Terorisme dan Transendensi

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Sebagian Naskah Diskusi untuk Seminar “Beyond Terrorism: Understand The Past and Prepare for The Future” di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 17 Mei 2017

Terorisme sudah setua peradaban manusia itu sendiri. Sekelompok orang melakukan tindak merusak, demi menyebar teror, dan memecah belah, guna mewujudkan kepentingan politik, ideologis maupun religius tertentu. Landasan berpikir mereka bersifat sempit dan tertutup. Dengan landasan ini, mereka menghancurkan perbedaan, dan menyebarkan ketakutan.

Ada beragam penelitian tentang akar dan cara menanggulangi terorisme. Namun, ada satu hal yang menjadi kunci dari semuanya, yakni kemampuan transendensi. Ini adalah kemampuan manusiawi untuk melihat dunia dengan kaca mata yang lebih luas dari kepentingan diri, keluarga ataupun kelompoknya. Pendek kata, transendensi adalah kemampuan manusia untuk melampaui kepentingan sempit diri dan kelompoknya, lalu melihat dari sudut pandang orang lain, serta kepentingan yang lebih besar. Transendensi terkait erat dengan kemampuan dasar manusia lainnya, yakni empati. Lanjutkan membaca Terorisme dan Transendensi

Deradikalisasi, Keterbukaan dan Manusia Pembelajar

Oleh Reza A.A Wattimena

Morning Star: Surrealism, Marxism, Anarchism, Situationism, Utopia. by Michael Lowy

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Di seluruh dunia, kita menyaksikan gerakan radikalisasi. Orang-orang menjadi radikal di dalam beragama, sehingga kehilangan akal sehat, dan bersikap keras terhadap perbedaan. Orang justru semakin tertutup melekat pada identitas etnis, ras dan agama mereka di jaman globalisasi ini. Inilah salah satu ciri mendasar dari globalisasi, yakni paradoks antara keterbukaan di satu sisi, dan ketakutan untuk bersikap terbuka di sisi lain.

Radikalisasi adalah sebuah proses untuk menjadi radikal. Orang yang sebelumnya bersikap sehat terhadap identitasnya kini berubah menjadi amat keras, dan takut pada perbedaan. Lebih dari itu, mereka bahkan menjadi kasar dan keras terhadap orang lain yang berbeda dari mereka. Ciri khas radikalisasi adalah sikap yang menjadi semakin intoleran. Lanjutkan membaca Deradikalisasi, Keterbukaan dan Manusia Pembelajar

Terbitan Terbaru: Ecocity for Jakarta, Historical and Conceptual Approach

IMG20170422211912Oleh Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

One of the negative effects of the development of science and technology is the destruction of natural ecosystem. This happens, because of the inefficient use of energy, and the method of its extraction, in various areas of modern life. The existence of megacities, such as Jakarta, the capital city of Indonesia, contributes to these problems. One of possible solutions for this is the discourse of ecocity as an alternative model for the future in the context of urban planning. The essence of this discourse is nature as metaphysical foundation and standard measures. This concept will be translated in various factors, such as humane city environment, universal accessibility of the city, efficient use of energy and environmental friendly urban planning. This writing will try to see the possibility to apply the principles of ecocity to Jakarta.

Salah satu sisi negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kehancuran dari alam. Ini terjadi, karena penggunaan energi yang tidak efisien, juga di dalam cara untuk menemukannya, di dalam berbagai segi kehidupan modern. Kehadiran berbagai kota besar, seperti Jakarta, ibu kota Indonesia, juga menyumbang di dalam permasalahan ini. Salah satu jalan keluar yang mungkin adalah dengan memperhatikan wacana tentang ecocity sebagai model alternatif bagi tata kota di masa depan. Inti dari wacana ini adalah alam sebagai dasar metafisis sekaligus ukuran. Inti ini nantinya akan diterjemahkan ke berbagai bentuk, seperti lingkungan kota yang manusiawi, akses universal bagi kota tersebut, penggunaan energi yang efisien dan perencanaan kota yang ramah lingkungan. Tulisan ini akan mencoba melihat kemungkinan penerapan prinsip-prinsip ecocity untuk Jakarta.

Bisa didapatkan di Universitas Atma Jaya, Jakarta, Jl. Jend. Sudirman No.51, RT.5/RW.4, Karet Semanggi, Setia Budi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12930, Indonesia, +62 21 5727615

 

Kesempitan Berpikir

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Ada satu hal yang langsung terlihat di antara sebagian besar warga Jakarta sewaktu Pilgub 2017 ini: kesempitan berpikir. Mereka memilih orang-orang yang tidak kompeten untuk memimpin mereka. Mereka tidak menggunakan akal sehat di dalam membuat keputusan. Akibatnya, Jakarta bisa memasuki abad kegelapan, setelah Pilgub ini, dimana fanatisme, premanisme, jaringan mafia, dan kesempitan berpikir akan meraja.

Sempit Berpikir

Pertama, akal sehat warga Jakarta tunduk dibawah rasa takut yang, sebenarnya, tak beralasan. Ketika akal sehat dikorbankan demi memuaskan rasa takut, yang tercipta kemudian adalah tindakan-tindakan bodoh yang mencerminkan kesempitan berpikir. Ketika kedudukan pimpinan politik diserahkan kepada para mafia dan preman, kehancuran dan kemunduran politik adalah buahnya. Bersiaplah untuk memasuki abad kegelapan, hai warga Jakarta. Lanjutkan membaca Kesempitan Berpikir

Terbitan Terbaru: “Wake Up and Live!”, The Roots of Cosmopolitanism in Oriental Worldview

Jurnal Unpar 2Reza A.A Wattimena, School of International Relations, President University, Cikarang

This article describes the roots of cosmopolitanism in Oriental worldview, especially in the Indian and Chinese worldview. The idea of cosmopolitanism is important to understand today. It is seen as an alternative solution for various conflicts with religious and cultural motives as background. Oriental civilizations developed the idea of cosmopolitanism through various philosophical teachings, such as Vedanta and Buddhism. Both of them are inherently meditative and cosmopolitan. They focus on insight on reality as it is, not reality as it is conceptualized by religion, philosophy or science. This insight deconstructs also the normal understanding of self-identity and stimulates the rise of cosmopolitan awareness, which is inherently experiential. Without this experience and awareness, various theoretical reflections on cosmopolitanism will be useless.

Bisa didapatkan di:

Pungli: Dari Preman Kramat Jati sampai Menteri

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Bukan salahnya, jika ia lahir di keluarga kaya. Seluruh desa tahu, bahwa ia anak orang kaya, termasuk guru-guru sekolahnya. Akibat reputasi tersebut, ia lalu sering dimintai “bantuan” oleh guru-guru sekolahnya, mulai dari membeli AC untuk ruang guru, parsel pribadi untuk Natalan atau Lebaran, sampai dengan membantu renovasi rumah pribadi sang guru, baik dengan bantuan uang, maupun barang. Jika ia menolak, maka nilai ujiannya akan menjadi korban.

Peristiwa serupa juga dialami para pedagang Kramat Jati. Setiap malam, mereka dimintai uang keamanan oleh preman setempat. Jika mereka menolak bayar, maka barang dagangan mereka akan tidak aman. Yang lebih mengerikan, para preman liar tersebut bekerja sama dengan para penegak hukum. “Ini sistem bagi hasil”, katanya. Lanjutkan membaca Pungli: Dari Preman Kramat Jati sampai Menteri

Politik Asal-asalan

Alan M. Clark

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Siapa yang tidak merasa muak, ketika melalui jalan raya Pondok Gede, Jakarta, terutama pada jam-jam pergi ataupun pulang kerja? Kemacetan mengular. Orang-orang menjadi ganas dan kejam. Keadaan begitu kacau, walaupun polisi sudah ikut campur tangan.

Kesalahan mendasar dari jalan ini adalah, begitu banyak perumahan dan badan usaha, namun tidak ada usaha apa pun untuk melebarkan jalan. Di sisi lain, mobil dan motor pribadi terus bertambah, karena promosi iklan dan kredit kendaraan pribadi yang terlalu mudah. Dua hal ini membuat jalan raya Pondok Gede menjadi seperti neraka. Hal serupa juga terjadi di banyak tempat lainnya di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Lanjutkan membaca Politik Asal-asalan

Terbitan Terbaru: Kosmopolitanisme, Akal Sehat dan Pendidikan kita

Kosmopolitanisme, Akal Sehat dan Pendidikan kita

oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

dalam buku Menggagas Pendidikan untuk Indonesia, Kanisius, 2017

Bisa didapatkan di

Penerbit Kanisius

Jl. Cempaka 9, Deresan
Yogyakarta 55281
INDONESIA
Telp. (0274) 588783, (0274) 565996
Fax. (0274) 563349
E-mail: office@kanisiusmedia.com

Posmodernisme, Irasionalitas dan Keadaan Dunia Saat Ini

Nicoletta Ceccoli

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Darimana datangnya irasionalitas kita saat ini? Orang-orang berpikiran sempit menggalang kekuatan, dan memaksakan kehendak mereka ke ranah politik. Ujaran rasis dan diskriminatif bertebaran di ruang publik kita di Indonesia. Relativisme dan anarkisme menjadi gaya hidup baru yang dianggap keren dan bermutu.

Di tingkat internasional, hal-hal serupa juga terjadi. Satu-satunya negara adidaya memilih pimpinan yang kontroversial, dan banyak mengejutkan dunia dengan sumpah serapahnya. Pandangan sempit dan fasis memperoleh dukungan di berbagai negara. Seolah semakin bodoh dan sempit cara berpikir seseorang, semakin laku dia di pasar politik dan ekonomi yang juga terdiri dari orang-orang irasional. Lanjutkan membaca Posmodernisme, Irasionalitas dan Keadaan Dunia Saat Ini

Buku Terbaru: Manajer/Filsuf, Mengelola Bisnis dan Dunia dengan Sudut Pandang Filsafati

Manajer/Filsuf, Mengelola Bisnis dan Dunia dengan Sudut Pandang Filsafati 

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Buku ini tidak hanya mengupas etika bisnis, yakni diskusi kritis tentang baik dan buruk di dalam praktik bisnis, tetapi juga menyentuh inti dari praktik bisnis itu sendiri. Ia tidak hanya membahas beragam dimensi di dalam praktik manajemen bisnis, tetapi juga mengajukan arah untuk perkembangan bisnis dalam kaitannya dengan keadaan politik dan bisnis global yang lebih luas.

Buku ini saya tujukan kepada peminat pengembangan ilmu manajemen maupun praktisi manajemen, khususnya manajemen organisasi bisnis, sekaligus pemerhati masalah-masalah politik dan bisnis global. Buku ini juga ditujukan untuk para peminat filsafat, terutama filsafat sosial yang berupaya memahami dasar-dasar dari kehidupan bersama manusia. Selamat membaca dan semoga tercerahkan.

Bisa didapatkan di Penerbit Ledalero

PENERBIT LEDALERO – STFK Ledalero – Maumere, Flores – NTT Telp./Fax: 0382 2426535, email: ledalero02@gmail.com, ledaleropublisher@yahoo.com

atau di toko buku terdekat

 

Keamanan Global dan Peran Kita

Igor Morski’s

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Kamis, 23 Maret 2017, adalah hari gelap bagi kota Mosul, Irak. Kota itu mengalami pemboman besar-besaran dari Koalisi AS selama lebih dari tiga hari. Pada hari Jumat, 24 Maret 2017, sudah ada sekitar 150 mayat terkubur reruntuhan bangunan yang terkena bom. Di tempat lain, pada hari Sabtu, 25 Maret, sekitar 80 mayat ditemukan di bangunan lain. Sampai sekarang tidaklah jelas, apakah para korban ini sungguh anggota ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), atau rakyat sipil biasa.

Serangan koalisi AS itu tidak berhenti. Bahkan, orang-orang yang berusaha menyelamatkan korban reruntuhan berbagai gedung juga ikut terkena bom. Sampai sekarang, sudah ada lebih dari 200 korban. Diantara para korban juga terdapat anak-anak. Lanjutkan membaca Keamanan Global dan Peran Kita

Melampaui Budaya Pembiaran

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Alkisah, seorang pria muda duduk menonton televisi. Ia mendapat berita soal orang-orang yang menderita, karena bencana alam gempa bumi di kota lain. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Biarlah, yang penting aku aman di rumahku sendiri ini.” Dengan perasaan lega, ia pun lanjut menghibur diri dengan nonton acara-acara lainnya di televisi.

Keesokan harinya, ia mendapat kabar, bahwa sepupunya menderita sakit parah. Keluarga berkumpul untuk memberikan dukungan. Namun, ia tidak ikut serta. Ia berpikir, “Ah biarkanlah. Yang penting, aku nyaman dan aman di rumahku tercinta ini.” Lanjutkan membaca Melampaui Budaya Pembiaran

Menghadapi Tantangan Dunia: Antara Krisis Global dan Hiperkonektivitas

     behance.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Stephen O’Brien, Under-Secretary-General for Humanitarian Affairs and Emergency Relief Coordinator PBB, menyatakan di hadapan Dewan Keamanan PBB, bahwa seluruh dunia saat ini sedang mengalami krisis kemanusiaan yang amat besar. Krisis ini bisa mendorong terjadinya malapetaka di tingkat global.

Di Afrika sendiri misalnya, sekitar 20 juta orang terancam bencana kelaparan, terutama di Nigeria, Somalia dan Sudan. Di sisi lain, seperti ditegaskan oleh UNICEF, bagian dari PBB yang berurusan dengan kesejahteraan anak, sekitar 1,4 juta anak terancam meninggal dunia, akibat kelaparan tahun ini. (Kompas, 12 Maret 2017)

Pernyataan O’Brien ini didukung oleh pernyataan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Dunia tidak hanya menghadapi tantangan dari berbagai konflik maupun bencana kelaparan, tetapi juga dari perubahan iklim dan pemanasan global.

Di Indonesia sendiri, korupsi E-KTP yang terbongkar baru-baru ini semakin membuka mata masyarakat akan rendahnya mutu para pejabat publik, mulai dari legislatif sampai dengan eksekutif. Dunia jelas memerlukan paradigma baru untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada.   Lanjutkan membaca Menghadapi Tantangan Dunia: Antara Krisis Global dan Hiperkonektivitas

“Mengapa”, “Apa” dan “Bagaimana”?

artyfactory.com
artyfactory.com

Dialektika Pembuatan Keputusan

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup kita diisi dengan berbagai pilihan. Beberapa pilihan bernilai amat penting. Ia menentukan arah hidup kita selanjutnya. Beberapa pilihan lain memberikan dampak besar bagi kehidupan orang banyak.

Di balik pilihan, ada satu kata sakral, yakni kebebasan. Memang, ia kerap kali terselip dibalik untaian hal dan peristiwa. Namun, sesungguhnya, ia tak pernah hilang. Kita hanya perlu menengok ke dalam diri, dan menggunakannya untuk membuat pilihan. Lanjutkan membaca “Mengapa”, “Apa” dan “Bagaimana”?

Pendidikan Salah Kaprah

Igor Morski
                                 Igor Morski

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen HI, Universitas Presiden, Cikarang

Mereka naik motor berempat. Semuanya tidak menggunakan helm dan jaket. Saya yakin, mereka tidak memiliki surat-surat resmi kendaraan maupun ijin mengemudi. Jumlahnya ribuan di jalanan Jakarta, apalagi di akhir pekan.

Ini dibarengi dengan tidak adanya ketegasan dari para penegak hukum. Yang terjadi adalah pembiaran pelanggaran peraturan. Pembiaran terus menerus akan berubah menjadi tradisi yang sulit untuk diubah. Gejala ini tidak hanya ditemukan di kalangan para pelanggar lalu lintas, tetapi juga di kalangan para pencuri yang berkedok gelar pemimpin rakyat. Lanjutkan membaca Pendidikan Salah Kaprah

Politisi Baper

Pinterest
Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita memang hidup di jaman yang aneh. Banyak pemimpin bangsa, yang seharusnya menjadi teladan bagi rakyatnya, kini justru cengeng dan emosional dalam bersikap.

Dalam bahasa pergaulan sekarang, mereka itu adalah orang-orang baper, alias bawa perasaan. Mereka begitu emosional terhadap berbagai kritik dan masukan dari rakyat, sehingga akhirnya menjadi bahan tertawaan masyarakat luas.

Di AS, kita bisa melihat seorang presiden yang seringkali marah-marah di akun twitternya, sehingga menimbulkan kehebohan yang tidak perlu. Di Indonesia, hal yang serupa bisa disaksikan dari keluarga mantan presiden Indonesia, walaupun lebih dalam bentuk ratapan dan keluhan.

Tindakan emosional semacam itu tentu tidak diharapkan dari seorang pemimpin negara. Emosi membuat orang bertindak tidak masuk akal, kerap kali karena ketakutan yang tanpa alasan. Lanjutkan membaca Politisi Baper

Dari Harian Kompas:”… Kami Juga Ada…”

kami-juga-adaOleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Kompas Sabtu 18 Februari 2017 hal 24

“..Kami juga ada…” adalah seruan kelompok minoritas di berbagai penjuru dunia. Karena jumlah yang kecil, atau tidak memiliki sumber daya ekonomi dan politik yang kuat, kaum minoritas di berbagai tempat cenderung terpinggirkan.   Lanjutkan membaca Dari Harian Kompas:”… Kami Juga Ada…”

Demokrasi, Pemilu dan Kaum Muda: Sebuah Usul

imagesOleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang.

Pada hakekatnya, demokrasi mengandung tiga unsur utama terkait dengan pemerintahan, yakni dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Artinya, rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi, dan memerintah melalui wakil-wakilnya di parlemen dan kabinet kementerian.

Tentu saja, demokrasi, sebagai sebuah tata pemerintahan, tidaklah sempurna. Banyak hal yang masih harus terus diperbaiki, seringkali dengan perjuangan yang berat dan lama.

Minus Mallum

Namun, kita harus ingat, demokrasi, dengan ketidaksempurnaannya, tetap merupakan bentuk tata pemerintahan terbaik (terbaik di antara yang buruk – minus mallum). Tata pemerintahan lainnya, seperti kerajaan, militerisme, aristokrasi dan kekaisaran, mudah sekali diselewengkan, sehingga menghancurkan keadilan dan kemakmuran sebuah bangsa.

Demokrasi membuka ruang untuk kontrol dari rakyat terhadap para pemimpinnya. Ia menawarkan sebuah cara, sehingga rakyat bisa memastikan, bahwa para pemimpinnya bekerja untuk kebaikan bersama, dan bukan untuk memperkaya diri, ataupun kelompoknya. Lanjutkan membaca Demokrasi, Pemilu dan Kaum Muda: Sebuah Usul

Janji-janji Palsu

Art by Aykut Aydoğdu
Art by Aykut Aydoğdu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Pepatah hukum klasik mengatakan, Pacta sunt servanda: Perjanjian dimaksudkan untuk dijalankan. Ketika kita menyetujui sesuatu, kita terikat untuk menjalankannya.

Awal 2017 ini, Donald Trump, presiden Amerika Serikat, menolak mematuhi perjanjian dengan Australia. Ia tidak mau menerima pengungsi yang terdampar di salah satu pulau dekat Australia, sebagai bagian dari perjanjian AS dengan Australia, sewaktu Obama masih menjadi presiden.

Trump melanggar janji. Tindakannya membuat hubungan AS dan Australia retak.

Di tingkat nasional, pelanggaran janji juga merupakan sesuatu yang biasa terjadi. Para politisi mengabaikan janjinya kepada rakyat, ketika mereka sudah terpilih menduduki jabatan tertentu.   Lanjutkan membaca Janji-janji Palsu

Perspektif

fullsizerenderVersi cetak bisa hubungi 

Jl. Gabus VII No. 24 – Rt 23/Rw 05, Minomartani
YOGYAKARTA – 55581
Telp. 0818271454
e-mail: penerbitmaharsa@gmail.com

Versi ebook bisa diunduh di link berikut: 978-602-0893-29-7_persppektif_reza_aa_wattimena