Hidup yang Terbalik

timedotcom
timedotcom

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Banyak orang kini menjalani hidup yang terbalik. Apa yang buruk dikiranya sebagai baik, dan apa yang baik kini dianggap sebagai sesuatu yang aneh, bahkan jahat. Gejala ini tersebar di berbagai bidang kehidupan, mulai dari politik sampai dengan keluarga. Apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana kita menyingkapinya?

Hidup yang Terbalik

Banyak orang merasa dirinya hidup. Mereka bangun pagi, bekerja, makan lalu tidur. Seumur hidupnya, mereka mengikuti apa kata orang, yakni apa yang diinginkan masyarakatnya untuk dirinya. Mereka memang hidup, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup, karena terus tunduk pada dunia di luar dirinya.

Mereka berbuat sesuatu, karena masyarakat menginginkannya. Mereka menolak untuk hidup dalam kebebasan, karena itu menakutkan. Orang-orang ini menjalani hidup-yang-bukan-hidup. Mereka hidup, namun sebenarnya sudah mati.

Di sisi lainnya, banyak juga orang hidup, tetapi mereka diperbudak oleh ambisi-ambisi pribadinya, sehingga menjadi buta akan segala hal. Mereka hidup, tetapi tidak sungguh hidup, karena terus berada dalam tegangan dan penderitaan. Ambisi itu rapuh. Ketika orang gagal mewujudkannya, kekecewaan datang tak terkendali. Ketika terwujud, rasanya hampa dan tawar, seperti roti tanpa selai.

Ambisi menciptakan ketegangan dalam diri. Ia membuat orang tak peduli dengan lingkungannya. Ia hanya terpaku untuk mewujudkan satu tujuan, yakni ambisinya sendiri, jika perlu dengan mengorbankan orang lain. Orang semacam ini juga tampak hidup, tetapi sebenarnya juga sudah mati.

Makanan juga seharusnya menyehatkan. Namun, yang kini terjadi adalah, makanan justru menjadi sumber penyakit bagi tubuh. Dengan kata lain, makanan kini telah berubah menjadi racun. Ia tidak menghidupkan dan menyehatkan, tetapi justru membunuh secara perlahan, seringkali tanpa kita sadari.

Para dokter dan ahli gizi disuap untuk memasarkan obat-obat dan bahan makanan yang tidak dibutuhkan masyarakat. Racun pun kini dilihat sebagai obat dan makanan yang bergizi. Semuanya terbalik. Yang paling dirugikan adalah masyarakat luas yang tak memiliki pengetahuan mencukupi tentang dunia yang terbalik ini.

Untuk bisa hidup, manusia harus bekerja. Dengan bekerja, ia lalu mampu mewujudkan kemampuan dan bakat-bakatnya yang sebelumnya terpendam. Ia pun lalu bisa menjalani hidup yang penuh dan bahagia. Namun, yang terjadi adalah, kini pekerjaan juga menghisap dan memperbudak manusia. Ia menjadikan manusia sebagai alat untuk meraih keuntungan finansial.

Orang diperas untuk bekerja, sampai melewati batas. Banyak orang mengalami penyakit, karena tekanan semacam ini. Perbudakan kini ditutupi dengan konsep-konsep bagus, seperti outsourcing. Pekerjaan tidak lagi menunjang dan mengembangkan hidup manusia, tetapi justru menghancurkannya, tanpa ampun.

Pendidikan juga mengalami nasib yang sama. Pendidikan berfungsi untuk mendidik, sehingga orang bisa menjadi cerdas, baik secara intelektual, moral, fisik maupun emosional. Yang terjadi kini adalah, pendidikan justru memperbodoh. Anak diminta untuk menghafal dan mengerjakan hal-hal yang amat sulit, namun tak berguna untuk kehidupan.

Akibatnya, mereka tidak bahagia. Mereka mengalami tekanan batin, karena pendidikan yang dijalaninya. Kecerdasan intelektual menurun. Kecerdasan emosional, fisik dan moral juga makin rendah. Pendidikan justru menjadi sumber dari segala penderitaan dan masalah kehidupan.

Agama juga terbalik sekarang ini. Agama seharusnya memberi makna bagi kehidupan manusia. Agama juga menjadi ikatan sosial di antara beragam manusia, sehingga tidak terjadi konflik satu sama lain. Yang terjadi adalah, kini agama justru memisah-misahkan manusia. Agama justru membuat hati orang menjadi keras dan gelisah.

Banyak perang menjadikan agama sebagai alatnya. Agama telah menjadi alat politik untuk menciptakan perpecahan antar manusia. Ia dipelintir sedemikian rupa, sehingga membenarkan rasisme, diskriminasi dan beragam kejahatan lainnya. Agama tidak lagi menjadi agama yang mengikat dan memberikan makna bagi hidup manusia, melainkan telah menjadi ideologi yang membuat orang buta dan kejam.

Hal yang sama terjadi di bidang ekonomi. Ekonomi bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan bersama, tanpa kecuali. Yang kini terjadi, ekonomi memperkaya satu pihak, dan pada saat yang sama mempermiskin pihak lainnya. Ia menciptakan jurang yang amat besar antara si kaya dan si miskin.

Dari jurang tersebut, lahirlah konflik antar manusia. Orang hidup dalam rasa iri dan curiga satu sama lain. Apartemen mewah bersandingan dengan pemukiman kumuh di berbagai tempat di dunia. Semua ini terjadi, akibat tata ekonomi yang telah kehilangan akar dan tujuan dasarnya.

Politik juga mengalami nasib yang sama. Politik seharusnya merupakan tata kelola untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi semua. Namun, ia kini juga sudah terbalik. Politik menjadi ajang memperebutkan kekuasaan, guna meningkatkan kekayaan pribadi.

Korupsi menggerogoti politik dari dalam. Kebohongan dan penipuan dianggap merupakan bagian yang tak terpisahkan dari politik. Orang curiga dan nyinyir begitu berbicara soal politik. Politik telah kehilangan rohnya, dan menjadi arena tinju kekuasaan antara orang-orang yang rakus dan ambisius.

Bidang kesehatan juga telah mengalami pembalikan. Bidang kedokteran seharusnya membuat orang sehat, dan meningkatkan kualitas hidupnya. Yang kini terjadi adalah sebaliknya. Orang justru dibuat ketergantungan dengan berbagai obat, dan kemudian harus menjalani hidup yang penuh dengan penderitaan, karena ketergantungan itu.

Banyak dokter yang memberikan nasihat palsu kepada pasiennya, guna memperoleh keuntungan dari perusahaan-perusahaan obat yang membayar mereka. Penelitian-penelitian di bidang psikologi juga menyesatkan, dan justru membuat orang semakin menderita secara batin dalam hidupnya. Uang dihamburkan untuk berbagai penelitian, namun hasilnya justru malah menyakiti manusia. Yang diciptakan bukanlah cara baru untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, melainkan justru penyakit-penyakit baru.

Apa yang Terjadi?

Mengapa ini semua terjadi? Bagaimana kita memahami gejala hidup yang terbalik ini? Setidaknya, ada dua cara untuk memahami semua gejala ini. Yang pertama datang dari pemikiran konservatif yang berpijak pada tradisi. Yang kedua datang dari pemikiran Thomas Kuhn, filsuf ilmu pengetahuan di pertengahan abad ke-20.

Bagi orang-orang konservatif, semua gejala ini menandakan satu hal, yakni hancurnya peradaban. Manusia tidak lagi hidup dengan nilai, melainkan hanya menuruti begitu saja keinginan dan ambisinya. Akibatnya, semua sistem penopang kehidupan bersama tidak lagi berjalan. Konflik dan penderitaan pun semakin mewarnai kehidupan manusia, dan hidup manusia pun semakin terbalik.

Penjelasan lain menegaskan, bahwa apa yang terjadi sekarang ini merupakan suatu krisis. Dalam arti ini, menurut Thomas Kuhn, krisis adalah suatu keadaan, dimana pandangan dan nilai-nilai lama sudah tidak lagi berlaku, namun nilai-nilai baru belum diterima secara umum. Manusia pun hidup dalam situasi “diantara”, tanpa kepastian dan pegangan yang jelas. Yang perlu dilakukan adalah berusaha untuk mencari sintesis dari semua kekacauan yang ada, yakni titik seimbang yang nantinya akan menciptakan pandangan baru.

Di dalam pandangan baru ini, manusia pun bisa kembali menemukan nilai-nilai yang dianggap pas untuk mengatur hidup bersama. Kuhn menyebut situasi “hidup yang terbalik” ini sebagai “krisis paradigma”. Paradigma dapat dimengerti sebagai cara pandang yang diterima secara umum. Sekarang ini, kita belum memiliki paradigma, sehingga kita terus hidup dalam ketegangan dan ketidakpastian.

Secara pribadi, saya menolak kedua pandangan tersebut. Kita melihat semua keadaan ini sebagai krisis dan sebagai tanda hancurnya peradaban, karena kita masih terjebak pada cara berpikir yang bersifat dualistik. Artinya, kita melihat dunia ini sebagai pertentangan antara baik dan buruk, benar dan salah, tepat dan tidak tepat. Untuk melampaui pandangan yang bersifat dualistik ini, kita perlu menengok ke filsafat timur yang berkembang di India, Cina, Jepang dan Korea.

Melampaui Dualisme

Dunia kita memang berubah. Namun, dunia memang selalu berubah. Ia tidak pernah tetap. Perubahan tata nilai tidak lagi bisa dipandang sebagai baik atau buruk, benar atau salah, tetapi sebagai sebuah peristiwa yang melampaui penilaian-penilaian semacam itu.

Berpijak pada kebijaksanaan Timur kuno, kita harus melihat dunia apa adanya, yakni melampaui segala penilaian baik dan buruk yang bercokol di kepala kita. Penilaian baik buruk itu sendiri berpijak pada sebentuk tata nilai yang dibentuk pada satu masa, dan masa itu kini telah berubah. Apa yang benar kini dianggap salah, dan apa yang salah kini dianggap sebagai sesuatu yang wajar, bahkan baik untuk dilakukan.

Ada satu prinsip yang bisa kita pakai untuk menanggap situasi “hidup yang terbalik” ini, yakni sedapat mungkin mengurangi penderitaan yang ada, dengan melihat peristiwa demi peristiwa yang terjadi secara jeli. Setelah penilaian baik-buruk dan benar-salah dilampaui, hanya satu yang tampak, apakah ada penderitaan yang dirasakan? Jika ada, apa akar penderitaan tersebut, dan bagaimana penderitaan itu sedapat mungkin bisa dikurangi? Dua pertanyaan ini haruslah menjadi pemandu hidup kita sekarang ini.

Saya menyebut pendekatan ini sebagai pendekatan pragmatis-radikal. Pragmatis berarti pendekatan ini berfokus pada masalah yang ada di depan mata, dan bagaimana penderitaan yang berada di sekitar masalah itu bisa dikurangi. Radikal berarti pendekatan ini hendak membongkar akar (radix) penderitaan yang melahirkan sekaligus menjadi akibat dari masalah yang ada. Pola berpikir ini bisa digunakan untuk memecahkan berbagai masalah yang muncul, baik pada level pribadi maupun sosial.

Pada akhirnya, tidak ada yang sungguh-sungguh baik dan sungguh-sungguh buruk. Semua lahir dari keadaan-keadaan yang menciptakannya. Tidak ada yang sungguh-sungguh benar dan sungguh-sungguh salah. Semua lahir dari rasa sakit, dan akan menciptakan rasa sakit pula. Yang penting adalah bagaimana semua ini bisa dilampaui dan diputus sampai ke akarnya, sehingga kita bisa menemukan kedamaian, baik di hati, maupun di bumi.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

7 tanggapan untuk “Hidup yang Terbalik”

  1. Salam kenal bung Reza, saya djojo dari Tidore, Maluku Utara. Saat ini sedang sekolah di pascasarjana salah satu universitas swasta di makassar. Mohon izin untuk mengutip tulisan bung Reza dalam tulisan saya untuk tugas-tugas kuliah. Terima kasih sebelumnya

    salam, Djojo

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s