Politik Rasa Aman

cheekysecurity.co.za
cheekysecurity.co.za

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Bayangkan, kita hidup di suatu negara yang tak peduli pada rasa aman warganya. Jika warganya mengalami pemutusan hubungan kerja, negara tak berbuat apapun. Jika warganya sakit parah, negara diam tak bergerak. Jika warganya mati, negara juga diam saja.

Ketika harga kebutuhan pokok melambung tinggi, negara hanya marah, dan nyaris tak bertindak apapun. Ketika ongkos pendidikan mahal, para pejabat negara justru naik mobil mewah dan pergi keluar negeri dengan alasan studi banding. Ketika warganya dirugikan dan mengalami ketidakadilan, negara juga diam saja, malah justru seringkali menambah penderitaan rakyatnya. Ini jelas merupakan tanda negara gagal: politik yang gagal, politik yang merusak.

Politik Rasa Aman

Politik itu gampang sebenarnya. Kita cukup menciptakan rasa aman untuk semua, tanpa kecuali, lalu semua akan berjalan maju dengan sendirinya. Seluruh definisi politik mengarahkan kita pada tujuan mendasar yang terdengar sederhana ini, namun amat rumit penerapannya. Jika kita membaca berbagai buku tentang politik dan filsafat politik, setidaknya kita bisa melihat tiga definisi mendasar dari politik. Lanjutkan membaca Politik Rasa Aman

Martabat, Citra Diri, Hegemoni,….

mater.org.au
mater.org.au

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Hampir 12 jam setiap harinya, Amin (bukan nama sebenarnya) bekerja sebagai buruh tambang di pedalaman Aljazair, Afrika Utara. Pekerjaannya selalu melibatkan kekuatan fisik yang ekstrem. Bersama teman-temannya, ia menggali dan menutup galian dengan aspal setiap harinya. Ia menerima upah, namun sayang, upah itu tidak semestinya.

Untuk pekerjaan yang sama, rekannya yang berasal dari Inggris mendapat upah yang lebih tinggi. Kemampuan mereka sama. Bahkan, untuk beberapa situasi, kemampuan Amin lebih tinggi dari koleganya tersebut. Yang membedakan mereka dalam hal ini hanya satu: ras.

Karena ditekan situasi, Amin tak punya pilihan. Ia merasa, martabatnya sebagai manusia direndahkan, hanya karena ia berasal dari Indonesia. Menurut dia, bangsa Indonesia tak punya martabat di hadapan bangsa-bangsa lainnya di dunia. “Jika bekerja di Malaysia”, demikian katanya,”banyak perempuan Indonesia hanya akan menjadi pelacur. Sebagai pekerja, kami juga sering mengalami diskriminasi dari petugas resmi Malaysia, hanya karena kami orang Indonesia.”

Sistem politik dan ekonomi dunia memang memuliakan martabat satu ras tertentu, dan secara bersamaan merendahkan martabat ras lainnya. Di dalam politik, tindakan agresi satu bangsa tertentu dianggap sebagai pembebasan. Sementara, tindakan agresi bangsa lainnya dianggap sebagai terorisme. Di dalam bidang ekonomi, seperti yang dialami Amin, orang Indonesia seringkali mendapatkan upah yang jauh lebih rendah untuk pekerjaan yang sama, dibandingkan dengan orang yang berasal dari bangsa-bangsa lainnnya (Eropa, Amerika, Australia?) Lanjutkan membaca Martabat, Citra Diri, Hegemoni,….

Mimpi-mimpi yang Menyesatkan

dari Jack Skellington
dari Jack Skellington

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Ribuan orang naik kapal laut mengarungi laut Mediterania yang memisahkan antara Eropa dan Afrika. Mereka adalah orang-orang yang melarikan diri dari rumahnya, dan berharap bisa mendapatkan hidup baru yang lebih baik di tanah asing: Eropa. Mereka mendapat informasi, bahwa Eropa adalah surga, dimana orang bisa hidup dengan damai dan layak. Mimpi mereka adalah pergi ke Eropa, dan kemudian menetap. Sayang, kedamaian dan kemakmuran hidup yang mereka dambakan belum tentu menjadi kenyataan.

Di Indonesia, ratusan pelajar setiap tahunnya juga bermimpi yang sama: pergi ke Eropa, berharap mendapat pendidikan yang layak, dan bekerja disana. Orang tua mereka memeras keringat untuk membayar mahal demi pendidikan di Eropa yang, menurut mereka, lebih baik. Namun, anggapan umum tak selalu benar. Rasisme terselubung mengancam setiap orang yang merantau keluar dari tanah kelahirannya, begitu pula mutu pendidikan yang tak selalu unggul, juga sebagai dampak dari rasisme kultural ada.

Seorang teman sedang melanjutkan studi master di bidang teknik kimia di Jerman. Ia selalu mengeluh, karena dosennya tak punya waktu untuk berdiskusi (terlalu banyak mahasiswa dan terlalu banyak proyek), kuliahnya membosankan, dan asisten dosennya sama sekali tak ramah, mungkin karena ia adalah orang asing. Di tengah iklim semacam itu, lebih baik buat dia untuk belajar di Indonesia. Mimpi bahwa studi di Eropa selalu lebih baik adalah salah satu mimpi yang menyesatkan. Lanjutkan membaca Mimpi-mimpi yang Menyesatkan

Integritas dan Rabun Jauh

itb.ac.id
itb.ac.id

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di München, Jerman

Hampir setiap saat, kita dipaksa oleh situasi untuk membuat keputusan, mulai dari keputusan kecil tentang apa yang kita makan untuk sarapan, atau keputusan besar, seperti apakah kita akan menikah, atau tidak. Di dalam setiap keputusan, selalu ada pertimbangan-pertimbangan yang perlu untuk diperhatikan. Setidaknya, pertimbangan tersebut mencakup dua hal, yakni keadaan nyata yang ada, atau orang menyebutnya sebagai “data”, dan prinsip hidup seseorang, yakni nilai-nilai hidup yang ia yakini sebagai manusia. Dengan dua alat ini, setiap saat, hampir setiap detik, orang membuat keputusan.

Keadaan dan Prinsip

Dengan data, orang memperoleh informasi tentang keadaan di dunia, mulai dari harga saham, sampai bagaimana orang-orang lain membuat keputusan dalam keadaan yang sama. Dengan data, orang bisa belajar dari pengalaman orang lain, juga dari keadaan di luar, supaya ia bisa membuat keputusan yang tepat. Namun, data sama sekali tidak cukup untuk membuat keputusan. Sebaliknya, data bisa menipu kita, sehingga kita membuat keputusan yang salah, yang akhirnya tidak hanya merugikan kita, tetapi juga merugikan orang lain.

Inilah kecenderungan umum manusia pada umumnya, yakni membuat keputusan berdasarkan situasi, berdasarkan data. Keputusan yang diambil biasanya mengambil data jangka pendek, maka tujuannya pun untuk memperoleh keuntungan atau keberhasilan dalam jangka pendek pula. Ini juga yang menjadi hal terpenting di dalam metode penelitian ilmiah ilmu pengetahuan modern. Dengan cara berpikir ini, ilmu pengetahuan modern lalu menghasilkan penemuan-penemuan yang mengubah dunia (jadi lebih baik?). Lanjutkan membaca Integritas dan Rabun Jauh

Naluri dan Peradaban

http://fractalontology.files.wordpress.com
fractalontology.com

Sebuah Sketsa Singkat

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam diri setiap orang bercokol dua naluri purba, yakni naluri meraih kenikmatan, dan naluri untuk menguasai. Artinya, secara alamiah, setiap orang terdorong oleh nalurinya untuk mencari apa yang nikmat, apa yang enak, dan itu manusiawi, tak bisa dihindarkan. Di sisi lain, setiap orang terdorong dari dalam dirinya untuk menguasai, yakni pertama dengan memberi nama, memberi arti, lalu menggunakan (misalnya alam atau zat baru untuk kepentingan manusia itu sendiri).

Setiap detik, manusia mencari apa yang enak, entah tempat duduk yang enak di dalam bis, arah kursi yang enak di kantor atau di kampus, atau sekedar mencari makan yang enak sekaligus murah (nikmat). Setiap detik, manusia terdorong untuk menguasai. Zat baru diberi arti dan diperas fungsinya di laboratorium untuk kepentingannya, entah untuk kepentingan bisnis atau kepentingan kemanusiaan. Inilah dua naluri purba manusia yang selalu bercokol di dalam batin setiap orang, entah ia sadar, atau tidak.

Kini, kita hidup di dalam masyarakat hukum. Inilah yang disebut para ahli ilmu sosial sebagai peradaban, yakni suatu teknik untuk mengatur naluri-naluri manusia, sehingga ia tidak menyeruak keluar, dan menghancurkan manusia itu sendiri. Jadi, peradaban, dalam bentuk aturan, hukum, budaya, filsafat, dan agama, tidak menghancurkan naluri manusia, melainkan sekedar mengelolanya. Bisa dibilang, peradaban adalah jalan putar yang lebih tertata, walaupun tujuan akhirnya tetap sama, yakni memuaskan naluri manusia. Lanjutkan membaca Naluri dan Peradaban

Bunuh Diri Sosial dan Krisis Logos

weeklyvoice.com
weeklyvoice.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Manusia memang akan punah. Apa yang pernah ada, pasti suatu saat akan punah. Itu adalah hukum baja sejarah yang tak bisa dihindari. Pertanyannya kemudian, kapan kita akan punah? Menyimak beragam gejala dunia, rupanya waktunya tidak akan lama lagi.

Penyebabnya adalah diri kita sendiri. Sebagai satu spesies, kita seolah melakukan bunuh diri sosial, yakni bunuh diri spesies kita sendiri sebagai manusia. Kita saling membunuh. Kita merusak alam. Segala yang kita lakukan seperti tak habis-habisnya berusaha membunuh spesies kita sendiri.

Di Indonesia, korupsi bagaikan kanker yang merusak segalanya, mulai dari keadaan keuangan bangsa, sampai dengan moral hidup sehari-hari. Kekerasan dan ketidakmampuan hidup dalam perbedaan sudut pandang melahirkan perang dan penderitaan bagi semua. Konflik antar agama dan antar kelompok membuat hidup bersama menjadi amat sulit. Aku korupsi, maka aku ada, itulah kiranya yang menjadi semboyan sehari-hari para pejabat politik, hukum, maupun ekonomi kita di Indonesia. Lanjutkan membaca Bunuh Diri Sosial dan Krisis Logos

Merancang Budaya Unggul

nithyananda.org
nithyananda.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di München, Jerman

         Keunggulan suatu bangsa adalah karya tangan dari bangsa itu sendiri, dan bukan otomatis turun dari langit. Ratusan ribu doa akan percuma, jika orang tetap merampok dan bertindak merusak. Ini yang menurut saya harus ditekankan terlebih dahulu, sebelum kita berupaya merancang budaya yang melahirkan keunggulan di berbagai bidang di Indonesia.

         Di era globalisasi sekarang ini, kekuatan suatu bangsa bukan semata sumber daya alam atau luas wilayahnya, melainkan pertama dan terutama adalah kekuatan kultur yang melahirkan manusia-manusia yang kreatif dan luhur. Namun, seperti sudah dijelaskan sebelumnya, kultur tidak jatuh dari langit, melainkan hasil dari karya manusia. Kekuatan kultur dari suatu bangsalah yang mendorong bangsa itu mampu berkompetisi sekaligus bekerja sama untuk melahirkan kemakmuran bersama.

Kebebasan dan Rasa Aman

         Pertanyaan kunci berikutnya adalah, bagaimana membentuk kultur yang melahirkan manusia-manusia kreatif sekaligus luhur tersebut? Saya melihat setidaknya adalah lima hal yang bisa dan perlu untuk diusahakan. Yang pertama adalah kebebasan. Dalam arti ini, masyarakat mendorong setiap warganya untuk secara bebas mengejar panggilan hidup dan mengembangkan keahlian mereka, tanpa paksaan. Lanjutkan membaca Merancang Budaya Unggul

Pendidikan Manusia-manusia Kreatif

blogspot.com
blogspot.com

Pemikiran Ken Robinson

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Pendidikan kita di Indonesia memang dipenuhi dengan mitos, yakni pemahaman yang salah atas kenyataan kehidupan. Pertama, anak-anak berlomba untuk masuk jurusan IPA, atau ilmu alam, walaupun mereka tidak memiliki ketertarikan, apalagi bakat, dalam bidang itu. Tentu saja, pendidikan ilmu-ilmu alam amatlah penting. Akan tetapi, jelas, pendidikan semacam itu tidak cukup, karena hidup jauh lebih kaya dan rumit, daripada sekedar fakta-fakta matematis alamiah yang menjadi kajian ilmu-ilmu alam.

Sebaliknya, pendidikan perlu memberi kesempatan yang secukupnya untuk pelbagai bidang-bidang kehidupan lainnya yang juga amat penting, mulai dengan seni sampai dengan pendidikan olah raga. Ilmu pengetahuan adalah dunia yang amat luas dan kaya. Semuanya perlu diperkenalkan (bukan dikuasai!) kepada peserta didik, lalu mereka bisa memilih, bidang apa yang menjadi panggilan hidup mereka. Mitos, bahwa pendidikan ilmu-ilmu alam (bukan ilmu pasti, karena tidak ada ilmu pasti. Kalau itu pasti, maka itu pasti bukan ilmu, melainkan permainan saja) itu lebih tinggi, jelas harus ditinggalkan.

Metode Pendidikan

Kedua adalah soal metode, atau gaya mengajar, atau gaya penyampaian materi ajar. Peserta didik, terutama anak-anak, adalah mahluk yang amat dinamis. Tidak mungkin mereka diajak duduk berjam-jam, terkurung dalam ruang kelas yang seringkali tidak nyaman, dan melakukan pekerjaan yang hampir tidak membutuhkan kegiatan fisik apapun (hanya duduk dan menulis). Tak heran, banyak anak tak suka belajar, karena metode mengajar di kelas sama sekali tidak cocok dengan keadaan psikologis maupun fisik mereka. Mereka menjadi mahluk yang terasing di dalam dunia pendidikan. Lanjutkan membaca Pendidikan Manusia-manusia Kreatif

Hidup dan Hal-hal yang “Penting”

hugloo.com
hugloo.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia bisa hidup sehat di atas usia 60 tahun. Inilah salah satu keajaiban dari dunia kedokteran modern yang telah berhasil memusnahkan beragam penyakit mematikan bagi manusia. Di abad-abad sebelumya, orang yang berusia 50 tahun sudah dianggap sebagai luar biasa. Mayoritas hanya menikmati hidup sampai usia 40 atau bahkan 30 tahun, karena dihantam penyakit, atau kecelakaan maut lainnya.

Namun, jika dipikirkan lebih dalam, 70 tahun usia manusia modern, dengan asumsi dukungan pelayanan kesehatan yang memadai, pun termasuk pendek, terutama jika dibandingkan dengan usia alam semesta yang lebih dari milyaran tahun lamanya. Di dalam hidup yang pendek tersebut, banyak orang hidup menderita, entah menderita secara fisik, atau batin. Banyak orang harus berjuang keras, sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Di sisi lain, banyak orang mengalami kehampaan hidup yang akut, sehingga mereka mengalami masalah kejiwaan.

Ini terjadi, pada hemat saya, karena banyak orang menghabiskan hidupnya untuk hal-hal yang tidak esensial, atau tidak “penting”. Mereka menjalani hidup yang palsu, karena dipaksa oleh pihak-pihak luar, entah oleh keluarga, tradisi, atau agama. Mereka terjebak pada budaya massa, sehingga seringkali terbawa arus jaman, tanpa bisa melawan. Mereka juga seringkali hidup untuk menumpuk harta, dan lupa mencintai, atau bahkan sekedar tertawa. Yang paling parah, terutama untuk situasi Indonesia, banyak orang korupsi: memakan hak orang lain untuk memuaskan kepentingannya sendiri. Lanjutkan membaca Hidup dan Hal-hal yang “Penting”

Pendidikan dan Sikap Ilmiah

http://behance.vo.llnwd.net
http://behance.vo.llnwd.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Sulit bagi kita untuk berkembang sebagai pribadi dan sebagai bangsa di abad 21 ini, jika kita tidak memiliki mentalitas ilmiah. Dalam arti ini, mentalitas ilmiah adalah sikap batin yang mencoba menerapkan cara berpikir ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Inilah, menurut saya, yang menjadi kunci kemajuan dari berbagai bangsa di abad 21 ini. Tanpa pengembangan mentalitas ilmiah, bangsa kita akan terus terjebak ke dalam kebodohan, baik dalam bidang politik, maupun bidang-bidang kehidupan lainnya yang lebih bersifat pribadi.

Mentalitas Ilmiah

Syarat pertama dari mentalitas ilmiah adalah kemampuan untuk mengamati apa yang ada di kenyataan. Pada titik ini, pengalaman sehari-hari bukan hanya sebagai obyek untuk dilihat, tetapi sebagai sesuatu yang diamati dan dialami. Orang yang memiliki mentalitas ilmiah selalu berpikir bertolak dari pengalaman yang diamati. Ia tidak hidup dalam takhayul, ataupun gosip.

Berpijak pada pengalaman dan pengamatan, tumbuhlah rasa penasaran di dalam dirinya. Ingatlah, rasa penasaran adalah awal dari belajar, dan awal dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Rasa penasaran muncul karena rasa kagum terhadap apa yang ada, atau apa yang terjadi, misalnya keindahan alam, keberadaan masyarakat, dan sebagainya. Rasa penasaran mendorong penjelajahan intelektual maupun spiritual manusia. Lanjutkan membaca Pendidikan dan Sikap Ilmiah

Pernikahan Abad 21, Antara Kenyataan dan Harapan

http://3.bp.blogspot.com
http://3.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Günther Grass, pemenang nobel sastra asal Jerman, di dalam novelnya yang berjudul Kopfgeburten menulis kisah yang ironis tentang keluarga. Suami dan istri tinggal bersama, dan mereka hendak memutuskan, apakah mereka akan mempunyai anak atau tidak. Ketika si istri siap, si suami tidak siap. Sebaliknya, ketika si suami siap, justru si istri yang tidak siap. Situasi terus menerus seperti itu, tidak berubah. Akhirnya, mereka memutuskan untuk punya kucing saja.

Tak bisa disangkal lagi, bentuk keluarga kini mulai berubah. Banyak orang menikah dan hidup bersama, walaupun suku dan agama mereka berbeda. Banyak pasangan memiliki pola baru; istri bekerja dan berkarir tinggi, sementara suami menjaga anak di rumah. Perempuan kini tidak lagi sibuk mengurus rumah tangga di rumah, tetapi juga mengambil peran penting di dalam kehidupan publik, baik dalam bidang ekonomi maupun politik. Mengapa ini terjadi, dan bagaimana kita harus bersikap?

Di dalam wawancaranya bersama Tina Ravn dan Mads P. Sørensen, Elisabeth Beck-Gernsheim berusaha melakukan refleksi atas gejala-gejala baru ini. Mayoritas memang terjadi di Eropa. Akan tetapi, pada hemat saya, terutama di kota-kota besar di Indonesia, hal yang serupa juga terjadi. Pola hubungan suami istri berubah, dan peran tradisional yang dulunya dijalankan oleh pria dan wanita kini juga mengalami perubahan pesat.

Masalah dasarnya adalah soal identitas. Apa artinya menjadi suami sekarang ini? Apa artinya menjadi istri sekarang ini? Lebih lanjut lagi, apa artinya menjadi orang tua sekarang ini? Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut menggugat kemapanan identitas soal peran pria dan wanita yang sudah terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya. Lanjutkan membaca Pernikahan Abad 21, Antara Kenyataan dan Harapan

Mati Demi Profit

smartpassiveincome.com
smartpassiveincome.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

“Para pekerja Bangladesh harus membayar dengan nyawa mereka, sehingga para pembeli dari negara lain bisa membeli pakaian murah.” Menyedihkan. Menyakitkan. Kepuasaan satu kelompok di belahan dunia tertentu dibayar dengan penderitaan dan nyawa dari orang-orang di belahan dunia lainnya.   

Banyak suara berteriak dibalik runtuhnya bangunan. Orang menangis, berdoa, berteriak, dan mengeluh di bawah tumpukan materi bangunan yang ambruk. Di luar reruntuhan, orang terpana, nyaris tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan tangis dan jeritan sakit yang terdengar keras. Gedung tua yang sebelumnya berfungsi sebagai pabrik itu kini menjadi tumpukan material yang telah membunuh banyak orang dan mengurung sisanya, membuat mereka terjebak tak berdaya.

Rana Plaza, terletak di daerah Savar, Bangladesh, tepat di ibu kota Dhaka, kini menjadi tempat yang tak akan terlupakan. Ribuan orang terjebak di dalam runtuhnya gedung tersebut. Ratusan di antaranya meninggal dalam sekejap mata. Sisanya mengalami cacat, entah cacat tubuh, atau cacat emosional.

Sekitar 3000 orang bekerja di gedung tersebut, ketika bencana itu terjadi. Sekitar 500 mayat manusia berhasil dikeluarkan. Ratusan lainnya masih hilang. Dengan berjalannya waktu, jumlah korban masih belum bisa dipastikan.

Bencana mengerikan di Savar, Bangladesh ini, sebagaimana dicatat oleh der Spiegel, merupakan bencana terbesar di sejarah Bangladesh terkait dengan industri. Ribuan orang bekerja di dalam situasi yang tidak manusiawi untuk menghasilkan produk-produk tekstil bagi perusahaan-perusahaan pakaian Amerika dan Eropa. Perusahaan-perusahaan tersebut memperoleh keuntungan besar dari kultur korupsi yang mengakar di Bangladesh, dibarengi dengan ketidakpedulian para pemilik pabrik di sana tentang situasi kerja kaum buruh. (Hasnain Kazim et.al, Mei, 2013) Lanjutkan membaca Mati Demi Profit

Apa yang “Tidak Cukup”

not-enough-money
investopedia.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Kita hidup dalam dunia yang selalu tidak cukup. Banyak hal muncul dalam bentuk yang kurang, dari yang kita harapkan. Gaji yang tak pernah cukup mencukupi kebutuhan hidup. Waktu yang selalu tidak cukup untuk keluarga, atau orang-orang yang kita cintai.

Jacques Lacan, filsuf dan psikoanalis asal Prancis, pernah mengisi sebuah acara TV di Prancis. Ia bilang, “kata orang, kita harus berbicara benar. Atau, kita harus mengatakan kebenaran. Akan tetapi, itu tidak mungkin. Bahasa kita tidak cukup untuk mengatakan kebenaran. Bahasa kita terlalu miskin untuk menyatakan kebenaran.”

Lacan punya pendapat yang sangat kuat tentang ini. Ketika kita berkata, bahasa langsung mengurung maksud kita ke dalam kata dan grammar. Ada jarak yang cukup besar antara kata yang terucap dan maksud di dalam hati. Kata-kata dan bahasa kita tidak cukup untuk mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan.

Di dalam bukunya yang berjudul Der Ego-Tunnel, Thomas Metzinger, filsuf dan ilmuwan neurosains asal Jerman, menulis, bahwa apa yang kita tangkap dengan pikiran kita hanyalah sebagian kecil dari kekayaan realitas yang ada. Dengan kata lain, pikiran kita tidak cukup untuk menangkap keluasan kenyataan yang ada. Kenyataan atau realitas yang sesungguhnya jauh lebih kaya daripada apa yang bisa kita tangkap dan pahami dengan pikiran kita. Lanjutkan membaca Apa yang “Tidak Cukup”

Demokrasi di bawah Cengkraman Kekuasaan Totaliter

Hobbes, Leviathan
Hobbes, Leviathan

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Sebagai salah satu eksperimen sosial terbesar abad 20, demokrasi tampaknya bermuka dua. Di satu sisi, ia diinginkan, karena dianggap mampu menjadi sistem politik yang memberi wadah untuk kebebasan, dan berpeluang untuk mencapai kesejahteraan bersama di dalam masyarakat majemuk. Di lain sisi, ia ditakuti, karena begitu rapuh, terutama ketika diterjang oleh beragam gejolak sosial ekonomi, sehingga bisa terpelintir menjadi anarki ataupun melahirkan kekuasaan totaliter yang baru. Refleksi atas pengalaman sejarah berbagai negara kiranya bisa menerangi kita dalam tegangan ini.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, kita bisa dengan mudah melihat, bagaimana tata pemerintahan demokrasi (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat) lahir dari rahin kekuasaan totaliter (monarki, despot). Demokrasi lahir sebagai simbol pemberontakan dan ekspresi kebebasan manusia, yang tak lagi mau ditindas oleh kekuasaan totaliter di luar dirinya. Di sisi lain, sebagaimana pengalaman Yunani dan Romawi, kita juga bisa menyaksikan, bagaimana kekuasaan totaliter lahir dari sistem politik demokrasi yang gagal mengatasi kerumitan politik masyarakat itu sendiri. Demokrasi, harus diakui, adalah sistem yang rumit, dan ketika kerumitan itu tak lagi tertahankan, sehingga menciptakan kekacauan dan kemiskinan, orang dengan mudah menyerahkan kebebasan mereka kepada penguasa totaliter, supaya keadaan kembali terkendali.

Mengapa demokrasi bisa lahir dari kekuasaan totaliter? Jawabannya sederhana. Di bawah kekuasaan totaliter, ada satu penguasa yang mengatur semuanya, biasanya dengan kekuatan militer. Suasana relatif stabil. Di dalam stabilitas, lahirlah kelas menengah. Mereka bukan orang kaya raya, tetapi mereka memiliki sumber daya untuk hidup dan mengembangkan dirinya. Biasanya, mereka adalah para pedagang, bangsawan-bangsawan kecil yang memiliki tanah tak terlalu luas, ataupun para pendidik di berbagai institusi pendidikan. Mereka nantinya menjadi penggerak revolusi, ketika kekuasaan totaliter menjadi ekstrem, sehingga harus digulingkan. Lanjutkan membaca Demokrasi di bawah Cengkraman Kekuasaan Totaliter

Buku Filsafat Terbaru: Dunia Dalam Gelembung

Document1

Karya: Reza A.A Wattimena

Buku ini adalah suatu upaya untuk memahami apa yang terjadi dengan Indonesia dewasa ini, terutama dilihat dari sudut filsafat dan ilmu- ilmu sosial lainnya. Di dalam buku ini, saya mengajukan satu argumen, bahwa Indonesia terjebak dalam gelembung-gelembung realitas, sehingga kehilangan pijakan pada realitas yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, gelembung adalah elemen yang menghalangi pandangan kita atas kenyataan yang sebenarnya. Yang terlihat kemudian adalah versi lebih (hiperbolis) dari kenyataan itu.

 

Maka dari itu, kita harus berani memecah gelembung-gelembung yang menutupi realitas, dan melihat realitas itu secara langsung. Dengan kata lain, kita harus memecah berbagai gelembung realitas yang ada, mulai dari gelembung politik, gelembung pendidikan, gelembung ekonomi, gelembung budaya, dan gelembung pemikiran, sehingga bisa sampai pada realitas yang sesungguhnya, dan tak lagi terjebak pada kebohongan- kebohongan. Itulah yang saya coba lakukan dengan menulis buku ini.

Buku bisa didapatkan di:

Untuk para Pengguna iPhone dan iPad di link berikut: iTunes

Untuk yang lainnya, bisa dilihat di link berikut: dunia-dalam-gelembung

Penerbit: Evolitera, Jakarta

ISBN: 978-602-9097-21-4
© Reza A. A. Wattimena, 2013

Hakekat Penelitian Ilmiah menurut Onora O’Neill

IMG_6493Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Sebagai salah seorang filsuf kontemporer, Onora O’Neill banyak menulis soal politik dan moral, termasuk kebijakan publik, keadilan global, bioetika, dan filsafat Kant. Ia kini aktif mengajar sekaligus menjadi bagian dari Komisi Kesetaraan dan Hak-hak Asasi Manusia di Inggris. Dalam artikelnya soal penelitian ilmiah, ia mengajak kita berpikir soal argumen Marx yang menyatakan, bahwa para filsuf hanya sibuk memahami dunia, padahal yang terpenting adalah mengubahnya. Argumen ini dirumuskan oleh Marx di dalam bukunya Theses on Feuerbach pada 1845. Sekilas mendengar, banyak orang langsung sepakat dengan argumen ini, termasuk para filsuf sendiri. Bagi mereka, penelitian filsafat, dan ilmu-ilmu lainnya, harus memberikan dampak yang jelas pada dunia. Akan tetapi, pertanyaan yang diajukan oleh Onora O’Neill tampaknya juga perlu menjadi pergulatan kita bersama, yakni apa yang sesungguhnya dimaksud dengan “dampak”? Akan tetapi, sebagaimana diajukan oleh O’Neill, bukankah kata “dampak” juga bisa diartikan sebagai dampak negatif, yakni dampak yang merusak? “Dalam pandangan yang simplistik”, demikian tulisnya, “dampak berarti adalah dampak ekonomi.” (O’Neill, 2013) Artinya, penelitian filsafat ataupun ilmu-ilmu lainnya haruslah memberikan dampak ekonomi bagi sang peneliti maupun masyarakat luas secara keseluruhan. Dengan adanya dampak ekonomi yang jelas, orang pribadi maupun negara bisa melakukan investasi pada ilmu pengetahuan, dan mendapatkan untung dari proses tersebut. Secara gamblang dapat dikatakan, bahwa penelitian ilmiah bisa menghasilkan produk baru, menghasilkan pekerjaan baru, atau meningkatkan produktivitas yang sudah ada. Akan tetapi, apakah pandangan ini bisa dibenarkan, atau justru pandangan ini lahir dari pemahaman yang salah tentang apa itu penelitian ilmiah?

Semua bentuk penelitian, menurut O’Neill, lahir dari pertanyaan dan keraguan, namun tak selalu bisa mengarah pada hasil nyata yang bersifat ekonomis. Tidak ada satu penelitian tunggal yang secara langsung bisa menghasilkan produk nyata yang menghasilkan uang. Setiap bentuk penelitian adalah hasil dari kumpulan ratusan bahkan ribuan penelitian lainnya yang berkembang sejalan dengan perubahan waktu dan perkembangan pemahaman. Ia memberikan contoh penemuan chip komputer GPS (Global Positioning System) yang merupakan pengembangan dari teori Einstein tentang Relativitas Umum yang diterbitkan pada 1916, dan pada masa itu sama sekali tidak memiliki nilai ekonomi untuk dijual! Inilah sebabnya, mengapa banyak perusahaan-perusahaan berteknologi tinggi di dunia melakukan investasi besar-besaran pada segala jenis bentuk penelitian, dan siap menerima fakta, bahwa sedikit sekali di antara penelitian tersebut yang bisa menghasilkan “dampak ekonomi” yang nyata. Penemuan suatu produk yang memiliki dampak ekonomi adalah kumpulan dari ribuan penelitian yang dilakukan oleh beragam orang di beragam tempat yang berbeda dan di tempat-tempat yang berbeda, yang bahkan sebelumnya tak terpikirkan. Banyak juga penelitian, yang awalnya dikira bisa memberikan dampak ekonomi yang besar, ternyata justru malah merusak lingkungan (zat kimia untuk pertanian), menciptakan penyakit baru bagi manusia (efek samping dari obat-obatan), atau menghancurkan manusia (bom atom, senjata nuklir, senjata biologis pemusnah massal).  Lanjutkan membaca Hakekat Penelitian Ilmiah menurut Onora O’Neill

Energi Sosial dan Politik “Autoimmun”

http://www.deshow.net
http://www.deshow.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, kini menjadi pusat pemberitaan berbagai media di Indonesia. Empat orang di dalamnya ditembak dengan puluhan peluru oleh belasan orang dengan senapan tempur AK47. Sampai detik ini, para pelaku penembakan belum bisa dipastikan identitasnya. Dugaan kuat adalah insiden ini melibatkan beberapa anggota TNI (Kopassus) terkait dengan kasus pembunuhan Sertu Santoso, anggota Kopassus TNI Angkatan Darat, sebelumnya di sebuah Cafe di Yogyakarta. (Kompas, 5 April 2013)

Di belahan dunia lain, kita juga bisa menyaksikan hubungan yang retak antara Korea Utara dan Korea Selatan, yang juga berarti melibatkan banyak negara lainnya, termasuk Cina, Jepang, dan AS, sebagai sekutunya. Berulang kali, Kim Jong Un, pemimpin Korea Utara yang masih berusia amat muda, 27 tahun, mengancam akan menembakan rudal bersenjata nuklir ke AS. Dalam keadaan yang miskin secara ekonomi, Korea Utara mengambil langkah drastis untuk memprovokasi perang dengan negara-negara lainnya. Ketakutan terasa semakin mencekam, ketika senjata nuklir menjadi ancamannya.

AS pun tak lepas dari krisis ekonomi yang muncul sejak pertengahan 2007 lalu dengan meletusnya gelembung finansial dan hancurnya pasar properti di AS. Gerak kapitalisme yang tanpa kontrol dari pemerintah dan masyarakat luas akhirnya meledak, dan menghancurkan dirinya sendiri, bersama segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Lembaga-lembaga finansial rontok. Bahkan, perusahaan-perusahaan raksasa, seperti General Motors, sempat terancam bangkrut, dan menciptakan puluhan jutaan pengangguran di seluruh dunia. Pemerintah akhirnya harus turun tangan dengan memberikan dana talangan. (Harvey, 2008) Lanjutkan membaca Energi Sosial dan Politik “Autoimmun”

Agama di dalam Masyarakat Demokratis

http://gurumia.com
http://gurumia.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Agama selalu merupakan bagian dari area kajian filsafat politik kontemporer. Di berbagai masyarakat di dunia, agama memainkan peranan penting di dalam perdebatan publik, maupun isu-isu sosial lainnya. Komunitas-komunitas religius di masyarakat, mulai dari agama Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, Islam, dan yang lainnya, berperan aktif di dalam kegiatan-kegiatan politik maupun sosial. “Orang”, demikian tulis Michael Reder, pengamat filsafat politik dan agama dari München, “kini berbicara tentang repolitisasi dari agama… dimana simbol-simbol agama dan bahasa dipindahkan ke bidang-bidang yang non religius.” (Reder, 2008)

Di dalam realitas kehidupan banyak bangsa, agama dan kultur saling berpaut dan mempengaruhi kehidupan pribadi maupun sosial orang-orang yang ada di dalamnya. Di era globalisasi ini, muncul pula agama-agama baru yang memiliki banyak pengikut, walaupun sebelumnya mereka adalah sekte-sekte kecil saja yang terus berkembang pesat. Proses sekularisasi di Eropa, di mana agama ditempatkan semata sebagai urusan pribadi setiap orang, rupanya tidak mengecilkan peran agama di dalam kehidupan publik. Agama tidak mati. Ia memang berubah, dan perubahannya juga membawa perubahan sosial di dalam masyarakat.

Agama dan Pemikiran Kontemporer

Di dalam diskusinya dengan para dosen di Hochschule für Philosophie der Jesuiten München, Jürgen Habermas, filsuf Jerman kontemporer, mengembangkan dan menyampaikan pemikirannya mengenai agama. (Schmidt/Reder, 2008) Filsuf-filsuf kontemporer lainnya, seperti Jacques Derrida, Richard Rorty, dan Gianni Vattimo, mengajukan pemikirannya untuk memahami peran agama di dalam masyarakat demokratis modern. Lanjutkan membaca Agama di dalam Masyarakat Demokratis

Demokrasi Hibrida

http://boscopenciller.deviantart.com
http://boscopenciller.deviantart.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

         Adalah sebuah tantangan berat untuk mendirikan sebuah masyarakat yang sistem pemerintahannya adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Itulah cita-cita ideal demokrasi yang dianggap, lepas dari segala kelemahannya, merupakan bentuk tata politik paling baik yang pernah dibuat oleh manusia. Namun, tantangan untuk mewujudkan ideal tersebut kini semakin berat, terutama jika kita mengikuti perkembangan situasi di berbagai negara di dunia yang jatuh bangun berusaha menerapkan sistem demokrasi.

Demokrasi di Berbagai Penjuru Dunia

Kelompok politik berbasis Islam menguat di Timur Tengah. Situasi ini, menurut Johannes Müller, pengamat politik perkembangan dari München, Jerman, menciptakan bahaya yang cukup besar untuk kelompok minoritas, termasuk kelompok Islam minoritas, di negara-negara Timur Tengah. (Müller, 2013) Semua ini, menurutnya, terjadi, karena menguatnya gejala fundamentalisme di dalam agama dan politik. Namun, prinsip demokrasi yang disalahartikan juga memainkan peranan besar disini, bahwa di dalam demokrasi, kelompok politik pemenang bisa seenaknya membuat hukum (the winner gets everything), termasuk hukum yang diskriminatif terhadap kelompok yang kalah dalam pemilu. Disini terciptalah apa yang disebut Müller sebagai demokrasi hibrida, yakni institusi demokratis yang lahir dari pemilu yang demokratis, namun memiliki ciri yang otoriter dan diskriminatif-menindas.

Rupanya, lanjut Müller, penyakit “hibrida” dari demokrasi ini tidak hanya dialami negara-negara Timur Tengah, namun juga di AS dan Uni Eropa. Perang “dingin” dan tidak adanya saling pengertian antara dua partai politik di sana membuat cara-cara demokratis di dalam membuat keputusan yang tepat, serta kultur demokratis yang menjadi wadah dari nilai-nilai demokratis, tidak tercipta. Di sisi lain, penduduk Uni Eropa juga semakin merasa, bahwa kedaulatannya sebagai rakyat tidak lagi penuh, karena negaranya harus tunduk di bawah sistem politik birokratis besar yang berpusat di Brussels, Belgia, yakni Uni Eropa. Maka, seringkali mereka merasa tidak lagi hidup di alam demokrasi, melainkan di alam totaliter.   Lanjutkan membaca Demokrasi Hibrida

Membangun Kelas Ekonomi Menengah

http://dublinopinion.com
http://dublinopinion.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Paul lahir di Polandia. Dia belajar Teknik Sipil di sana, dan kemudian segera berusaha mencari pekerjaan. Akan tetapi, di Polandia, pekerjaan untuknya sedikit, dan upahnya pun bahkan tidak cukup untuk menyewa apartemen kecil di kota. Dia pun segera mencari alternatif.

Sejak 2004, kawasan Uni Eropa terbuka untuk orang-orang Polandia. Mereka bisa mencari kerja dan membangun hidup di negara-negara Uni Eropa. Paul pun memilih Jerman, tepatnya kota Hamburg, kota besar di Utara Jerman. Di sana, ia memperoleh pekerjaan dengan upah minimum 8 Euro per bulan.

Itu artinya, ia mendapatkan kurang lebih 2000 Euro per bulannya. Itu cukup untuk menyewa apartemen di kota, menabung, dan mulai belajar intensif bahasa Jerman. Rupanya, Paul tidak sendirian. Sebagaimana dilaporkan Der Spiegel bulan Maret 2013, begitu banyak tenaga kerja produktif dan profesional usia muda dari Polandia pergi merantau meninggalkan tanah airnya, dan mencari pekerjaan di negara lain.

Kelas terdidik di Polandia pun berkurang drastis dalam waktu lima tahun belakangan ini. Ekonomi terpuruk. Dengan pendapatan sekitar 2,5 Euro per jam, mereka lebih memilih untuk mencari penghidupan di negara lain. Kelas menengah pun berkurang, dan kesenjangan sosial ekonomi antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin pun semakin besar.

Di Indonesia, gejala serupa mulai terlihat. Banyak tenaga ahli yang memilih untuk bekerja di luar negeri, dengan harapan memperoleh upah yang lebih layak, serta bisa bekerja sesuai dengan bidang keahlian mereka. Gejala ini disebut juga sebagai Brain Drain. Akibatnya, kelas menengah di Indonesia pun semakin tipis, dan, serupa dengan di Polandia, jurang antara kelas ekonomi atas dan kelas ekonomi bawah pun semakin besar. Lanjutkan membaca Membangun Kelas Ekonomi Menengah