Ideologi sebagai Kanker Masyarakat

thesuffolkvoice.net
thesuffolkvoice.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Setiap detik, kita berpikir. Untuk hal-hal kecil, seperti apa menu makanan kita malam ini, kita berpikir. Juga untuk hal-hal besar, kita memeras pikiran kita untuk sampai pada keputusan. Berpikir adalah hal yang amat mendasar sekaligus penting bagi manusia.

Namun, tindak berpikir manusia kerap kali terjebak pada kesesatan. Kita seringkali melompat pada kesimpulan, ketika informasi yang ada tidak mencukupi. Kita seringkali melihat hal-hal yang tidak ada, karena ketakutan dan rasa benci. Kita pun juga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya penting, karena kelalaian dan kemalasan berpikir.

Inilah yang saya sebut sebagai kesesatan ideologis. Ideologi dalam arti ini adalah kesalahan berpikir dan kesadaran palsu atas dunia, yang lalu diyakini sebagai kebenaran secara naif, tanpa sikap kritis. Dunia dilihat sebagai tempat yang baik-baik saja, walaupun masalah dan penindasan bersembunyi di balik kenyataan sehari-hari. Orang hidup dengan nyaman, walaupun di depan matanya, penindasan dan penderitaan terjadi setiap harinya, tanpa celah. Lanjutkan membaca Ideologi sebagai Kanker Masyarakat

Pendidikan yang Apolitis

pemagazine.com
pemagazine.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Ketika ditanya, apa hal yang perlu diperbaiki, supaya Indonesia bisa menjadi bangsa yang lebih baik, kebanyakan orang akan menjawab: pendidikan. Mereka berpikir, ketika semua orang Indonesia bisa mendapatkan pendidikan bermutu, maka kemampuan sumber daya manusia akan meningkat, dan ini akan bisa memperbaiki situasi Indonesia. Saya setuju dengan pendapat ini. Pertanyaan berikutnya adalah, pendidikan macam apa yang kita perlukan?

Pendidikan Apolitis

Jawaban yang kerap muncul adalah, pendidikan sains dan pendidikan moral. Pendidikan sains lalu disamakan dengan pendidikan fisika, matematika, kimia, dan biologi. Sementara, pendidikan moral disamakan dengan pendidikan agama. Pada titik ini, saya amat tidak setuju.

Pendidikan sains, dengan beragam cabangnya, tentu diperlukan. Pendidikan moral dan pendidikan agama tentu juga diperlukan. Namun, cara mengajarnya harus diubah. Dengan kata lain, paradigma mengajarnya harus diubah, sehingga bahan yang diajarkan juga ditafsirkan dengan cara yang sama sekali baru. Lanjutkan membaca Pendidikan yang Apolitis

Uang dan Hidup Kita

Indonesian_Rupiah_(IDR)_banknotes
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Kata orang, uang bukanlah segalanya. Namun, segalanya akan susah, jika kita tidak punya uang. Banyak orang, sadar atau tidak, mengabdikan hidupnya untuk mencari uang. Dia mengorbankan hampir segalanya, termasuk orang-orang yang ia cintai, supaya bisa mendapatkan uang lebih banyak. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa uang adalah Tuhannya.

Namun, uang bukanlah barang yang netral. Ia punya efek mengubah hal-hal yang ia sentuh. Efek mengubah ini tidak selalu baik, namun justru bisa merusak nilai dari hal tersebut. Uang juga bisa menciptakan rasa iri yang lahir dari ketidakadilan, ketika orang yang memiliki uang banyak mendapatkan kesempatan lebih banyak, daripada orang yang lebih sedikit uangnya.

Pengaruh Uang

Salah satu yang membuat hidup kita bahagia adalah persahabatan. Seorang sahabat hadir, ketika kita membutuhkan bantuan. Ia juga hadir, ketika kita senang, atau sedang ingin merayakan sesuatu. Apa yang terjadi, ketika kita membayar seseorang, supaya ia mau menjadi sahabat kita? Lanjutkan membaca Uang dan Hidup Kita

Kepemimpinan Revolusioner

opednews.com
opednews.com

Kepemimpinan dan Sejarah Filsafat

oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Di dalam bahasa Jerman, kepemimpinan diterjemahkan sebagai Führungspersönlichkeit. Secara harafiah, arti kata ini adalah kepribadian yang memimpin. Bisa ditafsirkan, bahwa kepemimpinan bukan hanya teknik atau tips, tetapi sebuah bentuk kepribadian. Di dalam tulisan ini, saya mengajukan satu argumen, bahwa kepemimpinan perlu untuk menjadi revolusioner. Apa arti revolusioner?

Revolusioner berakar pada kata Latin, revolutio, yang berarti berputar balik. Kata ini lalu berkembang artinya menjadi perubahan politik dalam waktu singkat dan drastis. Tujuannya membangun tata kelola politik dan ekonomi yang baru. Di dalam tulisan ini, saya ingin menafsirkan ulang makna revolusi secara baru, yakni sebagai suatu gaya kepemimpinan. Saya menyebutnya kepemimpinan revolusioner.

Ide tentang kepemimpinan revolusioner sudah selalu tertanam di dalam sejarah filsafat Barat yang usianya sudah lebih dari 2300 tahun. Di dalam tulisan ini, saya ingin mengangkat ide-ide tersebut dalam kerangka teori tentang kepemimpinan revolusioner. Lalu, saya akan coba mengaitkan ide tersebut dengan situasi di Indonesia sekarang ini. Ide tentang kepemimpinan revolusioner bisa membantu kita untuk memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan demokrasi di Indonesia, terutama setelah Pemilu 2014 nanti. Lanjutkan membaca Kepemimpinan Revolusioner

HAM: Antara Harapan dan Kenyataan

acelebrationofwomen.org
acelebrationofwomen.org

oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

HAM adalah singkatan dari hak-hak asasi manusia. Dalam arti ini, asasi berarti, hak-hak tersebut tertanam dalam jati diri kita sebagai manusia. Bukan negara atau pemerintah yang memberikannya. Bukan juga masyarakat yang menciptakannya. Ia ada, karena kita adalah manusia. Titik.

Ia hadir untuk melindungi manusia dari segala penderitaan dan ancaman. Kerap kali, alam mengamuk, dan menghantam hidup manusia dengan bencana, misalnya dengan tsunami atau gempa bumi. Namun, yang lebih sering terjadi adalah, manusia yang satu mengakibatkan penderitaan bagi manusia lainnya. Karena ia kuat, maka ia merasa boleh untuk menyiksa dan menindas yang lemah, demi mencapai kepentingannya.

Di titik inilah, HAM memiliki arti yang amat penting. Ia melindungi si lemah dari penindasan si kuat. Ia mencegah peradaban jatuh ke dalam hukum rimba, di mana yang kuat memperoleh segalanya, dan yang lemah hancur tak berdaya. HAM menjadi dasar dari beragam hukum dan aturan, supaya hidup manusia jauh dari nestapa dan rasa takut. Lanjutkan membaca HAM: Antara Harapan dan Kenyataan

Mengapa Orang Miskin?

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Kemiskinan merupakan salah satu masalah terbesar dunia sekarang ini. Banyak orang hidup dengan pendapatan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya sebagai manusia. Akibatnya, mereka terancam oleh kekurangan gizi, penyakit, dan beragam penderitaan hidup lainnya. Kemiskinan tidak hanya merusak raga manusia, tetapi juga mengancam jiwanya.

Ketika manusia kekurangan gizi, karena tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk memperoleh makanan yang layak, ia terancam oleh dua hal. Pertama adalah oleh penyakit dan berbagai bentuk kelemahan biologis manusia lainnya. Kedua adalah dirinya sendiri, yakni insting bertahan hidup manusia yang bisa mendorongnya untuk melakukan apapun, termasuk tindakan paling ganas dan merusak terhadap orang lain, untuk mempertahankan hidupnya.

Kemiskinan, dengan demikian, merusak rajutan hidup sosial kita sebagai manusia. Kemiskinan memecah masyarakat. Ia menciptakan musuh, dan mengubah kawan menjadi lawan. Ia menggetarkan stabilitas hidup sosial manusia. Terlebih, ia merusak harkat dan martabat manusia dan masyarakat itu sendiri. Lanjutkan membaca Mengapa Orang Miskin?

Matematika dan Kebijaksanaan

lexiconreadingcenter.org
lexiconreadingcenter.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Dunia pendidikan kita ramai membicarakan pendidikan moral. Pertanyaan paling dasar dari tema ini adalah, bagaimana cara mendidikan anak, supaya ia memiliki moral yang baik dalam hidupnya? Moral yang baik berarti ia jujur, rajin, dan bisa menghargai perbedaan dalam hidupnya. Jika warga negara Indonesia mayoritas memiliki moral yang baik, maka kita akan bisa bekerja sama mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi semua warga, tanpa kecuali.

Wacana lain adalah pendidikan karakter. Di balik wacana ini, ada anggapan, bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengasah kemampuan intelektual manusia, tetapi juga mengembangkan karakter-karakter yang baik di dalam dirinya. Kemampuan berhitung memang penting. Namun, kemampuan untuk bisa bekerja sama dengan orang lain yang berbeda pandangan dan latar belakang juga tak kalah pentingnya. Percuma orang jenius fisika, tetapi ia suka merendahkan orang lain, dan bahkan suka mencuri (baca: korupsi).

Korupsi juga menjadi masalah utama bangsa ini. Banyak orang cerdas di Indonesia yang menduduki berbagai jabatan penting, baik di pemerintahan maupun swasta. Namun, rupanya kecerdasan akademik tidak sejala dengan perkembangan karakter dan moral yang baik. Artinya, orang cerdas belum tentu bermoral dan berkarakter baik. Bahkan, orang yang cerdas seringkali menjadi pencuri atau koruptor besar yang merugikan banyak orang.    Lanjutkan membaca Matematika dan Kebijaksanaan

Empati, Kemanakah Dirimu?

empathyOleh Reza A.A Wattimena,

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Nawa, dan anaknya Bashar yang masih berumur 11 tahun, berasal dari Maroko dan kini tinggal di München, Jerman. Nawa sendiri sudah sekitar 15 tahun tinggal di Jerman. Ia pindah kesini, karena ia harus bekerja, guna menghidupi dirinya sendiri. Di Jerman, ia berjumpa dengan seorang pria, dan akhirnya mereka mempunyai anak.

Hubungan mereka tidak berjalan lancar. Akhirnya, mereka berpisah. Kini, Nawa harus bekerja keras untuk menghidupi diri dan anaknya. Pemerintah Jerman tahu kisah ini, dan kemudian membantunya dengan memberi keringanan biaya sewa rumah.

Nawa tahu, bahwa ia harus berterima kasih pada pemerintah Jerman. Maka, ia pun bekerja dengan rajin, dan membayar pajak dengan teratur. Ia bisa berbahasa Jerman dengan amat baik. Kini, ia bahkan membangun usaha kecil, guna memberikan pekerjaan pada pendatang-pendatang lainnya di Jerman. Usahanya berkembang dengan pesat. Lanjutkan membaca Empati, Kemanakah Dirimu?

Antri Donk.. Pak.. Bu.. Mas.. Mbak

lavi.com
lavi.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Sudah sekitar seminggu ini, saya naik sepeda untuk kegiatan sehari-hari di München. Seringkali, saya harus berhenti, karena lampu merah. Pada saat itu, saya memperhatikan, sepeda pun ikut antri berjejer rapi di pinggir jalan, ketika lampu merah menyala. Ketika lampu berganti menjadi hijau, sepeda-sepeda yang berhenti rapi tersebut mulai berjalan pelan-pelan, tetap dengan pola semula yang antri dengan rapi.

Beragam orang menggunakan sepeda, mulai dari anak kecil yang hendak belajar ke sekolah, mahasiswa yang hendak ke kampus atau perpustakaan, ibu-ibu yang membawa bayinya yang juga diikat di boncengan sepeda, bapak-bapak yang lengkap dengan dasi dan jasnya untuk bekerja ke kantor, sampai dengan oma-oma yang mungkin hendak mengunjungi temannya. Mereka semua antri di lampu lalu lintas khusus untuk sepeda. Tentu saja, beberapa kali, ada orang bandel yang menyerobot lampu lalu lintas sepeda tersebut, biasanya mereka harus cepat-cepat pergi ke suatu tempat.

Sewaktu di Surabaya, saya berjumpa dengan teman lama di sebuah restoran. Ia berpendapat, bahwa belajar antri itu lebih penting daripada belajar matematika. Antri itu, menurutnya, mencerminkan sikap hidup yang luar biasa mendalam. Antri adalah keutamaan hidup yang penting, yang menyangkut sikap moral, yang jauh lebih penting daripada sekedar menguasai rumus-rumus matematika. Ketika saya bersepeda di München, saya teringat percakapan dengan teman saya di Surabaya itu. Lanjutkan membaca Antri Donk.. Pak.. Bu.. Mas.. Mbak

Buku Filsafat Terbaru: Dunia Manusia, Manusia Mendunia

1001909_10200886749028212_456482070_nBuku Filsafat Terbaru:

Dunia Manusia, Manusia Mendunia

oleh

Emanuel Prasetyono

Dosen Filsafat Manusia, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Buku ini mencoba memahami manusia dari sudut pandang fenomenologis, yakni sebagai mahluk yang sudah selalu ada dan tertanama di dunia, namun sekaligus menciptakan dunia melalui tindakannya. Buku ini amat cocok digunakan untuk memperkaya literatur terkait dengan kuliah Filsafat Manusia.

Buku bisa diperoleh di:

theo.dolorosa@yahoo.com atau hubungi 088804858799

Buku Filsafat Islam Terbaru: Kesadaran akan Immortalitas Jiwa sebagai Dasar Etika

cover immortalitas copyBuku Filsafat Terbaru:

Kesadaran akan Immortalitas Jiwa sebagai Dasar Etika

Pengantar Filsafat dalam Islam

Oleh

Agustinus Ryadi,

Dekan Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Buku referensi untuk kuliah ini menghubungkan beberapa argumen para filsuf Islam tentang ide keabadian jiwa manusia. Ide ini pula yang nantinya ditafsirkan oleh penulis sebagai dasar dari sikap etis manusia. Pemikiran tentang keabadian jiwa ini bisa juga dilihat sebagai upaya harmonisasi antara filsafat dan agama Islam.

Buku bisa diperoleh di:

theo.dolorosa@yahoo.com atau hubungi 088804858799

Zifatama Publishing - Kesadaran akan immortalitas -      978-602-17546-8-9

Filsafat dan Dunia yang tak Pernah Ada

ndr.de
ndr.de

Markus Gabriel dan Metafisika Dunia

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Saat ini, saya sedang membaca buku berjudul Warum es die Welt nicht gibt (mengapa dunia tidak ada), terbitan Ullstein Verlag 2009 lalu. Harga buku itu murah, sekitar 15 Euro, tergantung beli dimana, dan baru atau bekas. Penulisnya adalah Markus Gabriel, seorang Professor Filsafat di bidang Epistemologi dan Filsafat Modern di Universität Bonn. Di artikelnya di Der Spiegel yang berjudul Eine Reise durch das Unendliche, Romain Leick melakukan wawancara yang cukup mendalam dengan Gabriel terkait dengan bukunya tersebut.

Sejauh saya tangkap, tujuan buku itu adalah mengajukan satu argumen baru terkait dengan realisme, yakni bahwa dunia memiliki sifat tetap pada dirinya sendiri, lepas dari pikiran manusia. Pertanyaan penting disini adalah, bagaimana manusia bisa tahu dengan dunianya? Ini adalah pertanyaan dasar di dalam Filsafat Pengetahuan (Erkenntnistheorie), atau epistemologi. Pertanyaan ini sama mendasarnya dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis lainnya yang terus menggangu manusia sepanjang jaman, yakni dari mana kita berasal? Apa artinya hidup? Dan apa tujuan keberadaan kita di dunia ini? (Leick, 2013)

Gabriel juga menjelaskan, bahwa filsafat masih dapat memberikan sumbangan besar terkait dengan pertanyaan kosmologis, yakni apa artinya alam atau dunia tempat kita tinggal? Dalam arti ini, dunia bukanlah hanya dunia fisik material semata, tetapi juga dunia yang dihayati dan dihidupi oleh manusia. Fisika modern, beserta dengan ilmu-ilmu modern lainnya, seperti neurosains, sering melakukan penyempitan pemahaman atas dunia dengan melihatnya semata sebagai gejala material-fisik-biologis saja. Pola inilah yang kiranya ingin ditantang sekaligus dilampaui oleh Gabriel. Lanjutkan membaca Filsafat dan Dunia yang tak Pernah Ada

Filsafat Kritis untuk Anak Sekolah Dasar?

http://khezo.com
http://khezo.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Di tengah berbagai kasus korupsi yang menyerbu Indonesia, ada setitik harapan yang masih bisa dipegang, yakni harapan ke arah perubahan yang lebih baik, guna memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Harapan itu adalah pendidikan. Reformasi paradigma dan institusional di dalam pendidikan Indonesia akan membawa perubahan amat besar bagi bangsa ini.

Tentu saja, reformasi pendidikan (paradigma sekaligus institusi) adalah sebuah langkah besar. Kita perlu untuk membuat langkah kecil yang nyata, guna memulai proyek raksasa yang amat penting ini. Salah satunya, sebagaimana ditawarkan oleh Lydon (2013) di konteks Irlandia dalam artikelnya yang berjudul It’s time to start teaching philosophy as a formal subject in our secondary schools, adalah mencoba mengajarkan filsafat kritis formal sebagai salah satu mata pelajaran wajib untuk sekolah dasar. Ia yakin, dan saya sependapat dengannya, bahwa langkah ini akan secara langsung meningkatkan kualitas pemikiran anak-anak muda.

Lydon memberikan contoh yang menarik. Belajar berpikir tanpa belajar filsafat sama seperti belajar bahasa. Setiap orang akan melakukannya (berpikir dan juga berbahasa), tapi mereka akan melakukannya secara buruk. Filsafat dalam hal ini mendorong orang untuk secara sadar mengembangkan kemampuan manusia untuk bernalar jernih, guna membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup sehari-hari. Saya rasa, nalar argumen yang sama juga pas untuk situasi Indonesia. Lanjutkan membaca Filsafat Kritis untuk Anak Sekolah Dasar?

Kesenjangan yang Mencekik Jiwa

soxfirst.com
soxfirst.com

Oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Tidak sulit menemukan mobil-mobil mewah seri terbaru di jalan-jalan besar Surabaya. Setiap hari, saya berdecak kagum melihat kendaraan mewah berlalu lalang, seolah tanpa henti dan tak kenal waktu. Mall besar menjual barang-barang mewah, namun tetap tak pernah kekurangan pembeli di kota pahlawan ini. Namun, kemewahan ini tetap hanya satu sisi dari wajah Surabaya.

Di antara jajaran rel kereta api, pemukiman kumuh yang tak layak tinggal juga dapat dengan mudah ditemukan di Surabaya. Pinggir kali juga kerap menjadi tempat huni, dimana airnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci baju ataupun memasak. Anak-anak di bawah umur 10 tahun juga masih berjualan di jalan-jalan raya, supaya bisa membantu orang tuanya mencari nafkah. Surabaya bagaikan terbelah di antara dua dunia, yakni di antara orang-orang kaya bermobil dan berumah mewah di satu sisi, dan orang-orang miskin yang masih amat kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia yang bermartabat.

Di ujung Surabaya Timur dan Barat, rumah-rumah mewah berdiri bagaikan raksasa arogan yang tak malu menampilkan dirinya. Pagar besi dengan ukiran mewah menjulang tinggi. Harganya konon mencapai 300 juta rupiah, hanya untuk pagarnya saja. Kemewahan ini dipadu dengan berbagai aksesoris rumah mewah yang seringkali terlihat tak pas secara artistik.

Di Surabaya Barat sudah berdiri sebuah mall yang memang secara khusus menjual barang-barang mewah. Namun, mereka tak pernah kekurangan pembeli. Tas seharga 5 sampai 10 juta rupiah tetap laku, bak kacang goreng. Alat elektronik mewah juga menjadi target serbuan orang-orang kaya di Surabaya ini. Saya yakin, pemandangan yang sama juga mulai dapat ditemukan di kota-kota besar Indonesia lainnya. Lanjutkan membaca Kesenjangan yang Mencekik Jiwa

Dimana Harga Diri Kita?

http://barcelona.theoffside.com
barcelona.theoffside.com

oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Parkir di pasar-pasar kaget di Surabaya bisa menjadi masalah. Tiba-tiba, datang orang yang berlagak jadi tukang parkir, dan kemudian meminta uang parkir. Biasanya, saya bertanya, apakah ada karcis parkir resmi? Jika dia bilang ya, dan menunjukannya, saya dengan senang hati membayar. Jika tidak, yah selamat tinggal.

Menjelang Lebaran, kita juga banyak menemukan, banyak orang antri zakat di berbagai daerah di Jawa. Jumlahnya berkisar 20 sampai dengan 30 ribu rupiah. Namun, untuk uang itu, orang bersedia antri desak-desakan dari pagi sampai sore. Beberapa di antaranya ada yang pingsan, karena terdesak sehingga tak bisa bernapas, atau ada juga yang mengalami dehidrasi, sampai akhirnya pingsan di tengah kerumunan ratusan orang.

Juga seringkali dialami oleh para pengemudi kendaraan bermotor, bagaimana mereka harus menyuap polisi di jalan raya, supaya lolos dari hukuman tilang. Bahkan, polisi tersebut yang minta disuap, tanpa malu-malu, supaya mereka mendapat tambahan uang yang, tentunya, bebas pajak. Sikap minta disuap semacam ini juga banyak ditemukan di kalangan petugas kelurahan. Tanpa malu-malu, mereka meminta uang lebih untuk sekedar mengurus dokumen resmi yang sebenarnya merupakan bagian dari tanggung jawab resmi mereka. Lanjutkan membaca Dimana Harga Diri Kita?

Keberanian untuk Berpikir

arnhemncounter
arnhemncounter

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Berpikir adalah tindakan khas manusia. Sudah sejak sekitar 400 tahun yang lalu, Rene Descartes, filsuf asal Prancis, menyatakan, bahwa aku berpikir, maka aku ada. Artinya, keberadaan manusia menjadi unik dan nyata, ketika ia menggunakan pikirannya. Ketika ia berhenti berpikir, atau malas berpikir, maka jati dirinya menjadi tidak jelas.

Namun, berpikir memiliki banyak aspek. Banyak orang mengira, bahwa berpikir hanya melulu soal teknis, yakni soal menghitung, melihat guna, dan mencari keuntungan. Namun, berpikir teknis hanyalah satu bagian kecil dari tindak berpikir manusia. Ada pola berpikir lainnya, misalnya berpikir reflektif dan kontemplatif untuk memahami suatu hal di dunia secara mendalam.

Berpikir, pada pengertiannya yang paling mendalam, juga bergerak melampaui ilmu pengetahuan dan filsafat. Kedua bidang ini sekarang sudah menjadi begitu teknis. Begitu banyak konsep yang sangat rumit dan sulit dimengerti, sehingga justru membunuh kemampuan berpikir kritis manusia untuk mempertanyakan hal-hal yang ada, dan kemudian mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Dengan kata lain, tindak berpikir manusia lebih luas dari sekedar ilmu pengetahan dan filsafat. Lanjutkan membaca Keberanian untuk Berpikir

Membangun Idealisme

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Toni, bukan nama sebenarnya, sudah lama bercita-cita untuk menjadi seorang koki. Namun, menurut orang tuanya, pekerjaan sebagai koki tidak akan mampu memberikan uang yang cukup untuk hidup. Maka, mereka menghalangi cita-cita anaknya tercinta tersebut. Toni pun akhirnya menekuni pendidikan di bidang lain, dan mengalami banyak kesulitan karenanya.

Ini cerita yang begitu banyak terjadi di masyarakat kita di Indonesia. Orang harus menyerahkan mimpinya, atau ide tentang masa depannya, karena tekanan lingkungan. Dengan proses ini, dua hal kiranya dirugikan. Indonesia kehilangan calon koki berbakat di masa depan di satu sisi, dan Toni, dan ratusan ribu pemuda lainnya, harus hidup tidak bahagia, karena mengingkari panggilan hidupnya.

Idealisme dan Visi

Setiap orang pasti punya ide tentang hidup macam apa yang akan dijalaninya. Dalam arti ini, setiap orang adalah idealis. Artinya amat sederhana, orang perlu untuk hidup seturut dengan ide yang telah dipilih dan dipikirkannya. Ia bukanlah pemimpi yang tak punya tujuan, melainkan sebaliknya, orang yang memiliki visi tentang hidupnya dan hidup orang sekitarnya di masa depan.

Visi radikal tentang hidup semacam inilah yang sekarang ini amat kurang di Indonesia. Orang hidup sekedarnya. Orang bekerja seadanya, tanpa ambisi untuk mencapai sesuatu yang lebih baik untuk dirinya dan untuk lingkungan sekitarnya. Lalu, orang mati, tanpa meninggalkan jejak dirinya yang nyata dan bermakna untuk lingkungan sekitarnya. Lanjutkan membaca Membangun Idealisme

Jurnal Filsafat Wiweka: Vol. 2 no. 1

Wiweka 2Jurnal Filsafat Wiweka

Mahasiswa Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Vol. 2 no. 1 Mei 2013

ISSN: 2252-5025

Isi:

1. Sains harus Memelihara Alam

2. Jatuh Cinta Manusia: Materi dan Spiritual

3. Paradigma Metafisis dalam Pertanian Organik

4. Etika Tanggung Jawab Hans Jonas

dan masih banyak tulisan bermutu dan menarik lainnya!

bisa didapatkan dengan menghubungi Pak Theo di theo.dolorosa@yahoo.com (Kepala Tata Usaha Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya)

Buku Filsafat Terbaru: Menanggapi Relativisme

RelativismeBuku Filsafat Terbaru: Menanggapi Relativisme

ISBN: 978-602-17055-0-6

Editor: Xaverius Chandra

Buku ini bermaksud menyambut undangan untuk merefleksikan dan menanggapi relativisme di dalam kehidupan masyarakat. Ada berbagai aspek kehidupan yang dihantam oleh relativisme, dan beberapa di antaranya dihadirkan disini untuk dipikirkan bagaimana cara menanggapinya. Bidang-bidang yang direfleksikan di dalam buku ini adalah moral, iman, ilmu pengetahuan, kognitif, konseptual, seksualitas, politik, dan hukum.

Buku bisa didapatkan dengan menghubungi Pak Theo di theo.dolorosa@yahoo.com (Kepala Tata Usaha Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya)

Jurnal Arete: Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, Vol. 1, No. 2

Arete 2Jurnal Filsafat Arete

Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

vol. 1 Nomor 2 September 2012

ISSN: 2089-7804

Isi:

1. Skeptisisme Metodologis dan Jawaban Filsafat

2. Iman Tanpa Nalar: Bunuh Diri, Nalar Tanpa Iman: Delusi

3. Imagine There’s A Heaven: Reasonable Religion Religious Reason

4. Pendidikan Manusia-Manusia Demokratis: Noam Chomsky dan Indonesia

Resensi buku

Jurnal bisa didapatkan dengan menghubungi Pak Theo di

theo.dolorosa@yahoo.com (Kepala Tata Usaha Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya)