Politisasi Surga, Politisasi Neraka

Equilibrium Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Katanya, surga itu indah. Semua yang kita inginkan akan kita dapatkan. Tak ada derita dan sakit di sana. Katanya juga, surga dapat diraih, setelah orang meninggal, dan ia telah mengisi hidupnya dengan kebaikan.

            Katanya, neraka itu mengerikan. Isinya penderitaan. Orang dibakar selamanya, karena ia telah berbuat banyak kejahatan dalam hidup. Neraka, sama seperti surga, dialami, setelah orang meninggal.

            Itu semua “katanya”. Sampai detik ini, tidak ada satupun bukti nyata tentang keberadaan surga ataupun neraka. Namun, di Indonesia, karena mutu pendidikan yang amat rendah, banyak orang percaya buta terhadap hal-hal yang tak pasti. Mereka pun percaya, jika mereka mengikuti perintah orang-orang tertentu, maka mereka akan masuk surga, dan terhindar dari neraka.

Politisasi

            Mental gampang percaya semacam ini dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh orang-orang yang punya kepentingan busuk. Sejak 2016 lalu, politik Indonesia dipenuhi dengan kepentingan sempit yang menggunakan agama. Surga dan neraka dimainkan untuk menciptakan massa yang hendak membuat kerusuhan. Membuat rusuh, bersikap diskriminatif dan kejam terhadap orang yang berbeda dianggap sebagai perbuatan baik yang akan mengantarkan orang ke surga.

            Mental percaya buta juga mudah ditipu untuk kepentingan ekonomi. Surga dijadikan bisnis jualan oleh para pemuka agama busuk, sehingga mereka menjadi amat kaya, walaupun banyak umatnya tetap hidup dalam kemiskinan. Neraka dijadikan alat untuk menakuti orang, sehingga mereka jadi takut untuk berpikir kritis dan mandiri. Agama, surga dan neraka lalu menjadi barang dagangan yang menguntungkan di masyarakat yang miskin akal sehat dan naif.

            Terlebih, orang yang tergila-gila pada surga dan neraka akan lupa, bahwa dunia ini juga penting untuk dirawat. Dunia memang bukan surga, dan tak seburuk neraka. Namun, ia tetap perlu dikembangkan untuk kebaikan semua mahluk hidup.  

Menafsir Ulang

            Surga dan neraka setelah kematian itu tak pasti. Yang pasti adalah kita hidup di dunia ini. Maka, pemahaman tentang surga dan neraka pun harus ditafsir ulang. Surga adalah keadaan, dimana kedamaian dan kebahagiaan menjadi milik bersama. Ia tak terjadi setelah kematian, melainkan disini dan saat ini dalam hubungan dengan orang lain, dan semua mahluk hidup.

            Neraka pun juga sama. Ia adalah keadaan yang penuh konflik dan penderitaan. Ia tak terjadi setelah kematian, melainkan disini dan saat ini dalam hubungan dengan orang lain, dan semua mahluk. Ketika orang dipenuhi kemarahan, iri hati, kebencian dan dendam, maka ia sudah berada di neraka, walaupun ia masih hidup.

            Ini adalah tafsiran yang lebih sesuai dengan akal sehat. Kita tak perlu percaya pada hal-hal yang tak pasti. Kita hanya perlu melihat keadaan hidup kita sekarang ini.

Dengan berbuat baik untuk diri sendiri dan orang lain, hati kita dipenuhi kedamaian dan kebahagiaan. Kita pun sudah berada di surga. Sebaliknya, ketika kita membuat orang lain ataupun mahluk hidup lain menderita, hati kita dipenuhi kecemasan, ketakutan dan penyesalan. Kita sudah berada di neraka.

Dengan pemahaman ini, kita tak gampang ditipu oleh orang-orang dengan kepentingan busuk. Kita tak bisa dijadikan alat politik untuk melakukan diskriminasi ataupun kerusuhan. Kita juga tak gampang ditipu oleh para pemuka agama untuk kepentingan ekonomi mereka. Kita jadi manusia yang mampu berpikir kritis dan mandiri. Tunggu apa lagi?  

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

12 tanggapan untuk “Politisasi Surga, Politisasi Neraka”

  1. saya terbahak2 membaca karya diatas. jitu, sepakat. genau wie faust ins auge.
    manusia jadi mahluk “terbelakang”, pengertian nya mundur ke zaman baheula.
    salam hangat !!

    Suka

  2. Surga dan neraka ternyata terwujud dari perilaku. Tapi para penipu berkedok agama bisa-bisanya menggunakan tema surga dan neraka menjadi komoditasnya.
    Oiya..apakah para penipu berkedok agama tidak menciptakan neraka baginya sendiri?

    Suka

  3. Sebenarnya hal seperti itu tidak hanya ada satu agama di indonesia, dilingkangan saya di suatu pulau juga ada seperti itu, saya hanya malas menyebutkanya, intinya pemuka agama hidup penuh kontradiksi dengan ajaran mereka bahkan pelangaran ham pun bisa dikagorikan walaupun dibalut adab kesantunan

    Suka

  4. Saya sepakat dengan pemikiran ini. Surga dan Neraka harusnya bisa dimengerti oleh banyak orang yang beragam kepercayaan di Indonesia, sama seperti pemikiran kritis di atas. Semoga cepat mewabah ke semua kalangan. Dangke banyak ka Reza.

    Suka

  5. Saya juga suka dengan artikel ini . Pertama Karena pemahaman atas surga dan neraka terjadi persamaan dimana yang satu tidak bisa berdiri Tanpa yang lain seperti halnya ada terang -gelap., +-, suci dan berdosa dan lainya yang kita lihat dan alami secara nyata dan hidup.
    Wasalam…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.