Boleh ga presiden ngomong bajingan? Begitu kata si gemoy fufufafa. Dengan gaya seperti preman (lihat tulisan saya sebelumnya: Politik Bang Jago, https://rumahfilsafat.com/2026/07/08/politik-bang-jago-indonesia-dari-ndasmu-nye-nye-nye-sampai-emang-gua-pikirin/ ), ia berpidato di depan umum. Kedunguannya sungguh amat terlihat, dan membuat seluruh dunia merasa muak.
Di tempat lain, pengacara busuk itu berkata di hadapan wartawan. Lu punya otak ga? Tidak ada rasa malu, ataupun sungkan. Yang ada juga hanya kedunguan dibalut jas mahal yang membuat rasa jijik.
Masih di republik fufafa, yang dipimpin si gemoy dan ditinggali pengacara busuk, anak perempuan itu diperkosa oleh pemuka agamanya, hampir setiap hari. Ia dititipkan orang tuanya di asrama agama kematian. Ia siap dimangsa oleh predator seksual berkedok agama. Ini sudah berulang kali, dan cenderung didiamkan oleh masyarakat luas, hanya karena pelakunya seorang tokoh agama kematian. (Lihat tulisan saya soal agama kematian: https://rumahfilsafat.com/2021/08/10/tak-semua-agama-baik-untuk-kehidupan/ )
Akhir Juli, seorang satpam diminta bersujud kepada aparat keparat. Padahal, sang satpam hanya menjalankan tugasnya menjaga lampu lalu lintas. Penegak hukum pun diam membisu. Sikap bajingan kembali ditampilkan di depan umum.
Inilah keseharian kehidupan di republik fufufafa. Hampir tak ada berita baik yang keluar di tingkat nasional. Di balik semua itu, pemutusan kerja terus terjadi. Kemarahan rakyat, sebenarnya, sudah membara, dan tinggal menunggu waktu untuk pecah.
Tujuh hal kiranya patut dicatat. Pertama, bangsa kita masih membutuhkan teladan. Otonomi pribadi, dimana orang menggunakan akal budinya sendiri untuk menjalani hidup, belum bertumbuh di Indonesia. Orang masih senang menjadi pengikut, baik itu pengikut tokoh politik tertentu, artis ataupun tokoh agama. Kehadiran para bajingan politik, hukum dan agama sungguh merusak tata hidup bersama kita.
Dua, kehadiran para bajingan ini adalah tanda nyata, bahwa Indonesia mengalami krisis keteladanan. Tidak ada tokoh yang bisa menjadi panutan dalam soal cara hidup yang berkeutamaan. Padahal, keteladanan adalah salah satu pilar tertinggi di dalam pendidikan. Pendidikan Indonesia pun akhirnya melahirkan generasi cemas dan gelap.
Tiga, generasi cemas adalah generasi yang hidup di dalam ketidakpastian. Mereka diperlakukan sebagai obyek yang harus patuh buta terhadap otoritas yang tak bermutu. Mereka harus menghafal begitu banyak hal yang sungguh tak berguna untuk kehidupan, terutama di dalam pelajaran agama. Alhasil, mutu berpikir dan berperilaku, serta mutu manusia secara keseluruhan, cenderung rendah.
Empat, sudah ratusan tahun, Indonesia dicekik oleh agama kematian dari tanah gersang. Keluhuran sifat diganti dengan kemunafikan. Identitas dan budaya leluhur digantikan budaya tak beradab dari tanah gersang. Para bajingan jelas adalah buah dari cengkraman agama kematian di Indonesia yang membuat kita terus terjebak di dalam kemiskinan dan kebodohan.
Lima, ketika para bajingan menjadi tokoh masyarakat, seluruh tata kelola hidup bersama akan macet. Segala nilai akan terbalik. Sikap arogan, munafik dan premanisme akan menjadi acuan utama. Nietzsche punya istilah menarik untuk hal ini, yakni die Umwertung aller Werte, atau pembalikan semua nilai yang akhirnya merusak kehidupan itu sendiri.
Enam, filsafat, sebagai ilmu untuk memahami kenyataan secara kritis, rasional dan sistematis, bisa menjadi jalan keluar. Filsafat bisa membangkitkan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap budaya bajingan yang menyebar di Indonesia. Filsafat, dengan kekuatan akal sehat, bisa menantang agama kematian dengan segala sesat pikirnya. Satu catatan penting: filsafat tidak boleh dikawinkan, atau menjadi budak, dari agama tertentu, karena itu akan membunuh daya kritis dan rasionalnya.
Tujuh, namun, filsafat tidak cukup untuk membawa kemajuan untuk semua. Filsafat masih terjebak pada akal budi yang bersifat dualistik. Transformasi kesadaran amat dibutuhkan, supaya orang sungguh melihat dirinya sebagai bagian tak terpisahkan dari alam semesta, dan menyadari jati dirinya yang asli. Buku ini kiranya bisa sangat membantu: https://rumahfilsafat.com/buku-teori-transformasi-kesadaran-teori-tipologi-agama/
Keteladanan ala para bajingan adalah kemunafikan tertinggi itu sendiri. Ini sudah merasuk dalam ke batin manusia Indonesia, mulai dari pimpinan tertinggi, sampai supir mobil mewah yang tak tahu diri. Jika dibiarkan, seluruh bangunan politik bernama Indonesia bisa hancur lebur. Perang saudara dan perpecahan berdarah sudah di depan mata.
Apakah ini yang kita inginkan?
===
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

