Berani Berpikir Sendiri… dan Setelahnya

Fractal Enlightenment

Oleh Reza A.A Wattimena

            Immanuel Kant, salah satu pemikir Eropa terbesar, menulis sebuah buku pendek pada akhir tahun 1784 di Prussia. Judulnya adalah Beantwortung der Frage: Was ist Aufklärung? Dalam bahasa Indonesia: Jawaban atas Pertanyaan, Apa itu Pencerahan? Ada satu paragraf penting yang kiranya perlu saya tulis disini.   

            “Pencerahan adalah keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang dibuatnya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan untuk menggunakan akal budi, tanpa pengarahan dari orang lain. Ketidakdewasaan ini dibuat oleh dirinya sendiri, karena sebabnya bukanlah kurangnya akal budi itu sendiri, melainkan karena kurangnya keberanian untuk berpikir tanpa pengarahan dari orang lain. Sapere Aude! Beranilah berpikir berpikir sendiri! Itulah semboyan dari Pencerahan.” (Kant, 1784) Lanjutkan membaca Berani Berpikir Sendiri… dan Setelahnya

Politisasi Surga, Politisasi Neraka

Equilibrium Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Katanya, surga itu indah. Semua yang kita inginkan akan kita dapatkan. Tak ada derita dan sakit di sana. Katanya juga, surga dapat diraih, setelah orang meninggal, dan ia telah mengisi hidupnya dengan kebaikan.

            Katanya, neraka itu mengerikan. Isinya penderitaan. Orang dibakar selamanya, karena ia telah berbuat banyak kejahatan dalam hidup. Neraka, sama seperti surga, dialami, setelah orang meninggal. Lanjutkan membaca Politisasi Surga, Politisasi Neraka

Mencari Kebahagiaan Sejati

thewaterproject.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Segala mahluk hanya punya satu tujuan di alam semesta ini, yakni mencapai kebahagiaan. Manusia mencarinya dengan susah payah. Hewan dan tumbuhan pun berusaha mencari kebahagiaan. Tak ada mahluk yang mau dengan sengaja menderita di dalam hidupnya.

       Khusus untuk manusia, pengalaman mencari kebahagiaan adalah soal rumit. Kita cenderung mencari di tempat yang salah. Akhirnya, tenaga habis, lelah, namun tetap tak bahagia. Tak hanya itu, kita bahkan lebih menderita, ketika kita mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Lanjutkan membaca Mencari Kebahagiaan Sejati

Indonesia sebagai “Agama”

One Tree Planted

Oleh Reza A.A Wattimena

Gejala perpecahan tampak di berbagai tempat di Indonesia sekarang ini. Karena perbedaan pilihan politik, keluarga dan pertemanan terpecah. Suasana hidup bersama menjadi muram dan penuh ketakutan. Ada kekhawatiran mendasar, ketika konflik terjadi, kelompok minoritas (suku, ras dan agama) akan kembali menjadi kambing hitam, seperti pada 1998 lalu.

            Radikalisme agama tercium begitu tajam di udara. Ajaran dari ribuan tahun lalu dibaca secara mentah dan dangkal, sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada kebencian dan konflik. Agama pun dimainkan di dalam ajang perebutan kekuasaan politik. Padahal, ketika agama dan politik kekuasaan bercampur, keduanya akan membusuk. Lanjutkan membaca Indonesia sebagai “Agama”

Ambisi dan Identitas

Pablo Picasso

Oleh Reza A.A Wattimena

            Marcus Aurelius, pemikir Stoa yang sekaligus adalah Kaisar Romawi, pernah menulis, “Nilai seorang manusia tidaklah lebih dari nilai ambisinya.” Sebagaimana diungkap oleh Neel Burton, ambisi berasal dari kata ambitio yang berarti “berkeliling untuk mencari dukungan”. Kata ini kemudian bisa dipahami sebagai upaya untuk mencapai kehormatan dan pengakuan dari masyarakat luas. (Burton, 2014)  

            Kata ambisi juga melibatkan dua hal. Pertama, ia melibatkan dorongan dari dalam diri seseorang untuk mencapai sesuatu yang ia pandang sebagai berharga. Dua, dorongan ini juga melibatkan kemampuan untuk terus berusaha, walaupun tantangan dan kegagalan terus mengancam. Tujuan untuk dari orang-orang yang ambisius adalah mencapai pengakuan dari masyarakat, baik dalam bentuk kekuasaan, uang maupun nama besar. Lanjutkan membaca Ambisi dan Identitas

Pendidikan Demokrasi dan Demokratisasi Pendidikan

André Masson, “Tauromachie,” 1937.

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendidikan adalah soal manusia dengan segala kompleksitasnya. Ia tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga di dalam keseharian, baik di dalam keluarga maupun masyarakat luas. Karena bersentuhan dengan manusia, pendidikan menopang semua bidang kehidupan lainnya. Seluruh teknologi dan infrastruktur akan menjadi percuma, jika pendidikan tetap bermutu rendah.

Pada tingkat yang lebih luas, pendidikan adalah soal “jiwa” bangsa. Ia mencakup rasa kebangsaan, yakni rasa keterikatan yang dimiliki seseorang terhadap bangsanya. Keterikatan ini yang membuat orang terdorong untuk terlibat dalam pembangunan bangsanya, walaupun begitu banyak tantangan menghadang. Keterikatan ini jugalah yang membuat orang tak terjatuh ke dalam segala bentuk radikalisme, baik agama maupun ekonomi. Lanjutkan membaca Pendidikan Demokrasi dan Demokratisasi Pendidikan

Memahami Kemarahan

Oleh Reza A.A Wattimena

Jantung berdetak keras. Kepala terasa sakit. Seluruh badan menegang. Jika mungkin, ingin sekali rasanya berteriak.

Pada puncaknya, orang lupa diri. Semua kesadaran lenyap. Itulah kemarahan. Gejalanya menyakitkan. Namun, ia tak dapat begitu saja dihindarkan. Lanjutkan membaca Memahami Kemarahan

Manusia Abad 21

spiritueux magazine

Oleh Reza A.A Wattimena

Banyak orang bertanya, apa minat penelitian saya? Saya tidak bisa menjawab secara lugas. Di abad ini, semua orang memiliki minat khusus. Saya tidak. Saya belajar semuanya, mulai dari politik, sejarah, budaya, seni, keamanan siber, kajian agama, spiritualitas dan sebagainya, tergantung dorongan hati dan kebutuhan profesional. Bisa dibilang, minat khusus saya adalah “kehidupan secara menyeluruh”.

Saya juga sulit menjawab, ketika orang bertanya, apa agama saya. Saya dilahirkan di dalam keluarga Katolik. Namun, minat saya merentang jauh dari ajaran Katolik, dan menyentuh Zen, Buddhisme, Yoga, Vedanta, Sufi Islam, Kabbalah Yahudi, Kejawen, Sunda Wiwitan dan masih banyak lagi. Agama saya tidak bisa dipenjara dalam satu konsep yang dipaksakan pemerintah kepada rakyatnya. Lanjutkan membaca Manusia Abad 21

Tirani Asumsi

Jo Cody

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup dengan asumsi. Asumsi adalah hal-hal yang dianggap benar, dan tidak dipertanyakan lagi. Ia adalah anggapan-anggapan lama yang diwarisi dari generasi sebelumnya. Ada kalanya, ia mengandung kebenaran. Namun, tak jarang pula, ia menggiring orang pada kesalahan berpikir, dan penderitaan.

Deretan Asumsi

Misalnya, di abad 21 ini, banyak orang berpikir, bahwa politik itu busuk. Ini anggapan lama yang lahir dari kekecewaan. Padahal, politik adalah soal urusan bersama, guna menciptakan kebaikan bersama. Ia adalah panggilan luhur, asalkan lahir dari nilai-nilai kehidupan, dan bukan kerakusan semata. Lanjutkan membaca Tirani Asumsi

Karya Terbaru: Kompleksitas Agama di Abad 21: Pemahaman Transdisipliner dan Relevansinya untuk Indonesia

DITERBITKAN DALAM ARY SUTA CENTER SERIES ON
STRATEGIC MANAGEMENT APRIL 2019 VOLUME 45 Lanjutkan membaca Karya Terbaru: Kompleksitas Agama di Abad 21: Pemahaman Transdisipliner dan Relevansinya untuk Indonesia

Agama dan Empati

René Magritte

Oleh Reza A.A Wattimena

Pakaiannya berlebihan. Ia seperti orang dari masa lalu dan dari dunia lain yang berkunjung ke bumi. Jalannya sangat percaya diri. Tak sadar, ia menjadi pusat perhatian sekitarnya.

Imannya tebal, namun dangkal. Ia percaya buta pada ajaran agama warisannya. Semua kata ditelan mentah-mentah. Jika disuruh membakar diri pun ia rela melakukannya. Lanjutkan membaca Agama dan Empati

Karya Terbaru: „Postreligion“ oder Zurück zu der Wurzel der Religionen? Wissenschaft, Religion und Wahrheit im 21. Jahrhundert in Asien

Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam Buku Bildung und Wissenschaft im Horizont von Interkulturalität

halaman 207-2018 Lanjutkan membaca Karya Terbaru: „Postreligion“ oder Zurück zu der Wurzel der Religionen? Wissenschaft, Religion und Wahrheit im 21. Jahrhundert in Asien

Menunggu itu Zen

NYWA ART PROJECT

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup ini menunggu. Sewaktu janin, kita menunggu untuk dilahirkan ke dunia. Sewaktu kita kecil, kita menunggu untuk menjadi dewasa. Begitu seterusnya, sampai ajal tiba.

Di kehidupan sehari-hari, menunggu pun merupakan bagian penting dari hidup. Kita menunggu transportasi untuk mengantarkan kita ke tempat kerja. Di tempat kerja, kita pun menunggu untuk bisa menyelesaikan pekerjaan kita, dan, jika mungkin, bisa naik pangkat. Mulai dari antri di berbagai tempat, sampai menunggu jodoh, menunggu menjadi bagian besar dari hidup kita. Lanjutkan membaca Menunggu itu Zen

Demokrasi “Dari, Oleh dan Untuk” Indonesia, Sebuah Pertimbangan

Nick Jeong

Oleh Reza A.A Wattimena

Pesta demokrasi, atau pemilihan umum, terbesar sudah dekat. Seperti layaknya pesta, ia bukanlah yang utama. Justru demokrasi yang sebenarnya dilaksanakan di antara masa-masa pemilihan umum semacam ini. Inilah yang kiranya terlupakan.

Demokrasi adalah kontrak sosial Indonesia. Ia tak bisa diubah sembarangan ke arah sistem politik lain. Upaya melakukan perubahan hanya akan membawa konflik berkepanjangan, karena mengkhianati kontrak sosial yang mengikat ribuan suku, ras dan agama ke dalam satu ikatan politik. Jika ini terjadi, perpecahan adalah buahnya, dan Indonesia pun hanya akan menjadi kenangan. Lanjutkan membaca Demokrasi “Dari, Oleh dan Untuk” Indonesia, Sebuah Pertimbangan

Hidup yang Paripurna

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap orang ingin hidupnya penuh. Ini berarti, ia ingin bahagia bersama orang-orang yang dicintainya. Ia juga ingin hidup berkecukupan. Bisa dibilang, hidup yang penuh dan utuh adalah tujuan tertinggi yang bisa dicapai seseorang.

Namun, hidup yang penuh tidak terjadi begitu saja. Jaman kita penuh dengan hal-hal yang membuat hidup menjadi sempit dan rumit. Penderitaan mencengkram siapapun, tak peduli kaya atau miskin, sehat atau sakit dan cakap ataupun buruk rupa. Hidup yang penuh harus dibentuk secara cermat. Lanjutkan membaca Hidup yang Paripurna

Golput: Tulisan Franz Magnis-Suseno

Franz Magnis-Suseno,

Rohaniwan; Mantan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Kompas, 12 Maret 2019

Istilah ”golput”, singkatan dari golongan putih, menurut Wikipedia, diciptakan tahun 1971 oleh Imam Waluyo bagi mereka yang tak mau memilih. Dipakai istilah ”putih” karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian putih di kertas atau surat suara di luar gambar parpol peserta pemilu kalau tak menyetujui pembatasan pembentukan partai-partai oleh pemerintah Orde Baru.

Jadi, golput artinya sama dengan menolak untuk memberikan suara. Setiap kali ada pemilu, kemungkinan golput, diperdebatkan. Memang, UU pemilu kita, seperti halnya di mayoritas demokrasi di dunia, tak mewajibkan warga negara harus memilih. Masalahnya: bagaimana penolakan warga negara untuk ikut pemilu harus dinilai? Lanjutkan membaca Golput: Tulisan Franz Magnis-Suseno

Aku Ada,… Maka Aku Bosan….

Oleh Reza A.A Wattimena

Descartes, pemikir Prancis, terkenal dengan pandangannya: Aku berpikir, maka aku ada. Sudah banyak penjelasan tentang pandangan itu. Banyak pula variasi diberikan terhadapnya. Saya hanya ingin menambah satu, yakni aku ada, maka aku bosan.

Mengapa bosan? Ya, ini salah satu penyakit lama saya. Saya gampang sekali merasa bosan. Ketika sibuk, saya bosan dengan kesibukan. Ketika tak ada pekerjaan, saya juga bosan. Lanjutkan membaca Aku Ada,… Maka Aku Bosan….

Membangun Nalar Kebijaksanaan: Filsafat, Media dan Demokrasi

palace-of-wisdom

Oleh Reza A.A Wattimena

            Banyak orang cerdas di jaman ini. Mereka penuh dengan informasi dan pengetahuan. Namun, kebijaksanaan tak mereka miliki. Akibatnya, kecerdasan tersebut digunakan untuk menipu, korupsi dan merusak kebaikan bersama.[1]

Yang dibutuhan kemudian adalah nalar kebijaksanaan (Vernunft-Weisheit). Nalar kebijaksanaan lebih dari sekedar nalar keilmuan. Di jaman sekarang ini, nalar kebijaksaanaan menjadi panduan utama, supaya kecerdasan bisa mengabdi pada kebaikan bersama. Ini juga menjadi amat penting di tengah tantangan radikalisme dalam segala bentuknya, dan banjir informasi palsu yang melanda kehidupan kita. Sebagai ibu dari semua ilmu, filsafat adalah ujung tombak untuk membangun nalar kebijaksanaan. Lanjutkan membaca Membangun Nalar Kebijaksanaan: Filsafat, Media dan Demokrasi

Kritisisme Kedangkalan

Oleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang tak menikmati keindahan sekuntum bunga? Warnanya indah. Baunya harum. Bunga kerap menjadi simbol cinta dan keindahan yang membahagiakan hati manusia.

Namun, bunga tak datang dari langit. Ia datang dari tanah dengan berbagai macam campuran yang ada. Jika anda ingin bunga, maka anda harus bekerja dengan tanah, dan segala campurannya, seperti pupuk, air dan sebagainya. Anda harus berani mengotori tangan anda. Lanjutkan membaca Kritisisme Kedangkalan

Belajar Memilah

Morgan Library

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Indonesia, kita perlu belajar untuk berpikir terpilah. Artinya, kita perlu belajar untuk membedakan antara ruang publik dan ruang privat. Di dalam ruang publik, kita berperan sebagai warga negara dan bagian dari masyarakat. Di dalam ruang privat, kita berperan sebagai mahluk pribadi dengan pandangan hidup yang khas, namun tetap menghargai hukum serta hak-hak orang lain.

Dua Lapis Kenyataan

Di mata semesta, semuanya adalah satu energi. Tidak ada perbedaan. Fisika modern sudah lama menyatakan hal ini. Energi itu satu, dan tak akan pernah lenyap. Ia hanya berubah. Lanjutkan membaca Belajar Memilah