Lotus di Medan Perang

skcdn6.successkata.com
skcdn6.successkata.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Siapa yang tidak kenal dengan Nelson Mandela? Dialah pemimpin Afrika Selatan, setelah keluar dari kegelapan politik Apartheid yang membelah negara itu, hampir sepanjang abad 20 lalu. Lebih dari dua puluh lima tahun, ia hidup dalam tahanan, karena menentang pembedaan sosial antara orang-orang berkulit putih dan orang-orang berkulit hitam di Afrika Selatan. Yang menakjubkan dari hidupnya adalah, walaupun mengalami kesulitan begitu berat dan begitu lama, ia tetap bisa mengampuni musuh-musuhnya, dan menciptakan perdamaian bagi Afrika Selatan yang baru.

Siapa juga yang tidak kenal dengan Mahatma Gandhi? Ia memimpin revolusi kemerdekaan India dari Kerajaan Inggris. Filsafat yang ia gunakan adalah sikap tanpa kekerasan. Ia juga hidup dalam tahanan untuk jangka waktu lama. Lepas dari penderitaan dan kesulitan yang ia hadapi, ia mampu menanggapi semuanya dengan ketulusan dan ketabahan yang menjadi dasar dari perdamaian.

Siapa yang tidak pernah mendengar Dalai Lama, pimpinan religius asal Tibet? Nama aslinya adalah Tenzin Gyatso. Sebagai pemimpin agama dan juga pemimpin politik Tibet, ia kini hidup dalam pengasingan, karena Pemerintah Cina kini menguasai Tibet. Ia harus menyaksikan ribuan temannya dibunuh tentara Cina. Ia juga harus melihat hancurnya ribuan kuil Buddha di Tibet. Lepas dari penderitaannya tersebut, ia tetap menjadi pribadi yang damai, cerdas dan memberikan kebahagiaan bagi semua orang. Ia bahkan kini menjadi salah satu tokoh terbesar perdamaian dunia.

Thich Nhat Hanh mungkin tidak seterkenal tokoh-tokoh di atas. Namun, pengaruhnya tak kalah besar. Ia adalah biksu Buddhist asal Vietnam yang kini tinggal di Prancis. Ia aktif menyuarakan suara melawan perang Vietnam, dan terus berusaha mendorong perdamaian di berbagai belahan dunia. Akibat dari sikapnya itu, ia kini mengalami kesulitan untuk kembali ke Vietnam. Namun, lepas dari segala tantangan tersebut, ia tetap berhasil menemukan kedamaian di dalam dirinya, dan berusaha menyebarkan kedamaian tersebut melalui berbagai tulisan, ceramah maupun cara hidupnya.

Dari keempat tokoh di atas, mungkin orang ini yang paling banyak dikenal. Namanya Yesus. Ia adalah pendiri Kristianitas. Setelah hanya sekitar tiga tahun berkarya dengan menyebarkan pemikiran-pemikirannya, ia kemudian mati disalib, akibat iri hati para pemuka Yahudi pada jamannya. Kematian di atas salib adalah kematian yang paling menyakitkan dan memalukan. Namun, Yesus tetap tabah dan sabar serta penuh cinta menghadapi penderitaannya. Ia bahkan bersedia mengampuni orang-orang yang telah memfitnah dan kemudian menyiksanya.

Kedamaian dan Pengampunan

Apa yang sama dari keempat orang ini? Saya melihat ada dua hal yang sama dari keempat orang di atas. Yang pertama adalah kemampuan dan dorongan hati untuk menemukan kebahagiaan setiap saat, terutama pada saat-saat paling berat dalam hidup mereka. Yang kedua adalah kemampuan untuk mengampuni semua orang yang telah berbuat jahat pada mereka, seberapapun besarnya kejahatan tersebut. Mereka adalah bunga Lotus yang indah dan mekar di medan perang, walaupun darah dan penderitaan bercucuran di sekitarnya.

Pertanyaan yang kemudian menggantung adalah, bagaimana mencapai pemahaman semacam itu? Bagaimana kita bisa menemukan kedamaian di tengah penderitaan hidup yang terus datang menerpa? Bagaimana kita bisa mengampuni dan bahkan mencintai orang-orang yang telah membuat kita menderita? Bagaimana kita bisa menjadi lotus di tengah medan perang? Inilah, menurut saya, pertanyaan-pertanyaan terpenting di dalam hidup manusia.

Kesadaran dan Meditasi

Berpijak pada pemahaman para pemikir besar di Barat dan di Timur, saya melihat setidaknya ada dua langkah sederhana yang bisa ditempuh. Yang pertama adalah dengan menyadari, bahwa segala hal yang kita anggap penting dalam hidup ini adalah sesuatu yang rapuh dan terus berubah. Kita juga perlu menyadari, bahwa segala hal yang kita takutkan dan benci di dalam hidup juga rapuh dan terus berubah. Tidak ada yang tetap dan abadi. Semuanya berubah, tanpa henti (Pantha Rei-Herakleitos).

Kesadaran ini juga mencakup diri kita sendiri. Apa yang kita sebut sebagai identitas (baik identitas pribadi maupun identitas sosial) adalah sesuatu yang sifatnya rapuh dan terus berubah. Ia adalah ilusi, dalam arti seolah tampak nyata, tetapi sebenarnya seperti kabut, yakni begitu rapuh dan cepat sekali berubah. Jadi, ketakutan (dan juga benda-benda yang kita takutkan) adalah ilusi. Cinta (dan benda-benda yang kita anggap berharga) adalah ilusi. Bahkan, diri kita adalah ilusi. Dengan kesadaran ini, kita bisa menemukan kedamaian di tengah penderitaan berat.

Bagaimana kita bisa mencapai dan mempertahankan kesadaran ini? Ini terkait dengan cara kedua, yakni meditasi (Zen-Bodhidharma). Meditasi adalah upaya untuk hidup di sini dan saat ini. Masa lalu tidak ada. Masa depan tidak ada. Aku tidak ada. Dunia tidak ada. Yang ada hanyalah saat ini, disini.

Banyak orang mengira, bahwa meditasi itu hanya duduk dan berdiam diri berjam-jam. Ini salah kaprah yang amat besar. Meditasi itu berarti melakukan apa yang kita lakukan dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa kita. Misalnya, ketika kita memasak, kita harus berada sepenuh hati dan sepenuh jiwa kita untuk memasak. Kita tidak boleh berpikir tentang hari kemarin. Kita juga tidak boleh berpikir tentang apa yang akan kita lakukan besok. Dunia luar pun harus kita abaikan. Yang ada adalah satu: kita yang memasak. Titik.

Saya bisa memberikan jutaan contoh lainnya. Kuncinya adalah menyadari semua hal yang kita rasakan melalui indera kita. Misalnya udara yang melewati hidung kita. Suara dari kejauhan yang kita dengar. Udara dingin yang mengenai muka kita, dan sebagainya. Semua ini membantu pikiran dan tubuh kita menjadi satu.

Sumber dari segala penderitaan adalah keterpisahkan pikiran dari tubuh. Misalnya, kita mandi, tetapi pikiran kita sedang khawatir akan ujian hari esok. Akhirnya, kita cemas dan gelisah. Ketika kita belajar, pikiran kita ingat pacar kita. Akhirnya, kita pun tidak belajar. Ketika tubuh dan pikiran bisa dijadikan satu, misalnya melalui meditasi, maka kedamaian pun akan ditemukan.

Jadi, kesadaran akan kehampaan dari segala sesuatu dan meditasi akan membawa kita menemukan kedamaian, apapun yang sedang kita lakukan, dan apapun yang terjadi pada kita. Keduanya akan mendorong kita untuk masuk apa yang disebut oleh para filsuf politik modern sebagai kondisi alamiah (Naturzustand), yakni keadaan diri manusia, sebelum masyarakat ada. Di dalam keadaan alamiah ini, manusia adalah mahluk yang penuh cinta dan kedamaian. Ia tak mengenal takut dan tak mengenal pula kemarahan. Ia sepenuhnya berada disini dan saat ini (hic et nunc-Latin).

Kesadaran akan kehampaan dan meditasi akan mengantar orang untuk hidup di sini dan saat ini. Masa lalu tidak berarti baginya. Masa depan juga tidak berarti. Dunia luar tidak memiliki arti penting baginya. Ia pun hidup dalam kedamaian dan cinta yang tumbuh secara alamiah dari dalam dirinya. Inilah kekuatan besar yang bisa pergunakan untuk menemukan kedamaian di saat-saat berat, dan mengampuni serta mencintai musuh-musuh kita. Semua orang, tanpa kecuali, memilikinya.

Lotus di Medan Perang

Semua ini berpijak pada satu pemahaman yang dikembangkan oleh Sakyamuni Buddha (orang yang sudah “bangun”, atau yang telah tercerahkan), bahwa surga dan neraka tidak terletak di luar diri manusia, melainkan di dalam pikiran. Pikiranlah yang menciptakan dunia. Apa yang kita lihat dan rasakan dibentuk oleh pikiran kita.

Ketika pikiran berada dalam kesadaran akan kehampaan, maka ia akan tenang. Ketika pikiran berada di sini dan saat ini, ia akan menemukan kedamaian. Dan ketika pikiran tenang dan damai, maka dunia pun tenang dan damai. Kita akan memperoleh kekuatan batin dari dalam diri kita sendiri untuk melampaui penderitaan hidup. Kita akan menjadi lotus di tengah medan perang.

Tenang dan tidak tenang juga adalah ilusi. Damai dan tidak damai juga adalah ilusi. Yang ada hanyalah disini dan saat ini. Di luar itu. Kosong. Sungguh-sungguh kosong….. Tidak ada kata untuk menggambarkannya…. Kata Wittgenstein, pemikir asal Austria, “Untuk hal-hal yang tidak bisa dikatakan, orang harus menutup mulutnya.”

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s