Tentang kafe, mafia hukum, dan kelas menengah yang kehabisan napas
Oleh A. Rahadian
Naskah untuk Rumah Filsafat, 19 Juli 2026
Pada Rabu, 8 Juli 2026, sejumlah polisi memasuki sebuah kafe di Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan.
Mereka tidak datang untuk memesan kopi.
Tidak ada perdebatan mengenai apakah cappuccino harus diminum tanpa gula, apakah pecak ikan lebih cocok untuk makan siang, atau apakah meja di taman masih tersedia untuk rapat sore. Aparat datang membawa surat, kamera, sarung tangan, dan pengetahuan bahwa di kota ini sebuah pintu kadang menyembunyikan lebih banyak hal daripada yang tertulis pada papan nama.
Nama tempat itu De’Clan Signature.
Sebuah nama yang terdengar hangat. Sedikit Eropa, sedikit aristokratik, tetapi cukup akrab untuk sebuah restoran keluarga. Kata signature menjanjikan sesuatu yang khas. Kata clan menjanjikan sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam, yaitu rasa memiliki, hubungan darah, lingkaran kepercayaan, dan orang yang mengenal orang lain tanpa perlu diperkenalkan.
Namun pada hari itu, yang menjadi pusat perhatian penyidik bukan hanya meja makan, dapur, ruang rapat, dan kebun. Kepolisian menyatakan bahwa penggeledahan di kafe itu dan sebuah tempat penukaran uang merupakan bagian dari penyidikan bersama atas dugaan korupsi, suap, dan pencucian uang. Dari brankas di kafe, menurut pemberitaan yang mengutip penyidik, disita uang tunai dalam Dollar Singapura, Dollar Amerika Serikat, dan Rupiah dengan nilai mendekati enam puluh miliar rupiah. Asal usul dan hubungan uang tersebut dengan perkara tetap harus dibuktikan melalui proses hukum.1
Enam puluh miliar rupiah adalah jumlah yang sulit dibayangkan dalam bentuk tunai.
Ia tidak lagi tampak sebagai alat pembayaran. Ia menjadi volume, berat, suhu ruangan, jumlah ikatan, ukuran brankas, dan kapasitas manusia untuk tutup mulut. Ia membutuhkan orang yang menghitung, orang yang mengangkut, orang yang menyimpan, dan orang yang tidak bertanya mengapa sebuah kafe memerlukan uang sebanyak itu.
Mungkin di situlah kisah De’Clan sesungguhnya dimulai. Bukan dari kopi, melainkan dari sebuah kata tua tentang kepercayaan.
Anak dari Satu Akar
Kata clan datang dari bahasa Gaelik Skotlandia, clann, yang menunjuk pada anak, keturunan, atau kumpulan orang yang berasal dari satu garis. Akar katanya membawa bayangan tentang tanaman dan tunas, tentang kehidupan yang tumbuh dari batang yang sama.2
Sebuah klan adalah pohon sosial.
Para anggotanya mungkin memiliki wajah, pekerjaan, dan nasib yang berbeda. Namun mereka percaya bahwa jauh di bawah tanah terdapat akar yang sama. Klan lahir sebelum negara modern, sebelum kartu identitas, sebelum rekening bank, sebelum lembaga audit, dan sebelum manusia percaya bahwa orang asing dapat bekerja sama hanya karena sebuah aturan berlaku bagi semua.
Dalam masyarakat klan, kepercayaan tidak diberikan kepada sistem. Kepercayaan diberikan kepada orang yang dikenal.
Kita mempercayai seseorang karena ia saudara, satu kampung, satu sekolah, satu korps, satu kantor, satu organisasi, atau pernah duduk di meja yang sama. Hukum tertulis datang kemudian. Yang datang lebih dahulu adalah hubungan. Yang menjaga hubungan bukan norma umum, melainkan ingatan tentang bantuan, utang budi, rahasia, dan ancaman bahwa pengkhianat akan dikeluarkan dari lingkaran.
Situs De’Clan sendiri menjelaskan nama restoran itu dengan semangat serupa. Klan tidak hanya dimaknai sebagai keluarga sedarah, tetapi juga sebagai komunitas, alumni, kelompok daerah, dan jaringan pergaulan. Restoran dibayangkan sebagai tempat untuk rapat, reuni, arisan, pertunangan, pernikahan, dan perayaan. Keterangan usahanya menyebut tahun 2013 sebagai titik awal.3
Tidak ada yang salah dengan keluarga. Tidak ada yang salah dengan komunitas. Masalah muncul ketika kesetiaan kepada kelompok mengambil alih tempat kesetiaan kepada hukum, dan ketika hubungan pribadi menjadi jalan rahasia untuk mengatur perkara yang seharusnya tunduk pada aturan publik.
Pada titik itu, klan berhenti menjadi tempat berlindung. Ia berubah menjadi teknologi kekuasaan.
Kafe dan Kelahiran Orang Asing
Rumah kopi tumbuh lebih dahulu dalam dunia Ottoman, lalu menyebar ke kota Eropa pada abad ketujuh belas. Di London, Paris, Wina, dan kota pelabuhan lain, kafe menjadi ruang yang aneh. Ia bukan rumah, bukan gereja, bukan istana, dan bukan kantor pemerintahan. Ia adalah ruang di antara semua itu.4
Orang datang untuk meminum cairan hitam yang membuat mata tetap terbuka. Namun mereka tinggal untuk membaca surat kabar, mendengar kabar kapal, membicarakan harga barang, menulis pamflet, memperdebatkan parlemen, menertawakan bangsawan, dan menyusun gagasan yang kemudian membuat penguasa sulit tidur.
Sebagian rumah kopi di London dikenal sebagai penny universities. Dengan harga secangkir kopi, seseorang memperoleh akses pada berita, percakapan, dan pengetahuan yang sebelumnya beredar dalam lingkaran terbatas. Pedagang duduk dekat penulis. Ilmuwan bertengkar dengan rohaniwan. Seorang warga tanpa gelar kebangsawanan dapat mencoba mengalahkan seorang tuan tanah dengan alasan yang lebih baik.
Jürgen Habermas melihat ruang semacam itu sebagai salah satu tempat lahirnya ruang publik borjuis. Di sana, setidaknya dalam cita cita, manusia tidak dinilai dari silsilahnya, tetapi dari apa yang dapat ia pertanggungjawabkan di depan orang lain. Kekuasaan harus menjelaskan diri. Argumen harus membuka wajahnya. Warga mencoba keluar dari rumah privat dan hadir sebagai publik.5
Dalam pengertian itu, kafe Eropa adalah mesin untuk keluar dari klan.
Ia mengajar manusia untuk berbicara dengan orang asing. Ia melatih masyarakat mempercayai prosedur yang berlaku umum. Orang masuk sebagai anak dari keluarganya masing masing, tetapi di meja kopi mereka mencoba menjadi warga yang setara.
Tentu sejarahnya tidak suci. Rumah kopi juga menjadi tempat pedagang membicarakan monopoli, kolonialisme, asuransi kapal, dan laba dari dunia yang sedang dirampas. Ruang publik dan kapitalisme tumbuh dalam rahim yang sama. Kebebasan berpendapat berkembang bersebelahan dengan kebebasan mengumpulkan kekayaan.
Kopi membuat manusia terjaga. Uang mengajarkan sebagian manusia bagaimana membuat hukum tertidur.
Cipete dan Kelas Menengah yang Menyewa Kehidupan
Berabad kemudian, konsep kafe sampai ke Jakarta Selatan dalam bentuk yang lebih lembut dan lebih mahal.
Tidak ada lagi pamflet yang baru keluar dari mesin cetak. Yang tersedia adalah Wi Fi, pendingin udara, stopkontak, musik yang tidak terlalu keras, dan menu yang cukup mahal untuk membuat seseorang merasa sedang bekerja, bukan sekadar duduk.
Di Jakarta, kafe bukan hanya tempat membeli minuman. Ia adalah kantor sementara bagi pekerja lepas, ruang wawancara bagi pencari kerja, ruang kencan bagi orang yang tinggal di kos sempit, ruang rapat bagi organisasi yang tidak memiliki sekretariat, studio foto bagi mereka yang perlu terlihat berhasil, dan ruang tamu sewaan bagi kelas menengah yang semakin sulit memiliki rumah sendiri.
Kelas menengah urban hidup dalam seni menunda. Menunda membeli rumah. Menunda menikah. Menunda mempunyai anak. Menunda berobat. Menunda mengganti laptop yang rusak. Menunda pulang kampung. Mereka belajar mengubah ketidakmampuan menjadi gaya hidup minimalis, mengubah kamar sempit menjadi konten estetik, dan mengubah kecemasan menjadi kalimat motivasi di media sosial.
Mereka menghitung harga makan siang, ongkos kendaraan, listrik, sewa kos, cicilan motor, tagihan telepon, obat orang tua, dan biaya mencari pekerjaan. Mencari kerja pun memerlukan biaya. Orang harus membeli pakaian yang layak, mencetak dokumen, membayar perjalanan, memiliki telepon yang berfungsi, dan menjaga wajah agar tidak terlihat terlalu putus asa. Bahkan kemiskinan di kota menuntut modal untuk disembunyikan.
Data resmi memberi ukuran kasar bagi sesak napas itu. Pada Februari 2026, rata rata upah buruh nasional tercatat sekitar Rp3,29 juta per bulan. Pada saat yang sama, hampir separuh penduduk berada dalam kelompok menuju kelas menengah, sementara kelompok kelas menengah sendiri jauh lebih kecil. Sebagian besar masyarakat hidup bukan dalam kenyamanan, melainkan dalam jarak yang sangat dekat dengan kejatuhan.6
Bila uang tunai sekitar enam puluh miliar rupiah dibandingkan dengan rata rata upah tersebut, jumlah itu setara dengan lebih dari delapan belas ribu bulan kerja. Seorang buruh yang tidak makan, tidak membayar tempat tinggal, tidak sakit, dan tidak mengeluarkan satu rupiah pun harus mulai bekerja lebih dari seribu lima ratus tahun lalu untuk mengumpulkannya.
Perbandingan itu memang kasar. Namun justru kekasarannya memperlihatkan sesuatu yang halus dan biasanya disembunyikan. Ada manusia yang harus menjual sebulan hidupnya untuk memperoleh tiga juta rupiah. Ada uang yang dapat tidur puluhan miliar rupiah dalam sebuah brankas tanpa bekerja satu menit pun.
Di kota yang sama, seorang pencari kerja menghapus satu lauk dari piringnya. Di ruang lain, uang dalam mata uang asing menunggu pemiliknya tanpa pernah merasa lapar.
Ketika Kekayaan Ilegal Menjadi Industri
Kita sering membayangkan korupsi sebagai satu amplop yang berpindah di bawah meja. Imajinasi itu sudah terlalu sederhana.
Dalam masyarakat modern, penumpukan kekayaan ilegal dapat tumbuh sebagai industri. Ia memiliki pemasok, perantara, penghubung, pemilik akses, penyusun kontrak, pembuka pintu, penyimpan uang, penukar mata uang, penjaga informasi, pembuat alasan, dan ahli yang mengubah kecurigaan menjadi dokumen yang tampak sah. Setiap orang hanya memegang sebagian kecil dari rangkaian. Karena tidak seorang pun merasa memegang keseluruhan, rasa bersalah dapat dibagi hingga hampir tidak terasa.
Industri mafia hukum lahir ketika hukum tidak lagi dipandang sebagai batas, tetapi sebagai pasar jasa. Perkara tidak lagi ditanyakan benar atau salah. Pertanyaan berubah menjadi siapa yang dapat dihubungi, berapa biaya untuk memperlambat, siapa yang dapat mengubah arah, dokumen apa yang dapat dibuat, saksi mana yang dapat dilemahkan, dan pintu mana yang dapat dibuka pada malam hari.
Dalam pasar semacam itu, jabatan publik memperoleh harga privat. Kewenangan menjadi komoditas. Tanda tangan mempunyai tarif. Informasi perkara menjadi barang dagangan. Penundaan mempunyai nilai. Diam mempunyai nilai. Bahkan kebingungan masyarakat mempunyai nilai, sebab semakin rumit prosedur, semakin mahal jasa orang yang mengaku mengenal jalan pintas.
Ini bukan sekadar pelanggaran hukum. Ini adalah pembentukan ekonomi kedua di dalam negara hukum. Ekonomi pertama terlihat dalam anggaran, pajak, kontrak, dan laporan. Ekonomi kedua bergerak melalui hubungan, uang tunai, ancaman, jasa informal, dan janji perlindungan. Ekonomi pertama meminta bukti. Ekonomi kedua meminta kepercayaan kepada klan.
Kekayaan yang lahir dari industri itu tidak muncul dari ruang kosong. Ia ditarik dari biaya sosial yang dibayar orang lain. Sebuah izin yang diperdagangkan dapat berarti lingkungan rusak. Sebuah perkara yang dibelokkan dapat berarti korban kehilangan keadilan. Sebuah pengadaan yang dikorupsi dapat berarti makanan lebih buruk, rumah sakit kekurangan alat, sekolah kehilangan buku, dan pekerja menerima upah yang tidak pernah naik.
Karena itu, uang ilegal bukan hanya uang tanpa kuitansi. Ia adalah waktu hidup yang dicuri dari masyarakat. Ia adalah jam kerja yang tidak berubah menjadi kesejahteraan. Ia adalah pajak yang tidak kembali sebagai pelayanan. Ia adalah napas publik yang dipindahkan ke brankas privat.
Situasi Apakah Ini
Secara filosofis, kita sedang melihat benturan antara negara hukum dan negara klan.
Negara hukum dibangun di atas gagasan bahwa aturan harus lebih kuat daripada hubungan pribadi. Hak tidak boleh bergantung pada siapa yang dikenal. Kesalahan tidak boleh hilang karena pemiliknya duduk dekat kekuasaan. Kebenaran hukum harus dapat diuji oleh orang yang tidak memiliki hubungan darah, almamater, korps, atau utang budi dengan para pihak.
Negara klan bekerja dengan logika sebaliknya. Hukum berlaku keras bagi orang asing dan menjadi lentur bagi orang dalam. Prosedur menjadi tembok bagi warga biasa, tetapi menjadi pintu putar bagi mereka yang mempunyai akses. Orang miskin berhadapan dengan hukum sebagai nasib. Orang berkuasa berhadapan dengan hukum sebagai perundingan.
Inilah perbedaan antara pemerintahan berdasarkan hukum dan pemerintahan yang sekadar menggunakan hukum. Dalam pemerintahan berdasarkan hukum, kekuasaan dibatasi oleh norma. Dalam pemerintahan yang menggunakan hukum, norma dipakai sebagai alat kekuasaan. Pasal tetap dibaca. Seragam tetap dipakai. Surat tetap dibuat. Namun hasilnya dapat diarahkan oleh jaringan yang bekerja di belakang prosedur.
Situasi ini juga dapat disebut neopatrimonialisme. Negara tampak modern, mempunyai kementerian, pengadilan, lembaga audit, sistem elektronik, dan tata naskah. Namun di dalam tubuh modern itu berdenyut hubungan lama antara patron dan pengikut. Jabatan publik diperlakukan seperti milik rumah tangga. Kesetiaan pribadi lebih penting daripada tanggung jawab institusional.
Dari sudut sosiologi hukum, keadaan ini menciptakan dualisme legal. Ada hukum resmi yang diajarkan dalam fakultas, dicetak dalam lembaran negara, dan dibacakan di ruang sidang. Ada pula hukum nyata yang hidup melalui telepon, pertemuan tertutup, uang, rasa takut, dan akses. Hukum resmi mengatakan bahwa setiap orang setara. Hukum nyata bertanya siapa yang menelepon.
Émile Durkheim memakai kata anomi untuk menggambarkan keadaan ketika norma kehilangan daya ikat. Dalam anomi, masalahnya bukan masyarakat tidak mempunyai aturan. Aturan justru dapat berlimpah. Masalahnya, orang tidak lagi percaya bahwa aturan merupakan jalan yang masuk akal menuju keadilan. Mereka melihat bahwa kerja keras tidak menjamin hidup layak, sementara kedekatan dengan kuasa dapat menghasilkan kekayaan luar biasa. Pada saat itu, ketidakjujuran tidak lagi dipandang sebagai penyimpangan. Ia mulai dianggap sebagai kecakapan membaca kenyataan.
Pierre Bourdieu membantu kita melihat bahwa hukum mempunyai kekuatan simbolik. Putusan, stempel, toga, seragam, dan bahasa teknis membuat keputusan terlihat sah. Tetapi kekuatan simbolik itu dapat berubah menjadi kekerasan simbolik ketika bahasa hukum dipakai untuk membuat ketidakadilan tampak wajar. Warga diminta menghormati prosedur, bahkan ketika prosedur hanya menjadi tirai yang menutupi transaksi kekuasaan.
Karl Marx berbicara tentang penumpukan kekayaan melalui perampasan. Dalam bentuk kontemporer, perampasan tidak selalu dilakukan dengan merebut tanah memakai senjata. Ia dapat berlangsung melalui izin, kontrak, utang, perkara, regulasi, dan keputusan administratif. Kertas dapat menjadi alat perampasan yang lebih bersih daripada pisau. Tidak ada darah di meja. Hanya ada tanda tangan.
Habermas akan menyebut sisi lain dari situasi ini sebagai kerusakan ruang publik. Kafe yang dahulu menjadi tempat warga mengawasi kekuasaan dapat berubah menjadi ruang privat tempat kekuasaan menghindari pengawasan warga. Percakapan publik digantikan hubungan masyarakat. Kritik digantikan citra. Warga diubah menjadi konsumen yang sibuk memilih menu, sementara keputusan yang menentukan hidup mereka dibicarakan di ruangan yang tidak tercantum dalam denah publik.
De’Clan menjadi simbol yang nyaris terlalu sempurna. Kafe yang secara historis membantu manusia keluar dari klan justru memakai nama klan. Ruang yang dahulu melahirkan keterbukaan berubah menjadi tempat yang diasosiasikan dengan penyimpanan uang dan jaringan tertutup. Tentu asosiasi itu masih harus diuji secara hukum. Namun sebagai gambaran sosial, ia telah berbicara lebih cepat daripada putusan pengadilan.
Hukum yang Dijual dan Warga yang Membeli Waktu
Filsafat hukum biasanya bertanya apakah hukum itu adil? Dalam situasi ini, pertanyaan harus dibuat lebih kasar. Apakah hukum masih merupakan hukum ketika akses terhadap hasilnya dapat diperjualbelikan?
Sebuah norma tidak menjadi hukum hanya karena dicetak dan diberi nomor. Ia menjadi hukum bila dapat mengikat orang kuat, melindungi orang lemah, dan diterapkan tanpa harus melihat daftar kontak di telepon. Ketika orang kuat dapat membeli pengecualian, hukum berubah menjadi dekorasi negara. Ia masih berdiri, tetapi tidak lagi menyangga apa pun.
Industri mafia hukum menghasilkan bentuk ketidakadilan yang lebih berbahaya daripada pencurian biasa. Pencuri mengambil barang. Mafia hukum mengambil kemampuan masyarakat untuk membedakan yang sah dan yang curang. Ia membuat korban meragukan ingatannya sendiri. Ia membuat warga percaya bahwa kekalahan di pengadilan mungkin bukan karena alasan hukum, tetapi karena mereka tidak mempunyai orang yang tepat untuk dihubungi.
Akibatnya tidak berhenti pada satu perkara. Kepercayaan sosial runtuh. Pengusaha jujur merasa bodoh. Pegawai yang menolak suap dianggap tidak memahami keadaan. Anak muda belajar bahwa kecakapan tidak cukup. Mereka harus mempunyai koneksi. Warga yang taat pajak melihat jalan rusak, sekolah mahal, rumah sakit penuh, dan pejabat tetap tersenyum di layar. Perlahan masyarakat berhenti bertanya apa yang benar. Mereka hanya bertanya bagaimana caranya tidak menjadi korban berikutnya.
Inilah kekerasan struktural. Tidak ada satu tangan yang mencekik, tetapi jutaan orang merasa sesak. Harga tempat tinggal, makanan, pendidikan, kesehatan, dan transportasi mengikat leher mereka sedikit demi sedikit. Mereka bekerja lebih lama, beristirahat lebih sedikit, dan tetap diminta bersyukur karena secara statistik belum tergolong miskin.
BPS sendiri mengingatkan bahwa berada di atas garis kemiskinan tidak otomatis berarti sejahtera. Pada September 2024, kelompok rentan miskin dan kelompok menuju kelas menengah mencakup sebagian sangat besar penduduk. Mereka hidup dalam wilayah sosial yang rapuh. Satu penyakit, satu pemutusan kerja, satu kecelakaan, atau satu kenaikan sewa dapat menjatuhkan seluruh rumah tangga.7
Mereka bukan orang yang tidak bekerja. Justru mereka bekerja terus menerus. Masalahnya, hasil kerja mereka dipakai untuk mempertahankan kehidupan, bukan membangun masa depan. Mereka membeli waktu satu bulan demi satu bulan. Sewa kos memperpanjang hak untuk tidur. Tagihan listrik memperpanjang hak untuk menyalakan kipas. Cicilan memperpanjang hak untuk memakai kendaraan yang membawa mereka kembali bekerja.
Di sinilah ironi sosial menjadi kejam. Warga biasa harus membuktikan setiap rupiah. Bank meminta slip gaji. Pemilik kos meminta uang muka. Rumah sakit meminta deposit. Perusahaan meminta pengalaman kerja untuk pekerjaan tingkat awal. Negara meminta pajak. Namun uang puluhan miliar dapat ditemukan dalam ruang privat dan baru kemudian masyarakat diberi tahu bahwa asal usulnya masih sedang dijelaskan.
Orang miskin diminta menjelaskan mengapa ia membutuhkan bantuan. Uang besar sering hanya diminta menjelaskan dari mana ia datang.
Uang yang Kehilangan Biografi
Setiap uang mempunyai biografi.
Ada uang dari gaji, warisan, hasil panen, penjualan rumah, keuntungan usaha, honor perkara, pinjaman bank, suap, pemerasan, atau pembayaran yang sengaja dipecah agar tidak menarik perhatian. Nilainya mungkin sama, tetapi sejarah moralnya berbeda.
Di dompet seorang buruh, selembar seratus ribu rupiah memiliki masa lalu yang mudah diceritakan dan masa depan yang hampir pasti. Beras, listrik, ongkos, obat, sekolah, atau cicilan. Uang itu datang dengan keringat dan pergi dengan kebutuhan.
Semakin besar jumlah uang, sering kali semakin pendek cerita yang bersedia disampaikan tentangnya. Angka menelan wajah. Uang kehilangan jejak pekerja, tanah yang digali, hutan yang ditebang, izin yang diberikan, perkara yang dihentikan, atau tanda tangan yang dibubuhkan. Semua peristiwa melebur menjadi saldo, koper, dan kode.
Uang gelap bukan selalu uang yang berwarna hitam. Ia adalah uang yang biografinya diputus. Ia ingin hadir tanpa masa lalu yang dapat diperiksa dan berpindah menuju masa depan yang hanya diketahui oleh lingkaran kecil.
Karena itu, pencucian uang pada dasarnya bukan sekadar teknik keuangan. Ia adalah operasi filosofis untuk menghapus ingatan. Sesuatu yang lahir dari kekerasan, penipuan, atau penyalahgunaan kuasa diberi pakaian baru agar tampak seperti hasil bisnis biasa. Uang dicuci supaya masyarakat lupa siapa yang pernah menangis ketika uang itu dilahirkan.
Kafe, restoran, properti, perusahaan jasa, tempat penukaran uang, dan berbagai bisnis tunai dapat menjadi ruang yang nyaman bagi operasi semacam itu apabila pengawasan gagal. Namun sebuah jenis usaha tidak otomatis bersalah. Yang perlu diuji adalah transaksi, sumber dana, kepemilikan, pembukuan, serta hubungan dengan pelaku dan perkara. Prinsip praduga tidak bersalah tetap penting, justru agar kemarahan publik tidak berubah menjadi kesewenangan baru.
Tulisan ini tidak menyimpulkan bahwa seluruh uang yang disita di lokasi tersebut telah terbukti sebagai hasil kejahatan. Pengadilan harus menguji bukti dan bantahan. Tetapi kewajiban berhati hati secara hukum tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk membutakan diri terhadap gambaran sosial yang muncul. Proses pidana mungkin belum selesai. Ironinya sudah lengkap.
Kafe yang Berjalan Mundur
De’Clan dapat dibaca sebagai alegori tentang perjalanan mundur sebuah republik.
Dahulu, rumah kopi membantu orang meninggalkan kesetiaan sempit kepada keluarga dan hadir sebagai warga. Di Cipete, nama klan kembali berdiri di atas ruang publik yang disewakan. Orang masuk untuk rapat, makan, merayakan pernikahan, atau bekerja dengan laptop. Namun penggeledahan membuat kita melihat kemungkinan adanya ruang lain, ruang tempat uang dan hubungan bergerak di luar pandangan pengunjung biasa.
Kota ini penuh kaca, tetapi miskin transparansi.
Ada jendela restoran, dinding kantor, layar telepon, kamera pengawas, dan unggahan kehidupan pribadi. Segala sesuatu tampak dapat dilihat. Namun keputusan yang paling menentukan nasib masyarakat sering terjadi di ruang yang tidak terlihat, dalam percakapan tanpa notula, dengan orang yang tidak memiliki jabatan resmi tetapi mengetahui pintu yang tepat.
Uang besar tidak selalu bersembunyi di gudang gelap. Ia menyukai tempat yang wajar. Restoran keluarga. Rumah yang terawat. Kantor konsultan. Ruang VIP. Tempat penukaran uang. Bangunan dengan petugas keamanan yang mengenal kendaraan para tamu.
Kejahatan modern, apabila kelak terbukti sebagai kejahatan, tidak perlu memakai topeng. Ia dapat memakai kemeja rapi, memesan kopi, membayar pajak restoran, memiliki akun media sosial, dan menerima reservasi pernikahan. Ia tampak normal karena normalitas adalah penyamaran terbaik.
Satirnya nyaris ditulis oleh kenyataan sendiri. Republik memasang slogan antikorupsi di ruang depan. Di ruang belakang, masyarakat menemukan brankas. Pejabat berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Pekerja menghitung apakah ia masih dapat makan dua kali. Negara merayakan investasi. Anak muda mengirim ratusan lamaran dan belajar bahwa penolakan otomatis pun dapat datang lebih cepat daripada jawaban manusia.
Kita diberi tahu bahwa ekonomi tumbuh. Namun banyak warga hanya tumbuh lebih cemas. Kita diberi tahu bahwa kelas menengah adalah motor pembangunan. Namun motor itu terus diminta berjalan dengan bensin yang dibelinya sendiri, melalui jalan berlubang, sambil membayar cicilan dan dilarang mengeluh karena masih dianggap beruntung.
Cangkir Terakhir
Di negara yang sehat, sebuah kafe menyimpan kopi, roti, suara percakapan, dan barangkali beberapa rahasia cinta.
Di negara yang sakit, warga menyimpan kecemasan, sementara sebuah kafe dapat menjadi tempat ditemukannya uang dalam jumlah yang tidak sanggup mereka bayangkan.
Kelas menengah Jakarta bangun pagi dengan alarm dari telepon yang belum lunas. Mereka menyeberangi kota, menghirup polusi, membalas pesan atasan, mencari promo makan, menunda pemeriksaan kesehatan, dan pulang ke kamar yang sewanya naik. Mereka mengira masalahnya adalah kurang bekerja keras. Padahal sebagian hasil kerja masyarakat mungkin telah lama menemukan jalan menuju ruangan yang tidak mereka ketahui.
Republik ini tidak kekurangan uang. Republik ini kekurangan jalan yang sah agar uang berubah menjadi upah yang layak, rumah yang dapat dihuni, sekolah yang tidak menakutkan dompet, rumah sakit yang tidak meminta deposit sebelum belas kasih, dan hukum yang tidak membutuhkan kenalan.
Kita juga tidak kekurangan aturan. Kita kekurangan keberanian untuk membuat aturan menyentuh orang yang selama ini hidup di atasnya.
Nama De’Clan menjanjikan keluarga. Tetapi keluarga macam apa yang sedang dibangun oleh republik ini. Keluarga bagi siapa. Siapa yang duduk di meja makan. Siapa yang mencuci piring. Siapa yang menyimpan uang. Siapa yang diminta membayar seluruh tagihan.
Barangkali kita adalah keluarga yang aneh. Beberapa anggotanya menyimpan puluhan miliar dalam diam. Anggota lain mengurangi lauk agar dapat membayar kos. Yang satu mempunyai ruang belakang. Yang lain bahkan tidak mempunyai ruang depan.
Dan hukum, yang seharusnya menjadi meja tempat semua orang duduk setara, terlalu sering berdiri seperti pelayan yang gugup. Ia membungkuk kepada tamu penting, lalu meminta warga biasa menunggu di luar karena reservasinya belum ditemukan.
Dahulu, kafe membantu manusia meninggalkan klan dan menjadi publik. Kini kita menyaksikan kemungkinan sebaliknya. Republik dipulangkan ke dalam klan, sementara aroma kopi dipakai untuk mengharumkan ruangan tempat uang kehilangan sejarahnya.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang sebuah brankas bukan hanya pertanyaan milik penyidik. Ia adalah pertanyaan tentang bentuk masyarakat yang sedang kita bangun.
Apakah kita masih ingin menjadi warga yang hidup di bawah hukum yang sama. Atau kita telah menerima bahwa Indonesia hanyalah sebuah kafe besar, dengan meja untuk publik di depan, ruang khusus bagi klan di belakang, dan kasir yang selalu menyerahkan tagihan kepada mereka yang paling sedikit makan.
Catatan Sumber
- Divisi Humas Polri. Keterangan mengenai penggeledahan Cafe De’Clan Signature dan Koin Money Changer, 8 Juli 2026.
- Merriam Webster. Entri clan dan penjelasan etimologi kata clann.
- De’Clan. Profil usaha, penjelasan nama, konsep ruang komunitas, dan keterangan sejak 2013.
- Brian Cowan. The Social Life of Coffee: The Emergence of the British Coffeehouse. Yale University Press, 2005.
- Jürgen Habermas. The Structural Transformation of the Public Sphere. MIT Press, 1989.
- Badan Pusat Statistik. Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2026, termasuk rata rata upah buruh Rp3,29 juta per bulan.
- Badan Pusat Statistik. Penjelasan kelompok miskin, rentan miskin, menuju kelas menengah, kelas menengah, dan kelas atas berdasarkan kondisi September 2024.
- Tempo. Pemberitaan mengenai versi pengelola, riwayat perubahan nama Gontran Cherrier menjadi De’Clan Signature, serta bantahan mengenai asal usul uang yang disita, Juli 2026.
- Émile Durkheim. The Division of Labor in Society dan gagasan mengenai anomi.
- Pierre Bourdieu. The Force of Law: Toward a Sociology of the Juridical Field.
- Karl Marx. Capital, Volume One, terutama pembahasan mengenai penumpukan awal dan perampasan.
