Kisah “Kasih” Jono dan Sinta

http://maa9.files.wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Namanya adalah Jono. Ia tinggal di sebuah kota besar di Indonesia. Sama seperti banyak anak remaja lainnya, Jono punya banyak teman, baik di sekolah, maupun di kampung tempat tinggalnya. Sejak SMP, ia sering berkumpul bersama teman-temannya.

Di waktu senggang, mereka merokok bersama. Siapa yang tidak merokok akan dianggap lemah, cemen. Jono pun ikut merokok. Ia membeli rokok dari uang jajan yang diberikan oleh orang tuanya, atau meminta dengan paksa dari adik kelasnya yang lebih lemah. Lanjutkan membaca Kisah “Kasih” Jono dan Sinta

Extension Course Filsafat: Relativisme dan Hati Nurani

Narkoba,

Korupsi,

Kekerasan Jaman Ini,

Kehamilan di luar nikah,

Kerusakan Lingkungan yang akut,

Puaskah Anda dengan moralitas jaman ini?

Tidakkah Anda tergelitik untuk mencari kepastian moral?

Anda mengalami kebimbangan nurani?

Ketika relativisme moral dan nilai-nilai menjadi bagian hidup keseharian, di sana manusia cenderung menjadi egois, semau gue, individualis, lantas pranata sosial mengalami kekaburan. Hidup publik yang nyaman dan berkeadilan sesuai martabat manusia berada dalam ancaman. Kita butuh kepastian moral dan nilai-nilai hidup bersama.

Program ini menawarkan pertemanan dan persahabatan dalam peziarahan pencarian kebenaran sebagai panduan bagi nurani Anda! Daftarkan diri Anda segera pada program Extension Course Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala! Lanjutkan membaca Extension Course Filsafat: Relativisme dan Hati Nurani

Sosok Giorgio Agamben, Filsuf Italia (1942-…)

http://www.babelio.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Lahir pada 1942, Agamben kini menjadi sosok ternama dalam konteks filsafat Italia.[1] Ia banyak menulis tentang teori-teori politik dengan menggunakan sudut pandang yang khas. Pemikirannya mempengaruhi wacana politik kontemporer di level internasional. Ia belajar filsafat dan hukum di Universitas Roma. Tesis doktoralnya berisi tentang pemikiran politik Simone Weil. Ia juga sempat belajar dari Martin Heidegger, terutama dalam kuliah-kuliah Heidegger tentang Hegel dan Herakleitos. Agamben telah mengajar di banyak universitas, terutama di Italia, Prancis, AS, dan Swiss.

Karya-karya Agamben tidak memiliki arah perkembangan ide yang jelas. Sebaliknya, ia berusaha untuk menanggapi berbagai persoalan politik yang muncul di dunia dengan cara-cara yang tak tertebak. Dalam hal ini, ia banyak terinspirasi dari gaya pemikiran Walter Benjamin, filsuf asal Jerman yang hidup pada awal abad 20. Di sisi lain, Agamben juga banyak mengambil inspirasi dari pemikiran Heidegger, Carl Schmidt, Aristoteles, Hannah Arendt, dan Hegel.[2] Tidak hanya dari dunia filsafat, Agamben juga banyak mempelajari karya-karya sastra Eropa, seperti yang telah ditulis oleh Kafka, Dante, dan Caproni. Lanjutkan membaca Sosok Giorgio Agamben, Filsuf Italia (1942-…)

Menciptakan Perdamaian yang Sejati

http://unitedworldpeace.com

Komentar Kontekstual Indonesia

atas “Lima Pasal” Penting di dalam Buku

Toward Perpetual Peace tulisan Immanuel Kant

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

            Manusia hidup dalam lintasan konflik dan perang. Selama ratusan tahun sebelum Masehi, kekaisaran Romawi kuno menjajah Eropa dan Afrika Utara. Orang-orang yang kalah perang diperbudak, atau dijadikan gladiator yang siap mempertaruhkan nyawa untuk sekedar menghibur warga Roma. Anak-anak dan perempuan dijadikan budak yang siap ditukarkan dengan emas dan uang untuk membiayai perang kekaisaran. Di abad 15-19, negara-negara Eropa juga melakukan penjajahan di seluruh dunia. Begitu banyak korban jiwa berjatuhan. Kekayaan alam yang begitu besar diperas, sementara warga setempat tetap hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika yang terjajah, termasuk Indonesia, kebodohan dan kemiskinan adalah fakta nyata yang selama berabad-abad mengancam.

            Di sisi lain, sepanjang abad 20 dan awal abad 21, Amerika Serikat, yang mendaku dirinya sebagai negara adidaya, memaksakan kepentingan politiknya ke seluruh dunia. Negara-negara yang menolak untuk patuh bisa mengalami hukuman ekonomi, bahkan aksi militer yang memakan begitu banyak korban jiwa, dan hancurnya begitu banyak harta benda. Otonomi nasional negara-negara di dunia untuk menentukan kebijakan nasional dan internasionalnya menjadi relatif di hadapan kekuasaan Amerika Serikat. Korea, Vietnam, Afganistan, dan Irak adalah contoh-contoh nyata, bagaimana agresi militer bisa digunakan untuk memaksakan kepentingan politik dengan mengabaikan semua prinsip-prinsip politik peradaban modern, seperti otonomi nasional, dan keadilan internasional. Lanjutkan membaca Menciptakan Perdamaian yang Sejati

Negara Hukum Rimba

gtwallpaper.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Di Indonesia, kita hidup selalu dalam situasi ekstrem. Ketika Orde Baru berkuasa, tatanan politik dipaksa untuk stabil oleh militer. Stabilitas politik tercipta, namun memang bersifat semu dan sementara, karena berada di bawah todongan senjata. Kini di era Reformasi, kita hidup dalam anarki. Ketidakpastian menjadi raja, dan stabilitas nyaris hanya menjadi cita-cita.

Krisis Bangsa

Pelanggaran hukum terjadi setiap saat, namun hukuman yang menjamin keadilan tak kunjung datang. Pencuri terus mencuri, dan lolos dengan menyuap para penegak hukum. Provokator massa justru dijunjung tinggi, karena ia bergerak atas nama agama. Perusak kehidupan ratusan ribu orang kini justru mencalonkan diri menjadi pemimpin bangsa. Lanjutkan membaca Negara Hukum Rimba

Indonesia atau “Alaynesia”?

kidsklik.com

Diskursus tentang Bahasa “Alay”

Buletin Cogito Fakultas Filsafat Mei 2012

 

Oleh

Irini Santa Melania

Andreas Ideanov

Yohanes Fakundus

Reza A.A Wattimena (ed)

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

 

Seringkali kita mendengar kata “alay” dalam percakapan sehari-hari, terutama dalam kalangan remaja. Walaupun kita sering mendengar, itu tidak langsung membuat kata ”alay” dipahami. Kata ”alay” memang berasal dari ”dunia gaul”. Namun bahasa dalam dunia gaul memang tidak memiliki asal dan aturan yang pasti, sehingga pengertiannya pun seringkali tidak jelas. Akibatnya, muncul banyak jawaban tentang arti dan asal kata ”alay” ini. Ada banyak singkatan yang muncul dari ”alay” seperti anak layangan, anak kelayapan (baca: jarang pulang), anak layu ataupun anak lebay (baca: berlebihan).

Secara umum bahasa ”alay” dianggap sebagai suatu bahasa yang terlalu melebih-lebihkan. Namun, pengertian negatif terhadap bahasa ”alay” sebaiknya ditangguhkan terlebih dahulu. Tentunya kita akan mengalami kesulitan untuk memahami sesuatu, bila langsung diawali dengan prasangka yang buruk. Bahasa ”alay” akan dibahas bukan sebagai bahasa yang terlalu berlebihan, tetapi sebagai suatu bahasa inovatif yang muncul dari kaum muda. Alasan disebut inovatif, karena menambahkan unsur ekspresi, itu menunjukan jati diri remaja, dan indikator perkembangan bahasa. Lanjutkan membaca Indonesia atau “Alaynesia”?

Jalan Berliku menuju Perdamaian Abadi

wikimedia.org

Pandangan Immanuel Kant

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Immanuel Kant adalah seorang filsuf Jerman yang lahir di Königsberg pada 1724.[1] Pada waktu itu, Jerman masih berbentuk Kerajaan Prussia. Sedangkan Königsberg secara tepat terletak di Prussia Timur. Ia mendapatkan pendidikan di sekolah lokal, dan dari 1747-1754, ia mulai bekerja sebagai tutor pribadi.[2] Pada masa-masa itu, Kant menulis dua disertasi. Dengan ini, ia bisa mengajar sebagai instruktur yang tidak memiliki gaji tetap di Universitas Königsberg. Di sana, ia mengajar beragam mata kuliah, mulai dari matematika, filsafat, dan ilmu-ilmu alam. Ia hidup dari uang yang diberikan murid-muridnya, dan dari buku-buku yang ditulisnya tentang filsafat dan ilmu-ilmu alam pada masa itu.

Ia bercita-cita untuk menjadi professor filsafat di Königsberg. Sebelumnya, ia sudah mendapatkan beberapa tawaran bekerja. Akan tetapi, ia menolak semua tawaran itu. Akhirnya pada 1770, Kant menjadi professor Logika dan Metafisika di Universitas Königsberg.[3] Inilah masa, di mana Kant menjalani dekade-dekade sunyi (silent decades). Ia  hampir tidak menerbitkan karya apapun. Rupanya, ia fokus untuk menyempurnakan argumennya, yang nanti akan tertuang di dalam tiga buku yang mengubah sejarah filsafat, yakni Critique of Pure Reason, Critique of Practical Reason, dan Critique of Judgment. Di dalam Critique of Pure Reason, Kant menyelidiki batas-batas dari pengetahuan manusia.[4] Pendekatannya disebut dengan filsafat kritis. Dengan metode ini, ia “berhasil” menjelaskan, bahwa akal budi manusia secara aktif ikut serta dalam terciptanya pengetahuan mannusia, dan, dengan itu, memberikan batas yang tegas pada pengetahuan metafisis manusia. Pandangan ini kemudian dijelaskan lebih jauh di dalam bukunya yang berjudul Prolegomena (1783). Kant langsung menjadi terkenal sebagai seorang filsuf besar pada masa itu.[5]   Lanjutkan membaca Jalan Berliku menuju Perdamaian Abadi

Buku Filsafat Terbaru: Filsafat Pra Skolastik Eropa

Buku Filsafat Terbaru:

Filsafat Pra Skolastik Eropa

Pengenalan Singkat Sejarah Filsafat Abad Pertengahan

ISBN: 978-602-19758-7-9

Tulisan:

Ramon Nadres

Dr. Ramon Antonio Eguia Nadres lahir die Quezon City, Filipina. Ia meraih gelar sarjana di bidang Zoologi pada 1981 di University of the Philippines. Ia kemudian menyelesaikan studi sarjana di bidang filsafat dari Pontifical University of the Holy Cross di Roma pada 1987. Ia mendapatkan gelar Licentiate in Philosophy dari Universitas Navarre di Pamplona, Spanyol, pada 1998. Pada 2009 ia berhasil mempertahankan disertasi doktoral dengan judul La Memoria en Santo Tomás de Aquino: Fuentes y Originalidad  di universitas yang sama. Saat ini ia bekerja sebagai dosen di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Indonesia.   Lanjutkan membaca Buku Filsafat Terbaru: Filsafat Pra Skolastik Eropa

Filsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Demokrasi Kita

humansoul.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Filsafat adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan. Ini adalah pernyataan faktual historis. Selama lebih dari 2500 tahun, filsafat mewarnai pemikiran dan kebudayaan Eropa, dan nantinya mempengaruhi seluruh dunia, seperti kita rasakan sekarang ini. Oleh karena itu, sampai sekarang, gelar pendidikan tertinggi masih menggunakan kata Philosophy Doctor (Ph.D) di negara-negara berbahasa Inggris, atau Doktor der Philosophie (Dr. phil) di negara-negara berbahasa Jerman.

Di sisi lain, walaupun sumbangannya dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia tak bisa lagi diragukan, filsafat, sebagai displin akademik, terutama di Indonesia, mendapat amat sedikit perhatian. Beberapa orang berpikir, bahwa filsafat adalah sejenis mistik, dan terkait dengan dunia perdukunan. Beberapa orang lain berpikir, bahwa filsafat adalah hamba agama, maka harus selalu dipelajari dalam kaitan dengan agama. Tempat terhormat yang dulu diduduki filsafat, sebagai alat utama manusia untuk memahami dunia, kini digantikan oleh ilmu pengetahuan. Lanjutkan membaca Filsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Demokrasi Kita

Mengapa Kita Perlu Belajar Filsafat?

http://www.prorebel.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Pernahkah anda bertanya dalam hati, apa tujuan hidup ini? Atau mengajukan pertanyaan, mengapa saya ada? Memang, agama memberikan jawaban. Namun, apakah anda puas dengan jawaban yang diberikan agama?(1)

Jika anda tidak puas dengan jawaban dari agama, ataupun dari tradisi anda, maka belajar filsafat adalah sesuatu yang mesti anda lakukan. Setidaknya dengan mempelajari filsafat, anda bisa menemukan metode yang lebih tepat untuk memahami dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tersebut. Lanjutkan membaca Mengapa Kita Perlu Belajar Filsafat?

Berpikir Kritis bersama Pierre Bourdieu

guim.co.uk

Filsuf dan Sosiolog asal Prancis

Oleh Reza A.A Wattimena

            Pierre Bourdieu adalah seorang pemikir Prancis yang hendak memahami struktur sosial masyarakat, sekaligus perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalamnya. Baginya, analisis sosial selalu bertujuan untuk membongkar struktur-struktur dominasi ekonomi maupun dominasi simbolik dari masyarakat, yang selalu menutupi ketidakadilan di dalamnya. Untuk itu, ia mengembangkan beberapa konsep yang diperolehnya dari analisis data sosiologis, sekaligus pemikiran-pemikiran filsafat yang ia pelajari.

            Pierre Bourdieu lahir pada 1 Agustus 1930 di Denguin, Prancis. Ia meninggal pada 23 Januari 2002 di Paris, Prancis.[1] Ia dikenal sebagai seorang intelektual publik yang lahir dari pengaruh pemikiran Emile Zola dan Jean-Paul Sartre. Konsep-konsep yang ia kembangkan amat berpengaruh di dalam analisis-analisis sosial maupun filsafat di abad 21. Sebelum meninggal, ia mengajar di lycée di Moulins (1955–58), University of Algiers (1958–60), University of Paris (1960–64), École des Hautes Études en Sciences Sociales (dari 1964), dan Collège de France (1982).

            Di Prancis, ia mendirikan Centre for the Sociology of Education and Culture. Dia sudah menulis beberapa buku, antara lain Sociologie de l’Algérie (1958; The Algerians, 1962), La Distinction (1979; Distinction, 1984), Le Sens pratique (1980; The Logic of Practice, 1990), La Noblesse d’état (1989; The State Nobility, 1996), and Sur la télévision (1996; On Television, 1998). Tema-tema bukunya berkisar kritik terhadap konsep sekaligus praktek ekonomi neoliberal, globalisasi, elitisme intelektual, dan televisi. Lanjutkan membaca Berpikir Kritis bersama Pierre Bourdieu

Filsafat “Rok Mini” Martin Heidegger

http://philossophy.files.wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Perempuan tampaknya memang tak pernah menjadi “tuan” atas tubuhnya. Beberapa kelompok masyarakat mewajibkan perempuan mengurung tubuhnya atas nama moralitas. Sementara, beberapa kelompok masyarakat lain mewajibkan perempuan membuka tubuhnya atas nama keindahan dan seni. Adakah yang pernah bertanya, apa sebenarnya yang diinginkan perempuan dengan tubuhnya? Permasalahan ini kembali muncul dalam kontroversi rok mini yang baru-baru ini terjadi. “Kasus rok mini” lahir dari gedung DPR, dan dari pernyataan gubernur Jakarta. Ketua DPR Marzuki Alie dari fraksi Partai Demokrat menyatakan, bahwa penggunaan rok mini bisa menimbulkan pelecehan seksual.

Fauzi Bowo, Gubernur Jakarta, juga pernah memberi pernyataan, bahwa orang yang naik angkot, dan kemudian menggunakan rok mini, pasti akan menimbulkan kegerahan dari yang melihatnya. Walaupun akhirnya meminta maaf, pernyataan tersebut sudah menempatkan perempuan sekali lagi sebagai “budak” dari tubuhnya sendiri. Pada hemat saya, pandangan Martin Heidegger tentang teknologi, terutama cara berpikirnya, bisa menerangi permasalahan sebenarnya terkait dengan “kasus rok mini” di atas. Lanjutkan membaca Filsafat “Rok Mini” Martin Heidegger

Untuk Para Pendidik: Publikasi Karya, atau Punah…

technorati.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Publish or perish, publikasikan karya, atau punah, itulah semboyan seorang pendidik dan peneliti. Sebagai seorang pendidik, kita punya kewajiban moral dan legal untuk menulis. Menulis itu berarti terutama menulis buku teks, atau menerbitkan karya penelitian yang telah dilakukan.

Menulis itu mengabdi pada tiga tujuan. Yang pertama adalah dengan menulis (buku teks), kita sebagai pendidik bisa membantu proses belajar peserta didik. Mereka memiliki panduan yang jelas tentang apa yang mereka pelajari. Mereka juga mendapatkan pengetahuan tentang kompetensi macam apa yang nantinya mereka dapatkan.

Sebagai peneliti, publikasi adalah jembatan antara peneliti dan masyarakat luas. Masyarakat luas bisa mendapatkan banyak hal berguna dari karya penelitian yang dipublikasikan. Di sisi lain, pemerintah juga memiliki sumber data maupun analisis yang kuat untuk membuat kebijakan-kebijakan publik yang bermutu. Lanjutkan membaca Untuk Para Pendidik: Publikasi Karya, atau Punah…

Filsafat Tata Kota

http://www.sanya.gov.cn

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Sekarang ini di Indonesia, segala sesuatu harus dikelola secara demokratis. Artinya segala sesuatu sungguh harus dibicarakan bersama, lalu keluar keputusan dari proses pembicaraan tersebut. Keputusan tersebut akan mengikat semua pihak yang sebelumnya bersama-sama berdiskui untuk membuatnya. Inilah mekanisme standar demokrasi yang kini menjadi paradigma dunia.

Kegagalan menciptakan tata kelola demokratis akan menciptakan ketidakpatuhan sah (legitimate disobedience). Artinya ketidakpatuhan pada suatu keputusan ataupun kebijakan, atas dasar rasionalitas yang bisa diterima dengan akal sehat. Ketidakpatuhan muncul, karena orang tidak diajak ambil bagian dalam keputusan yang telah dibuat.

Sekarang ini Jakarta sebagai ibu kota Indonesia sedang mencari pemimpin yang baru. Jelas pemimpin yang baru ini harus terbiasa dengan tata kelola demokratis, sebagaimana saya jabarkan sebelumnya. Ia harus mampu mengajak berbagai pihak di Jakarta untuk bekerja sama menghadapi permasalahan-permasalah kota yang memang amat rumit. Jakarta yang baru, yang lebih baik, harus dikelola secara demokratis dengan melibatkan berbagai pihak yang ada di dalamnya. Lanjutkan membaca Filsafat Tata Kota

Buku Bajakan di Alam Demokrasi

www-lacrosselibrary.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Bolehkah saya membaca buku-buku bajakan yang bisa dengan mudah diperoleh di internet dalam bentuk soft copy? Kalau boleh mengapa? Kalau tidak mengapa? Bukankah informasi dan pengetahuan itu untuk semua orang, sehingga bisa diakses oleh siapapun? Namun di sisi lain, bukankah buku itu adalah karya cipta seseorang yang berhak mendapatkan penghargaan atas karyanya tersebut? Kalau kita mengunduh secara gratis sebuah buku, bukankah kita melanggar hak si pengarang untuk mendapatkan penghargaan atas usaha kreatifnya menulis buku?

Pro Kontra

Di dalam salah satu eseinya yang berjudul The Ethics of Internet Piracy, Peter Singer mencoba menganalisis masalah ini. Ia membuat alur berpikir berikut. Bayangkan jika saya mencuri buku dari orang lain, maka orang itu akan mengalami kerugian. Saya untung, tetapi ia rugi. Ini jelas salah, dan tidak boleh dilakukan. Lanjutkan membaca Buku Bajakan di Alam Demokrasi

Mengubah Paradigma Pendidikan di Indonesia

http://blogs.tribune.com.pk

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Sudah lama di Indonesia, profesi guru dan dosen dianggap sebagai profesi kelas dua. Mereka yang memiliki kompetensi tinggi justru lebih ingin menjadi praktisi bisnis, insinyur, ataupun dokter. Sementara, orang-orang yang kebingungan mau jadi apa nantinya justru memasuki sekolah-sekolah pendidikan. Pandangan ini jelas salah, dan perlu diubah.

Di sisi lain, salah satu akar utama masalah pendidikan di Indonesia adalah lemahnya otoritas pendidikan yang ada. Dalam arti ini, lemah berarti otoritas tersebut tidak memiliki konsep pendidikan yang jelas, dan sembarangan mengeluarkan kebijakan yang justru kontra produktif bagi pengembangan pendidikan. Saya yakin jika para petinggi pendidikan di Indonesia ditanya, apa arti pendidikan, mereka tidak akan mampu menjawab secara jelas dan tepat. Lanjutkan membaca Mengubah Paradigma Pendidikan di Indonesia

Noam Chomsky, Filsuf Sekaligus Aktivis Politik

http://cdn.nyulocal.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya MAndala Surabaya

            Noam Chomsky (1928-…) dikenal sebagai seorang filsuf politik, sekaligus aktivis sosial politik di Amerika Serikat.[1] Saat ini, ia berkarya sebagai professor linguistik di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat. Walaupun seorang ahli linguistik, filsafat bahasa, Chomsky kini justru menjadi seorang intelektual publik yang paling tajam melakukan kritik terhadap kebijakan luar negeri pemerintah Amerika Serikat. Jadi, di satu sisi, ia adalah seorang ahli bahasa. Namun, di sisi lain, ia adalah seorang tokoh politis yang berpengaruh besar di Amerika Serikat, dan seluruh dunia. Pada hemat saya, ini adalah perpaduan yang amat unik, dan amat jarang ditemukan.[2] Chomsky, sebagaimana ditulis oleh Garland, juga adalah seorang kritikus yang amat tajam atas berbagai upaya Amerika Serikat untuk menguasai (baca=hegemoni) dunia, serta agenda-agenda politik ekonomi neoliberalisme yang disebarkannya.

Ia menegaskan, bahwa ideologi dan motivasi dominatif tersebut akan menciptakan kesenjangan sosial yang semakin besar antara kelas berpunya (minoritas) dan kelas yang tak berpunya (mayoritas).[3] Kritik Chomsky bukanlah sebuah kritik kosong. Setelah 2008 lalu, kritiknya terbukti, dan Amerika Serikat memasuki masa resesi (sampai 2012 sewaktu tulisan ini dibuat) yang belum jelas kapan dan bagaimana berakhirnya.[4] Di sisi lain, ia juga amat tajam melakukan kritik terhadap media massa-media massa raksasa di Amerika Serikat, terutama karena mereka sering memberitakan hal-hal tertentu yang menciptakan “opini publik yang direkayasa” (manufactured public opinion) untuk membenarkan kepentingan-kepentingan sistem ekonomi pasar bebas kapitalisme, dan pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari sistem tersebut.[5]  Lanjutkan membaca Noam Chomsky, Filsuf Sekaligus Aktivis Politik

Empat Pilar Demokrasi untuk Indonesia

chadvice.files.wordpress.com/

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Perbedaan masih seringkali memicu konflik, bahkan konflik berdarah, di masyarakat kita. Perbedaan suku, ras, agama, dan cara hidup seringkali menajamkan prasangka yang berujung pada kekerasan antar manusia. Feodalisme politik masih tercium di udara. Orang menjadi penguasa bukan karena kemampuan nyatanya, melainkan karena kedekatannya dengan kekuasaan yang ada, dan kemampuannya melakukan manuver-manuver politis yang penuh tipu daya semata.

Di sisi lain, banyak kebijakan lahir dari mekanisme-mekanisme yang rahasia dan tidak masuk akal, seperti kebijakan Ditjen DIKTI yang secara tiba-tiba mengeluarkan aturan tentang penerbitan dan publikasi jurnal ilmiah di Indonesia, sampai dengan perpindahan tiba-tiba Angelina Sondakh, tersangka kasus korupsi, ke salah satu komisi di DPR yang mengurus anggaran. Pada saat yang sama, mayoritas rakyat dibuai dengan konsumsi, dan lupa tanggung jawab mereka sebagai warga negara untuk mengawasi kekuasaan. Barang-barang hasil produksi sistem ekonomi kapitalisme menutup mata mereka dari kebenaran “hitam” politis yang sebenarnya terpampang di depan mata. Lanjutkan membaca Empat Pilar Demokrasi untuk Indonesia

Relativisme dan Hati Nurani

http://brightmorningstar.blog.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Tema Extension Course Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya Agustus-Desember 2012

Dalam salah satu tayangan televisi swasta, seorang remaja perempuan diwawancarai. Pertanyaannya begini, bagaimana pendapat anda tentang kasus korupsi yang kini tengah menjadi perhatian masyarakat Indonesia?

Jawab si remaja perempuan, “yah. Korupsi itu sih emang salah. Tapi kan tergantung orangnya. Korupsi itu kan relatif. Tiap orang punya pendapatnya sendiri-sendiri. Ga ada yang bener dan ga ada yang salah.” Jawaban yang amat mengagetkan. Remaja perempuan tersebut tidak mampu memberikan pertimbangan moral atas tindakan korupsi yang kini menjadi akar dari pelbagai permasalahan di Indonesia.

Jawaban tersebut sebenarnya hanya puncak gunung es dari permasalahan yang lebih dalam, yakni badai relativisme yang kini melanda masyarakat kita, terutama anak muda. Relativisme membawa orang pada kebingungan, dan akhirnya pembiaran serta ketidakpedulian terhadap berbagai tindakan yang bisa merugikan orang lain, atau merugikan kepentingan bersama. Namun apakah yang sesungguhnya dimaksud dengan relativisme? Saya akan coba jelaskan lebih jauh.     Lanjutkan membaca Relativisme dan Hati Nurani

Korupsi dan Transendensi Diri

http://rszyszka.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

 

Akar dari sikap korup adalah sisi-sisi gelap manusia sendiri yang telah ditolak dan disangkal, sehingga kini merangsek keluar tanpa bisa dikontrol, bahkan oleh manusia itu sendiri. Untuk itu dihadapan fenomena korupsi, saya ingin mengajukan empat hal yang bisa dilakukan, supaya sebagai bangsa, kita bisa “melampaui” korupsi. Sebelum itu saya akan memetakan masalah korupsi yang menjadi tantangan utama banyak negara sekarang ini.

Gelombang Kekecewaan

Di Indonesia kita sudah cukup sadar, bahwa korupsi terus terjadi, karena sistem hukum kita amat lemah. Hukum berpihak pada siapa yang kuat secara politis dan ekonomi. Bagi yang rakyat kebanyakan, keadilan hanya berupa janji yang tak kunjung terwujud. Mereka pun jadi korban korupsi, korban ketidakadilan, dan semakin sulit hidupnya dari hari ke hari. Lanjutkan membaca Korupsi dan Transendensi Diri