Indonesia atau “Alaynesia”?

kidsklik.com

Diskursus tentang Bahasa “Alay”

Buletin Cogito Fakultas Filsafat Mei 2012

 

Oleh

Irini Santa Melania

Andreas Ideanov

Yohanes Fakundus

Reza A.A Wattimena (ed)

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

 

Seringkali kita mendengar kata “alay” dalam percakapan sehari-hari, terutama dalam kalangan remaja. Walaupun kita sering mendengar, itu tidak langsung membuat kata ”alay” dipahami. Kata ”alay” memang berasal dari ”dunia gaul”. Namun bahasa dalam dunia gaul memang tidak memiliki asal dan aturan yang pasti, sehingga pengertiannya pun seringkali tidak jelas. Akibatnya, muncul banyak jawaban tentang arti dan asal kata ”alay” ini. Ada banyak singkatan yang muncul dari ”alay” seperti anak layangan, anak kelayapan (baca: jarang pulang), anak layu ataupun anak lebay (baca: berlebihan).

Secara umum bahasa ”alay” dianggap sebagai suatu bahasa yang terlalu melebih-lebihkan. Namun, pengertian negatif terhadap bahasa ”alay” sebaiknya ditangguhkan terlebih dahulu. Tentunya kita akan mengalami kesulitan untuk memahami sesuatu, bila langsung diawali dengan prasangka yang buruk. Bahasa ”alay” akan dibahas bukan sebagai bahasa yang terlalu berlebihan, tetapi sebagai suatu bahasa inovatif yang muncul dari kaum muda. Alasan disebut inovatif, karena menambahkan unsur ekspresi, itu menunjukan jati diri remaja, dan indikator perkembangan bahasa.

 

Bahasa dan Ekspresi

Herbert Paul Grice, seorang filsuf bahasa, menyatakan ”bahasa memiliki makna karena ekspresinya. Ekspresi yang dimaksud ialah ide atau intensi yang dimaksudkan oleh penggunanya.” Ekspresi semacam inilah yang ditambahkan dalam bahasa ”alay”. Sebuah ekspresi bahasa yang akan menegaskan apa yang sesungguhnya ingin diungkapkan oleh seseorang. Misalkan saja saat seseorang menulis ”lucunya”, dari kata ini setidak-tidaknya ada dua kesan yang bisa didapatkan oleh orang yang membacanya. Pertama, seseorang mengatakan, bahwa hal itu lucu, meski masih belum dapat diketahui apakah ia menyatakannya dengan ekspresi senang atau datar. Kedua, bisa diartikan bahwa seseorang itu justru mengolok-olok. Kerancuan ekspresi seperti inilah yang dicoba untuk diantisipasi oleh bahasa ”alay”. Dengan bahasa “alay” saat kita membaca bahasa tulis pun dapat ditemukan ekspresi yang ingin diungkapkan oleh penulisnya.

Meskipun sulit sekali ditentukan parameternya, ekspresi bahasa secara umum dipahami sebagai setiap aspek yang menyertai sebuah ungkapan, baik ungkapan tersebut tersurat ataupun tersirat. Dengan kata lain, jika ekspresi bahasa sedemikian pentingnya, maka aspek-aspek yang menyertai ungkapan seseorang dengan menggunakan bahasa juga sama pentingnya. Ekspresi yang muncul dari bahasa alay juga mengikuti konsep berpikir yang serupa. Artinya, ekspresi ikutan penggunaan bahasa dapat menjadi jauh lebih penting dari bahasa itu sendiri.

 

Bahasa dan Jati Diri

Bahasa merupakan suatu alat komunikasi. Alat untuk menyampaikan sesuatu (terutama informasi) kepada orang lain. Bila menyampaikan informasi tentu harus disampaikan dengan jelas, agar bisa dipahami dan dimengerti. Dikatakan pula bahwa bahasa ”alay” tidak mempunyai aturan yang jelas. Bila aturan tidak jelas tentunya menjadi tidak mudah pula bahasa ”alay” dipahami. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana bahasa ”alay” yang tidak jelas bisa disebut sebagai alat komunikasi?

Namun kenyataannya tidaklah demikian. Perlu diingat bahwa bahasa mengandalkan pemakainya. Ada yang mengatakan bahwa untuk mempelajari bahasa, seseorang harus mempelajari komunitasnya. Maka untuk mempelajari bahasa ”alay” seseorang harus masuk ke dunia anak muda sebagai komunitas yang menciptakan dan kemudian menggunakannya. Bahasa ”alay” merupakan salah satu cerminan anak muda. Saat sudah memasuki dunia remaja, bahasa yang tidak memiliki aturan pasti ini akan lebih mudah dipahami.

Anak muda yang selalu ingin mencoba berbagai hal-hal baru ingin merasakan kebebasan dari berbagai aturan yang dirasa terlalu mengekang. Pengekangan ini membatasi mereka untuk mengekspresikan diri secara terbuka atau frontal. Akibatnya mereka menggunakan cara-cara lainnya. Salah satunya dengan penggunaan bahasa sebagai sistem tanda yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu. Lewat sistem inilah mereka mencoba mengungkapkan rahasia mereka kepada teman sebaya yang dirasakan mengerti kondisi mereka.

Bahasa Sebagai Proses Perkembangan

Bahasa selalu mengalami perkembangan. Perkembangan yang mencoba membuat bahasa menjadi lebih baik dan sempurna. Salah satu faktor yang menyebabkan perkembangan bahasa adalah generasi muda. Hampir di setiap ibu kota atau kota-kota besar dapat ditemukan kaum muda yang menciptakan bahasa ”gaul”-nya sendiri. Bahasa ”alay” merupakan salah satu perkembangan bahasa yang diciptakan oleh kaum muda. Dengan sekali lagi mengedepankan si penggunanya, baik dalam unsur ekspresi maupun jati dirinya, terlepas dari keterbatasan kosa kata, belum adanya aturan baku, dan digunakan dalam kalangan terbatas, bahasa ”alay” tetaplah harus dihargai sebagai suatu tahap perkembangan bahasa.

Bahasa ”alay” memang bahasa yang inovatif, dapat memperjelas ekspresi, dan menunjukkan jati diri. Akan tetapi penting juga untuk diingat, bahwa bahasa ini bukan bahasa baku atau bahasa formal yang bisa dipakai di mana saja di Indonesia. Bahasa baku kita tetaplah bahasa Indonesia. Setiap bahasa memiliki tempatnya masing-masing, jadi lebih baik, bila dapat digunakan sesuai tempat dengan tempat dan kebutuhannya.

 

Bahasa Alay yang Merusak?

Belakangan ini, anak muda Indonesia sedang “demam” menggunakan bahasa “alay”. Mereka suka menggunakan bahasa “alay” dalam berkomunikasi dengan sesamanya, baik secara lisan maupun tulisan lewat SMS (Short Message Sevice) dan jejaring sosial (Facebook dan Twitter). Ini ada beberapa contoh bahasa alay yang penulis dapatkan: “heii, lamb knall yupz! nmAquw Gneshaa . . !”, “l3h knl n mnt n0 hp 9 bwt nmbh tm3n”, “U 9Hy D! HuMZzZ. . . ???”. Fenomena bahasa alay ini sudah mewabah di kalangan anak muda, seperti polusi udara yang jika semakin lama dibiarkan akan merusak etika berbahasa yang baik dan benar.

Sejarah perkembangan bahasa “alay” ini ada bermacam versi. Ada yang menyebutkan bahwa bahasa alay ini muncul dari SMS. Ada versi lain menyebutkan bahasa “alay” muncul sekitar tahun 1970-an oleh sekelompok preman yang ingin melakukan aksi kejahatan dan menciptakan bahasa sandi, agar tidak terlacak oleh polisi.  Bahasa sandi tersebut kemudian berkembang dari tahun ke tahun dan menjadi bahasa alay. Versi lainnya menyebutkan bahasa alay berasal dari anak layangan (anak lebay, anak kelayapan). Istilah anak layangan ini adalah simbol dari anak kampung yang ingin tampil beda untuk mendapatkan perhatian, baik dengan cara mengubah penampilan dan meningkatkan kenarsisan. Mereka juga menciptakan bahasa khusus yang hanya dimengerti kalangan mereka. Akhirnya muncullah bahasa “alay” yang menggambarkan sekelompok anak muda yang ingin mencari perhatian.

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sangat diperlukan dalam suatu institusi pendidikan, pemerintahan, dan perkantoran. Adalah mustahil jika dalam mengerjakan tugas sekolah atau perkuliahan menggunakan bahasa “alay”, karena tidak masuk dalam tatanan akademis, begitu juga dalam dunia perkantoran atau tempat kerja yang lainnya. Bahasa “alay” ini dapat membuat generasi muda menjadi terkotak-kotak dalam kelompok elite tertentu. Penggunaan bahasa “alay” ini juga sangat menggangu siapapun yang mendengar dan membacanya, karena tidak semua orang dapat mengerti maksud dari bahasa “alay” ini. Dari semua dampak negatif tersebut, penulis melihat bahwa hal yang paling vital yang bisa rusak karena pengaruh bahasa “alay” ini ialah kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Bangsa Indonesia memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Sebagai generasi muda bangsa Indonesia, seharusnya kita bangga dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu kita. Tapi, mengapa anak muda lebih menyukai bahasa “alay”? Apa penggunaannya itu hanya sekedar trend jaman supaya dianggap anak gaul? Banyak orang menggunakan bahasa “alay”, supaya dia diakui oleh lingkungan sosialnya sebagai “orang keren”. Generasi muda saat ini lebih tepatnya tidak mau disebut ketinggalan jaman atau gak gaul, maka mereka menggunakan bahasa “alay”. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika bahasa “alay” itu bisa berkembang dengan pesat, seperti virus. Jika ini dibiarkan, maka kemungkinan besar generasi muda akan lupa bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Indonesia mempunyai keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi dan luhur. Bahasa merupakan salah satu hasil atau produk dari budaya itu sendiri. Salah satu contohnya ialah bahasa Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang dimiliki oleh negara ini, itu berarti kita telah menjaga warisan budaya yang bernilai tinggi dan luhur tersebut. Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Berbeda jika menggunakan bahasa “alay: yang hanya dapat dimengerti oleh sekelompok orang saja. Jika generasi muda saat ini enggan menggunakan bahasa daerahnya, karena dianggap katrok, dan terlebih lagi enggan menggunakan bahasa Indonesia yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, mau jadi apa negara ini? Atau apakah lebih baik jika negara kita ini menjadi negara “alaynesia” saja?

Sebagai generasi penerus bangsa Indonesia, seharusnya kita bangga menggunakan bahasa Indonesia yang dapat menyatukan seluruh lapisan masyarakat. Menggunakan bahasa ”alay” yang hanya dapat dimengerti oleh kelompok tertentu saja itu kemungkinan akan menimbulkan kesalahpahaman. Jika sudah timbul salah paham akan terjadi ketidakharmonisan dalam masyarakat, dan dapat memecah persatuan. “Banggalah dan gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar hai kaum muda Indonesia karena di tangan kalian Indonesia ini akan tetap ada dan terus berkembang!!!”

 

Tanggapan Wittgenstein

Ludwig Joseph Johann Wittgenstein dilahirkan di Wina, Austria, pada tanggal 26 April 1889.  Ayahnya berasal dari keluarga Yahudi yang telah  memeluk agama Kristen Protestan, dan ibunya beragama Katolik. Ayahnya seorang wirausahawan mandiri dan konglomerat terkaya di Austria pada jamannya. Ayah dan ibunya juga berbakat dalam bidang musik. Oleh karena itu, musik juga memegang peranan penting dalam hidup Wittgenstein. Warna musik ini sering tampak kentara dalam contoh-contoh dan deskripsi  yang  diberikan dalam karya-karya filosofisnya.

Pada tahun 1906, Wittgenstein mulai belajar di sebuah  sekolah teknik di Berlin, dan pada tahun 1906 ia melanjutkan studi tekniknya di Manchester, dan di sana ia mengadakan riset dalam bidang pesawat terbang. Untuk memenuhi  program riset tersebut, ia memperdalam bidang matematika, dan atas dasar inilah ia semakin tertarik kepada filsafat matematika.

Pada tahun 1918 Wittgenstein ditawan oleh tentara Italia, dan pada bulan Desember tahun 1919, ia sempat bertemu dengan Bertrand Russell, filsuf Inggris ternama pada masa itu, di Haag. Pada pertemuan itu, mereka berdiskusi tentang naskah Wittgenstein yang berjudul Logische Philosophie Abhandlugen. Kemudian pada tahun 1929, Wittgenstein kembali ke Cambridge lalu ia mengajukan Tractatus sebagi disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor dalam bidang filsafat. Pada tahun 1939, Wittgenstein menggantikan Moore sebagai Profesor di Trinity Colloge, dan pada tahun 1951 ia meninggal dunia di Cambridge.

Pada tahun 1930, Wittgenstein menulis buku keduanya yang berjudul  Philosophical Investigations (Philosophische Untersuchungen), yang berisi tentang  analisis bahasa. Bagi Wittgenstein, masalah bahasa pertama-tama adalah masalah menggunakan bunyi tertentu. Ia  mengatakan bahwa sebuah tanda itu bisa mati. Sebuah tanda justru akan hidup, bila digunakan. Penggunaan sebuah tanda merupakan nafas kehidupan tanda yang bersangkutan. Dalam karyanya ini, Wittgenstein mengubah pandangannya, bahwa bahasa deskriptif mempunyai arti yang banyak, dan membentuk permainan (language game) sendiri. Peralihan dari persoalan makna kepada makna dalam penggunaannya didasarkan pada pengertian umum, bahwa makna sebuah kata adalah objek yang dilambangkannya. Kata menunjukkan suatu yang dapat diindrai keberadaannya,  misalnya bangku, kucing, anjing, rumah, pohon. Kata ini bermakna karena menamakan sesuatu. Tetapi terdapat banyak kata yang tidak menunjukan benda, misalnya, sudah, telah, akan, dan. Karena itu jangan di tanyakan arti sebuah kata, tetapi bagaimana sebuah kata digunakan. Bahasa dalam kehidupan manusia dipakai dalam banyak cara, sesuai dengan konteks kehidupan manusia.

Istilah language game mempunyai implikasi adanya keanekaragaman bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Wittgenstein menegaskan bahwa makna sebuah kata ada dalam penggunaannya dalam kalimat, dan makna kalimat adalah penggunaannya bersifat beranekaragam. Arti kata-kata hanya bisa dipahami dalam kerangka acuan language game yang dipakai. Satu kata tertentu mempunyai arti yang terus-menerus berubah. Contohnya bahasa gaul, bahasa “lebay” dan lain-lain. Semua itu merupakan language game yang khas, dimana kata-kata mendapat arti yang khas.

Bahasa adalah fenomena yang sangat kompleks. Di dalamnya terdapat jumlah permainan bahasa yang tidak terhitung. Dengan bahasa yang sama, kita dapat menjelaskan sesuatu, memberi perintah, menanyakan, berterima kasih, berdoa, bernyanyi dan lain sebagainya. Bahasa bagaikan alat pertukangan dalam tas seorang tukang. Tidak ada suatu penggunaan yang pasti .Demikian pun bahasa! Kata-kata bagaikan sebuah catur yang dapat dimainkan ke segala macam arah.

Beberapa pokok pemikiran yang perlu diperhatikan dalam language game:

1. Ada banyak bahasa tetapi tidak ada hakekat yang sama di antara permainan-permainan itu. Esensi dari setiap permainan berbeda.

2. Dalam setiap permainan bahasa terdapat persamaan “keluarga”. Akibatnya, sulit menentukan batas-batas pemahaman perihal permainan. Kemungkinannya melacak batas-batas untuk mengetahui apakah batas-batas untuk mengetahui, apakah hal itu disebut permainan atau tidak.

3. Meskipun kita tidak tahu persis sebuah permainan, tetapi kita tahu apa yang dapat di buat dengan sebuah permainan. Kita hanya dapat menyampaikan contoh-contoh permainan yang berbeda.

Bagi Wittgenstein, tujuan filsafat analitis ialah menerjemahkan semua pertanyaan yang rumit dan deskriptif (proposisi ungkapan linguistik) ke dalam pernyataan dasar atau elementer. Lalu pernyataan dasar ini diletakkan ke dalam satuan-satuan terdalam yang tidak dapat dianalisa, yang menyajikan satuan-satuan dunia nyata yang sederhana. Yang tidak dapat direduksi.

Pendirian pokok Wittgenstein ialah bahwa filsafat tidak dapat melampaui batasan-batasan bahasa. Filsafat tidak dapat menjelaskan bagaimana bahasa dihubungkan dengan dunia nyata. Hubungan ini hanya dapat diperhatikan. Tugas dari filsafat ialah membuat jelas apa yang dapat, atau tidak dapat, dikatakan secara akurat. Dengan kata lain tugas filsafat hanya melukiskan berfungsinya permainan bahasa tersebut, dan tidak boleh ikut campur di dalamnya.

 

Daftar Acuan

Lycan, William G., Philosophy of Language: a contemporary introduction, Routledge, New York, 2000.

http://kamusmania.com/component/content/article/1-berita/5-bahasa-alay, diunduh pada tanggal 30 Maret 2012 pukul 06.42 WIB

http://lupherblueniz.blogspot.com/2010/03/definisi-alay-menurut-para-ahli-kamus.html, diunduh pada tanggal 30 Maret 2012 pukul 06.44 WIB

http://www.lpmjournal.com/uncategorized/bahasa-alay, diunduh tanggal 19 April 2012 pukul 14.20 WIB.

http://galih-inside.blogspot.com/2010/12/sejarah-b4h454-4l4y-spoiler-for-asal.html, diunduh tanggal 19 April 2012 pukul 14.30 WIB.

http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=139224, diunduh tanggal 19 April 2012 pukul 14.46 WIB.

Agustinus, Dr. Ryad, Filsafat Barat Kontemporer (Diktat Kuliah Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang), 2006.

Yuana, Kumara Ari, The Greatest Philosophers (100 tokoh filsuf dari abad ke-6 SM-abad ke-21 yang menginspirasi dunia bisnis), CV ANDI EFFERS, Yogyakarta, 2010

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

3 tanggapan untuk “Indonesia atau “Alaynesia”?”

  1. Tulisan yang baik, saya semakin tertarik untuk mempelajari filsafat… sudah lama saya penasaran dengan bahasa alay ini, dan baru di sini saya bisa dengan jelas mengerti apa itu dan bagaimana itu bahasa alay…

    Oh ia.. mungkin salah 1 solusi menghadapi dampak negatif dari bahasa alay ini bisa dengan mengajak anak-anak muda untuk berekspresi melalui Blog, sebab dengan media Blog mereka akan tergerak untuk lebih sering menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. kira-kira demikian.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s