Oleh Gede Agustapa, Seorang Yogi
Di zaman ini, mudah kita temui orang mengaku memiliki jalan spiritual. Ada yang menawarkan pencerahan instan, pembukaan cakra, aktivasi energi, penyembuhan karma, bahkan klaim sebagai guru yang telah tercerahkan. Seorang pencari yang tulus sering kali tidak tahu harus menggunakan ukuran apa untuk membedakan jalan yang benar dari sekadar klaim yang menarik. Jika ukuran yang dipakai adalah karisma, jumlah pengikut, usia tradisi, kesaktian, atau pengalaman mistis maka kita mudah tertipu. Karena itu, saya mengusulkan enam barometer sederhana untuk menguji setiap ajaran, guru, metode, ritual, dan latihan, sehingga kita, para pencari, dapat mengetahui dan memahami, apakah ajaran, guru, metode, ritual, dan latihan tersebut menyesatkan, atau mengarah pada kebahagiaan, kebijaksanaan dan pembebasan.
Sebelum menetapkan cara menguji ajaran, guru, metode, ritual, dan latihan, kita harus sepakat mengenai ajaran spiritual yang baik dan yang benar terlebih dahulu, dan mengapa disebut baik dan benar.
Mengenai ini, saya mengajukan, ajaran spiritual yang baik adalah yang mengajarkan kebahagiaan di kehidupan ini, di momen kematian dan di setelah kematian. Ajaran yang baik adalah yang buah atau hasil dari mempraktekkan ajarannya dapat dinikmati sekarang, di saat ini, dan di masa yang akan datang, di sini dan di mana pun, dalam berbagai situasi dan kondisi fisik apa pun. Artinya, buah ajarannya itu tidak dibatasi oleh waktu, tempat dan situasi dan berbagai keadaan yang ada di dalam dimensi ruang.
Yang dimaksudkan dengan tidak dibatasi oleh waktu adalah buah atau hasil dari mempraktekkan ajarannya itu tidak harus menunggu setelah kematian. Yang dimaksud dengan tidak dibatasi oleh tempat adalah buah ajarannya itu dapat dinikmati di mana pun, tanpa menuntut harus berada di suatu lokasi geografis tertentu. Yang dimaksud tidak dibatasi oleh berbagai situasi dan keadaan yang ada di dimensi ruang adalah buah ajarannya itu dapat dinikmati pada berbagai keadaan, situasi dan kondisi yang ada di dimensi ruang, misalnya saat ada krisis ekonomi, krisis politik, saat ada banyak orang atau sedikit orang dan sebagainya.
Mengenai ajaran yang benar adalah ajaran itu membawa kebahagiaan, kedamaian, suka cita dan kebijaksanaan bagi diri sendiri dan semua makhluk. Jadi, menurut saya ajaran yang baik dan benar adalah yang membawa kebahagiaan di sini, di momen kematian dan di setelah momen kematian juga membawa kebahagiaan pada diri sendiri dan semua makhluk.
Dari definisi yang saya ajukan itu, maka berikutnya adalah Enam Barometer Utama Cara Menguji Ajaran, Guru, Metode, Ritual, Latihan dan Progress yang dapat juga disebut sebagai enam tolak ukur, enam kriteria penguji, enam pertanyaan penguji, enam parameter atau enam indikator. Keenam barometer utama itu adalah:
- Lenyapnya Kemelekatan (Lobha)
Apakah (ajaran / guru / metode / ritual / latihan) ini melemahkan, mengurangi, menghancurkan dan melenyapkan kemelekatan, kerakusan, nafsu, ambisi dan hasrat dominasi, dan ketakutan akan kehilangan?
- Lenyapnya Kebencian (Dwesa)
Apakah (ajaran / guru / metode / ritual / latihan) ini melemahkan, mengurangi, menghancurkan dan melenyapkan penolakan, kesedihan, kebencian, kemarahan, dendam, kekikiran, ketersingungan, iri hati, dengki dan ketakutan?
- Lenyapnya Ke-aku-an (Asmimana)
Apakah (ajaran / guru / metode / ritual / latihan) ini melemahkan, mengurangi, menghancurkan dan melenyapkan sikap arogansi, keangkuhan, kesombongan dan persepsi adanya diri yang terpusat dan terpisah pada subjek-objek-tindakan?
- Meningkatkan Semangat & Sukacita (Virya)
Apakah (ajaran / guru / metode / ritual / latihan) ini menumbuhkan, mengembangkan, menguatkan dan menyempurnakan semangat dan suka cita menuju kebahagiaan, kebijaksanaan dan pembebasan sempurna?
- Menyempurnakan Welas Asih (Maitri dan Karuna)
Apakah (ajaran / guru / metode / ritual / latihan) ini menumbuhkan, mengembangkan, menguatkan dan menyempurnakan kasih sayang dan welas asih pada semua makhluk?
- Menyempurnakan Kesadaran Jernih yang Tenang Seimbang (Upeksha dan Samadhi)
Apakah (ajaran / guru / metode / ritual / latihan) ini menumbuhkan, mengembangkan, menguatkan dan menyempurnakan kesadaran yang jernih dalam melihat kenyataan sebagaimana adanya dan tetap tenang dan seimbang ?
Keenam pertanyaan pada 6 Barometer Utama Spiritual ini harus terjawab dengan “ya” yang kuat, dengan kemantapan dan meyakinkan. Jika ada 1 atau lebih yang jawabannya bukan “ya” yang kuat dan mantap, kita perlu waspada dan berhati-hati.
Mengapa 6 hal itu yang dijadikan barometer? Sebab tujuan spiritualitas sejatinya adalah untuk kebahagiaan, kebijaksanaan dan pembebasan. Oleh karenanya kurang tepat jika menggunakan indikator-indikator lain sebagai barometer utama misalnya; kesaktian, pengalaman mistis, berbagai sensasi dan sebagainya. Sebab seseorang yang sakti, jika ia tidak bahagia dan tidak bijaksana, maka hanya akan membawa penderitaan bagi dirinya sendiri, pihak lain atau makhluk lainnya, membawa penderitaan di kehidupan ini, di momen kematian dan di setelah kematian.
Untuk memperkuat ketajaman 6 Barometer Utama ini dapat ditambahkan satu pertanyaan lagi yaitu; Dengan cara apa atau bagaimana mekanisme ajaran, guru, metode, ritual, dan latihan ini menghasilkan perubahan atau transformasi tersebut? Apakah perubahan atau transformasinya sesaat saja, atau berkelanjutan dan berkesinambungan?
Dari 6 barometer itu, no 1 sampai no 3 adalah tentang pemurnian dari kekotoran mental yang membawa pada kesedihan, ketidak bahagiaan dan depresi. No 4 sampai no 6 adalah tentang pengembangan kualitas mental yang membawa pada kebahagiaan pada diri sendiri dan semua makhluk.
Selain untuk menguji ajaran, guru, metode, ritual dan latihan, yang terpenting adalah Enam Barometer Utama Spiritual ini haruslah digunakan untuk menguji progress latihan-latihan kita. Apakah setelah menerima ajaran dan metode yang telah lulus dari 6 Barometer Utama Spiritual itu, kemudian kita menerapkannya dalam latihan dengan cara yang benar? Sebab ada kemungkinan ajarannya benar, gurunya benar, metodenya benar, ritualnya benar, tapi cara kita menerapkannya dalam latihan yang salah, sehingga hasilnya justru berbanding terbalik dari Enam Barometer Utama Spiritual itu. Oleh karena itu perlu kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam menerima ajaran, berguru, menerima metode, melakukan ritual dan melatih metode-metode tersebut. Dalam melatih metode untuk membadankan ajaran perlu ketulusan dan kejujuran pada diri sendiri. Jika memang masih ada arogansi atau kekotoran mental lainnya perlu jujur dan tulus mengakui, bahwa memang masih ada arogansi dan kekotoran mental itu, kemudian dengan ketulusan berusaha mengurangi, melemahkan, dan melenyapkannya dengan metode yang sudah diterima.
Enam Barometer Utama Spiritual ini adalah alat untuk mengevaluasi seluruh proses transformasi mental dan spiritual, mulai dari ajaran yang diterima hingga buah yang muncul dalam kehidupan praktisi. Semoga apa yang saya tulis ini membawa manfaat bagi kita semua. Semoga Damai, Damai, Damai. Sembah hormat saya untuk anda semua.
