Bukan Filsafat Penderitaan

WhatsApp Image 2022-05-18 at 9.28.48 PMOleh Dhimas Anugrah

Pendiri Lingkar Filsafat (Circles) Indonesia, sebuah komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains. Studi di Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris.

Penderitaan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Pepatah India Kuno mengatakan, “Sebelum kita dapat melihat arah dengan benar, kita harus terlebih dahulu meneteskan air mata untuk membersihkan jalan.” Artinya, ada perjuangan yang tidak selalu mudah untuk mencapai tujuan hidup setiap insan. Ada tantangan penderitaan yang perlu diatasi. Ia melingkupi dan mewarnai hayat setiap orang. Tidak ada orang yang mau menderita, tetapi realitas hidup tidak selalu seperti yang diharapkan. Penderitaan secara lugas menemani setiap manusia yang terlahir ke dunia, sehingga mau tidak mau, kita hanya bisa menerima kenyataan bahwa hidup di dunia ini memiliki warna yang khas: penderitaan.

Di era sekarang, penderitaan manusia bisa saja dipicu oleh tantangan finansial, sakit fisik, masalah keluarga, perpisahan dengan orang yang kita cintai, termasuk tindakan zalim orang lain terhadap kita. Seperti kata Arthur Schopenhauer, “Penderitaan secara alami atau kebetulan tidak pernah tampak begitu menyakitkan seperti penderitaan yang ditimbulkan oleh kehendak semena-mena orang lain.” Anda bisa tambahkan contoh penderitaan lainnya di sini, termasuk overthinking, dsb. Namun, penderitaan bukanlah akhir segalanya. Ada kebahagiaan di sudut sana yang menanti dipeluk. Menurut seorang bijak di masa lalu, jalan menuju kebahagiaan dimulai dari kesadaran akan adanya penderitaan dan memahami akar penyebabnya. Ia benar. Menyadari penderitaan sebagai fenomena nyata pun seirama dengan nyanyian Yahudi Kuno, “Masa hidup manusia tujuh puluh tahun, jika ia kuat bisa delapan puluh tahun, kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan, berlalunya buru-buru, lalu ia melayang lenyap.”

Mencari Akar Penderitaan

Ke mana harus mencari penyebab penderitaan itu? Sigmund Freud menawarkan pendapat bahwa ada tiga penyebab penderitaan manusia. Pertama, tubuh manusia: karena ia lemah, rentan, fana, dan sakit. Kedua, dunia: karena bencana alam, banjir, wabah, tsunami, juga ketidakmampuan manusia mengendalikan alam. Ketiga, hubungan sosial: di mana masyarakat terkadang bertindak tidak tertib, ketidaksukaan orang lain kepada kita tanpa alasan, maupun gosip. Semua ini membatasi kepuasan, kebebasan, dan ketenangan kita. Sementara menurut Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terdapat lima penyebab penderitaan hidup, yaitu: (1) Menyesali masa lalu, atau susah move on; (2) Tidak menikmati saat ini; (3) Mengkhawatirkan masa depan; (4) Tidak bisa memaafkan; (5) Meletakkan kebahagiaan pada pendapat orang lain.

Semua manusia dari beragam latar belakang sama-sama bisa mengalami penderitaan. Penderitaan adalah keniscayaan dan bisa dialami siapa pun, baik yang menjaga moralitasnya maupun yang mengabaikannya. Sejak lama penderitaan manusia juga menjadi perhatian utama pada filsafat ketuhanan. “Jika Tuhan ada, mengapa ada penderitaan?” Demikian percakapan tiada henti dalam diskursus para pecinta kebijaksanaan.

Setidaknya, dapat kita lihat bahwa penyebab penderitaan terdiri dari dua faktor: “eksternal” dan “internal.” Perang, pandemi, krisis ekonomi, gesekan antarteman bisa saja memantik penderitaan, tetapi itu semua tergolong penderitaan yang disebabkan “faktor eksternal.” Sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan. Sementara hidup kita sudah selayaknya tidak dikendalikan oleh hal-hal yang bersifat eksternal itu.

Filsafat Stoa dalam hal ini memberi tawaran yang menarik, yaitu agar setiap orang bisa tegas memilah hal-hal mana yang bisa ia kendalikan dan mana yang tidak, lalu menerima hal-hal yang berada di luar kendalinya, dan memfokuskan diri pada apa yang bisa ia kendalikan, yaitu hati dan cara menyikapi realitas.

Di sini setiap orang diajak untuk memiliki keugaharian atau yang dalam bahasa Yunani disebut sebagai sophrosune. Istilah “ugahari” ini bisa juga dimengerti sebagai mawas diri, yaitu kemampuan mengelola hati dan menahan diri. Dengan memiliki keugaharian, maka seseorang dimampukan menjaga hati tetap tenang dan sukacita, meski situasi eksternal tidak menyenangkan atau memuaskan kehendaknya.

Di abad pertama Masehi, Epiktetus, seorang tokoh filsafat Stoa mengajarkan sesuatu yang menarik, bahwa untuk mencapai kebahagian dan ketenangan yang tidak terganggu oleh kegelisahan mental atau emosional (ataraxia) manusia perlu menguasai nafsu yang ada dalam dirinya dan tidak terpengaruh oleh situasi yang berada di luar kendalinya. Tetapi sebelum Epiktetus menawarkan filsafatnya, masih di abad yang sama, Rabi Saulus dari Tarsus sebenarnya sudah lebih dulu menulis mengenai “penguasaan diri” sebagai salah satu buah roh. Istilah dalam bahasa Yunani yang ia pakai untuk “penguasaan diri” adalah egkrateia, yang artinya suatu kebajikan yang lahir dari seorang yang mengendalikan hasrat atau gairah manusiawinya, termasuk nafsu sensualnya.

Secara sederhana, egkrateia merupakan pengingat bagi pembaca masa itu agar berikhtiar mengendalikan atau menahan diri dalam memilah keinginan dan sikapnya. Sebagai pembaca di abad 21, tentu tidak berlebihan jika kita juga merasa diundang untuk menguasai diri di tengah dunia yang resah ini. Saya pikir ini hal yang baik. Sebab, ketika dalam kehidupan seseorang tidak mampu menguasai diri, maka akan muncul pemicu penderitaan yang selama ini mencengkeram manusia: keinginan yang menyimpang. Inilah sumber penderitaan dari “faktor internal.”

Keinginan yang menyimpang inilah yang memicu beragam persoalan bagi tiap insan. Dalam sebuah dokumen di abad pertama, seorang pemimpin komunitas di tanah Palestina mengatakan, “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi.” Tidak berhenti di situ, filsafat keilahian juga menemukan dari mana asal keinginan yang menyimpang ini berasal. Istilah Yunani menyebutnya sebagai sifat alamiah hamartia (ἁμαρτία) yang dimiliki setiap manusia, bahkan sejak ia dalam kandungan ibunya.

Hamartia sendiri berarti “meleset dari target” atau “keliru.” Nafsu liar atau keinginan yang menyimpang dalam diri manusia ini berasal dari hamartia, yang jika ditelisik pada teks lebih kuno ditemukan bahwa faktor inilah yang membuat “kejahatan manusia besar di bumi dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.”

Respons Sederhana

Sifat alamiah hamartia manusiawi (sinful nature) ini mencondongkan hati setiap insan pada keinginan yang menyimpang. Maka, tepatlah iluminasi yang bergaung sejak dua ribu tahun lalu, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Hamartia sudah melekat dalam semua yang manusia pikirkan, rasakan, dan inginkan.

Dari belenggu hamartia ini manusia tidak bisa membebaskan dirinya sendiri secara natural. Perlu sebuah momen “titik balik” atau metanoia dalam diri seseorang. Tanpa metanoia, seseorang bisa saja beragama, belajar filsafat dan ilmu pengetahuan, tetapi akan terus dijerat oleh hamartia. Energinya niscaya habis karena berkutat dengan lingkaran perjuangan sia-sia tiada akhir.

WhatsApp Image 2022-05-18 at 8.57.05 PM

Pendapat mengenai adanya hamartia yang memicu keinginan menyimpang ini menjadi titik awas bagi kita. Meski sudah banyak belajar dari sana-sini sekian lama, kita diajak untuk menemukan momen metanoia masing-masing dan tetap menjaga hati agar tidak terjebak kepada keinginan menyimpang yang menjadi sumber penderitaan diri kita sendiri.

Kita diundang untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan agar tidak mengikuti nafsu menyimpang yang bisa menjadi sumber penderitaan. Tentu, ini bukan perkara mudah atau susah, tetapi ini adalah perjuangan. Kita diajak memeriksa ke dalam batin sendiri, menguji kemurnian hati dan keinginan-keinginan kita. Karena hanya dengan cara seperti itu hidup kita bisa menjadi manusia yang utuh, dan sanggup mengatasi penderitaan yang disebabkan faktor eksternal maupun internal.

*****

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Bukan Filsafat Penderitaan”

  1. Rasanya berbeda tapi ttp menyegarkan dahaga spiritualitas saya, selamat berkarya untuk para penulis rumah filsafat, saya ttp setia menunggu tulisan2 berikutnya….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.