“Jika mau didengar, harus rusuh dahulu.” Begitu komentar salah satu mahasiswa yang aktif berdemo di 2026 ini. Ini, tentunya, bukan berita baru. Di 2026, Indonesia hidup di dalam rezim bebal yang ogah berubah, kecuali dipaksa oleh kerusuhan besar, dan tekanan internasional yang kuat.
Rezim Indonesia 2026 juga adalah rezim tuli. Mereka hidup dalam delusi, yakni kenyataan yang mereka bangun sendiri, dan sungguh berbeda dengan kenyataan yang ada di lapangan. Mereka memuji diri sendiri, karena prestasi-prestasi yang tak nyata. Semakin hari, rezim bebal dan tuli ini semakin dibenci oleh rakyatnya sendiri.
Di bawah langit bumi, rezim ini hanya mengikuti cerita lama. Sosok yang rakus kekuasaan menipu rakyat demi mendapatkan suara. Setelah itu, ia menjadi tiran yang bergaya totaliter. Ia membuat keputusan semaunya sendiri, tanpa mempertimbangkan akal sehat, pemikiran kritis serta kejernihan nurani.
Dalam konteks ini, ada tujuh hal yang bisa direnungkan. Pertama, rezim tuli ini adalah hasil perkawinan dua entitas busuk, yakni hasrat untuk berkuasa dan kesadaran distingtif-dualistik. Hasrat untuk berkuasa berakar pada jiwa manusia yang berkesadaran sempit dan dipenuhi kedunguan. Hal ini dengan jelas bisa ditemukan pada pemimpin rezim tuli ini yang telah berusaha dengan segala cara untuk menjadi presiden.
Dua, konsep kesadaran distingtif-dualistik adalah bagian dari teori transformasi kesadaran yang saya kembangkan. Inilah kesadaran yang sempit, yang melihat dunia terbelah dua oleh kelompok-kelompok yang saling bertentangan. Kesadaran distingtif-dualistik menjadi akar dari hasrat untuk berkuasa tak terkendali yang bercokol di hati si pemimpin gemoy fufufafa sekarang ini. Ia menyiksa batin penguasa rezim bebal ini dengan kerakusan dan dendam yang membara.
Tiga, karena hasrat berkuasa yang membakar dan kesadaran yang amat sempit, rezim bebal ini amat anti kritik. Mereka mengalami gejala narsisme politis. Mereka merasa selalu benar, dan selalu merasa menjadi yang terbaik. Segala bentuk kritik yang berharga ditumpas dengan cara-cara yang agresif dan dungu.
Empat, rezim tuli, dengan politik totaliter agresifnya, jelas mengalami ketertinggalan cara berpikir. Mereka hidup di abad 21, tetapi bekerja dengan paradigma abad 20 awal, dimana pemerintahan totaliter merajalela, mulai dari Hitler, Stalin sampai dengan Hirohito di Jepang. Di era digital dan media sosial sekarang, rezim totaliter hanya menjadi bahan lelucon. Ia tinggal menunggu waktu untuk tumbang.
Lima, rezim tuli nan bebal ini juga miskin rasa malu. Pejabat dipilih sama sekali bukan berdasarkan keahlian, tetapi berdasarkan kekuatan menjilat. Ini tampak begitu jelas di mata rakyat, dan telah menjadi bahan lelucon maupun kritik besar-besaran. Karena sikap bebal yang begitu kuat, perubahan ke arah yang baik pun tak kunjung datang.
Enam, sampai akhir Juni 2026, sikap agresif rezim bebal ini hanya tampak dalam retorika. Ada beberapa kejadian, ketika militer menyerang aktivis secara gamblang. Namun, kejadian lebih besar belum tampak. Ini sebenarnya terjadi, karena kekerasan terhadap aktivis ataupun mahasiswa akan berbuah gerakan demonstrasi yang lebih besar. Revolusi berdarah yang menumbangkan rezim bebal nan tuli ini pun bisa terjadi.
Tujuh, di tengah keadaan yang semakin sulit dan absurd, apa yang bisa dilakukan oleh warga negara biasa yang tidak memiliki kekuasaan politik ataupun ekonomi yang besar? Kita perlu belajar melihat keadaan sebagaimana adanya. Kita perlu menghindar dari tipuan media sosial yang memuja rezim tuli nan bebal ini. Di ranah kehidupan kita, kita perlu melawan segala bentuk korupsi dan ketidakadilan yang menjadi ciri khas dari masa kegelapan di bawah rezim tuli dan bebal ini.
Kehadiran rezim bebal nan tuli ini adalah pertanda masa kegelapan bangsa Indonesia. Berapa lama kita harus hidup di masa kegelapan semacam ini? Ini semua amat tergantung pada keputusan yang kita ambil sebagai bangsa. Untuk membuat perubahan, cara-cara damai dan berada tampak sangat tidak mencukupi. Pembangkangan sipil yang kerap menciptakan kerusuhan memang tidak diinginkan.
Namun, untuk melenyapkan rezim bebal nan tuli ini, hal tersebut mungkin diperlukan…

