Beringin Rumah Kita

Pohon beringinOleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang mengunjungi Bali, ia sudah mengunjungi surga. Tak hanya saya yang merasa seperti ini. Ratusan juta orang di seluruh dunia merasakannya. Banyak pula yang lupa, bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia (negara yang terus digerogoti korupsi, kesenjangan sosial besar dan radikalisme agama).

Di Bali, saya sangat suka berkeliling dengan sepeda motor. Saya tidak berkunjung ke tempat-tempat yang biasa didatangi para wisatawan. Saya masuk ke desa-desa terpencilnya, jauh dari sentuhan pariwisata. Semua serba indah, asri, harmonis dan wangi semerbak dupa di segala penjuru. Lanjutkan membaca Beringin Rumah Kita

Bukan Filsafat Kematian

Oleh Dhimas Anugrah

Pendiri Lingkar Filsafat (Circles) Indonesia, sebuah komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains. Studi di Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris.

Kabar wafatnya mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif di Yogyakarta pada Jumat 27 Mei 2022 mendatangkan duka bagi seluruh negeri. Sementara pada Minggu 29 Mei 2022 kabar duka kembali datang menyelimuti. Kali ini bagi komunitas Kristen Injili di Tanah Air. Pdt. Daniel Lucas Lukito, mantan Ketua Sekolah Tinggi Teologi SAAT di Malang, dikabarkan meninggal pada pukul 02.39 dini hari. Almarhum disebut-sebut sebagai salah satu pemikir besar dari kalangan Injili Indonesia. Kepergian kedua tokoh ini selain mengundang duka, juga mengajak kita melihat kembali realitas yang tak terelakkan: suatu hari kita akan berpulang. Lanjutkan membaca Bukan Filsafat Kematian

Arti Cinta yang Sesungguhnya…

Surrealist-automatismOleh Reza A.A Wattimena

Dulu, saya adalah vokalis band. Sayangnya, dengan berlalunya waktu, band kami sudah pecah. Semua sudah berkeluarga, kecuali saya. Hidup memisahkan kami.

Kami adalah band rock. Salah satu lagu yang sering kami bawakan adalah lagu-lagunya Ari Lasso, terutama yang berjudul “Arti Cinta”. Belakangan, lagu tersebut sering terngiang di kepala saya. Nostalgi pun mengunjungi hati. Lanjutkan membaca Arti Cinta yang Sesungguhnya…

Merindukan Indonesia

5761943774_1398ff6ec2_bOleh Reza A.A Wattimena

Saya lahir di Jakarta di awal 1980-an. Pada waktu itu, Jakarta masih relatif sepi. Tak ada kemacetan. Indonesia masih di bawah kekuasaan Orde Baru.

Pada masa itu juga, Indonesia masih seperti Indonesia. Orang Jawa masih menjadi orang Jawa. Orang Sunda masih menjadi orang Sunda. Nasionalisme Pancasila memang menjadi program kuat dari pemerintah Orde Baru. Lanjutkan membaca Merindukan Indonesia

Bukan Filsafat Penderitaan

WhatsApp Image 2022-05-18 at 9.28.48 PMOleh Dhimas Anugrah

Pendiri Lingkar Filsafat (Circles) Indonesia, sebuah komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains. Studi di Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris.

Penderitaan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Pepatah India Kuno mengatakan, “Sebelum kita dapat melihat arah dengan benar, kita harus terlebih dahulu meneteskan air mata untuk membersihkan jalan.” Artinya, ada perjuangan yang tidak selalu mudah untuk mencapai tujuan hidup setiap insan. Ada tantangan penderitaan yang perlu diatasi. Ia melingkupi dan mewarnai hayat setiap orang. Tidak ada orang yang mau menderita, tetapi realitas hidup tidak selalu seperti yang diharapkan. Penderitaan secara lugas menemani setiap manusia yang terlahir ke dunia, sehingga mau tidak mau, kita hanya bisa menerima kenyataan bahwa hidup di dunia ini memiliki warna yang khas: penderitaan. Lanjutkan membaca Bukan Filsafat Penderitaan

Tiga Pertemuan: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

WhatsApp Image 2022-05-18 at 6.43.17 PMWebinar bersama Forum Kader Pemikir Islam Indonesia dan Lembaga Studi Agama dan Filsafat 

Bagaimana menemukan kejernihan di tengah jaman yang semakin membingungkan ini? Bagaimana mendapatkan kedamaian hati dan arah hidup yang tepat di tengah cengkraman politik korup, bencana ekologis, krisis ekonomi bergantian, radikalisme agama dan ancaman perang dunia ketiga? Di dalam tiga pertemuan ini, kita akan belajar bersama untuk menjawab dua pertanyaan itu sampai tuntas.

Pertemuan 1: Sejarah dan Dasar Filosofis Zen (4 Juni 2022)

Pertemuan ini membahas sejarah dan filsafat Zen. Akan dibahas arti dasar kata Zen, dan bagaimana ia berkembang di dalam sejarah. Akan dibahas juga ontologi, epistemologi dan aksiologi dari Zen. Pertemuan ini memberikan dasar pemahaman konseptual untuk Zen. Lanjutkan membaca Tiga Pertemuan: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Filsafat Bagi Dunia yang Resah: Belajar Bersama Gautama, Nagarjuna dan Bodhidharma

WhatsApp Image 2022-05-14 at 10.33.59 PMOleh Reza A.A Wattimena

Batin yang resah adalah duri di dalam daging kehidupan. Batin mengkerut, sehingga keseharian menjadi muram. Resah tak berarti derita yang menerkam jiwa. Ia cukup adalah suara-suara fals di dalam ciutan burung di pagi hari. Ia membuat nafas menjadi tak leluasa, dan hidup lebih tak gembira.

Di tangan Siddharta Gautama, resah dan derita menjadi obyek kajian yang sangat mendalam. Ia pun menawarkan jalan untuk memadamkannya selamanya. Di tangan Nagarjuna, jalan pemadaman tersebut menjadi begitu indah dan elegan secara filosofis. Resah pun diubah secara mendasar menjadi jalan menuju Sunyata, yakni kekosongan maha luas yang menjadi inti dari segala yang ada.

Di tangan Bodhidharma, segala konsep dan rumusan padam. Hidup menjadi sempurna sebagaimana adanya dari saat ke saat. Mari kita belajar dari mereka, supaya kita bisa menjadikan resah sebagai teman setia menuju hidup yang bijaksana.

Klik utk mendaftar https://bit.ly/PlatonAcademy

Hidup Mengalir, Tanpa Rintangan

jardin-zen-en-miniatura-1024x682Oleh Reza A.A Wattimena

Jam 11 malam, Jumat 13 Mei 2022. Perut melilit. Sakitnya nyaris tak tertahankan. Saya pun terbangun.

Cuaca sejuk dan nikmat. Semuanya sempurna, kecuali perut yang berteriak. Perpaduan kopi, susu, arak, babi guling pedas dan bir memang mematikan. Saya sudah menduganya. Lanjutkan membaca Hidup Mengalir, Tanpa Rintangan

Apakah Pria Indonesia Berotak Kotor?

Surreal-portraits-of-women-painted-by-an-Iranian-artist-5710dae922d86__880Oleh Reza A.A Wattimena

Seorang teman bercerita. Ia berjalan di bilangan Pasar Baru, Jakarta. Ini tempat belanja klasik. Banyak barang yang menarik untuk dilihat.

Tiba-tiba terdengar suara pria. Hei, cewek, dari mana? Pertanyaan itu dibarengi dengan siulan yang terkesan kurang ajar. Teman saya kaget. Hari gini, masih ada orang “kampungan” yang suka menggoda perempuan di jalan? Lanjutkan membaca Apakah Pria Indonesia Berotak Kotor?

Zen Pengembara Menuju Yogyakarta

IMG-20211225-WA0008Oleh Reza A.A Wattimena

Tegangan mesin itu terasa di tangan. Angin dingin menerpa seluruh tubuh. Ramai lalu lintas membuat semua terasa hidup. Semua bergerak dengan satu tujuan: Yogyakarta.

Semua sudah rapih. Jam 9 malam, badan segar. Motor sudah siap. 24 Desember 2021, saatnya berangkat. Untuk pertama kalinya, saya merayakan Natal di atas dua roda sepanjang malam. Lanjutkan membaca Zen Pengembara Menuju Yogyakarta

DUNGU

unnamedOleh Reza A.A Wattimena

Alkisah, seorang pemuda hendak melihat mentari terbit. Katanya, setiap jam 3 pagi, ia sudah bangun, dan mempersiapkan diri. Matahari, baginya, adalah sumber kehidupan. Setiap hari, ia pun menantinya terbit.

Setelah bangun, ia mandi. Segera, ia memakai baju yang baru, supaya tampak sopan di hadapan sang sumber kehidupan. Ia pun menghadap Barat. Sabar menanti, ia terus berdiri, dan terus berharap. Lanjutkan membaca DUNGU

Jurnal Terbaru: Ingatan Sosial dibalik Konflik Rusia dan Ukraina 2022

_123450076_vladimirputinrussiaukrainewar2022vladimirputingopushdinuclearbuttonIngatan Kolektif dibalik Konflik Rusia dan Ukraina 2022

Teori Ingatan Sosial Christopher Wickham dan James Fentress dalam Konteks Perang Rusia-Ukraina 2022

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di The Ary Suta Center Series on Strategic Management April 2022 Vol 57

Abstrak

Tulisan ini bertujuan memahami akar konflik Rusia dan Ukraina dari sudut pandang teori ingatan kolektif, sebagaimana dirumuskan oleh Christopher Wickham dan James Fentress. Awalnya akan dijabarkan terlebih dahulu secara singkat konflik Rusia dan Ukraina pada akhir Februari 2022 lalu. Lalu akan dijabarkan teori ingatan kolektif dengan berpijak pada pemikiran Wickham dan Fentress. Beberapa refleksi akan diberikan dengan mengacu pada keputusan-keputusan yang dibuat Putin di dalam memimpin Rusia. Putin menggunakan ingatan kolektif Rusia sebagai pembenaran untuk menyerang Ukraina. Ingatan kolektif yang ia pegang bersifat mutlak, yakni tentang kejayaan Uni Soviet, perluasan NATO dan penindasan terhadap warga Rusia di Ukraina. Ingatan kolektif tersebut haruslah dibaca ulang dengan kerangka yang lebih kritis, sehingga perang bisa dihentikan, dan perdamaian bisa mulai dibangun.

Kata-kata Kunci: Ingatan, Ingatan Kolektif, Rusia, Ukraina, Perangnya Putin

Silahkan didownload disini: Ingatan Sosial Russia dan Ukraina Lanjutkan membaca Jurnal Terbaru: Ingatan Sosial dibalik Konflik Rusia dan Ukraina 2022

Hidup Seutuhnya

Complicity-Teresa-MeierOleh Reza A.A Wattimena

Hampir jam 8 malam. Hujan mendadak tiba. Dari pelan, secara perlahan, ia menjadi keras. Suara orang berteriak-teriak di rumah ibadah terdekat terdengar keras.

Beberapa teman berkumpul di depan rumah. Ada yang merokok. Ada yang membawa cemilan. Saya duduk dari dalam rumah, mengamati mereka. Lanjutkan membaca Hidup Seutuhnya

Diskusi: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam

WhatsApp Image 2022-04-10 at 16.36.33*Caknurian Urban Sufism With Komaruddin Hidayat Part 47 :Yesus Lintas Peradaban*

Yesus adalah salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam lintas peradaban.  Dalam tradisi Kristen, Yesus adalah Tuhan Juru Selamat.

Dalam tradisi Hindu dan Buddha, Yesus adalah Yoga Master yang mengajak umat manusia menempuh jalan pembebasan dari penderitaan.

Dalam tradisi Islam, Yesus adalah nabi yang membimbing manusia keluar dari jalan kegelapan. Lanjutkan membaca Diskusi: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam

Pedagogik Kemunafikan

hypocriteOleh Reza A.A Wattimena

Pagi hari, sekumpulan perempuan itu berkumpul. Mereka mengenakan pakaian religius tertentu. Sekujur tubuh tertutup, dari kepala sampai ujung kaki. Di negara tropis yang hangat, hal tersebut sungguh tak masuk akal sehat.

Mereka terlihat alim. Perilakunya terkontrol, seperti sapi yang hendak digiring ke pemotongan. Konon, katanya, di sekolah, mereka dipaksa untuk menghafal ajaran agama tertentu. Menghafal dan kepatuhan buta adalah ajaran mutlak di sistem pendidikan Indonesia yang sangat bobrok ini. Lanjutkan membaca Pedagogik Kemunafikan

Seminar: Etika dan Moral di dalam Dunia Digital

Eposter_Kelas Filsafat Mei 1Eposter_Kelas Filsafat Mei 2
Masih dalam tema besar “Manusia dan Dunia Digital”, kelas filsafat pada putaran kedua ini membahas bagaimana pemikiran Kant, pemikiran kaum Stoa, pemikiran Karl Marx, hingga Buddhisme dapat memecahkan soal etika di dunia digital. Daftar sekarang melalui https://tiket.salihara.org/event/etika-moral-dan-dunia-digital/ 

Zen itu Seperti Kamar Kosong

jptkA1Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa teman bercerita. Mereka sudah belajar Zen. Mereka juga sudah aktif Yoga. Namun, derita dan kecewa tetap berkunjung, seolah tak ada yang berubah.

Akhirnya, mereka lelah. Ada perasaan putus asa muncul. Hidup memang penderitaan, begitu kata seorang teman. Ucapan serupa keluar dari mulut Gautama, Sang Buddha, lebih dari 2400 tahun yang lalu. Lanjutkan membaca Zen itu Seperti Kamar Kosong

Puasa Digital

Male_Colorful_Silhouette_732x549-thumbnailOleh Reza A.A Wattimena

Di berbagai forum, saya berbicara tentang puasa digital. Awalnya, banyak orang terkejut dengan ide ini. Namun, setelah berdiskusi lebih dalam, titik terang pun timbul. Kita tidak hanya perlu melakukan puasa secara tradisional, tetapi juga puasa digital.

Secara umum, puasa adalah sebentuk mati raga. Orang menahan segala bentuk nafsu dalam jangka waktu tertentu. Ada yang puasa makan, minum, seks, merokok, bergosip dan sebagainya. Tujuannya adalah mencapai kebebasan dari dorongan nafsu di dalam diri, sekaligus kesehatan tubuh yang lebih baik. Lanjutkan membaca Puasa Digital

Hasrat Akan Kepuasan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono

Malam itu di warung tenda pinggir jalan, tidak begitu jauh dari Jalan Abu Bakar Ali, Yogyakarta, ia memesan kerang hijau, kerang mahkota, udang bakar, kepiting saos tiram, dan ikan bakar. Kami duduk bersila, beralas tikar, di atas trotoar. Di bawahnya adalah saluran air. Lalu lalang kendaraan bermotor sudah berkurang.

“Tidak pakai nasi. Mas, tambah cah kangkung. Sama sambalnya ditambah cabainya,” kata teman itu. Mulutnya melepaskan asap rokok ke udara yang agak dingin. Ia melemparkan bungkus rokok di meja saji yang rendah. Juga tas pinggangnya yang tampak berisi. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Kepuasan: Dukkha

“Flexing” Religi

the-end-is-the-same-3368713323759Oleh Reza A.A Wattimena

Bayi itu menangis di pagi hari. Suara keras membangunkannya. Suara tidak datang dari dalam rumah, tapi dari luar. Ada orang berdoa sangat keras, memecah pagi dan merusak ketenangan hidup masyarakat sekitar.

Berdoa dan bernyanyi harus keras, bahkan sampai jarak 3 km, suara tetap terdengar. Begitu banyak orang terganggu. Katanya, ini untuk menyebarkan agama. Yang tercipta bukan cinta, tetapi benci yang membara. Ini flexing religi. Lanjutkan membaca “Flexing” Religi