Sekali lagi: Agama dan Kekerasan

asterix-jesuischarlie
Oleh Reza A.A Wattimena

Ada pepatah Cina kuno yang mengatakan, “Alat yang baik di tangan orang jahat akan menjadi alat yang jahat.” Sebaik apapun ajaran suatu agama, jika dianut oleh sekumpulan orang yang menderita dan tersesat, maka agama itu akan menjadi jahat yang menghasilkan penderitaan bagi banyak orang.

Pembunuhan wartawan-wartawan Charlie Ebdo di Paris sungguh menggetarkan hati dunia. Lagi-lagi, agama digunakan untuk membenarkan kekerasan. Sungguh menjijikan. Peristiwa ini terangkai erat dengan pelbagai peristiwa kekerasan atas nama agama lainnya, seperti ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) yang terus melakukan pembunuhan massal di Irak dan mengancam negara-negara di Timur Tengah lainnya.

433637I am not CharlieDi Nigeria, kelompok Islam ekstrimis Boko Haram juga melakukan pembunuhan massal. Beberapa waktu lalu, kelompok Islam ekstrimis juga melakukan pembunuhan massal terhadap anak-anak di Pakistan. Di Israel, agama Yahudi dijadikan dasar sekaligus pembenaran untuk melakukan penindasan nyaris tanpa henti kepada Palestina. Di Indonesia, diskriminasi terhadap agama minoritas nyaris menjadi makanan sehari-hari.

Tak jauh dari ingatan kita sebagai bangsa Indonesia, Kristianitas digunakan untuk pembenaran bagi proses penjajahan Eropa atas seluruh dunia. Jutaan manusia manusia dari berbagai belahan dunia mati dalam rentang waktu lebih dari 300 tahun, akibat peristiwa ini. Sumber daya alam dikeruk demi kekayaan bangsa-bangsa Eropa. Beragam budaya dan cara hidup hancur di dalam proses penjajahan yang juga memiliki motif Kristenisasi seluruh dunia itu.

Di India, sebelum Natal 2014, sekitar 5000 keluarga diminta untuk memeluk kembali Hinduisme. Mereka yang tidak mau mengubah agama diminta untuk keluar dari India. Sebagai bangsa, India juga terus dikepung oleh konflik yang terkait dengan agama. Fenomena yang sama berulang kembali: agama digunakan untuk membenarkan tindak kekerasan, guna membela kepentingan ekonomi dan politik yang tersembunyi.

Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa peristiwa dengan pola semacam ini terus berulang? Mengapa agama, yang konon mengajarkan kebaikan universal dalam hubungan dengan yang transenden, terus menerus dipelintir untuk membenarkan tindakan biadab? Mengapa hubungan agama dan kekerasan tidak juga bisa diputus? Mengapa kita nyaris tidak belajar apapun dari pelbagai peristiwa biadab ini?

Berpikir Dualistik

Akar dari segala kejahatan dan kekerasan adalah pikiran. Semua tindakan dimulai dari pikiran. Semua penilaian dan analisis mulai dari pikiran. Maka, kita pun harus masuk ke ranah pikiran, guna membongkar akar kekerasan.

Pada hemat saya, akar dari segala kejahatan adalah pola pikir dualistik. Apa itu? Pola pikir dualistik selalu melihat dunia dalam dua kutub yang bertentangan, yakni benar-salah, baik-buruk, suci-tidak suci, beriman-kafir, serta dosa-tidak dosa. Dengan pembedaan ini, kita lalu terdorong selangkah lebih jauh untuk melihat orang lain sebagai musuh (yang berdosa, kafir, salah, dan buruk) yang harus dihancurkan.

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, pola berpikir dualistik pada dasarnya adalah salah. Tidak ada dualisme. Dualisme hanya ada di dalam pikiran. Tidak ada perbedaan. Perbedaan hanya tampilan kulit yang menutupi esensi yang sama dari segala hal.

Segala bentuk kekerasan dan kejahatan bisa dilenyapkan, jika kita melepaskan pola berpikir dualistik. Kita lalu melihat diri kita sendiri satu dan sama dengan segala hal, termasuk dengan alam, hewan dan tumbuhan. Kita tidak lagi memiliki dorongan untuk mencap atau menyakiti apapun atau siapapun, karena kita semua, sejatinya, adalah satu dan sama. Bahkan, pada situasi yang paling ekstrem, kita lebih memilih untuk disakiti, daripada menyakiti orang lain.

Dualistik dan Kekerasan

Namun, pola berpikir dualistik tidak otomatis langsung menciptakan kekerasan. Setidaknya, saya melihat dua hal yang mendorong pola berpikir dualistik menjadi kekerasan. Yang pertama adalah kesenjangan ekonomi yang besar antara orang kaya dan orang miskin. Ketika sekelompok orang hidup dalam kemiskinan yang besar, sementara mereka harus menyaksikan orang-orang kaya bergaya hidup mewah setiap harinya, pola berpikir dualistik akan mendorong terciptanya tindakan kekerasan.

Yang kedua adalah konflik masa lalu yang belum mengalami rekonsiliasi, dan menjadi dendam. Ketika orang hidup dalam dendam, segala hal akan tampak jelek di matanya. Ia akan bersikap jahat, seringkali tanpa alasan. Maka, segala konflik di masa lalu harus menjalani proses rekonsiliasi, supaya ia tidak berubah menjadi trauma kolektif dan dendam yang mendorong terciptanya kekerasan.

Sebagai manusia, kita perlu untuk memutus rantai pikiran yang memisahkan. Kita perlu melihat dunia apa adanya, tanpa perbedaan. Kita perlu sadar, bahwa segalanya adalah satu dan sama. Kita juga perlu sadar, bahwa kita semua hidup dalam kesatuan jaringan yang tak bisa dipisahkan. Pola berpikir dualistik haruslah dilampaui.

Di sisi lain, kita juga harus berusaha membangun masyarakat tanpa kesenjangan sosial. Tidak boleh ada kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Semua harus mendapat hak yang sama sebagai manusia yang bermartabat. Semua juga harus diberikan kesempatan untuk membangun hidupnya secara bermartabat.

Berbagai konflik di masa lalu juga harus diakui dan menjalani proses rekonsiliasi. Rekonsiliasi disini terkait dengan upaya untuk memperbaiki hidup korban dari konflik di masa lalu. Ia juga terkait dengan mencari tahu, apa yang menjadi akar dan pola konflik yang terjadi di masa lalu itu. Rekonsiliasi akan mengurangi kemungkinan terjadinya konflik dengan pola yang sama di masa depan.

Agama dan Pengalaman Mistik

Setiap agama berawal dari pengalaman mistik manusia. Pengalaman mistik adalah pengalaman kesatuan dengan sesuatu yang lebih tinggi dari manusia, entah itu alam, roh, Tuhan, Allah dan sebagainya. Pengalaman mistik itu lalu dibagikan kepada orang lain, lalu berkembang menjadi agama. Agama lalu menjadi bagian dari cara hidup masyarakat tertentu.

Pengalaman mistik adalah inti dari semua agama. Agama tanpa pengalaman mistik hanya seperti organisasi biasa. Di dalam pengalaman mistik, orang melihat dirinya sebagai bagian dari kesatuan dengan segalanya. Pengalaman ini lalu coba disampaikan seturut dengan cara-cara kultural yang ia miliki.

Sejatinya, pengalaman mistik tidak bisa dibagikan. Ia adalah pengalaman kesatuan dengan segala hal, yakni pengalaman non-dual. Ketika dibagikan atau disampaikan kepada orang lain, ia lalu berubah menjadi pengalaman dualistik dan pola pikir dualistik. Pola pikir dualistik ditambah dengan berbagai masalah sosial lainnya akan berujung pada kekerasan. Inilah mengapa agama-agama sekarang begitu mudah dipelintir dan bahkan menjadi motif utama terjadinya kekerasan.

Dengan pola berpikir dualistik, setiap agama menulis kitab suci dan merumuskan teologinya masing-masing. Namun, kitab sucii dan teologi justru hanya menciptakan jurang yang lebih dalam, baik di antara penganut agama tersebut, maupun dengan penganut agama lainnya. Terciptalah kelompok-kelompok, seperti kelompok pendosa, kelompok suci, kelompok kafir, kelompok taat, kelompok progresif, kelompok konservatif dan sebagainya. Mereka lalu saling berperang satu sama lain. Inilah hasil dari pola berpikir dualistik.

Maka dari itu, agama-agama sekarang ini haruslah melihat kitab suci dan teologinya masing-masing tidak sebagai kebenaran mutlak. Semuanya lahir dari pola berpikir dualistik yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kebenaran alamiah semesta. Agama-agama harus kembali ke akarnya masing-masing, yakni pengalaman mistik. Pengalaman mistik melampaui pola berpikir dualistik, dan masuk ke ranah tanpa pembedaan.

Pola berpikir mistik menghasilkan kedamaian hati. Kedamaian hati mendorong kedamaian sosial. Para teolog dari berbagai agama berdebat dan bertengkar. Namun, para mistikus dari berbagai agama berjumpa dalam diam, karena mereka tahu, mereka semua satu dan sama. Jadi, agama-agama harus melihat tradisi, teologi dan kitab sucinya masing-masing hanya sebagai alat, dan bukan tujuan pada dirinya sendiri.

Ketika agama kembali ke akarnya masing-masing, yakni pengalaman mistik kesatuan dengan segalanya, maka dunia akan damai. Ketika agama tidak memutlakan ajaran-ajarannya masing, dan melihat segalanya sebagai satu dan sama dalam jaringan yang tak terpisahkan, maka akan tercipta kedamaian yang sejati. Agama tanpa kekerasan hanya bisa dicapai dengan menyentuh pengalaman mistik kesatuan batin manusia dengan semesta. Di ranah itu, kita tidak berjumpa dalam perbedaan, melainkan dalam kesatuan.

Artinya, kita berjumpa dalam cinta… cinta yang sejati.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

22 thoughts on “Sekali lagi: Agama dan Kekerasan”

  1. Berarti kita harus memandang segala suatu secara sama tanpa adanya perbedaan demi menghilangkan pandangan dualistik baik itu dalam agama maupun dalam kehidupan sehingga terciptanya kesetaraan dalam masyarakat tanpa adanya pembatas. Tetapi menurut saya, ini sulit untuk menghilangkan pandangan dualistik karena apabla kita menghilangkan perbedaan didalam agama akan memunculkan penyimpangan terhadap nilai nilai yang ada didalam ajaran agama tersebut, memicu munculnya kesesatan agama mana akan diingkari keberadaannya didalam masyarakat. Contohnya kasus Lia eden yang mana pada tahun 2003 walaupun dia mengakui setiap agama benar, namun dianggap sesat.
    Untuk menghilangkan adanya gesekan antar pemeluk agama ini munculnya ajaran tentang toleransi, walaupun masih banyak yang bermusuhan.

    Dan pandangan dualistik dalam kehidupan tidak akan bisa dihilangkan (menurut saya), dimana pada dimana setiap manusia itu abu – abu (memiliki potensi untuk melakukan kebaikan dan kejahatan) Dimana kejahatan ini begitu banyak bentuknya, pertanyaannya adalah “Bisakah kita menghilangkan kejahatan atau pikiran negatif atau buruk dalam pikiran kita?”

    Suka

    1. pandangan dualistik adalah hasil dari pikiran manusia. Apapun yang keluar dari pikiran manusia, selalu bisa diubah, karena ia tidak absolut. Pandangan dualisme juga bisa dengan mudah dipatahkan, jika orang mau melihat kenyataan apa adanya.

      Suka

  2. Menarik sekali tulisan sdr.Reza di atas krn menawarkan solusi cerdas utk mengatasi persoalan agama yang sering dijadikan alat untuk menjastifikasi kekerasan. Memang melihat fenomena kekerasan yg bermotif agama, sungguh sangat memprihatinkan. Agama yg seharusnya membawa umat manusia ke jalan perdamaian justru membuat manusia saling bunuh membunuh. Seperti kata Reza, kita tidak pernah belajar dari sejarah, dimana agama bergeliman darah manusia yg tidak berdosa. Lihat Perang Salib di abad2 pertengahan, kemudian peristiwa 11 September 2001, sekarang muncul lagi ISIS bawa2 nama agama, dan di Indonesia, seperti kata Reza, diskriminasi atas nama agama masih sangat marak, dan kekerasan atas nama agama selalu saja terjadi. Saya setuju bahwa seringkali realitas ketidak adilan sosial, jurang yg lebar antara kaya dan miskin yg menganga, mendorong org utk melakukan kekerasan. Karena itu, memang di samping memang di samping kembali ke pangalaman mistik agama yg seperti yg ditawarkan oleh Reza, maka perlu dilakukan perbaikan kondiski sosial (transformasi sosial). Saya kira agama-agama dpt menyumbang ke arah itu, misalnya dalam agama Kristen, kepedulian dan keberpihakan agama kepada mereka yang kecil, yang malang, tertindas, termarginalisasi, selalu disuarakan oleh para nabi Perjanjian Lama, atau sdh menjadi tradisi kenabian itu sendiri, dan terutama keberpihakan kepada meereka yg kecil itu lebih spesifik ditunjukkan oleh Tuhan Yesus sendiri (Lihat, Lukas 4:18-19). Tentu saja upaya menegakkan keadilan dan mewujudkan masyarakat yang adalah dalam rangka terwujudnya perdamaian di dunia ini.

    Suka

  3. Yang saya tangkep di postingan kok seolah-olah mengkambing hitamkan agama iyaa. Menurut saya yang melakukan kekerasan itu oknum orang beragama, hampir semuah pihak mempunyai oknumnya sendiri. Emangnya agamais doang yang berdosa dan menyulut peperangan? Ngga tuh, kalo kita liat sejarahnya atheist komunis macam uni soviet yang dulu dipimpin stalin dan korut yang dipimpin jong un melakukan kejahatannya lebih brutal dari pada agamais.Saya rasa penulis harus berpikir jernih dan mengulas topik dengan berimbang. Terimakasih 🙂
    Muhammad Arkhan, pelajar SMA

    Suka

  4. Sayang sekali, agama yang seharusnya menjadi instrumen untuk mewujudkan perdamaian, sering kali digunakan sebagai jubah untuk melegitimasi tindakan kekerasan.
    Saya punya keyakinan bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan. Hanya saja, kebaikan itu disalah-tafsirkan sebagai pemusnahan terhadap yang dianggap “tidak baik”. Saya kira seperti inilah yang Sdra. Reza maksudkan dengan pandangan dualistik (maaf kalau salah.. hehehe..)

    Kembali ke “pengalaman mistik” merupakan suatu tawaran yang menarik. Ada ungkapan, “bila kita tidak tahu kemana Anda harus pergi, maka kembalilah ke tempat dari mana Anda datang”. Kembali ke pengalaman mistik berarti kita mengembalikan agama kepada ke-asalian-nya atau kembali ke sumber yakni cinta kasih..

    Terima kasih atas ulasannya.. Gbu..

    Suka

  5. Seharusnya agama benar-benar berasal dari TUHAN. Akan tetapi sangat susah mentukan apakah agama itu atau agama ini berasal dari TUHAN atau bukan. Teologi dan dogma itu ciptaan manusia. Agama yang dianut manusia saat ini hanya membesarkan imanen dari pada transenden, oleh karena itu semua manusia terbius oleh candu itu sehingga kekhawatiran manusia sudah serasa ditutupi karena perlindungan TUHAN dalam ajaran agama itu, oleh karena itu TUHAN seperti seolah-olah dianggap sebagai penjaga malam (satpam) sehingga seolah-olah manusia tidak perlu khawatir lagi khan ada TUHAN yang akan menolong semua problem manusia. Menurut saya carilah TUHAN dalam keagungannya yang tidak dapat diselami melalui realitas, dan lupakan agama…

    Suka

  6. Pola berpikir dualistik tidak sesuai dengan kenyataan dan kebenaran alamiah semesta. Salah benar: padahal ada ragu ragu, hitam putih: padahal ada kuning hijau merah dll, laki laki perempuan: padahal ada LGBT.

    Kalau orang sudah terpaku pada pemahaman teks agama, akan sulit melepaskan pola pikir dualistik. Lihat bagaimana kebencian pemeluk agama terhadap LGBT, sehingga sudah sering kita mendengar berita kekerasan terhadap minoritas ini.

    Pola pikir dualistik akan merasa paling benar sendiri, dan intoleran, akibatnya selalu memusuhi pihak lain yg tidak sepaham. Ujung ujung adalah konflik. Kalau kebetulan yg dimusuhi adalah minoritas yg kecil, paling minoritas cuma mengalah saja. Tapi kalau pihak lain yg dimusuhi cukup kuat dan besar, maka peranglah yg terjadi, seperti yg terjadi di Timur Tengah dari dulu hingga kini.

    Suka

  7. saya sudah amati sangat lama dengan olah rasa ( Manusia tidak memiliki Rasa Hanya Bisa Merasakan , Pemilik Rasa adalah Semesta Ini yaitu Tuhan Yang Maha Segalanya ) , Brilian sangat menarik ulasan Bpk Reza AA Watimena , semua agama samawi membawa dogma , tergantung menafsirkan , jika semua agama samawi mencari dan membimbing kebenaran apapun agamanya mestinya membawa kebaikan untuk semua kehidupan Manusia , Hewan, Tumbuhan dan seisinya Alam ini tanpa membuat garis pemisah , sepertinya diperlukah Tokoh sekaliber Dewa 2 atau 3 atau 10 garis sejajar tidak akan pernah bertemu kalau tidak ada garis penyambung sebagai pemutus keharmonian kedamaian untuk semua kehidupan , BENCI DENGKI KEPADA SESAMA HANYA MERUSAK JIWA , APALAGI BENCI DENGKI PADA CIPTAAN TUHAN YANG LAIN , JANGAN LUPA FILSAFAH INI : MANUSIA LAHIR : 1 .Membawa Kodrat , 2 . Membawa Alam (menjalani kehidupan dengan berbagai kegiatan ) 3. Membawa Hukum sebab akibat 4. Membawa Hukum Turunan , dalam perenungan dan olah rasa maupun langsung belajar pasa seisi Alam yang tidak Pernah Dusta contoh : 1 (satu ) saja Angin tidak pernah dusta yang harum akan dibawa harum , yang amis pun diantarkan amis , (Sayang seribu sayang hanya manusia yang sering dusta ), saya sebagai orang yang senang pada hakiki kehidupan menemukan ajaran Luluhur disebut Penghayat Kepercayaan yang tersebar diseluruh Nusantara dan sudah hidup sebelum lahirnya agama samawi , tidak ada kitab tersurat kitabnya semua tersirat , tidak ada dogma , dan sudah pasti tidak suka konflik , KEDAMAIAN SAYA TEMUKAN , semoga kita sesama Umat manusia Ciptaaan Tuhan bagi penganut semua Agama Samawi jadilah Umat Yang terpuji dengan utamakan SIFAT MULIA , seperti juga bahwa TUHAN ITU MAHA SEGALANYA PENGASIH PENYAYANG dan MAHA PENGAMPUN , salam damai Nusantaraku

    Suka

  8. Dalam buku The Place of Tolerance in Islam (2002), Khaled Abou El Fadl menulis, “the meaning of the text is often as moral as its reader. If the reader is intolerant, hateful, or oppressive, so will be the interpretation of the text.” Guru besar hukum Islam di University of California Los Angeles (UCLA) itu benar bahwa al-Qur’an—bahkan teks apa pun—berbicara melalui pembacanya…. https://www.itsme.id/kekerasan-dalam-al-quran-bukan-problem-interpretasi/

    Suka

  9. Ketika membahas secara fenomenologis keadaan sosial sekarang cenderung tampak mengarah ke soal agama. Terkadang agama itu memenjarakan tapi social membutuhkan itu untuk pemenuhan psikis individu juga instrumen pengontrol sosial. Selaina dari cara berpikir dulistik yang sudah dijelaskan pengaruhnya , ada sedikit tambahan yaitu kehendak untuk bebas , ini erat kaitanya dengan psikoanalisis. Tumpang tindih ideal yang tertanam di dalam pikiran suatu individu dan bagaimana ia meniru realitas terjadi dalam proses pembentukan diri. Namun ada banyak ironi ketika seorang itu ingin beda tapi ingin juga diterima secara sosial. Pun juga Pencarian identitas diri , entah ini evolusi pola pikir atau dialektika sejarah namun ada hal yang perlu diperhatikan dari berpikir itu sendiri apakah baik pengaruh internal dan ekesternal. apakah keadaan biolgis tertentu mempengaruhi pola pikir? ini menjadi maslah internal . Tetpai kita kembali lagi ke masalah pembentukan oleh lingkungan , apakah keadaan mengubah kesadaran? mungkin marx dan mazhab frankfrut itu bisa memberi landasan kritisnya. Kalau kembali ke keadaan pengalaman mistic terkesan kita haru kembali kebelakang , atau kalau boleh meminjam istilah lain statue quo. Terkadang menjadi sulit ketika bagaimana kita menelanjangi semua ideologi yang sudah tertanam dibawah pengaruh tekanan keadaan. Mungkin kita butuh sintesis baru melalui metode kritis. apakah rasionalitas harus dikombinasikan dengan refleksi diri. Menariknya ketika secara historis ini selalu terjadi berulang dalam sejarah ,ketika budaya dan agama memperjuangkan nilai alam dan ilmu memperjuangkan hukum – hukumnya. Apakah nilai dan hukum itu saling bertentangan pada manusia itu? Ataukah nilai dan hukum itu sendiri yang saling bertentang. Saya ingin berbagi film yang mungkin bisa menambah refleksi kita. judulnya ”Embrace of the Serpent ” sutradara : Ciro Guerra. rilis thn 2016.

    Suka

  10. Kok jadinya seperti ada ‘agama’ baru ya? Yaitu ‘agama’ non-dualistik.

    Sehingga, ‘agama’ non-dualistik karena ke-non-dualistikannya ia mendapatkan pembenaran untuk mengeliminasi kaum dualistik?

    Terus dimana dualistiknya?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s