Tuhan dan Uang (Part 1)

wordpress.com

Membaca Ulang Pemikiran Max Weber tentang

Etos Protestantisme dan Semangat Kapitalisme

serta Relevansinya untuk Indonesia Abad ke-21

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

(Diajukan sebagai Materi Extension Course Filsafat Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya dengan tema “TUHAN DAN UANG: MEMIKIRKAN ULANG HUBUNGAN ANTARA TUHAN DAN UANG” Agustus-Desember 2011.)

            Di dalam tulisan ini, saya akan mengajak anda memikirkan ulang hubungan antara semangat kapitalisme, yang berupa penumpukan modal tanpa batas, dan etos kerja agama Kristen Protestan, sebagaimana dianalisis oleh Max Weber, serta menarik relevansinya untuk memahami situasi Indonesia di abad ke 21. Untuk itu saya akan membagi tulisan ini ke dalam lima bagian. Lanjutkan membaca Tuhan dan Uang (Part 1)

Pembusukan Kolosal

bhagwad.com

Kompas, Selasa,
28 Juni 2011

Oleh B Herry Priyono

Korupsi bukan hanya pencurian dan penggelapan uang negara, melainkan juga pembusukan kehidupan bersama. Rupanya itulah yang menggerakkan Kompas belakangan ini menurunkan banyak laporan utama mengenai ”kerusakan moral” hidup berbangsa.

Istilah bisa berubah, tetapi intinya sama: pembusukan pada skala kolosal. Korupsi sebagai pencurian uang negara hanya salah satu bagian. Pengertian korupsi sebatas ciri finansial-ekonomistik ini biasanya tanda masyarakat yang begitu rusak oleh pembusukan pada tingkat yang sangat ganas. Justru karena sangat ganas, langkah kalap koreksi terpaksa hanya berkutat pada aspek material, finansial, dan tolok ukur uang. Lanjutkan membaca Pembusukan Kolosal

Anggur Tua di Botol Baru

wordpress.com

Oleh Mochtar Naim, Kompas, 27 Juni 2011

Ketika otonomi diberikan kepada daerah-daerah, kita semua mengharapkan agar penyakit korupsi, kolusi, dan nepotisme yang selama ini berjangkit di pusat tak menjalar ke daerah-daerah.

Ternyata dengan otonomi, bagaimana di pusat begitu juga di daerah. Dengan berjalannya waktu, Indonesia sekarang ini telah termasuk ke dalam kelompok negara terkorup di dunia. Jika tidak ada tindakan drastis yang dilakukan, masa depan Indonesia akan makin suram, dan bisa saja berakibat fatal. Lanjutkan membaca Anggur Tua di Botol Baru

“Lubang-Ingatan”

Oleh Reza A.A Wattimena

Bangsa kita kembali jatuh ke lubang yang sama. Seolah kita tak pernah belajar dari apa yang pernah ada. Beragam masalah mulai dari korupsi (Nazaruddin yang tetap tak jelas), kemiskinan (yang bisa kita lihat sehari-hari), hancurnya moral publik (kasus Desa Gadel, Surabaya), dan tiadanya penghargaan terhadap martabat manusia (kasus TKI) adalah cerita lama yang berpola sama dari yang sebelumnya. Lanjutkan membaca “Lubang-Ingatan”

Yang Lalu

blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Apa “yang lalu” terekam dalam ingatan. Ia menyelinap ke dalam benak, membentuk pola, dan mempengaruhi tindakan. Semua orang mengalami ini, tanpa kecuali.

Ini berlaku untuk level individual, maupun kolektif. Di dalam masyarakat ingatan akan peristiwa lampau tetap ada, namun tersembunyi di balik keseharian. “Yang buruk” maupun “yang baik”, keduanya ada berdampingan. Keduanya tak terpisahkan. Lanjutkan membaca Yang Lalu

Korupsi dan Keluhuran

blogspot.com

Oleh Jansen Sinamo

Seorang profesor fisika, Pantur Silaban namanya, dosen kami dulu di Bandung, berkata bahwa alam tidak pernah korupsi. Elektron, misalnya, hanya bersedia menerima jatah energi yang sudah ditetapkan alam baginya sebesar kelipatan bulat konstanta Planck.

Alam bekerja dengan prinsip ”secukupnya”, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Ini sesuai pula dengan selarik doa klasik, ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Bukan makanan lima tahun untuk pemilu berikutnya! Lanjutkan membaca Korupsi dan Keluhuran

Tak Lupa

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

             Saat ini Indonesia tengah mengalami krisis kepemimpinan. Di berbagai sektor kehidupan sangat sulit dijumpai seorang pimpinan yang bisa sungguh mengarahkan organisasi yang dipimpinnya untuk mencapai kegemilangan secara manusiawi. Yang banyak ditemukan adalah pemimpin yang permisif. Mereka mencari popularitas dengan bersikap ramah dan baik, namun tidak memiliki ketegasan untuk membuat keputusan. Akibatnya organisasi menjadi tidak memiliki arah yang jelas, dan ketidakpastian menghantui aktivitas organisasi tersebut. Dalam hal ini negara dan masyarakat bisa dipandang sebagai sebuah organisasi yang, juga, mengalami krisis kepemimpinan. Lanjutkan membaca Tak Lupa

Perindu

                                                                        Oleh Goenawan Mohamad

blogspot.com

Tempo, Senin, 13 Juni 2011

Dua nama, satu kehilangan. Saya makin sering ketemu orang-orang yang menyebut nama ”Sukarno” atau ”Soeharto” seraya meletakkan kedua presiden itu dalam satu masa yang dirasakan hilang. Para perindu ini orang-orang yang berbeda, tentu. Tapi sebenarnya mereka sejajar: dalam kemurungan mereka, sejarah adalah nostalgia.

Sejarah sebagai nostalgia adalah gejala kesadaran modern. Para perindu tak hidup seperti orang-orang di sebuah masyarakat di mana tradisi punya peran yang sentral. Di alam pikiran masyarakat tradisional, masa lalu tak pernah absen. Ia hadir di mana-mana. Ia tak perlu dirindukan kembali. Lanjutkan membaca Perindu

Kolaborasi

mekinvestments.com

Sketsa tentang Dinamika Kerja Sama di dalam Organisasi

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Kita hidup di dunia yang semakin rumit. Banyak hal tak lagi bisa dilakukan sendirian. Maka kita perlu kerja sama, atau berkolaborasi. Kolaborasi adalah model kerja masa kini dan masa depan. Lanjutkan membaca Kolaborasi

Jurnal Filsafat: Slavoj Zizek dan Manusia sebagai Subyek Dialektis

Oleh Reza A.A Wattimena

Filsafat dimulai pada saat kita tidak lagi menerima

apa yang ada sebagai yang begitu saja diberikan.”

Slavoj Žižek

Abstract

What or who is human? This is one of the oldest questions in history. Philosopher and scientist from various disciplines try to answer it based on their research and theories. What is unique in Žižek approach is his effort to combine two different schools of thought as an intellectual instrument to answer this question, namely German Idealism and Jacques Lacan’s Psychoanalysis. Inspired by the philosophy of German Idealism, he argued that the essence of human is not inside his or her self, but outside, namely the symbolic order that determine their self. And inspired by Lacan, he argued that the self always embedded in the symbolic order, and constantly disrupted by the Real. In this context, we can say that human is a dialectical subject.

Kata Kunci: subyek, manusia, subyek dialektis, fantasi, the Real, tata simbolik. Lanjutkan membaca Jurnal Filsafat: Slavoj Zizek dan Manusia sebagai Subyek Dialektis

Mendidik Ulang Kewargaan

Oleh B Herry Priyono

http://www.callcentrehelper.com

Selamat datang di negeri yang berlagak demokrasi. Sebagaimana lagak itu ibarat topeng yang mengimpit wajah, begitu pula lagak demokrasi adalah topeng kebebasan yang memangsa isi demokrasi.

Jutaan kata telah dikerahkan untuk menjelaskan kemajuan dan kemacetan proses demokrasi: dari telaah ciri agonistik dan antagonistik sampai prasyarat deliberatif bagi kemungkinannya di Indonesia. Namun, kedegilan peristiwa tetap saja keras kepala. Deretan bom, teror, dan tersingkapnya jaringan ambisi Negara Islam Indonesia belakangan ini mengisyaratkan, perkaranya barangkali lebih sederhana daripada urusan agonistik, antagonistik, ataupun deliberatif demokrasi. Mungkin perkaranya adalah rasa-merasa kewargaan yang digusur dari kehidupan bersama dan bernegara. Bagaimana memahami pokok sederhana ini? Lanjutkan membaca Mendidik Ulang Kewargaan

Pengganggu/Yang Tak Terduga

smalltownstudentministry.com

(Filsafat Bisnis)[1]

Oleh Reza A.A Wattimena

Orang benci para pengganggu (the disruptor). Namun penganggu itu bermata dua. Kehadirannya dibenci sekaligus dirindukan. Di tengah situasi penuh kompetisi, para pengganggu berharga bagaikan permata. Ide-ide mengalir tak terduga deras dari kepala dan tutur kata mereka.

Hal yang sama terjadi di dalam dunia bisnis-usaha. Ketika ada masalah mereka diajak untuk menganalisis situasi. Namun tak berhenti di situ; para pengganggu datang, menemukan anggapan-anggapan lama yang masih ada, dan membuatnya mati. Para penganggu adalah para pembunuh klise (pandangan umum).   Lanjutkan membaca Pengganggu/Yang Tak Terduga

Mengapa Kita Bersatu?

Kompas 3 Juni 2011

blogspot.com

Oleh Radhar Panca Dahana

Sungguh sebenarnya kita sudah menipu: menipu dunia, menipu diri sendiri, dan menipu sejarah kita sendiri. Bahwa kita adalah manusia dan masyarakat modern, bahkan posmodern, dan bahwa kita adalah masyarakat demokratis yang ditandai oleh manusia-manusia yang egaliter, progresif, mundial, dan menghargai minoritas. Sesungguhnya itu hanyalah sebuah tipu.

Sebagaimana para elite dan pemimpinnya yang getol menggunakan biaya rakyat untuk melakukan upaya pencitraan diri, kita pun sesungguhnya aktor-aktor murahan yang sibuk dengan pencitraan bahwa kita adalah masyarakat yang sama maju dan modernnya dengan bangsa-bangsa ”hebat” lainnya. Dalam realitasnya, kita tetap tenggelam dalam kemenduaan atau semacam skizofrenia kultural, di mana diri yang kita citrakan itu bertempur atau berebut tampil dengan diri kita yang tradisional, primordial, mistik, dan klenik. Lanjutkan membaca Mengapa Kita Bersatu?

Mitos Otentisitas?

blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pada awalnya ada sebuah kata; kebebasan. Ada sebuah mimpi; kebahagiaan. Keduanya seolah menyatu di dalam cita-cita; otentisitas. Katanya dengan hidup otentik –asli sesuai panggilan hati-, orang bisa mencapai kebebasan, dan dengan itu, ia akan mencapai kebahagiaan. Kita bisa menerima ini, karena tampak langsung menyentuh akal budi maupun hati nurani yang kita punya.

Seringkali kita diminta untuk melihat ke dalam diri sendiri, dan hidup seturut dengan panggilan hati terdalam yang kita punya. Sekilas ini semua terlihat menarik. Namun apakah saran semacam itu masih tepat untuk situasi Indonesia sekarang?

Di tengah sedikitnya lapangan kerja yang layak, apakah kita masih meminta anak-anak kita untuk menjadi otentik, dan setia pada panggilan hati mereka sendiri? Apakah kita siap dengan resiko, bahwa mungkin saja, mereka tidak mendapat pekerjaan yang layak, dan hidup di dalam kegagalan, ketika mengejar mimpi dan panggilan hati mereka dengan penuh semangat? Lanjutkan membaca Mitos Otentisitas?

Negeri Para Celeng

 

blogspot.com

Oleh Sindhunata

Pada awalnya, lembaran itu hanyalah sebuah lukisan. Lukisan yang berjudul ”Berburu Celeng” karya perupa Djoko Pekik. Ternyata lukisan itu kemudian menjadi bagaikan ramalan yang memfaalkan karut-marut dan kecemasan bangsa pada zaman sekarang.

Lukisan itu dibuat setelah kejatuhan Orde Baru. Konteksnya fajar merekahnya era reformasi. Digambarkan di sana tertangkapnya seekor celeng raksasa. Dengan badan yang terbalik, celeng itu diikat pada sebilah bambu yang digotong dua lelaki busung lapar. Kerumunan rakyat menyambut tertangkapnya celeng itu dengan pesta ria dan sukacita. Menyambut lukisan tersebut, penulis mengeluarkan sebuah buku berjudul Tak Enteni Keplokmu, Tanpa Bunga dan Telegram Duka (1999). Seperti halnya rakyat waktu itu, penulis juga diliputi euforia reformasi. Toh, terpengaruh oleh kecemasan si pelukis, penulis bertanya: ”Celeng dhegleng sudah tertangkap, tapi mengapa di depan semuanya tambah gelap?” Lanjutkan membaca Negeri Para Celeng

Komunitas Politis: Fakta atau Hipotesa?

http://www.projecthomeblog.org

Sebuah Pendekatan Fenomenologi Politis

Oleh: Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Abstrak

Di dalam tulisan ini, saya akan menjabarkan makna dan proses terbentuknya komunitas politis. Tulisan ini juga dapat dianggap sebagai suatu bentuk partisipasi di dalam diskusi tentang problematika tatanan, atau problem “yang sosial”. Saya menggunakan pendekatan fenomenologi yang dijabarkan oleh John Drummond yang mengacu langsung pada teks-teks Edmund Husserl, bapak fenomenologi. Argumen utama Drummond adalah, bahwa komunitas politis merupakan fakta yang berkembang melalui hipotesa, dan hipotesa yang di dalam perkembangannya selalu berpijak pada fakta. Di bagian akhir saya akan mengajukan tanggapan kritis terhadap argumen tersebut.

Kata kunci: komunitas politis, yang sosial, komunitas alamiah, komunitas sukarela. Lanjutkan membaca Komunitas Politis: Fakta atau Hipotesa?

Bandi Pengembara

http://www.plumflowermantisboxing.com

Oleh SUKARDI RINAKIT

Pagi itu, ditimpali deru mobil yang melintas, saya bertanya kepada Pak Harto tentang perjalanan Indonesia ke depan pada era reformasi. Pak Harto diam sejenak, lalu dengan serius menjawab, ”Nanti kamu akan saksikan, tidak mudah mengurus Republik!”

Ingatan itu hadir kembali setelah membaca hasil survei Indo Barometer minggu lalu (Kompas, 16/5).

Para responden mengamini bahwa era Soeharto lebih baik daripada saat ini, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi. Hasil ini tentu mengejutkan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Klaim bahwa mereka telah bekerja keras dan membawa Indonesia lebih makmur menjadi mentah.

Sebaliknya, para oponen SBY bergairah dan mempunyai pijakan keras untuk mengkritisi pemerintah. Dari ruang seminar sampai warung kopi ”amigos” (agak minggir got sedikit), mereka menolak tafsir bahwa SBY adalah presiden terbaik dibandingkan dengan presiden lain pada era reformasi. Mereka lebih suka mengatakan, mengutip ungkapan Adhie Massardi, ”Jika Soeharto buruk, SBY lebih buruk. Itulah tafsir data Indo Barometer.” Saya tersenyum mendengarnya. Data yang sama memang bisa ditafsirkan berbeda. Lanjutkan membaca Bandi Pengembara

Lenyap dan Putus

farm4.static.flickr.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada yang lenyap di masyarakat kita. Lembaga perwakilan tanpa keterwakilan. Bangsa tanpa cita-cita kebangsaan. Agama tanpa spiritualitas yang mendalam.

Yang kita dapatkan kemudian adalah lembaga perwakilan yang merugikan orang-orang yang diwakilinya. Bangsa yang warganya tak memiliki semangat patriotisme. Agama yang tak memiliki belas kasih. Dan pendidikan tanpa cita-cita pencerahan maupun penyadaran kritis.

Juga ada yang putus di bangsa kita. Politik putus dari moralitas. Karya seni putus dan pendidikan. Agama putus dari ilmu pengetahuan dan filsafat.

Semua bidang itu ada di dalam masyarakat. Namun semuanya seolah tak terhubung. Yang kita dapatkan adalah politik tanpa moralitas. Seni tanpa aspek pendidikan. Agama yang amat tidak rasional sekaligus destruktif. Lanjutkan membaca Lenyap dan Putus

Aku Tak Berpikir, maka Aku Ada

wordpress.com

Oleh Bre Redana

Makin tak berpikir, makin lempang jalan. Pelibatan mendalam pada proses kehidupan, termasuk di dalamnya pelibatan proses pemikiran, makin tersingkir oleh segala hal yang sifatnya praktis, teknis, bersifat seketika. Orang kian malas berpikir.

Kalau mau film laku, bikin film yang tak usah berpikir. Makin berpikir, makin tak laku. Itu diucapkan teman yang beberapa kali membiayai pembuatan film—dimaksudkan sebagai film bermutu—akhirnya menjadi film kurang laku. Kalah oleh film-film hantu, kuntilanak, pocong dengan segala versinya dari yang keramas sampai kesurupan. Sudah hantu, kesurupan pula.

Anda silakan memaparkan sendiri indikasi-indikasi gejala keengganan berpikir itu. Museum-museum dan gedung-gedung tua di Indonesia merana. Dalam kondisi demikian, yang ditampilkan oleh televisi kemudian bukan paparan nilai kebudayaan dan historis situs-situs itu, melainkan hantu-hantu yang bergentayangan di dalamnya. Penjaga dan juru kunci diwawancarai pernah melihat apa saja. Diajak pelacak, yang bersedia kesurupan. Mengaum-ngaum seperti harimau. Menggelikan dan menyedihkan. Lanjutkan membaca Aku Tak Berpikir, maka Aku Ada

Kita (2011)

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

(Seluruh kerangka analisis tulisan ini diinspirasikan dari Martin James, The Jesuit Guide to (Almost) Everthing, Harper Collins, New York, 2010, hal. 183-185. Saya mengembangkan analisis Martin tersebut untuk konteks masyarakat kita.)

Kita hidup dalam masyarakat yang amat individualistik. Setiap orang mengejar kepentingan pribadinya, dan seolah tak terlalu peduli dengan kepentingan bersama. Kita hidup dalam masyarakat yang amat kompetitif; setiap orang mengurus dirinya sendiri, titik.

Memang mengejar kepentingan pribadi juga tidak salah. Bahkan dapat dengan lugas dikatakan, bahwa pengejaran kepentingan pribadi adalah esensi dari kapitalisme. Dan kita semua tahu, kapitalisme, lepas dari segala kekurangannya, adalah sistem terbaik yang dikenal umat manusia dalam hal produksi dan distribusi barang maupun jasa. Lanjutkan membaca Kita (2011)