Politik Bang Jago Indonesia: “Dari Ndasmu, Nye Nye Nye sampai Emang Gua Pikirin”

Oleh Reza A.A Wattimena

Tiba-tiba, pengendara motor itu dipukul dari belakang. Tentu saja, ia kaget. Jalanan sedang ramai. Si pemukul tampak sedang mabuk, dan sok jagoan di jalan raya bilangan Jakarta Selatan. Per 7 Juli 2026, polisi telah menangkap si pemukul tersebut.

Tak ada sebab yang jelas. Si pemukul hanya merasa sebagai jagoan. Ia merasa berhak berkendara tanpa helm, dan memukul pengendara lain. Ia bagaikan bang jago yang menguasai jalan raya.

Mental bang jago, atau mental sok jagoan ini, menjadi wabah baru di Indonesia. Si gemoy kerap berpidato persis dengan gaya seperti ini. Ia menghina orang-orang yang berusaha memberikan masukan padanya. Ndasmu. Emang gua pikirin! Nye Nye Nye. Antek-antek Asing! Sambil teriak-teriak dan memukul podium, seperti layaknya orang gila.

Ia sudah kehilangan wibawa di mata orang Indonesia. Ia juga menjadi bahan lelucon di tingkat global. Di abad 21, mental bang jago tidak mengundang rasa takut, apalagi hormat. Ia mengundang cercaan dan lelucon dari seluruh dunia.

Saya menyebut ini politik bang jago, atau politik preman, dimana intimidasi, hinaan dan tekanan menjadi pola komunikasi politik dan pembuatan kebijakan. Tidak hanya si gemoy yang menganut politik ini. Presiden AS sekarang, Donald Trump, kiranya berada di kubu yang sama. Mereka menjadi preman yang mengundang lelucon serta cercaan dari berbagai penjuru dunia.

Dalam konteks ini, ada tujuh hal yang patut diperhatikan. Pertama, mental bang jago kini menurun ke rakyat umum. Ikan memang selalu membusuk dari kepala. Ketika presiden gemoy menganut membusuk dan menganut mental bang jago, rakyat pun mengikuti. Ini persis karena kebodohan serta kemiskinan rakyat Indonesia yang dilestarikan oleh negara.

Dua, kita menyaksikan pendangkalan politik Indonesia. Percakapan politik diisi hinaan dan makian. Kritik bermutu ditangkis dengan gaya bang jago. Seluruh bangsa menyaksikan kedunguan ini dengan rasa muak dan amarah yang mendidih.

Tiga, pendangkalan politik terjadi, karena kita hidup di rezim yang tuli. Ia hanya mendengar dirinya sendiri. Ia menutup telinga dari pandangan-pandangan yang berbeda, terutama pandangan-pandangan bermutu tinggi yang didasarkan pada penelitian ilmiah. Di dalam ketuliannya tersebut, ia merusak tata politik Indonesia, membangun tradisi bang jago, dan menghancurkan demokrasi yang bersifat substansial.

Empat, ruang publik Indonesia pun menjadi lemah. Ruang publik adalah tempat, dimana berbagai pandangan berjumpa, berkomunikasi dan mencapai kesepakatan tentang berbagai hal di dalam hidup bersama. Di bawah rezim bang jago, kesepakatan dipaksakan lewat tekanan kekuatan. Tidak ada proses komunikasi yang egaliter dan bebas dominasi di dalamnya.

Lima, karena ruang publik lemah, maka berbagai kebijakan pun menjadi salah arah. Program-program raksasa dilaksanakan. Namun, semuanya tanpa pengawasan yang jelas, sehingga digerogoti korupsi sampai ke akarnya, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Di era rezim bang jago ini, kebijakan politik menjadi amat serampangan, sehingga sungguh merugikan seluruh rakyat.

Enam, di akar mental bang jago yang mewabah ini, kesadaran dualistik distingtif tertanam kuat. Kesadaran ini membelah dunia ke berbagai kelompok secara tegas. Ia berakar pada ilusi keterpisahan yang mendalam. Kesadaran dualistik distingtif sempit inilah yang menjadi penyebab utama berbagai konflik di dunia.

Tujuh, seperti di beberapa tulisan saya sebelumnya, saya menyebutkan, bahwa Indonesia memasuki masa kegelapan. Kecerahan akal budi dan nurani menjadi sesuatu yang langka. Ini semua terjadi, akibat pilihan yang kita buat sendiri, terutama terkait proses pemilihan umum 2024 lalu. Kini, di 2026 ini, dan seterusnya, kita harus menanggung pilihan kita yang telah kita buat sebelumnya.

Politik bang jago ini tak bisa dibiarkan ada dan berkembang di Indonesia. Ia harus terus diungkap dan dilawan dengan segala cara. Jangan juga, mental bang jago yang satu dilawan dengan mental bang jago yang lain. Ini akan menciptakan pola hukum rimba yang merusak demokrasi dan tata peradaban manusia. Kritik beradab yang berpijak pada hukum dan rasa keadilan tetap perlu disuarakan, walaupun kerap jatuh di dalam ketulian yang pongah dan bebal…

 

 

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.