Posmodernisme, Irasionalitas dan Keadaan Dunia Saat Ini

Nicoletta Ceccoli

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Darimana datangnya irasionalitas kita saat ini? Orang-orang berpikiran sempit menggalang kekuatan, dan memaksakan kehendak mereka ke ranah politik. Ujaran rasis dan diskriminatif bertebaran di ruang publik kita di Indonesia. Relativisme dan anarkisme menjadi gaya hidup baru yang dianggap keren dan bermutu.

Di tingkat internasional, hal-hal serupa juga terjadi. Satu-satunya negara adidaya memilih pimpinan yang kontroversial, dan banyak mengejutkan dunia dengan sumpah serapahnya. Pandangan sempit dan fasis memperoleh dukungan di berbagai negara. Seolah semakin bodoh dan sempit cara berpikir seseorang, semakin laku dia di pasar politik dan ekonomi yang juga terdiri dari orang-orang irasional.

Irasionalitas juga mendorong terjadinya berbagai konflik. Perang di Suriah tidak kunjung berakhir. Jutaan pengungsi terdampar tak terurus di tanah-tanah asing. Masalah ini belum selesai, namun ditambah dengan tegangan Russia dan AS yang semakin tinggi, dan bisa menggiring dunia ke perang dunia ketiga.

Tulisan kecil ini ingin melihat kaitan antara irasionalitas kita sekarang ini dengan perkembangan pemikiran posmodernis. Sebagai sebuah aliran pemikiran, posmodernisme berkembang di Eropa, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Pengaruhnya terasa tidak hanya di bidang seni, tetapi juga filsafat dan ilmu pengetahuan secara umum.

Posmodernisme mengumandangkan berakhirnya segala bentuk narasi besar yang hendak menjelaskan sesuatu dengan menggunakan teori yang rasional, sistematis, logis dan menyeluruh. Posmodernisme mengumandangkan “irasionalisme” sebagai sebuah cara berpikir yang baru, yang bebas dari segala bentuk penindasan atas nama rasionalitas dan moralitas.

Menjadi Irasional

Kecenderungan irasional dari posmodernisme telah banyak menjadi bahan diskusi para pemikir dunia. Tanggapan sudah diberikan dari para pemikir yang mengaku membawa bendera posmodern. Namun, karena posmodernisme sendiri menolak segala bentuk penjelasan yang rasional, sistematis, logis dan stabil, maka diskusi kerap berakhir di dalam kebuntuan. Penolakan ini didasari pandangan, bahwa seluruh penjelasan yang bersifat rasional, logis dan sistematis adalah bagian dari narasi besar yang menjajah cara berpikir manusia.

Kecenderungan irasionalitas di dalam posmodernisme dengan mudah menggiring orang ke dalam pola pikir terbelakang yang tertutup. Ia juga bisa menghancurkan segala bentuk perjuangan sosial yang mengedepankan prinsip-prinsip universal, seperti keadilan global dan negara hukum. Pada titik tertentu, posmodernisme, tanpa pertimbangan kritis terhadap batas-batasnya sendiri, bisa menggiring orang kembali ke kehidupan primitif. Inilah yang kiranya terjadi sekarang ini: pandangan sempit dan terbelakang menjadi latar belakang bagi berbagai keputusan politik di dunia.

Posmodernisme mulai berkembang di Prancis pada dekade 1960-an. Gerakan ini menghasilkan beragam karya seni sekaligus teori yang revolusioner. Posmodernisme menolak segala bentuk ide yang menekankan koherensi dan rasionalitas. Gerakan ini mendasarkan dirinya pada pemikiran Friedrich Nietzsche dan Martin Heidegger yang berasal dari Jerman.

Posmodernisme adalah sebuah tanggapan terhadap paham modernisme yang menekankan rasionalitas, keutuhan, koherensi, logika dan sistematika berpikir. Bagi para pemikir posmodern, pola berpikir itu adalah pola berpikir khas peradaban Barat yang dipaksakan ke seluruh dunia melalui proses penjajahan. Pola berpikir ini juga mencerminkan pola berpikir “budaya pria” kelas menengah yang menyingkirkan “pola berpikir perempuan” dan kelas-kelas sosial lainnya. Secara umum, posmodernisme juga melakukan kritik tajam terhadap filsafat, ilmu pengetahuan, rasionalitas, moralitas dan etika.

Posmodernisme juga menyerang pola berpikir strukturalis yang hendak memahami kehidupan manusia, baik pribadi maupun sosial, dengan melihatnya sebagai struktur dari berbagai hubungan. Marxisme pun, yang melihat perubahan sosial sebagai gerak antara ekonomi dan alat-alat produksi di dalam kelas-kelas sosial, juga dilihat sebagai cara berpikir yang modernistik dan terlalu sempit. Lebih dari itu, posmodernisme juga menyerang ilmu pengetahuan modern dengan meragukan segala bentuk obyektivitas, baik itu kenyataan obyektif di luar diri manusia, maupun pengetahuan obyektif itu sendiri. Ide “obyektivitas” dipandang sebagai hasil dari cara berpikir masyarakat borjuasi kelas menengah, pria dan berasal dari Barat semata.

Sebagai sebuah aliran pemikiran, posmodernisme mengandung dua hal yang saling bertentangan, yakni sikap nihilistik di hadapan dunia, serta sikap revolusioner untuk menantang segala hal yang menindas. Di dalam perkembangannya, posmodernisme pun melahirkan banyak cabang pemikiran, mulai dari analisis gender, semiotika sampai dengan filsafat politik. Nuansa revolusioner kemudian menipis, digantikan dengan nuansa nihilistik, yakni penghancuran total semua narasi. Ketika semua narasi habis terbantai, yang tersisa hanyalah kehampaan.

Anti-Modernis

Jaman modern Eropa telah menghasilkan hal-hal berharga bagi peradaban manusia, seperti hak-hak asasi manusia, abad fajar budi yang membuka peluang bagi akal budi manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Di jaman modern ini pulalah akal budi dan ilmu pengetahuan menempati kedudukan lebih tinggi daripada takhayul dan iman buta.

Manusia pun dilihat sebagai mahluk yang berharga pada dirinya sendiri, lepas dari latar belakang sosial politik yang ia miliki. Jika dipahami seperti ini, maka posmodernisme persis adalah kritik dari semua pendekatan di atas, karena semua hal luhur itu seringkali hanya berlaku untuk kelas menengah kaya dari Eropa saja, sambil menyingkirkan kepentingan semua ras maupun etnis lain yang tersebar di seluruh dunia.

Modernisme sendiri adalah perlawanan total terhadap feodalisme yang memisahkan manusia di dalam berbagai kedudukan sosial dan kultural tertentu, seperti bangsawan dan budak. Jika dipahami seperti ini, maka posmodernisme juga dapat dilihat sebagai kelanjutan dari modernisme. Namun, lawannya bukan lagi feodalisme, melainkan posmodernisme sebagai perlawanan total terhadap modernisme itu sendiri, termasuk di dalamnya perlawanan terhadap ilmu pengetahuan, akal budi dan hak-hak asasi manusia. Posmodernisme adalah penerus api modernisme yang menantang segala pandangan lama yang telah usang.

Lyotard, misalnya, di dalam bukunya yang berjudul The Postmodern Condition menegaskan kaitan erat antara ilmu pengetahuan dengan politik. Ini membuat ide obyektivitas ilmiah menjadi rancu, karena terlalu banyak campur tangan politik di dalamnya. Ilmu pengetahuan pun, menurut Lyotard, lalu semata menjadi perpanjangan tangan penguasa untuk mengontrol rakyatnya, supaya tetap patuh dan jinak.  Maka dari itu, yang harus ditemukan adalah “pengalaman-pengalaman yang dihayati” (Erlebnisse), dan bukan semata data-data obyektif yang sesungguhnya tak pernah obyektif.

Lyotard semacam menjadi pembuka jalan bagi para pemikir posmodern lainnya. Ia menekankan kemajemukan pengetahuan, dimana pandangan-pandangan yang selama ini terpinggirkan oleh pandangan dominan (modernis) bisa naik ke permukaan, dan menjadi bagian dari ranah hidup bersama. Salah satu pandangan lama yang terpinggirkan itu adalah rasisme dan fasisme yang kini ikut naik daun bersama dengan naiknya kadar irasionaliltas masyarakat dunia. Irasionalitas adalah posmodernisme yang menerjang batas-batasnya sendiri, sehingga melepaskan nilai-nilai yang menyangga kehidupan bersama manusia, seperti keadilan, kepantasan dan kemanusiaan.

Posmodernisme, dengan demikian, perlu melakukan kritik diri. Ia lahir dari keprihatinan dan niat baik untuk melepaskan manusia dari kungkungan cara berpikir dogmatik. Namun, jika tidak diperhatikan dengan kritis, posmodernisme juga bisa menjadi dogma baru yang menjajah kehidupan manusia. Irasionalitas, dalam arti ini, adalah posmodernisme yang lupa diri.

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

10 tanggapan untuk “Posmodernisme, Irasionalitas dan Keadaan Dunia Saat Ini”

  1. salam kenal.
    Artikel yang mencerahkan, setidaknya bagi saya, dalam memahami berbagai pergumulan dogmatik. Ada satu hal yang belum bisa saya pahami, yakni apa yang akan terjadi bang jika sebuah dogma berhadapan dengan dogma lainnya secara vis to vis? Apakah akan terjadi dialektika dogmatik?
    Terima kasih

    Suka

      1. hehehe… sekarang saya jadi paham mengapa Rm Magniz Suseno dulu pernah mengatakan bahwa posmo itu ilmu gadungan. Yang irasional juga masuk ke dalam ruang lingkupnya.

        Suka

  2. Posmodernisme dari barat ini apakah ada kesamaan dengan pemikiran masyarakat Indonesia yg sering kita nilai “primitif”, contoh misal seperti Kejawen atau Sunda wiwitan atau seperti yang masih kita nilai sebagai pemikiran “orang dulu” ?

    Suka

    1. tidak sama.. posmodernisme mengakui pemikiran2 primitif tersebut sebagai bagian dari peradaban manusia, setara dengan sains dan teknologi… namun, posmodernisme berbeda dengan nilai-nilai lokal tersebut

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s