Hidup dan Hal-hal yang “Penting”

hugloo.com
hugloo.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia bisa hidup sehat di atas usia 60 tahun. Inilah salah satu keajaiban dari dunia kedokteran modern yang telah berhasil memusnahkan beragam penyakit mematikan bagi manusia. Di abad-abad sebelumya, orang yang berusia 50 tahun sudah dianggap sebagai luar biasa. Mayoritas hanya menikmati hidup sampai usia 40 atau bahkan 30 tahun, karena dihantam penyakit, atau kecelakaan maut lainnya.

Namun, jika dipikirkan lebih dalam, 70 tahun usia manusia modern, dengan asumsi dukungan pelayanan kesehatan yang memadai, pun termasuk pendek, terutama jika dibandingkan dengan usia alam semesta yang lebih dari milyaran tahun lamanya. Di dalam hidup yang pendek tersebut, banyak orang hidup menderita, entah menderita secara fisik, atau batin. Banyak orang harus berjuang keras, sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Di sisi lain, banyak orang mengalami kehampaan hidup yang akut, sehingga mereka mengalami masalah kejiwaan.

Ini terjadi, pada hemat saya, karena banyak orang menghabiskan hidupnya untuk hal-hal yang tidak esensial, atau tidak “penting”. Mereka menjalani hidup yang palsu, karena dipaksa oleh pihak-pihak luar, entah oleh keluarga, tradisi, atau agama. Mereka terjebak pada budaya massa, sehingga seringkali terbawa arus jaman, tanpa bisa melawan. Mereka juga seringkali hidup untuk menumpuk harta, dan lupa mencintai, atau bahkan sekedar tertawa. Yang paling parah, terutama untuk situasi Indonesia, banyak orang korupsi: memakan hak orang lain untuk memuaskan kepentingannya sendiri. Lanjutkan membaca Hidup dan Hal-hal yang “Penting”