Malam itu, serangan panik menikam dada saya. Rasanya seperti mengalami serangan jantung. Tragedi personal memicu serangan ini. Saya pun merasa tak berdaya.
Saya menggunakan segala ilmu yang telah saya pelajari. Dari tradisi filsafat Stoa dan Filsafat Jerman, saya mengambil beberapa ide untuk mengubah cara berpikir. Dari Zen dan Yoga, saya menerapkan laku fisik dan olah batin. Semuanya tak berdaya di hadapan rasa sakit di dada yang begitu menikam jiwa.
Gede Agustapa, seorang guru dan sahabat, menyarankan, saya mencari akar dari serangan panik yang menikam saya tersebut. Ini seperti cara kerja seorang mekanik. Ada mesin yang rusak, dan ia pun mencari akar penyebab, serta solusinya. Dibawah bimbingannya, saya pun mulai bekerja menemukan akar derita yang menyiksa batin saya.
Perasaan buruk terkait dengan pikiran buruk. Pikiran yang mencemaskan melahirkan perasaan cemas yang menusuk dada. Pikiran buruk, biasanya, terkait dengan trauma, yakni peristiwa menyakitkan di masa lalu yang terus mengulang dirinya di dalam ingatan. Ada penyesalan yang membuat dada terasa sesak.
Pikiran buruk, kerap kali, juga adalah rekaan soal masa depan. Ada kecemasan tentang masa depan yang penuh ketidakpastian. Ada ketakutan terhadap keadaan politik ekonomi yang semakin absurd. Orang bisa terbaring kaku ditikam kecemasan yang dilahirkan kepalanya sendiri.
Inilah derita tiada tara. Sakit fisik pun tampak sangat kecil, jika dibandingkan dengan derita batin semacam ini. Tak heran, derita batin bisa mendorong orang untuk bunuh diri. Ia memilih mati, daripada harus terus merasakan tusukan di hati.
Di titik ini, uang tidak bisa menolong. Keluarga juga tidak bisa membantu. Keduanya bisa memberikan kenyamanan yang, mungkin, mencegah orang melakukan bunuh diri. Namun, penyembuhan lahir dari pemahaman yang tepat tentang cara kerja kenyataan.
Ada tiga langkah yang penting untuk diperhatikan. Pertama, kita mesti selalu sadar akan gerak pikiran dan batin kita. Apa yang kita pikiran dan rasakan sekarang? Bawa semua itu dalam kesadaran, terutama pikiran maupun perasaan yang mengundang derita, seperti trauma ataupun kecemasan, seperti yang saya alami.
Dua, kita arahkan pikiran ke arah yang diinginkan. Setiap orang selalu menginginkan pikiran yang damai. Maka, secara sadar, kita bangun gambaran di dalam batin yang kita, yang bisa menginspirasikan rasa damai. Agama dan tradisi menyediakan ini, biasanya dalam bentuk figur-figur manusia yang dianggap suci.
Kita membayangkan mereka hadir di depan kita. Lalu, kita mengagumi kualitas batin mereka, misalnya penuh kedamaian dan welas asih. Kita ingin juga memiliki kualitas batin semacam itu. Secara sadar, kita memilih pikiran dan perasaan di dalam diri kita.
Figur tersebut kita bawa di dalam keseharian kita. Kita mengingatnya terus menerus di dalam semua kegiatan. Trauma dan kecemasan pun hilang sekejap mata. Kualitas batin yang kita inginkan pun bisa bertumbuh.
Di dalam tradisi Hindu, latihan seperti ini disebut sebagai Istadewata. Di dalam tradisi Buddhisme Tibet, ini juga disebut sebagai latihan Yidam. Ada perbedaan tipis dari dua tradisi ini. Namun, secara umum, mereka ingin menarik orang dari emosi negatif yang mencekik jiwa, dan membawanya menuju kedamaian serta welas asih. Keduanya adalah sebentuk upaya untuk meretas pikiran.
Tiga, latihan membayangkan, atau visualisasi ini, harus dibuat menjadi amat kuat dan stabil. Setelah itu, ia harus dilepas. Semua gambaran dan bayangan harus dikembalikan ke asalnya, yakni kesadaran yang kosong. Setelah bertualang di dunia pikiran dan perasaan yang begitu berwarna, kita kembali ke kenyataan.
Kita beristirahat sebagai kesadaran yang hidup. Tidak ada konsep dan bahasa yang tumbuh. Kita kembali ke titik sebelum pikiran muncul. Kita menjadi kehidupan itu sendiri.
Saya menerapkan metode ini. Serangan panik saya langsung lenyap, tak bersisa. Sudah dua hari ini, kedamaian yang begitu mendalam merasuk ke dalam batin saya. Sungguh, tak pernah saya merasakan kedamaian begitu besar di hidup saya.
Saya memegang bayangan figur yang saya inginkan di dalam keseharian saya. Sesekali, saya melepasnya, lalu kembali beristirahat di dalam kesadaran yang kosong dan tak terbatas. Lalu, saya kembali menggendong figur tersebut, tanpa lepas. Saya seolah menjadi manusia baru.
Dengan berpijak pada tradisi luhur kuno, saya menemukan metode meretas pikiran. Anda tertarik mencobanya?

