Pencerahan dan Pencarian tanpa Jawaban

Oleh Reza A.A Wattimena

Kemana kita pergi, setelah kita mati? Darimana kita berasal, sebelum kita lahir? Apa tujuan dari hidup ini? Mengapa ada orang hidupnya penuh derita, dan ada orang yang sungguh beruntung? Setiap orang, kiranya, pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu di dalam hidupnya.

Sayangnya, di Indonesia, pertanyaan-pertanyaan mendalam itu dibunuh dengan jawaban-jawaban dangkal. Keempat pertanyaan itu dijawab dengan satu kata yang miskin makna, yakni Tuhan. Pencarian dibunuh oleh kedangkalan. Dorongan alami untuk mengetahui dibantai oleh kedunguan dogmatik yang kerap berakar pada agama, terutama agama-agama Timur Tengah.

Lebih dari itu, orang lalu dijejali oleh ketakutan. Jika berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma sosial, orang dihantui ketakutan akan api neraka. Api abadi, katanya, siap membakar sekujur tubuhnya. Orang lalu hidup dalam cengkraman ketakutan, tanpa pernah menyicip setitik kebebasan di dalam hidupnya.

Dalam arti ini, Indonesia adalah sebuah proyek pembodohan. Ratusan juta rakyat hidup dalam ketakutan dan kedunguan. Maka, mereka pun mudah ditipu oleh para politisi busuk yang menguasai politik dan ekonomi sekarang ini. Ratusan juta rakyat hidup dalam cekikan kemiskinan di tengah alam yang begitu kaya dengan sumber daya, dan politisi yang bergaya hidup amat mewah.

Semua hal ini bertentangan dengan kodrat manusia. Dari dalam dirinya, setiap orang ingin mengetahui. Setiap orang terdorong secara alami untuk memahami diri dan dunianya. “Proyek Indonesia”, seperti sekarang ini terjadi, adalah sesuatu yang bertentangan dengan kodrat alami manusia.

Filsafat Asia sudah lama memahami hal ini. Pertanyaan bukanlah sesuatu yang harus dijawab, apalagi dengan jawaban-jawaban dangkal. Pertanyaan adalah sesuatu yang perlu untuk dirawat dengan seksama. Pertanyaan yang menikam inti batin adalah kunci tercepat menuju pembebasan.

Memang, filsafat Asia berbeda dengan dengan filsafat Eropa dalam soal tujuan. Tujuan filsafat Eropa adalah memahami alam dengan tujuan untuk menguasai serta memanfaatkannya. Tujuan filsafat Asia adalah mencapai pembebasan dari kedunguan yang membuat manusia hidup dalam cekikan derita, serta merusak manusia dan alam sekitarnya. Kata lain dari ini adalah pencerahan.

Pembebasan dan pencerahan muncul, ketika orang mengalami kenyataan sebagaimana adanya. Batinnya berada sebelum pikiran muncul. Konsep dan bahasa belum bertumbuh. Batin seperti itu bersifat sadar penuh, kosong dari konsep dan tak terbatas.

Satu metode cukup menarik untuk diperhatikan. Namanya adalah Hwadu, atau kata-kata yang hidup. Kata ini berasal dari bahasa Korea. Orang bertanya “Apa ini?” ke dalam dirinya sendiri. Apa ini yang bernafas? Apa ini yang melihat dan mendengar?

Rasakan pertanyaan tersebut. Jangan diberikan jawaban-jawaban dangkal. Cukup rasakan pencarian yang muncul ke dalam dari pertanyaan tersebut. Ketika berdiri, duduk, berbaring dan di semua aktivitas, “apa ini? What is this?

Pertanyaan pun menjadi hidup. Semua pikiran terserap. Semua perasaan tersedot oleh pertanyaan tersebut. Tak ada jawaban dangkal yang diberikan, sehingga kesadaran menyala terus di dalam kegiatan keseharian.

Perhatian ke arah luar perlahan berkurang. Kenikmatan, kekayaan, kekuasaan dan nama baik perlahan terlepas cengkramannya. Perhatian pun terarah ke dalam diri, yakni ke inti batin. Di dalam inti batin itu, tidak ada sesuatu yang permanen. Yang ada adalah kesadaran yang sepenuhnya kosong, dan tak mengenal batas.

Di dalam teori transformasi kesadaran, saya menjelaskan proses manusia mencapai titik tersebut. Coba cek di https://rumahfilsafat.com/buku-teori-transformasi-kesadaran-teori-tipologi-agama/ Hwadu adalah salah satu jalan untuk mencapai pembebasan. Pertanyaan lalu menjadi alat pembakar pikiran dan emosi yang ilusif, serta mengajak orang untuk meneguk air kebebasan.

Pada dasarnya, diri kita sudah selalu bebas. Kita sudah selalu tercerahkan. Namun, kita lupa. Karena diselubungi kedunguan, kita hanyut dalam berbagai pikiran dan perasaan yang datang, serta mengiranya sebagai kenyataan. Pertanyaan-pertanyaan yang hidup membongkar kedunguan tersebut, dan membawa kita kembali ke rumah kita yang sejati di dalam diri.

===

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

 

 

 

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.