bukan Jono namanya, jika ia tidak datang telat, lama setelah semua teman-temannya datang. Jono tetap tak peduli.

Sama seperti anak-anak muda Indonesia pada jamannya, Jono tak suka politik. Ia malas berpikir yang sulit-sulit. Ia lebih senang nongkrong, nonton sinetron murahan, film bioskop murahan, atau pergi ke mall dengan uang pas-pasan. Ketika Pemilu dan Pilkada sudah mulai, Jono siap menjual suaranya pada penawar tertinggi yang biasanya memberikan makanan, kaos, dan uang sekedarnya.

Di dalam perjalanan hidupnya, Jono bertemu Sinta, calon istrinya.

Perjumpaan

Sinta adalah tipikal anak perempuan Indonesia pada umumnya yang tinggal di kota-kota besar. Sedari kecil, ia suka sekali menonton film Korea dengan cerita romantis, serta aktornya yang, menurutnya, cakep-cakep. Ia juga suka nonton film sinetron di malam hari, walaupun ceritanya tak kreatif, dan akting para aktor dan aktrisnya amat jelek.

Sinta amat mencintai agamanya. Segala sesuatu dikaitkan dengan agamanya. Jika ditanya pendapat tentang suatu masalah, Sinta malas berpikir sendiri, dan mengutip apa kata agamanya. Bahkan ketika ujian di sekolahnya, dan diminta pendapatnya tentang suatu hal, Sinta pun juga mengutip agamanya secara harafiah, tanpa sentuhan kreativitas dan orisinalitas sedikit pun.

Sinta juga suka mematahkan janji. Ia suka telat datang ke kampus, suka telat mengumpulkan tugas, dan suka telat, jika berjanji berjumpa dengan temannya. Ia sering menggunakan alasan-alasan yang terdengar saleh untuk menutupi kesalahannya tersebut. Agama seolah membimbingnya, walaupun tindakan-tindakannya banyak merugikan orang lain.

Sinta pergi ke berbagai tempat dengan mengendarai sepeda motor otomatik yang dibelikan ayahnya. Ia mengendarai dengan pelan, supaya aman di jalan. Tak lupa sebelum berangkat, ia selalu berdoa mohon perlindungan dari Tuhan.

Walaupun begitu, ia selalu menyetir di tengah atau kanan jalan dengan kecepatan rendah. Akibatnya, banyak pengendara lain terganggu. Padahal, peraturannya sudah jelas, bahwa pengendara dengan kecepatan rendah harus menggunakan lajur kiri, bukan di tengah, apalagi di kanan. Akan tetapi, Sinta tetap tak peduli. Ia yakin, Tuhan melindunginya.

Jika ditegur oleh pengendara lainnya, Sinta tetap cuek. Ia tak peduli, walaupun tindakannya membahayakan diri dan orang sekitarnya. Ia yakin, setelah berdoa, Tuhan pasti melindunginya.

Tak heran, Sinta tak suka politik. Sama seperti Jono, ia tak suka memikirkan hal-hal sulit dan dalam. Ia tak peduli dengan politik. Ia lebih suka nonton film Korea, sinetron di TV, film-film horor dan komedi romantis di bioskop terdekat, main Facebook, Twitter, baca komik anak kecil, atau berdoa meminta banyak hal pada Tuhannya. Dengan gaya hidup seperti inilah, nantinya, Sinta berjumpa dengan Jono, calon suaminya.

Kisah Kasih

Karena kesamaan karakter dan kesukaan, Jono dan Sinta pun menjadi sepasang kekasih. Mereka menikah, membina sebuah keluarga, dan mempunyai anak laki-laki. Sebagai ayah, Jono mengajarkan nilai-nilai “jagoan” yang ia ketahui sepanjang hidupnya. Sebagai ibu, Sinta mengajarkan nilai-nilai agamis untuk dipatuhi secara mutlak oleh anaknya.

Si anak pun bingung. Di satu sisi, ia harus tampak jagoan di hadapan teman-temannya. Di sisi lain, ia harus mematuhi secara mutlak nilai-nilai agama, tanpa pertanyaan apapun. Di waktu senggang, ia diajak nonton film-film komedi romantis, film-film horror murahan, diajak main fesbuk bersama orang tuanya, dan diajak mengebut di jalan bersama ayahnya.

Jono, Sinta, dan anaknya hidup sebagai keluarga yang apolitis, karena tidak suka berbicara urusan yang rumit-rumit. Mereka suka buang sampah sembarangan, tak peduli kebersihan, tak peduli peraturan lalu lintas, suka berdoa meminta banyak hal pada Tuhan, dan, sekali lagi, tak peduli sama sekali soal-soal politis yang terkait dengan kehidupan bersama.

Jono adalah tipikal orang Indonesia pada umumnya. Sinta pun juga. Keluarga mereka adalah representasi (walaupun tidak 100 persen akurat) dari keluarga Indonesia pada umumnya. Dengan kata lain, mayoritas (tidak 100 persen) orang Indonesia memiliki karakter dan kebiasaan yang sama dengan keluarga Jono, Sinta, dan anaknya.

Pada level yang lebih luas, bangsa kita sudah sepakat, bahwa bentuk pemerintahan demokratis, dengan kepentingan rakyat sebagai tolok ukur utama, adalah jalan yang paling tepat untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Dalam hal ini, kekuatan demokrasi adalah mutu dari rakyat suatu negara, bukan pimpinannya semata. Pertanyaan kritisnya disini adalah, jika mayoritas keluarga di Indonesia hidup dengan pola karakter dan kebiasaan seperti keluarga Jono dan Sinta, mampukah negara kita membangun demokrasi yang sehat, yang siap mengantar rakyatnya menuju keadilan dan kemakmuran? Anda sendiri yang bisa menjawabnya.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 thoughts on “Kisah “Kasih” Jono dan Sinta”

  1. jelas tidak mampu, karena suatu bangsa bisa bergerak maju karena orang2 atau manusia2 yg ada di dalamnya, kalau kualitas manusia yg di dalamnya tidak baik..seperti cerita diatas. pasti negara itu akan kacau dan menjadi seperti Indonesia ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s