Menuju “Saat Ini”

mshcdn.com
mshcdn.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman.

Eckhart Tolle menulis buku berjudul Jetzt, die Kraft der Gegenwart pada 2010 lalu. Tolle mengajak kita untuk kembali ke “saat ini”, yakni sepenuhnya berada pada momen, dimana kita ada sekarang. Di dalam “saat ini”, kita akan menemukan kebahagiaan, kebenaran, cinta, kedamaian, Tuhan, kebebasan. Di “saat ini”, kita akan menemukan semua tujuan hidup kita. Ketika orang meninggalkan “saat ini”, maka ia masuk kembali ke dalam lingkaran penderitaan, kecemasan dan ketakutan dalam hidupnya.

Jika kita berpikir secara jernih, kita akan sadar, bahwa yang ada hanyalah saat ini. Tidak ada masa lalu dan tidak ada masa depan. Masa lalu hanya merupakan kenangan. Masa depan hanya merupakan harapan. Keduanya tidak nyata.

Masa lalu memberikan identitas pada diri kita. Masa depan memberikan janji tentang hidup yang lebih baik. Namun, jika dipikirkan secara jernih dan mendalam, keduanya tidak ada. Keduanya adalah ilusi.

Banyak orang mengira, bahwa waktu adalah uang. Mereka juga mengira, bahwa waktu adalah hal yang amat berharga. Namun, sejatinya, waktu adalah ilusi. Ia tidak memiliki nilai pada dirinya sendiri. Lanjutkan membaca Menuju “Saat Ini”

Sekali lagi: Agama dan Kekerasan

asterix-jesuischarlie
Oleh Reza A.A Wattimena

Ada pepatah Cina kuno yang mengatakan, “Alat yang baik di tangan orang jahat akan menjadi alat yang jahat.” Sebaik apapun ajaran suatu agama, jika dianut oleh sekumpulan orang yang menderita dan tersesat, maka agama itu akan menjadi jahat yang menghasilkan penderitaan bagi banyak orang.

Pembunuhan wartawan-wartawan Charlie Ebdo di Paris sungguh menggetarkan hati dunia. Lagi-lagi, agama digunakan untuk membenarkan kekerasan. Sungguh menjijikan. Peristiwa ini terangkai erat dengan pelbagai peristiwa kekerasan atas nama agama lainnya, seperti ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) yang terus melakukan pembunuhan massal di Irak dan mengancam negara-negara di Timur Tengah lainnya.

433637I am not CharlieDi Nigeria, kelompok Islam ekstrimis Boko Haram juga melakukan pembunuhan massal. Beberapa waktu lalu, kelompok Islam ekstrimis juga melakukan pembunuhan massal terhadap anak-anak di Pakistan. Di Israel, agama Yahudi dijadikan dasar sekaligus pembenaran untuk melakukan penindasan nyaris tanpa henti kepada Palestina. Di Indonesia, diskriminasi terhadap agama minoritas nyaris menjadi makanan sehari-hari.

Tak jauh dari ingatan kita sebagai bangsa Indonesia, Kristianitas digunakan untuk pembenaran bagi proses penjajahan Eropa atas seluruh dunia. Jutaan manusia manusia dari berbagai belahan dunia mati dalam rentang waktu lebih dari 300 tahun, akibat peristiwa ini. Sumber daya alam dikeruk demi kekayaan bangsa-bangsa Eropa. Beragam budaya dan cara hidup hancur di dalam proses penjajahan yang juga memiliki motif Kristenisasi seluruh dunia itu.

Lanjutkan membaca Sekali lagi: Agama dan Kekerasan

Tidak Tahu

deathandtaxesmag.com
deathandtaxesmag.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Sokrates dikenal sebagai bapak dari filsafat barat. Ia hidup sekitar 470 tahun sebelum Masehi. Ia memiliki cara berfilsafat yang unik. Ia tidak berfilsafat di kelas atau ruang-ruang tertutup lainnya, melainkan di pasar di kota Athena.

Ia berjalan berkeliling di pasar. Ia pun berteriak kepada banyak orang, “Kamu harus mengenal dirimu sendiri! Kamu sungguh harus mengenal dirimu sendiri!” Ketika ada orang bertanya kepadanya, “Hai Sokrates, apakah kamu mengenal dirimu sendiri?” Sokrates hanya menjawab, “Saya tidak tahu, namun saya tahu, bahwa saya tidak tahu!”

Bodhidharma dikenal sebagai orang yang membawa Zen Buddhisme dari India ke Cina. Di India sendiri, Buddhisme sudah berkembang dari sekitar tahun 680 sebelum Masehi. Di Cina, Buddhisme sudah ada mulai dari sekitar tahun 200 setelah Masehi. Kehadiran Bodhidharma mengundang takut sekaligus kagum dari para biksu Buddhis yang sudah ada Cina pada masa itu.

Suatu hari, Bodhidharma diundang oleh penguasa setempat untuk makan bersama. Sang penguasa bertanya, “Saya sudah membangun banyak biara Buddhis. Apa yang akan saya dapatkan?” Bodhidharma menjawab, “Tidak ada.” Sang penguasa pun marah mendengar jawaban itu. Ia berkata, “Kurang ajar! Siapa kamu?” Jawab Bodhidharma, “Saya tidak tahu.”

Tidak Tahu

Apa yang sama dari jawaban Sokrates dan Bodhidharma? Keduanya sama-sama mengatakan, bahwa mereka tidak tahu. Apa maksud dari jawaban ini? Apakah ini sungguh ketidaktahuan, ataukah ada maksud lain yang ingin mereka sampaikan? Lanjutkan membaca Tidak Tahu

Pendidikan Filsafat untuk Anak?

philosophierenmitkindern.de
philosophierenmitkindern.de

Pendasaran, Penerapan dan Refleksi Kritis untuk Konteks Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Mungkinkah filsafat diajarkan untuk anak1 pada tingkat sekolah dasar? Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut dengan nada positif. Awalnya akan dijelaskan terlebih dahulu dasar teoritis dari program filsafat untuk anak yang telah dijalankan di berbagai negara di Eropa dan Amerika Serikat (1). Lalu akan dijelaskan juga argumen filsafat sebagai pendidikan nilai untuk anak-anak (2). Untuk memperjelas argumen ini juga akan akan dipaparkan program filsafat untuk anak-anak yang telah diterapkan di beberapa negara bagian di Jerman (3). Setelah itu akan dipaparkan beberapa kemungkinan penerapan untuk konteks Indonesia (4). Beberapa catatan kritis atas program filsafat untuk anak juga akan diberikan (5). Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan (6). Saya mengacu pada penelitian yang dibuat oleh Gregory,2 Höffling,3 Zeitler4 dan Brüning5 sebagai pendasaran teoritis sekaligus pemaparan penerapan program filsafat untuk anak di Jerman.

  1. Pendasaran Teoritis

Mengapa filsafat itu penting untuk anak-anak? Anak-anak, pada dasarnya, adalah filsuf alamiah.6 Artinya, mereka selalu menjadi seorang filsuf yang mempertanyakan segala sesuatu, termasuk hal-hal yang sudah jelas bagi orang dewasa. Seringkali, anak-anak menanyakan pertanyaan yang mengandung unsur politis, metafisis bahkan etis. Jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan pemahaman tentang sejarah, politik dan metafisika yang cukup dalam. Anak-anak sudah memiliki semacam intuisi filosofis yang sudah ada secara alamiah di dalam dirinya. Berbagai penelitian, seperti dikutip oleh Maughn Gregory, menyatakan, bahwa pemahaman dan gaya berpikir filsafat yang diberikan sejak usia dini dapat meningkatkan kemampuan berbahasa (linguistik), kemampuan berhubungan dengan orang lain (sosial), kemampuan untuk berhadapan dengan kegagalan (psikologis), dan kemampuan untuk berpikir terbuka anak (ilmiah), sehingga ia bisa menerima pelajaran dari luar dengan lebih cepat dan mendalam. Dengan keempat kemampuan ini, anak pun bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya kepada orang lain dengan lancar. Di Jerman, program “anak-anak berfilsafat” (Kinder Philosophieren) sudah dimulai sejak dekade 1960-an. Metode yang digunakan sebenarnya cukup sederhana, yakni perumusan pertanyaan yang dibuat bersama-sama dengan anak (1), berdiskusi bersama anak, guna menjawab pertanyaan ini (2), melihat beberapa kemungkinan jawaban yang bersifat terbuka (3) dan mencoba menggali pertanyaan lebih jauh dari jawaban yang telah ada (4). Lanjutkan membaca Pendidikan Filsafat untuk Anak?

Lupa

hopeofglory.typepad.com
hopeofglory.typepad.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di Jerman

Ada satu band yang cukup menarik dari Indonesia. Nama bandnya adalah Kuburan. Mereka punya satu lagu yang cukup terkenal di Indonesia. Judulnya “Lupa”.

Syairnya menarik perhatian saya. Begini bunyinya: “lupa..lupa..lupa… lupa lagi syairnya. Ingat… ingat.. ingat cuma kuncinya.” Bagaimana mungkin seorang musisi menyanyi lagu ciptaannya sendiri, tetapi lupa syairnya? Mungkin, ini mirip seperti keadaan kita sekarang ini. Kita manusia, tetapi lupa, apa artinya menjadi manusia.

Kita bekerja. Kita belajar. Kita bercinta. Kita berkeluarga. Namun, semuanya itu terjadi secara begitu saja, seringkali tanpa kesadaran, karena kita hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh masyarakat dan keluarga kita. Kita lebih mirip robot, dan kehilangan kesadaran kita sebagai manusia.

Kelupaan Kita

Martin Heidegger, filsuf Jerman di awal abad 20, menyebut keadaan ini sebagai “kelupaan akan ada” (Seinsvergessenheit). Orang sibuk mencari dan melakukan apa yang tidak penting, dan pada waktu yang sama, mereka lupa akan inti yang terpenting dari segala sesuatu. Di dalam tradisi Buddhisme, ini juga disebut sebagai keadaan “tidak melihat” (avidya). Orang hidup dengan segala kesibukannya, tetapi tidak melihat apa yang sungguh penting, dan juga melupakan inti dari segala sesuatu.

Di dalam tradisi filsafat Yunani Kuno, Plato juga melihat keadaan yang sama. Ketika manusia lahir, ia melupakan segala pengetahuan yang ia punya, lalu harus mulai belajar segalanya dari awal lagi. Pendidikan, bagi Plato, adalah proses mengingat kembali (anamnesis) apa yang sudah diketahui sebelumnya, namun terlupakan. Sumber dari pengetahuan itu adalah Dunia Ide, tempat model dan eseni dari segala sesuatu berada. Lanjutkan membaca Lupa

Buku Filsafat Terbaru: Filsafat sebagai Revolusi Hidup

Filsafat revolusi hidup

Apa makna revolusi?

Revolusi adalah perubahan yang cepat, mendasar dan menyeluruh. Ia bisa terjadi di level sosial dan politik, tetapi juga bisa terjadi di level pribadi. Kita bisa menderet berbagai contoh revolusi sosial politik di dalam sejarah manusia, mulai dari revolusi Prancis di abad 18 sampai dengan revolusi kemerdekaan Indonesia di awal sampai dengan pertengahan abad 20. Buku ini saya tujukan bukan hanya pada para peminat filsafat, tetapi juga pada semua orang yang merasa, bahwa Indonesia, dan juga dunia ini, butuh perubahan yang cepat dan mendasar; revolusi.

Lihat website:

http://www.kanisiusmedia.com/product/detail/001001/Filsafat-Sebagai-Revolusi-Hidup

Bisa didapatkan di:
Kantor Pusat:
Jl. Cempaka 9, Deresan
Yogyakarta 55281
INDONESIA
Telp. (0274) 588783, (0274) 565996
Fax. (0274) 563349
E-mail: office@kanisiusmedia.com

Menari di atas Organisasi

lets_dance_with_surrealism_by_emo_ghoul_graphics-d53ae9uOleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Kita hidup di antara beragam bentuk organisasi. Keluarga pun juga dapat dilihat sebagai organisasi. Pada tingkat terluas, kita bisa melihat beragam bentuk organisasi internasional, seperti PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dan WHO (World Health Organization), yang memiliki lingkup kerja seluas dunia itu sendiri. Kita hampir tak bisa membayangkan hidup, tanpa adanya organisasi.

Setiap bentuk organisasi selalu memiliki dua hal, yakni tata dan tujuan. Tata berarti pola yang tetap dalam bentuk aturan maupun kebiasaan. Tujuan berarti adanya hal yang ingin dicapai, yang saat ini belum ada. Dalam arti ini, organisasi bisa berarti sekelompok orang yang memiliki tata dan tujuan, maupun seorang pribadi yang menata dirinya untuk mencapai tujuan tertentu.

Organisasi Diri

Pada tingkatnya yang paling kecil, organisasi adalah pribadi. Hidup kita adalah sebentuk organisasi. Ia memiliki tata tertentu yang membuatnya tetap ada, misalnya kita makan dan istirahat, guna memperbaiki sel-sel tubuh kita yang rusak. Kita juga mempunyai tujuan tertentu, yakni cita-cita yang ingin kita capai di masa depan.

Seorang atlit basket akan mengorganisir dirinya dengan baik. Ia akan bangun pagi, berolah raga, dan makan makanan yang bergizi. Ia akan berlatih secara rutin, tanpa merusak kesehatannya. Inilah yang dimaksud organisasi diri.

Maka dari itu, kita setidaknya mengenal dua kata, yakni organisasi dalam arti kelompok, dan organisasi dalam arti organisasi diri. Di dalam perkembangan sejarah manusia, keduanya ada untuk mengabdi satu tujuan, yakni keberlangsungan hidup. Organisasi ada untuk menjamin, bahwa manusia tetap ada dan berkembang di dalam dunia ini. Ada dua hal yang kiranya perlu diperhatikan disini. Lanjutkan membaca Menari di atas Organisasi

Spiritualitas tanpa “Spiritualitas”

Zen-circle-symbolSpiritualitas sebagai Dialektika Transrasionalitas Zen Buddhisme dari Sudut Pandang Tiga Master Zen: Ma-Tsu, Lin-Chi dan Ikkyu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, Sedang di Jerman

Kita hidup di era krisis spiritualitas. Teknologi dan ekonomi berkembang maju, tetapi jiwa dan pikiran manusia justru semakin menderita. Mereka hidup terpisah dengan alam, dan akhirnya terasing dari alam itu sendiri, dan bahkan menghancurkan alam. Orang hidup dalam kelimpahan harta dan uang, namun hatinya penuh penderitaan, rasa takut dan rasa benci.1 Tak heran, tingkat bunuh diri, stress, depresi dan beragam penderitaan batin lainnya semakin meningkat. Banyak keluarga hancur di tengah jalan, karena rasa benci dan rasa takut yang menutupi pikiran. Pengguna narkoba pun semakin meningkat dan usianya semakin muda, persis untuk mengalihkan manusia dari penderitaan batin yang dirasakannya. Agama, yang dilihat sebagai dasar dari spiritualitas menuju hidup yang bermakna, pun kini terjebak pada fundamentalisme. Mereka mendewakan tradisi, ritual dan aturan, serta bersedia mengorbankan manusia. Bahkan, agama sering digunakan untuk pembenaran bagi tindakan-tindakan bejat dan kepentingan politik yang menutupi sejuta kemunafikan. Yang dibutuhkan oleh banyak orang sekarang ini adalah jenis spiritualitas yang baru, yang bisa memberikan makna bagi hidupnya, dan mengurangi penderitaan batinnya, guna menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Di dalam tulisan ini, saya akan menawarkan bentuk spiritualitas yang baru. Ia berpijak pada tradisi Zen Buddhisme yang berkembang di India, Cina dan Jepang. Saya akan belajar langsung dari riwayat hidup dan pemikiran-pemikiran tiga guru Zen yang amat berpengaruh di dalam tradisi perkembangan Zen, yakni Ma-tsu, Lin-chi dan Ikkyu. Sebagai acuan, saya memilih menggunakan buku Thomas Hoover dan Alan Watts.2 Keduanya adalah penulis dari Amerika Serikat. Mereka membaca dan menafsirkan Zen untuk orang-orang yang terbiasa dengan pola pendidikan Barat. Tulisan-tulisan asli para guru Zen seringkali begitu tenggelam pada konteks budaya mereka masing-masing, sehingga kurang bisa dimengerti oleh orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Pada akhirnya, spiritualitas Zen adalah sebuah praksis hidup. Ia bukan cuma teori untuk menjelaskan dunia dan manusia. Ia adalah praksis hidup yang harus dijalankan, supaya manfaatnya sungguh terasa. Lanjutkan membaca Spiritualitas tanpa “Spiritualitas”

ANTARA AKU DAN DUNIA

wikipedia
wikipedia

URAIAN DAN TANGGAPAN ATAS FILSAFAT PENDIDIKAN WILHELM VON HUMBOLDT DI DALAM THEORIE DER BILDUNG DES MENSCHEN

Reza A.A Wattimena, Faculty of Philosophy Widya Mandala Catholic University Surabaya, Indonesia

Wilhelm von Humboldt has put the foundation of Germany’s educational system. He emphasizes the importance of integrity in term of individual personality. Through education, one can develop one’s integrity and personality. The basis of this integrity is human freedom, that is, the freedom to decide one’s own worldview according to one’s choices in life. With this freedom, human is fashioned through the process of education to develop his/her intellectual knowledge, conscience and skills to work in life. One then can contribute genuinely to the development of one’s neighbourhood and society. However, Humboldt’s theory of education needs some critical remarks as well. Without bold conscience the concept of integrity and personality might be twisted into a justification of selfimportance. Germany had its own criticism concerning this arrogance during the World War II. Apart from that, when interpreted and applied critically, Humboldt’s ideas of education may contribute a great deal to the development of educational system as well as philosophy of education in Indonesia.

Upaya untuk menemukan filsafat dan sistem pendidikan untuk Indonesia perlu terus menerus dilakukan. Dunia terus berubah. Banyak hal baru ditemukan. Hubungan antarmanusia dan antarbangsa pun berubah. Teknologi maju begitu pesat. Hal-hal lama ditinggalkan, namun sekaligus hal-hal baru belum sepenuhnya terpahami. Manusia hidup terus menerus dalam situasi persimpangan. Stabilitas pun menjadi sesuatu yang nyaris tak tercapai. Untuk bisa bertahan dan berkembang sebagai bangsa, Indonesia perlu meningkatkan sumber daya manusianya. Dalam hal ini, pengembangan pendidikan adalah kunci utama yang tak bisa diabaikan. Setidak-tidaknya ada dua jalan yang bisa ditempuh. Pertama, mengamati dengan teliti sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, dan menafsirkan kembali ide-ide dasar para tokoh pendidikan di Indonesia. Kedua, belajar dari pengalaman bangsa lain. Lanjutkan membaca ANTARA AKU DAN DUNIA

Aku dan Waktu

frontiergroup.info
frontiergroup.info

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Banyak orang yang hidupnya dikejar oleh waktu. Mereka membuat rencana yang detil pada hidupnya. Pada usia tertentu, misalnya, mereka sudah harus selesai kuliah. Pada usia yang lainnya, mereka sudah harus punya pacar, dan sebagainya.

Ketika rencana tidak sejalan dengan kenyataan, mereka lalu kecewa. Mereka mulai membandingkan keadaan yang mereka alami dan keadaan yang mereka rencanakan. Dari perbandingan lalu muncul kesedihan. Kesedihan menjadi akar dari depresi, stress dan berbagai penderitaan batin lainnya.

Hal ini khususnya dialami oleh banyak perempuan. Mereka membuat rencana yang detil dalam hidupya. Pada usia tertentu, mereka merasa harus sudah punya pasangan. Dan beberapa tahun berikutnya, mereka berencana untuk segera menikah.

Setelah menikah, mereka juga segera langsung berencana punya anak. Semua sudah terpeta dan terencana. Namun, sayangnya, hidup selalu berkelit dari rencana. Ketika rencana dan kenyataan tak berjalan seiring, kekecewaan dan kesedihan pun datang melanda.

Semua rencana ini biasanya lahir dari tuntutan sosial. Orang tua dan masyarakat sekitar menginginkan kita untuk hidup sesuai dengan nilai dan pola yang telah mereka buat. Kita pun kemudian melihat nilai dan pola itu sebagai bagian dari diri dan identitas kita sebagai manusia. Ketika hidup kita tidak sejalan dengan nilai dan pola yang ditetapkan masyarakat, kita lalu dianggap sebagai orang yang aneh, bahkan kriminal. Lanjutkan membaca Aku dan Waktu

Ilmu Pengetahuan dan Kehancuran Kita

flickr.com
flickr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup kita sekarang ini sungguh tercabut dari alam. Kita merasa terasing dengan tanaman dan hewan. Padahal, keduanya adalah sumber kehidupan kita. Tanpa mereka, kita akan punah.

Justru sebaliknya, hidup kita malah semakin tidak alami. Kita bersentuhan dengan beton dan besi, tetapi justru jijik dengan tanah dan pohon. Padahal, tanpa tanah dan pohon, kita tidak akan dapat hidup.

Kita tidak hanya semakin jauh dari alam. Kita justru menghancurkan alam. Kita mengeruk sumber daya alam tanpa kendali nurani. Kita menggunakan energi, tanpa peduli dari mana energi itu berasal.

Kita asik makan daging di restoran. Namun, kita mengabaikan fakta, bahwa banyak hewan digunakan dan dihancurkan hidupnya oleh perusahaan-perusahaan daging raksasa. Seperti dinyatakan oleh Peter Singer, salah satu tokoh etika hewan (animal ethics), hubungan manusia dengan hewan sama seperti hubungan antara Hitler dengan orang-orang Yahudi pada dekade 1933 sampai 1945 di Jerman. Singkat kata, kita melakukan pembunuhan massal yang biadab pada jutaan hewan setiap harinya, demi memuaskan nafsu kita atas daging dan kenikmatan singkat semata.

Kita menghancurkan hutan, supaya bisa mengeruk keuntungan ekonomi sesaat. Dengan hancurnya hutan, banyak pula binatang yang kehilangan tempat tinggal. Mereka pun terancam punah. Hampir setiap saat, menurut Singer, ada salah satu jenis binatang yang punah dari muka bumi ini, karena kehilangan tempat tinggal alamiahnya. Ketika hutan dan tempat alamiah para hewan hancur, berbagai bencana pun terjadi, mulai dari banjir sampai dengan perubahan iklim yang terjadi di seluruh dunia. Lanjutkan membaca Ilmu Pengetahuan dan Kehancuran Kita

Satu Paket

http://ceasefiremagazine.co.uk
ceasefiremagazine.co.uk

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kita terbiasa untuk menghindari kesedihan. Setiap perasaan sedih dianggap sesuatu yang jelek. Kita lalu mencari segala cara untuk menutupinya. Kita menekan atau justru malah lari dari kesedihan yang kita alami.

Sebaliknya, kita lalu mengejar kenikmatan dengan segala cara. Kita berusaha sedemikian rupa, sehingga kita memiliki alat untuk memenuhi semua keinginan kita akan kenikmatan. Bahkan, ada beberapa orang yang bersedia mencuri dan membunuh, guna mencapai kenikmatan dirinya. Seluruh pikiran dan hidup kita terpusat pada pencarian kenikmatan, tanpa henti.

Satu Paket

Padahal, jika kita berpikir lebih dalam, kesedihan dan penderitaan adalah bagian dari kenikmatan. Artinya, kita tidak akan tahu, apa arti dari kenikmatan dan kebahagiaan, ketika kita tidak pernah merasakan kesedihan dan penderitaan. Keduanya adalah satu paket, yakni berbeda, tetapi saling membutuhkan satu sama lain. Orang tidak bisa memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan, tanpa kesedihan dan penderitaan.

Hal yang sama berlaku untuk hubungan antara sakit dan sehat. Banyak orang mencari sehat. Ia membenci segala hal yang membuatnya sakit. Kita melihat bahwa keduanya berbeda, dan tak bisa disamakan begitu saja. Lanjutkan membaca Satu Paket

Semua (Tak?) Sama

Magritte, 1928
Magritte, 1928

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Sekitar 12 tahun yang lalu, Padi, grup band asal Surabaya, mengeluarkan lagu berjudul “Semua tak sama”. Isinya tipikal lagu-lagu romantis. Seorang pria tidak dapat menemukan sosok pengganti kekasihnya. Kekasih barunya berbeda dari kekasihnya yang lama, yang masih dicintainya. “Semua tak sama, tak pernah sama, apa yang kusentuh, apa yang kukecup”, begitu bunyi refren lagu itu.

Dulu, saya suka sekali dengan lagu ini. Namun, sekarang saya sadar, lagu ini memiliki kesesatan berpikir yang amat mendasar, yakni melihat kenyataan hidup sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda satu sama lain. Ia menyebarkan pesan, bahwa semua hal di dunia ini tak sama, maka harus dipisah-pisahkan satu sama lain. Banyak orang menerima begitu saja pesan lagu ini, tanpa berpikir kritis lebih jauh.

Apa yang Diajarkan Kepada Kita

Sejak kecil, kita juga diajarkan untuk melihat dunia ini sebagai sesuatu yang memiliki bagian-bagian yang terpisah. Dengan kata lain, kita diajarkan untuk berpikir secara kategorial. Kita membagi-bagi dan memecah-mecah, baru disitu muncul pemahaman. Inilah cara berpikir khas ilmu pengetahuan modern yang lahir dari tradisi Eropa dan Yunani Kuno, terutama pemikiran Aristoteles.

Kita juga diajarkan untuk melihat diri sendiri sebagai “aku”. Orang lain lalu dilihat sebagai “kamu”, atau “mereka”. Orang-orang yang memiliki kesamaan lalu dilihat sebagai “kita”. Dari cara berpikir semacam ini, lahirlah pandangan atas dunia yang terpecah-pecah antara aku, kami, kita, kalian, mereka dan kamu.

Cara berpikir ini pulalah yang menghasilkan identitas. Kelompokku berbeda dengan kelompokmu. Ini bangsaku, itu bangsamu. Ini agamaku, itu agamamu. Semua perbedaan-perbedaan ini lalu dijadikan pembenaran untuk bersikap tidak adil terhadap orang atau kelompok lain. Ketika ketidakadilan terjadi, maka konflik sudah berada di depan mata. Lanjutkan membaca Semua (Tak?) Sama

Tirani Konsep

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Sejak kecil, kita diajarkan untuk punya cita-cita. Pertanyaan yang biasa muncul adalah, “Kamu mau jadi apa, kalau sudah besar?” Biasanya, kita asal menjawab. Namun, ketika usia semakin dewasa, pertanyaan yang sama terus menggantung, “Kamu mau jadi apa?” Jika tidak bisa memberikan jawaban pasti, maka kita lalu merasa bersalah.

Namun, kita tidak pernah diajarkan, bahwa penghalang terbesar dari segala mimpi kita di dalam hidup justru adalah diri kita sendiri, tepatnya adalah konsep kita tentang hidup kita. Karena hidup dengan ketegangan dan ambisi yang berapi-api, kita tidak mempunyai energi dan fokus yang dibutuhkan, guna mencapai keinginan tersebut. Akhirnya, kita pun memboikot diri kita sendiri, dan keinginan kita tidak akan pernah tercapai.

Bisa dikatakan dengan lugas, bahwa musuh kita di dalam hidup adalah “konsep” kita tentang hidup itu sendiri, termasuk soal kebahagiaan, tujuan hidup, cinta dan sebagainya. Mengapa konsep menjadi halangan? Bukankah kita diajarkan untuk berpikir konseptual? Bukankah berpikir konseptual juga merupakan tanda dari kecerdasan?

Bahaya Konsep

Pertama-tama, kita perlu mengerti, apa itu konsep. Konsep adalah abstraksi dari pikiran kita atas segala hal yang ada. Kita menggunakan konsep sebagai simbol untuk menjelaskan dunia. Namun, konsep bukanlah dunia. Ia hanyalah simbol, yakni alat pembantu untuk memahami dan menjelaskan dunia.

Yang kerap terjadi adalah, kita mengira konsep yang kita pikirkan sebagai kenyataan. Karena pikiran yang terus bekerja dan melihat berbagai kemungkinan, kita pun seringkali berkutat dengan konsep-konsep di kepala kita. Hasilnya adalah rasa khawatir dan takut berlebihan atas sesuatu yang tidak ada. Segala keinginan dan rencana kita pun hancur, karena ketakutan berlebihan tersebut. Hidup kita pun menderita. Lanjutkan membaca Tirani Konsep

Pendidikan sebagai Penipuan

modernlanguageexperiment.org
modernlanguageexperiment.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di München, Jerman

Untuk kesekian kalinya, seorang yang dikenal saleh di lingkungannya, seorang Ustadz, melakukan pemerkosaan. Kali ini, korbannya adalah anak perempuan berusia 6 tahun. Pemerkosaan ini telah berlangsung berulang kali dalam jangka waktu setahun. Ini merupakan kejadian terakhir dari rangkaian kejahatan bejat yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku saleh dan bahkan menjadi pemimpin agama di masyarakatnya.

Pelecehan seksual terhadap anak juga menjadi masalah besar di berbagai sekolah Katolik di Eropa dan Amerika. Para pelakunya adalah para Pastor yang telah bekerja di sana puluhan tahun, dan korbannya juga ribuan. Para petinggi Gereja Katolik Roma sebenarnya sudah tahu tentang hal ini. Namun, mereka tidak melakukan langkah-langkah yang tepat untuk mencegah kejahatan ini berlanjut.

Kisah pelecehan seksual terhadap perempuan juga banyak terjadi di komunitas-komunitas Buddhis di Amerika Serikat. Walaupun kita harus ingat, para guru Zen ini bukanlah Pastur atau Ustadz yang berkhotbah soal kesucian diri dalam bentuk penolakan pada seks. Yang menjadi korban juga perempuan dewasa, dan bukan anak kecil. Kita juga harus tetap kritis pada berita-berita semacam ini, tanpa menyudutkan para korban yang telah mengalami banyak penderitaan. Lanjutkan membaca Pendidikan sebagai Penipuan

Hidup yang Terbalik

timedotcom
timedotcom

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Banyak orang kini menjalani hidup yang terbalik. Apa yang buruk dikiranya sebagai baik, dan apa yang baik kini dianggap sebagai sesuatu yang aneh, bahkan jahat. Gejala ini tersebar di berbagai bidang kehidupan, mulai dari politik sampai dengan keluarga. Apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana kita menyingkapinya?

Hidup yang Terbalik

Banyak orang merasa dirinya hidup. Mereka bangun pagi, bekerja, makan lalu tidur. Seumur hidupnya, mereka mengikuti apa kata orang, yakni apa yang diinginkan masyarakatnya untuk dirinya. Mereka memang hidup, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup, karena terus tunduk pada dunia di luar dirinya.

Mereka berbuat sesuatu, karena masyarakat menginginkannya. Mereka menolak untuk hidup dalam kebebasan, karena itu menakutkan. Orang-orang ini menjalani hidup-yang-bukan-hidup. Mereka hidup, namun sebenarnya sudah mati. Lanjutkan membaca Hidup yang Terbalik

Lotus di Medan Perang

skcdn6.successkata.com
skcdn6.successkata.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Siapa yang tidak kenal dengan Nelson Mandela? Dialah pemimpin Afrika Selatan, setelah keluar dari kegelapan politik Apartheid yang membelah negara itu, hampir sepanjang abad 20 lalu. Lebih dari dua puluh lima tahun, ia hidup dalam tahanan, karena menentang pembedaan sosial antara orang-orang berkulit putih dan orang-orang berkulit hitam di Afrika Selatan. Yang menakjubkan dari hidupnya adalah, walaupun mengalami kesulitan begitu berat dan begitu lama, ia tetap bisa mengampuni musuh-musuhnya, dan menciptakan perdamaian bagi Afrika Selatan yang baru.

Siapa juga yang tidak kenal dengan Mahatma Gandhi? Ia memimpin revolusi kemerdekaan India dari Kerajaan Inggris. Filsafat yang ia gunakan adalah sikap tanpa kekerasan. Ia juga hidup dalam tahanan untuk jangka waktu lama. Lepas dari penderitaan dan kesulitan yang ia hadapi, ia mampu menanggapi semuanya dengan ketulusan dan ketabahan yang menjadi dasar dari perdamaian.

Siapa yang tidak pernah mendengar Dalai Lama, pimpinan religius asal Tibet? Nama aslinya adalah Tenzin Gyatso. Sebagai pemimpin agama dan juga pemimpin politik Tibet, ia kini hidup dalam pengasingan, karena Pemerintah Cina kini menguasai Tibet. Ia harus menyaksikan ribuan temannya dibunuh tentara Cina. Ia juga harus melihat hancurnya ribuan kuil Buddha di Tibet. Lepas dari penderitaannya tersebut, ia tetap menjadi pribadi yang damai, cerdas dan memberikan kebahagiaan bagi semua orang. Ia bahkan kini menjadi salah satu tokoh terbesar perdamaian dunia. Lanjutkan membaca Lotus di Medan Perang

Kekebalan Sosial dan Pribadi

organicfacts.net
organicfacts.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Mengapa kenaikan harga BBM selalu membuat cemas? Yang membuat cemas bukanlah kenaikan BBM itu sendiri, melainkan dampaknya, yakni kenaikan hampir semua harga barang. Ketidakpastian yang ditimbulkan kenaikan harga BBM mendorong beragam demonstrasi yang seringkali berakhir pada kekacauan. Harga susu untuk bayi sampai dengan harga celana dalam juga berubah naik, ketika harga BBM naik.

Segala hal di Indonesia mudah sekali berubah. Ceria kemenangan Jokowi-JK pada Pemilu 2014 lalu segera ditutup dengan terciptanya susunan kepemimpinan Dewan Perwakilan Rakyat yang jauh dari keinginan rakyat banyak. Segera pasar saham Jakarta bergolak bereaksi negatif atas perubahan ini. Bagaimana dengan harga barang kebutuhan sehari-hari? Anda sudah tahu jawabannya.

Kekebalan Sosial

Tugas utama dari berbagai institusi politik adalah menciptakan rasa aman bagi semua warga, tanpa kecuali. Ketika masyarakat hidup dalam rasa khawatir terus menerus, akibat dari berbagai ketidakpastian yang ada, ini satu tanda, bahwa kinerja sistem politik kita jauh dari harapan. Semua bidang kehidupan mudah sekali digoyang oleh satu peristiwa. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah model politik yang mampu menciptakan kekebalan sosial. Lanjutkan membaca Kekebalan Sosial dan Pribadi

Salah Paham/Delusi

artwork.bayo.me
artwork.bayo.me

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Begitu banyak penderitaan hidup manusia yang lahir dari kesalahpahaman. Begitu banyak orang yang sudah tercukupi secara materi, namun batinnya menderita begitu parah. Akibatnya, ia lalu mencari pelarian untuk mengobati derita batinnya tersebut, misalnya dengan obat-obatan, sex tanpa batas, melarikan diri ke agama, atau akhirnya bunuh diri. Sisanya hidup dengan cara pandang berikut: hidup segan, mati tak mau.

Dengan penderitaan batin di dalam hatinya, orang lalu berkonflik dengan orang lain. Keluarga pecah. Anak-anak terlantar. Perang antar negara pun tak kunjung lenyap dari muka bumi. Batin yang menderita mendorong orang untuk melakukan kekerasan terhadap orang-orang maupun benda-benda di sekitarnya. Akar dari semua penderitaan dan kekerasan itu hanya satu: kesalahpahaman.

Delusi

Di dalam salah satu karya dialognya, Plato, filsuf Yunani Kuno, menegaskan dengan jelas, bahwa ketidaktahuan (bisa juga dibaca sebagai kesalahpahaman) adalah akar dari semua kejahatan di atas bumi ini. Filsuf eksistensialis Prancis, Albert Camus, juga menegaskan, bahwa kesalahpahaman mendorong orang bertindak salah, walaupun niat hatinya baik. Buddhisme sejak 2500 tahun yang lalu juga sudah menegaskan, bahwa kesalahpahaman tentang seluruh kenyataan, termasuk tentang diri kita, adalah akar dari semua penderitaan hidup manusia. Sokrates, salah satu tokoh terpenting di dalam Filsafat Yunani Kuno, juga terkenal dengan ungkapannya: orang yang paling bijak adalah orang yang sadar, bahwa dirinya tak tahu apa-apa. Lanjutkan membaca Salah Paham/Delusi

Belajar Praktis

Untitled-20111
kyaari.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam bukunya yang berjudul ēthiká Nikomácheia atau ἠθικὰ Νικομάχεια, Aristoteles merumuskan dua bentuk kebijaksanaan dalam hidup manusia. Kebijaksanaan ini harus dilihat sebagai bagian dari keutamaan hidup manusia, atau aretḗ (ἀρετή). Kebijaksanaan pertama adalah kebijaksanaan teoritis, atau yang disebutnya sebagai theoria (θεωρία). Yang kedua disebutnya sebagai kebijaksanaan praktis, atau phronêsis (φρόνησις).

Kebijaksanaan pertama terkait dengan upaya untuk memahami alam. Manusia memandang alam dan segala yang ada, serta berusaha memahaminya. Kebijaksanaan kedua terkait dengan moralitas dan etika, yakni segala hal di dunia ini yang terkait dengan penilaian baik dan buruk, serta apa yang mendasarinya. Jika orang memiliki keduanya, maka ia akan menjadi bijaksana, begitu kata Aristoteles.

Di Indonesia

Berpijak pada pandangan ini, kita bisa mencoba memahami keadaan pendidikan di Indonesia. Berada berjam-jam di kelas, anak dipompa dengan berbagai informasi teoretik, mulai dari rumus fisika, sampai dengan butir-butir Pancasila yang mesti mutlak dihafalkan, tanpa cacat. Sejak kecil, anak dihujam dengan berbagai ujian dan pekerjaan rumah yang justru kerap membuat stress dan depresi. Jelas, dimensi praktis pendidikan di Indonesia terlupakan. Lanjutkan membaca Belajar Praktis