Spiritualitas Politik

religion.ch
religion.ch

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di München, Jerman

Banyak orang mengira, bahwa politik adalah soal hal-hal besar, seperti keadilan sosial, pembangunan, ekonomi rakyat, dan sebagainya. Ini tentu benar, tetapi bukanlah gambaran keseluruhan. Politik, sejatinya, adalah latar belakang yang seringkali diabaikan, namun amat penting. Ia, sejatinya, bukanlah soal yang gegap gempit penuh pujian, namun kerja dalam sepi dan miskin pujian.

Politik Nyata

Di sisi lain, politik juga adalah suatu paradoks. Orang bisa bersikap sinis pada politik, justru ketika politik itu berjalan. Ketika masyarakat kacau, orang baru sadar, betapa penting arti politik di dalam suatu masyarakat. Sikap kritis dan sinis pada politik adalah suatu tanda baik, bahwa roda politik bekerja, walaupun tentu tidak pernah seratus persen. (Brooks, 2013)

Ada juga orang-orang, seperti saya, yang berharap, politik bisa membantu manusia untuk mewujudkan hidup yang bermakna. Katakanlah mereka adalah kaum idealis. Namun, kelompok ini biasanya amat rapuh, karena politik bukanlah pemberi makna dan harapan, melainkan kerja-kerja kecil yang menjadi latar belakang untuk hal-hal lain yang lebih bermakna. Kekecewaan kaum idealis biasanya berbuah pada sikap sinis yang tak lagi percaya pada politik.

Dari dua situasi ini, ada baiknya, kita melihat kembali politik dalam artinya yang paling nyata. Jelas, ia bukan segalanya, karena hidup manusia jauh lebih dalam dan luas dari politik. Namun, ia juga bukan omong kosong belaka, seperti yang dikira banyak orang. Politik, begitu kata Brooks, adalah soal hal-hal kecil kerja tangan yang seolah tak bermakna, tetapi sebernanya amat sangat penting untuk kehidupan manusia.

Pergi ke Restoran

Bayangkan sebuah kegiatan kecil. Anda pergi ke restoran bersama keluar di hari Minggu. Politik yang memastikan, bahwa anda dan keluarga mendapatkan cukup gizi, sehingga memiliki energi untuk berjalan. Politik yang memastikan, bahwa jalan raya termasuk jalur transportasi menuju restoran sudah ada, bahkan nyaman dan aman.

Politik juga yang memastikan, bahwa anda bisa bekerja, mendapat cukup uang, lalu bisa membayar untuk makan bersama keluarga di restoran di akhir minggu. Politik juga yang memastikan, bahwa harga katun dan kain tetap bisa terjangkau, sehingga anda dan keluarga bisa memakai baju yang nyaman untuk kegiatan sehari-hari. Politik memastikan, bahwa bahan bangunan juga terjangkau, sehingga atap restoran tidak rubuh, ketika anda makan disana bersama keluarga. Politik bekerja sebagai latar belakang.

Politik mengurus hal-hal kecil yang kelihatan membosankan, tetapi artinya amat penting untuk manusia. Politik mengembangkan rantai birokrasi dan administrasi, guna menjalankan fungsi-fungsi kecil itu. Tentu, birokasi, dimanapun di dunia, tidaklah sempurna. Tugas kitalah untuk mengembangkan atau mengurangi birokrasi itu, sehingga bisa sungguh melayani kebutuhan praktis kita sehari-hari, dan bukan justru menghambatnya.

Ketika latar belakang itu terpenuhi oleh politik, lalu kita bisa mulai mengisi hidup kita. Ketika kita ingat akhir minggu kemarin makan bersama keluarga di restoran, yang kita ingat adalah suasana yang nyaman dan makanan enak di restoran tersebut. Kita tidak ingat peran politik yang menghadirkan hampir segalanya, yang menjadi latar belakang dari kegiatan itu. Politik sebagai latar belakang itu amatlah penting, walaupun perannya sering diabaikan dan dilupakan.

Politik yang Sepi

Sebagai latar belakang, politik adalah bagian dari birokrasi, administrasi dan organisasi. Kita semua tahu, ini adalah kerja-kerja yang amat membosankan, mulai dari mengisi jadwal rapat, sampai dengan membuat laporan keuangan setiap bulan. Kita membutuhkan sikap tersendiri untuk menjalankan hal ini. Kerja-kerja yang amat jauh dari pujian, tepuk tangan, dan sorak sorai penghargaan, tetapi memiliki arti yang amat penting untuk menopang kehidupan bersama.

Sikap apa yang kita perlukan? Di dalam politik, kita, terutama para politikus, harus bersemangat mengerjakan hal-hal yang kerap kali membosankan sebagai bagian dari kerja-kerja administrasi dan birokrasi. Kita harus punya dedikasi pada hal-hal yang kecil, yang jauh dari sorak sorai, karena di dalam hal-hal kecil yang kelihatan membosankan itu berdiri tonggak yang menopang kehidupan kita bersama. Semangat mencintai rutinitas dan kebosanan, itulah spiritualitas politik yang kita perlukan.

“Pemerintahan yang terbaik”, demikian tulis Brooks, “adalah pemerintahan yang membosankan, bekerja dengan teratur dan bertahap. Pemerintah yang baik adalah perbaikan yang berkelanjutan, bukan perubahan mendadak yang spektakuler. Pemerintah yang baik menjaga ketenangan dan mendorong keadilan, dan ini menciptakan latar belakang untuk gerak masyarakat…” (Brooks, 2013)

Spiritualitas Politik

Tanda bahwa politik berhasil adalah, menurut Brooks, adalah politik yang tidak lagi terasa di dalam kehidupan masyarakat. Ia bekerja dengan baik sebagai later belakang, yang kerap kali diabaikan. Ketika politik bekerja dengan baik sebagai latar belakang (bukan pemain utama!) kehidupan bersama, maka kita bisa mulai mengisi hidup dengan hal-hal lain yang lebih bermakna, seperti persahabatan dan keluarga. Politik menjadi bermakna, ketika ia tidak lagi terasa.

Jerman, lepas dari segala rasisme dan kebenciannya pada perubahan, adalah tanda politik yang baik. Pemerintahnya bekerja sehari-hari sebagai latar belakang yang menopang kehidupan rakyatnya. Birokrat dan eksekutif setia melakukan kerja-kerja yang kecil dan membosankan, demi kepentingan rakyatnya. Orang Jerman memang terkenal dengan mentalitasnya yang kuat bekerja dalam detil dan kebosanan, walaupun tidak seluruhnya seperti itu.

Di dalam bukunya yang berjudul Faktizität und Geltung, Habermas melihat politik sebagai proses diskursus antara berbagai kelompok di masyarakat untuk menggerakan roda kehidupan bersama. (Habermas, 1994) Kata kunci dari proses ini adalah komunikasi. Tafsiran miring atas argumen ini adalah, bahwa politik disamakan dengan debat dan diskusi, terutama di TV dan koran, misalnya untuk mencari ketenaran layaknya selebriti. Itu tentu saja perlu, tetapi tetap tidak boleh berlebihan.

Kerja tangan yang kecil, sepi, jauh dari pujian, jauh dari sorotan mata media, jauh dari tepuk tangan, rutin, fokus pada tujuan jangka panjang namun berusaha menciptakan hasil-hasil jangka pendek yang terasa nyata, dan harus dilakukan dengan setia serta akurat setiap harinya, itulah inti politik yang sekarang ini terlupakan di Indonesia. Itulah spiritualitas politik…

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s