Kesempitan Berpikir

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Ada satu hal yang langsung terlihat di antara sebagian besar warga Jakarta sewaktu Pilgub 2017 ini: kesempitan berpikir. Mereka memilih orang-orang yang tidak kompeten untuk memimpin mereka. Mereka tidak menggunakan akal sehat di dalam membuat keputusan. Akibatnya, Jakarta bisa memasuki abad kegelapan, setelah Pilgub ini, dimana fanatisme, premanisme, jaringan mafia, dan kesempitan berpikir akan meraja.

Sempit Berpikir

Pertama, akal sehat warga Jakarta tunduk dibawah rasa takut yang, sebenarnya, tak beralasan. Ketika akal sehat dikorbankan demi memuaskan rasa takut, yang tercipta kemudian adalah tindakan-tindakan bodoh yang mencerminkan kesempitan berpikir. Ketika kedudukan pimpinan politik diserahkan kepada para mafia dan preman, kehancuran dan kemunduran politik adalah buahnya. Bersiaplah untuk memasuki abad kegelapan, hai warga Jakarta. Lanjutkan membaca Kesempitan Berpikir

Terbitan Terbaru: “Wake Up and Live!”, The Roots of Cosmopolitanism in Oriental Worldview

Jurnal Unpar 2Reza A.A Wattimena, School of International Relations, President University, Cikarang

This article describes the roots of cosmopolitanism in Oriental worldview, especially in the Indian and Chinese worldview. The idea of cosmopolitanism is important to understand today. It is seen as an alternative solution for various conflicts with religious and cultural motives as background. Oriental civilizations developed the idea of cosmopolitanism through various philosophical teachings, such as Vedanta and Buddhism. Both of them are inherently meditative and cosmopolitan. They focus on insight on reality as it is, not reality as it is conceptualized by religion, philosophy or science. This insight deconstructs also the normal understanding of self-identity and stimulates the rise of cosmopolitan awareness, which is inherently experiential. Without this experience and awareness, various theoretical reflections on cosmopolitanism will be useless.

Bisa didapatkan di:

Pungli: Dari Preman Kramat Jati sampai Menteri

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Bukan salahnya, jika ia lahir di keluarga kaya. Seluruh desa tahu, bahwa ia anak orang kaya, termasuk guru-guru sekolahnya. Akibat reputasi tersebut, ia lalu sering dimintai “bantuan” oleh guru-guru sekolahnya, mulai dari membeli AC untuk ruang guru, parsel pribadi untuk Natalan atau Lebaran, sampai dengan membantu renovasi rumah pribadi sang guru, baik dengan bantuan uang, maupun barang. Jika ia menolak, maka nilai ujiannya akan menjadi korban.

Peristiwa serupa juga dialami para pedagang Kramat Jati. Setiap malam, mereka dimintai uang keamanan oleh preman setempat. Jika mereka menolak bayar, maka barang dagangan mereka akan tidak aman. Yang lebih mengerikan, para preman liar tersebut bekerja sama dengan para penegak hukum. “Ini sistem bagi hasil”, katanya. Lanjutkan membaca Pungli: Dari Preman Kramat Jati sampai Menteri

Politik Asal-asalan

Alan M. Clark

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Siapa yang tidak merasa muak, ketika melalui jalan raya Pondok Gede, Jakarta, terutama pada jam-jam pergi ataupun pulang kerja? Kemacetan mengular. Orang-orang menjadi ganas dan kejam. Keadaan begitu kacau, walaupun polisi sudah ikut campur tangan.

Kesalahan mendasar dari jalan ini adalah, begitu banyak perumahan dan badan usaha, namun tidak ada usaha apa pun untuk melebarkan jalan. Di sisi lain, mobil dan motor pribadi terus bertambah, karena promosi iklan dan kredit kendaraan pribadi yang terlalu mudah. Dua hal ini membuat jalan raya Pondok Gede menjadi seperti neraka. Hal serupa juga terjadi di banyak tempat lainnya di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Lanjutkan membaca Politik Asal-asalan

Terbitan Terbaru: Kosmopolitanisme, Akal Sehat dan Pendidikan kita

Kosmopolitanisme, Akal Sehat dan Pendidikan kita

oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

dalam buku Menggagas Pendidikan untuk Indonesia, Kanisius, 2017

Bisa didapatkan di

Penerbit Kanisius

Jl. Cempaka 9, Deresan
Yogyakarta 55281
INDONESIA
Telp. (0274) 588783, (0274) 565996
Fax. (0274) 563349
E-mail: office@kanisiusmedia.com

Posmodernisme, Irasionalitas dan Keadaan Dunia Saat Ini

Nicoletta Ceccoli

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Darimana datangnya irasionalitas kita saat ini? Orang-orang berpikiran sempit menggalang kekuatan, dan memaksakan kehendak mereka ke ranah politik. Ujaran rasis dan diskriminatif bertebaran di ruang publik kita di Indonesia. Relativisme dan anarkisme menjadi gaya hidup baru yang dianggap keren dan bermutu.

Di tingkat internasional, hal-hal serupa juga terjadi. Satu-satunya negara adidaya memilih pimpinan yang kontroversial, dan banyak mengejutkan dunia dengan sumpah serapahnya. Pandangan sempit dan fasis memperoleh dukungan di berbagai negara. Seolah semakin bodoh dan sempit cara berpikir seseorang, semakin laku dia di pasar politik dan ekonomi yang juga terdiri dari orang-orang irasional. Lanjutkan membaca Posmodernisme, Irasionalitas dan Keadaan Dunia Saat Ini

Buku Terbaru: Manajer/Filsuf, Mengelola Bisnis dan Dunia dengan Sudut Pandang Filsafati

Manajer/Filsuf, Mengelola Bisnis dan Dunia dengan Sudut Pandang Filsafati 

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Buku ini tidak hanya mengupas etika bisnis, yakni diskusi kritis tentang baik dan buruk di dalam praktik bisnis, tetapi juga menyentuh inti dari praktik bisnis itu sendiri. Ia tidak hanya membahas beragam dimensi di dalam praktik manajemen bisnis, tetapi juga mengajukan arah untuk perkembangan bisnis dalam kaitannya dengan keadaan politik dan bisnis global yang lebih luas.

Buku ini saya tujukan kepada peminat pengembangan ilmu manajemen maupun praktisi manajemen, khususnya manajemen organisasi bisnis, sekaligus pemerhati masalah-masalah politik dan bisnis global. Buku ini juga ditujukan untuk para peminat filsafat, terutama filsafat sosial yang berupaya memahami dasar-dasar dari kehidupan bersama manusia. Selamat membaca dan semoga tercerahkan.

Bisa didapatkan di Penerbit Ledalero

PENERBIT LEDALERO – STFK Ledalero – Maumere, Flores – NTT Telp./Fax: 0382 2426535, email: ledalero02@gmail.com, ledaleropublisher@yahoo.com

atau di toko buku terdekat

 

Keamanan Global dan Peran Kita

Igor Morski’s

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Kamis, 23 Maret 2017, adalah hari gelap bagi kota Mosul, Irak. Kota itu mengalami pemboman besar-besaran dari Koalisi AS selama lebih dari tiga hari. Pada hari Jumat, 24 Maret 2017, sudah ada sekitar 150 mayat terkubur reruntuhan bangunan yang terkena bom. Di tempat lain, pada hari Sabtu, 25 Maret, sekitar 80 mayat ditemukan di bangunan lain. Sampai sekarang tidaklah jelas, apakah para korban ini sungguh anggota ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), atau rakyat sipil biasa.

Serangan koalisi AS itu tidak berhenti. Bahkan, orang-orang yang berusaha menyelamatkan korban reruntuhan berbagai gedung juga ikut terkena bom. Sampai sekarang, sudah ada lebih dari 200 korban. Diantara para korban juga terdapat anak-anak. Lanjutkan membaca Keamanan Global dan Peran Kita

Melampaui Budaya Pembiaran

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Alkisah, seorang pria muda duduk menonton televisi. Ia mendapat berita soal orang-orang yang menderita, karena bencana alam gempa bumi di kota lain. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Biarlah, yang penting aku aman di rumahku sendiri ini.” Dengan perasaan lega, ia pun lanjut menghibur diri dengan nonton acara-acara lainnya di televisi.

Keesokan harinya, ia mendapat kabar, bahwa sepupunya menderita sakit parah. Keluarga berkumpul untuk memberikan dukungan. Namun, ia tidak ikut serta. Ia berpikir, “Ah biarkanlah. Yang penting, aku nyaman dan aman di rumahku tercinta ini.” Lanjutkan membaca Melampaui Budaya Pembiaran

Menghadapi Tantangan Dunia: Antara Krisis Global dan Hiperkonektivitas

     behance.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Stephen O’Brien, Under-Secretary-General for Humanitarian Affairs and Emergency Relief Coordinator PBB, menyatakan di hadapan Dewan Keamanan PBB, bahwa seluruh dunia saat ini sedang mengalami krisis kemanusiaan yang amat besar. Krisis ini bisa mendorong terjadinya malapetaka di tingkat global.

Di Afrika sendiri misalnya, sekitar 20 juta orang terancam bencana kelaparan, terutama di Nigeria, Somalia dan Sudan. Di sisi lain, seperti ditegaskan oleh UNICEF, bagian dari PBB yang berurusan dengan kesejahteraan anak, sekitar 1,4 juta anak terancam meninggal dunia, akibat kelaparan tahun ini. (Kompas, 12 Maret 2017)

Pernyataan O’Brien ini didukung oleh pernyataan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Dunia tidak hanya menghadapi tantangan dari berbagai konflik maupun bencana kelaparan, tetapi juga dari perubahan iklim dan pemanasan global.

Di Indonesia sendiri, korupsi E-KTP yang terbongkar baru-baru ini semakin membuka mata masyarakat akan rendahnya mutu para pejabat publik, mulai dari legislatif sampai dengan eksekutif. Dunia jelas memerlukan paradigma baru untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada.   Lanjutkan membaca Menghadapi Tantangan Dunia: Antara Krisis Global dan Hiperkonektivitas

“Mengapa”, “Apa” dan “Bagaimana”?

artyfactory.com
artyfactory.com

Dialektika Pembuatan Keputusan

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup kita diisi dengan berbagai pilihan. Beberapa pilihan bernilai amat penting. Ia menentukan arah hidup kita selanjutnya. Beberapa pilihan lain memberikan dampak besar bagi kehidupan orang banyak.

Di balik pilihan, ada satu kata sakral, yakni kebebasan. Memang, ia kerap kali terselip dibalik untaian hal dan peristiwa. Namun, sesungguhnya, ia tak pernah hilang. Kita hanya perlu menengok ke dalam diri, dan menggunakannya untuk membuat pilihan. Lanjutkan membaca “Mengapa”, “Apa” dan “Bagaimana”?

Pendidikan Salah Kaprah

Igor Morski
                                 Igor Morski

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen HI, Universitas Presiden, Cikarang

Mereka naik motor berempat. Semuanya tidak menggunakan helm dan jaket. Saya yakin, mereka tidak memiliki surat-surat resmi kendaraan maupun ijin mengemudi. Jumlahnya ribuan di jalanan Jakarta, apalagi di akhir pekan.

Ini dibarengi dengan tidak adanya ketegasan dari para penegak hukum. Yang terjadi adalah pembiaran pelanggaran peraturan. Pembiaran terus menerus akan berubah menjadi tradisi yang sulit untuk diubah. Gejala ini tidak hanya ditemukan di kalangan para pelanggar lalu lintas, tetapi juga di kalangan para pencuri yang berkedok gelar pemimpin rakyat. Lanjutkan membaca Pendidikan Salah Kaprah

Politisi Baper

Pinterest
Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita memang hidup di jaman yang aneh. Banyak pemimpin bangsa, yang seharusnya menjadi teladan bagi rakyatnya, kini justru cengeng dan emosional dalam bersikap.

Dalam bahasa pergaulan sekarang, mereka itu adalah orang-orang baper, alias bawa perasaan. Mereka begitu emosional terhadap berbagai kritik dan masukan dari rakyat, sehingga akhirnya menjadi bahan tertawaan masyarakat luas.

Di AS, kita bisa melihat seorang presiden yang seringkali marah-marah di akun twitternya, sehingga menimbulkan kehebohan yang tidak perlu. Di Indonesia, hal yang serupa bisa disaksikan dari keluarga mantan presiden Indonesia, walaupun lebih dalam bentuk ratapan dan keluhan.

Tindakan emosional semacam itu tentu tidak diharapkan dari seorang pemimpin negara. Emosi membuat orang bertindak tidak masuk akal, kerap kali karena ketakutan yang tanpa alasan. Lanjutkan membaca Politisi Baper

Dari Harian Kompas:”… Kami Juga Ada…”

kami-juga-adaOleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Kompas Sabtu 18 Februari 2017 hal 24

“..Kami juga ada…” adalah seruan kelompok minoritas di berbagai penjuru dunia. Karena jumlah yang kecil, atau tidak memiliki sumber daya ekonomi dan politik yang kuat, kaum minoritas di berbagai tempat cenderung terpinggirkan.   Lanjutkan membaca Dari Harian Kompas:”… Kami Juga Ada…”

Demokrasi, Pemilu dan Kaum Muda: Sebuah Usul

imagesOleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang.

Pada hakekatnya, demokrasi mengandung tiga unsur utama terkait dengan pemerintahan, yakni dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Artinya, rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi, dan memerintah melalui wakil-wakilnya di parlemen dan kabinet kementerian.

Tentu saja, demokrasi, sebagai sebuah tata pemerintahan, tidaklah sempurna. Banyak hal yang masih harus terus diperbaiki, seringkali dengan perjuangan yang berat dan lama.

Minus Mallum

Namun, kita harus ingat, demokrasi, dengan ketidaksempurnaannya, tetap merupakan bentuk tata pemerintahan terbaik (terbaik di antara yang buruk – minus mallum). Tata pemerintahan lainnya, seperti kerajaan, militerisme, aristokrasi dan kekaisaran, mudah sekali diselewengkan, sehingga menghancurkan keadilan dan kemakmuran sebuah bangsa.

Demokrasi membuka ruang untuk kontrol dari rakyat terhadap para pemimpinnya. Ia menawarkan sebuah cara, sehingga rakyat bisa memastikan, bahwa para pemimpinnya bekerja untuk kebaikan bersama, dan bukan untuk memperkaya diri, ataupun kelompoknya. Lanjutkan membaca Demokrasi, Pemilu dan Kaum Muda: Sebuah Usul

Janji-janji Palsu

Art by Aykut Aydoğdu
Art by Aykut Aydoğdu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Pepatah hukum klasik mengatakan, Pacta sunt servanda: Perjanjian dimaksudkan untuk dijalankan. Ketika kita menyetujui sesuatu, kita terikat untuk menjalankannya.

Awal 2017 ini, Donald Trump, presiden Amerika Serikat, menolak mematuhi perjanjian dengan Australia. Ia tidak mau menerima pengungsi yang terdampar di salah satu pulau dekat Australia, sebagai bagian dari perjanjian AS dengan Australia, sewaktu Obama masih menjadi presiden.

Trump melanggar janji. Tindakannya membuat hubungan AS dan Australia retak.

Di tingkat nasional, pelanggaran janji juga merupakan sesuatu yang biasa terjadi. Para politisi mengabaikan janjinya kepada rakyat, ketika mereka sudah terpilih menduduki jabatan tertentu.   Lanjutkan membaca Janji-janji Palsu

Perspektif

fullsizerenderVersi cetak bisa hubungi 

Jl. Gabus VII No. 24 – Rt 23/Rw 05, Minomartani
YOGYAKARTA – 55581
Telp. 0818271454
e-mail: penerbitmaharsa@gmail.com

Versi ebook bisa diunduh di link berikut: 978-602-0893-29-7_persppektif_reza_aa_wattimena

Toleransi dan Revolusi

Hilltown Families
Hilltown Families

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Sepanjang sejarah manusia, kita melihat ribuan konflik, akibat perbedaan latar belakang sosial. Keanekaragaman, yang sejatinya bisa menjadi daya dorong kemajuan peradaban, justru dipelintir untuk memecah belah, sehingga menciptakan konflik berdarah, semata demi memenuhi kepentingan politik yang bejat.

Di abad 21 ini, kita pun kembali ke jatuh ke lubang yang sama. Di beragam tempat di dunia, kita bisa menyaksikan, bagaimana perbedaan memicu konflik berkepanjangan yang memakan banyak korban.

Jelas, dunia membutuhkan perubahan mendasar dan menyeluruh terkait hal ini. Kita membutuhkan revolusi atas intoleransi yang menyebar dalam bentuk kebencian, rasisme dan diskriminasi dalam berbagai bentuk.

Tingkat-tingkat Toleransi

Untuk itu, kita perlu memahami secara mendalam makna toleransi sesungguhnya. Pemikiran Rainer Forst, di dalam bukunya yang berjudul Toleranz im Konflikt: Geschichte, Gehalt und Gegenwart eines umstrittenen Begriffs, bisa membantu kita dalam hal ini. Lanjutkan membaca Toleransi dan Revolusi

Buku Terbaru: Perspektif, Dari Spiritualitas Hidup sampai dengan Hubungan antar Bangsa

screenshot-1

Perspektif: Dari Spiritualitas Hidup sampai dengan

Hubungan antar Bangsa

Oleh Reza A.A. Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Pengantar oleh Anak Agung Banyu Perwita

Guru Besar Hubungan Internasional, Universitas Presiden Cikarang

Penerbit: Maharsa

ISBN 978-602-0893-29-7

“Buku yang kini berada di hadapan para pembaca sejatinya
merupakan sebuah upaya olah pikir dan olah rasa dari penulis
untuk memetakan dan menjelaskan beragam aspek, perspektif dan
‘level of analysis’ para individu manusia di dunia ini.”

Anak Agung Banyu Perwita”

“Bisa dibilang, perspektif adalah harta kita yang paling berharga
sebagai manusia di dalam hidup ini. Harta bisa hilang. Keluarga
pun bisa pergi meninggalkan kita. Namun, jika kita hidup dengan
perspektif yang tepat, kita bisa merangkai hidup kita kembali,
walaupun berbagai tantangan datang menghujam.”

Reza A.A Wattimena

Versi cetak bisa hubungi 

Jl. Gabus VII No. 24 – Rt 23/Rw 05, Minomartani
YOGYAKARTA – 55581
Telp. 0818271454
e-mail: penerbitmaharsa@gmail.com

Versi ebook bisa diunduh di link berikut:

978-602-0893-29-7_persppektif_reza_aa_wattimena

Ini tentang Ahok…

Ahok dan audit (step-12-11-2013), by Tb Arief Z.
Ahok dan audit (step-12-11-2013), by Tb Arief Z.

Penistaan Agama, Ruang Publik, Permainan Bahasa dan Kritik Diri yang Berkelanjutan

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Naskah Pemancing Diskusi untuk “Ngompol” (Ngomong Politik), Fakultas Humaniora, Universitas Presiden, Cikarang, 16 Februari 2017.  

2012 adalah tahun yang amat penting untuk penduduk Jakarta. Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta.

Keduanya amat fenomenal. Mereka membawa perubahan-perubahan besar bagi perkembangan Jakarta, mulai dari pelaksanaan program Mass Rapid Transportation yang tertunda puluhan tahun, sampai dengan pembebasan Tanah Abang dari cengkraman preman-preman liar.

Tak lama kemudian, Indonesia pun mengalami peristiwa yang mengguncang: Joko Widodo naik menjadi presiden pada 2014. Ahok pun resmi menjadi gubernur Jakarta yang menggantikan Joko Widodo.

Sebagai gubernur, sepak terjang Ahok tak kalah mencengangkan. Birokrasi lambat dan korupsi di kalangan pemerintahan daerah Jakarta dibabat habis. Infrastruktur dan tempat-tempat kumuh juga dibereskan, walaupun banyak mengundang kontroversi. Lanjutkan membaca Ini tentang Ahok…