Tantra sebagai Teknologi Mengganti Diri

Oleh Reza A.A Wattimena

Sesungguhnya, Reza itu tidak ada. Ia hanyalah nama di KTP. Ia hanyalah sebuah cerita juga terus berubah tentang sosok mahluk hidup yang punya sejarah dan harapan tertentu. Ia tidak mutlak.

Ia lahir dan sekolah di Jakarta. Ia sempat merantau di beberapa kota dan negara. Ia suka menulis. Cerita ini bisa dilanjutkan, sampai tak berhingga.

Diri, sejatinya, adalah sebuah narasi. Tidak lebih dan tidak kurang. Diri tidak memiliki bentuk konkret di dalam kenyataan. Ia sepenuhnya hasil dari imajinasi.

Diri bukanlah kenyataan yang pasti. Tidak ada diri yang bersifat tetap. Tidak ada sifat, atau karakter, yang abadi. Semuanya tunduk pada hukum perubahan kenyataan. Diri adalah narasi, atau sebuah cerita, yang terus dirangkai oleh imajinasi.

Cerita apa yang anda bangun tentang diri anda sendiri? Di abad 21 ini, cerita, atau narasi, tentang diri cenderung kelam. Orang merasa sebagai mahluk lemah dan tak berdaya. Mereka merasa penuh dosa, dan butuh selalu pertolongan dari mahluk-mahluk di luar dirinya.

Agama dan tradisi berperan besar dalam hal ini. Agama-agama Timur Tengah menggambarkan manusia sebagai mahluk lemah yang penuh dosa. Begitu banyak orang percaya akan hal ini. Akibatnya, mereka merasa lemah dan bodoh, sehingga hidup dalam ketakutan serta penderitaan.

Mereka pun tergantung pada agama. Hidupnya dipenuh ketakutan dan kepatuhan buta pada agama. Hidup pun terasa seperti di dalam penjara. Dari semua proses itu, mereka terus diminta sumbangan uang, walaupun banyak yang hidup dalam cekikan kemiskinan.

Ketika narasi tentang diri jelek, maka kenyataan juga akan jelek. Narasi tentang diri seolah dianggap sebagai kenyataan itu sendiri. Orang akan merasa rendah diri dan penuh dosa sepanjang hidupnya. Ia pun mudah dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan kotor dari luar, mulai dari penipuan finansial, perdagangan manusia sampai pelecehan maupun eksploitasi seksual.

Inilah penyebab utama penderitaan manusia di abad 21 ini. Mereka merasa tak berdaya di keadaan politik maupun ekonomi yang semakin tak pasti. Mereka juga merasa tak berdaya dibawah tekanan agama kematian yang menjual surga dan neraka yang palsu. Akibat tekanan derita semacam ini, banyak yang memilih untuk bunuh diri.

Mereka tak paham, bahwa potensi diri manusia itu hampir tak terbatas. Kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Batasnya hanyalah imajinasi kita. Disinilah Tantra menjadi penting.

Tantra berasal dari dua kata di dalam bahasa Sanskrit. Yang pertama adalah tan yang berarti memperluas atau membentangkan. Yang kedua adalah tra yang berarti alat, atau sarana. Secara sederhana, Tantra berarti alat untuk memperluas, atau teknologi untuk memperluas.

Tantra menggunakan segala unsur manusia untuk mencapai pembebasan seutuhnya. Ia bermain dengan hasrat dan imajinasi. Ia tidak menolak hasrat atau imajinasi sebagai sesuatu yang kotor, apalagi penuh dosa. Di abad 21 ini, Tantra, dan juga Zen, adalah jalan tercepat untuk mencapai pencerahan serta pembebasan.

Hasrat adalah energi. Imajinasi memberikan arah pada energi itu. Dengan tantra, orang membangun cerita baru tentang dirinya sendiri. Ia mengganti dirinya yang lemah dan rendah diri dengan dirinya yang baru, sesuai keinginannya.

Maka dari itu, tradisi Tantra menciptakan banyak figur dewa dan dewi. Mereka memiliki beragam nama dan bentuk, mulai dari Manjusri, Tara, Vajrakilaya, Guru Rinpoche dan sebagainya. Semua figur ini adalah ekspresi dari kualitas batin yang dimiliki manusia. Mereka menjadi obyek visualisasi dengan imajinasi persis untuk membangkitkan kualitas-kualitas batin yang luhur di dalam diri manusia, seperti welas asih, kesadaran, stabilitas batin dan kebijaksanaan.

Jadi, di dalam diri kita, kita sudah selalu tercerahkan. Ada kejernihan dan kebahagiaan di sana. Ada sifat welas asih universal, dan kedamaian di sana. Hanya, itu semua terlupakan, dan tertutupi dengan pengalaman-pengalaman jelek yang menyisakan trauma. Tantra, dengan beragam teknik visualisasinya, ingin membangkitkan kualitas-kualitas batin yang luhur tersebut. Kita merangkai cerita baru tentang diri kita sendiri.

Ambil satu dewa yang dekat di hati kita. Bayangkan ia berada di depan kita dengan segala sifat luhur yang ia punya. Ambil sifat luhur itu ke dalam diri kita sendiri, karena para dewa itu juga adalah ekspresi dari kesadaran kita sendiri. Secara sadar, kita membangun cerita baru tentang diri kita sendiri yang memiliki sifat-sifat luhur kehidupan.

Sejatinya, kita tak pernah terpisahkan dengan seluruh alam semesta. Segala kemungkinan semesta adalah kemungkinan diri kita juga. Kita bebas membangun cerita tentang diri kita sendiri. Dengan penuh kesadaran dan kebebasan, kita keluar dari narasi diri kita yang merusak, yang dibangun lewat salah asuh agama dan tradisi.

Pada titik tertinggi, setiap narasi juga mesti disadari sebagai ilusi. Siapa kita, tanpa cerita yang kita rangkai? Disinilah Zen berperan. Segala jawaban lenyap. Segala konsep, bahasa dan rumusan tertunda. Sebelum narasi dan cerita, kita hanyalah sepotong kehidupan (piece of life).

Kita melepaskan cerita tentang diri yang menderita. Kita merangkai cerita baru tentang diri yang dipenuhi sifat-sifat luhur. Lalu, kita pun harus melepas semua itu. Kita kembali pada keadaan batin sebelum cerita dan narasi yang kita karang.

Sebagai sepotong kehidupan, kita juga adalah kesadaran murni. Kita hanya perlu beristirahat di dalam kesadaran semacam itu. Kita menjadi diri sejati kita yang sesungguhnya. Rasakan kenikmatan dari keluasan batin (spaciousness) yang muncul…

 

 

 

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.