Relativisme dan Hati Nurani

http://brightmorningstar.blog.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Tema Extension Course Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya Agustus-Desember 2012

Dalam salah satu tayangan televisi swasta, seorang remaja perempuan diwawancarai. Pertanyaannya begini, bagaimana pendapat anda tentang kasus korupsi yang kini tengah menjadi perhatian masyarakat Indonesia?

Jawab si remaja perempuan, “yah. Korupsi itu sih emang salah. Tapi kan tergantung orangnya. Korupsi itu kan relatif. Tiap orang punya pendapatnya sendiri-sendiri. Ga ada yang bener dan ga ada yang salah.” Jawaban yang amat mengagetkan. Remaja perempuan tersebut tidak mampu memberikan pertimbangan moral atas tindakan korupsi yang kini menjadi akar dari pelbagai permasalahan di Indonesia.

Jawaban tersebut sebenarnya hanya puncak gunung es dari permasalahan yang lebih dalam, yakni badai relativisme yang kini melanda masyarakat kita, terutama anak muda. Relativisme membawa orang pada kebingungan, dan akhirnya pembiaran serta ketidakpedulian terhadap berbagai tindakan yang bisa merugikan orang lain, atau merugikan kepentingan bersama. Namun apakah yang sesungguhnya dimaksud dengan relativisme? Saya akan coba jelaskan lebih jauh.    

Relativisme

Relativisme adalah suatu paham yang terdiri dari beragam argumen.[1] Di balik beragam argumen tersebut, ada satu yang sama, yakni bahwa realitas, dan seluruh aspeknya, termasuk pikiran, moralitas, pengalaman, dan penilaian manusia, tidaklah mutlak, melainkan relatif posisinya pada sesuatu yang lain.

Yang paling sering ditemukan adalah relativisme dalam bidang moral. Argumen yang sering muncul adalah, apa yang baik dan buruk itu amat relatif pada kultur setempat. Di satu tempat satu tindakan dianggap baik. Sementara di tempat lain, tindakan yang sama dianggap tidak baik.

Argumen-argumen relativisme sering membawa kita pada akhir yang membingungkan, karena kita seolah tidak lagi bisa memutuskan secara pasti apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan apa yang salah. Namun relativisme jelas memiliki pesonanya sendiri yang memikat para pemikir dunia, dan tak bisa begitu saja diabaikan.

Nuansa relativistik bisa kita temukan hampir di setiap aliran filsafat. Tentu saja dalam beberapa hal, seperti dalam upaya memahami budaya masyarakat lain, nuansa relativistik semacam itu amatlah berguna, sehingga kita tidak memutlakkan nilai-nilai yang kita miliki.

Nuansa relativistik juga bisa ditemukan di dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan, terutama dalam konsep paradigma yang dirumuskan Thomas Kuhn, maupun konsep “inkomensurabilitas”, yang juga berarti tak terbandingkan, yang dirumuskan oleh Ludwig Wittgenstein.[2]

Filsafat posmodern juga dengan tegas menyebarkan nuansa relativisme atas nama kebebasan dan ekspresi diri. Di dalam sejarah filsafat, sudah sejak masa Yunani Kuno, kaum Sofis yang memegang erat relativisme bertarung argumentasi dengan Sokrates di pasar-pasar kota Athena.

Pada level etika (filsafat moral), relativisme juga memiliki pengaruh besar. Pandangan ini mempertanyakan keabsahan tolok ukur moral dan hukum yang telah berlaku lama di masyarakat. Apa yang baik dan apa yang benar digoyang, dan dipertanyakan ulang.

Pada satu sisi proses ini sebenarnya amat baik, sehingga seluruh masyarakat bisa merefleksikan ulang nilai-nilai yang mereka anut. Namun pada sisi lain, proses ini menciptakan ketidakpastian yang membawa orang pada kebingungan dan anarki sosial. Di dalam ranah ilmu pengetahuan, relativisme menggoyang arti obyektivitas ilmiah yang selama beradab-abad menjadi tolok ukur dari penelitian ilmiah di berbagai bidang keilmuan.

Relativisme berpijak pada satu pengandaian dasar, bahwa manusia adalah mahluk yang terikat dengan akar historis dan budaya, sehingga ia tidak pernah bisa sampai pada kebenaran yang bersifat universal.

Pengandaian ini sangat masuk akal, berjalan searah dengan paham relativisme, dan jelas tidak bisa diabaikan begitu saja. Semua upaya untuk memberi pendasaran pada kemampuan manusia untuk sampai pada kebenaran universal tidak bisa mengabaikan begitu saja argumen-argumen relativisme yang, harus diakui, amat memikat.

Di dalam filsafat bahasa, manusia dianggap sebagai mahluk yang sudah selalu tertanam pada bahasa tertentu, dan tidak bisa begitu saja melepaskan bahasanya untuk memahami dan menjelaskan “kebenaran universal”. Paham-paham lain seperti pluralisme (hidup bersama dalam perbedaan tata nilai) dan konstruktivisme (realitas adalah bentukan pikiran manusia) juga kental dengan nuansa relativisme di jantung argumennya.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, ada satu kelemahan yang amat mendasar dari relativisme, yakni paham tersebut mengajak kita memasuki alam ketidakpastian eksistensial diri dan anarki sosial, karena tidak ada lagi satu pijakan bersama yang mendasari makna hidup maupun relasi-relasi sosial politik masyarakat.

Dari dua hal itu, yakni ketidakpastian makna hidup dan anarki sosial, kita bisa menurunkan banyak sekali hal-hal negatif, mulai dari kecenderungan bunuh diri yang amat tinggi di dalam masyarakat modern, negara otopilot di mana pemerintah tak lagi memegang otoritas yang diberikan kepadanya, sampai dengan anarki sosial yang menciptakan kekacauan serta beragam kejahatan lainnya, seperti penjarahan, pemerkosaan, penghancuran, pembunuhan, dan sebagainya.

Relativisme sebenarnya juga memiliki wajah positif. Paham ini mengajak kita memikirkan ulang nilai-nilai yang kita anut selama ini, baik sebagai pribadi maupun masyarakat, dan bertanya, apakah nilai-nilai yang kita anut masih relevan untuk menanggapi perubahan jaman yang terus terjadi?

Relativisme menjauhkan kita dari sikap otoriter dan terburu-buru di dalam membuat penilaian. Jika dipergunakan secara tepat, relativisme bisa membawa kita pada kebenaran yang lebih dalam, dan memastikan keadilan bisa terwujud di dalam kehidupan.

Di dalam tekanan dua sisi relativisme, bahwa kita tidak bisa hidup tanpanya, tetapi juga tak bisa hidup bersamanya, apa yang mesti kita lakukan? Bisakah “kembali hati nurani kita sebagai manusia” menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut? Namun apakah yang dimaksud dengan hati nurani?

 

Hati Nurani

Hati nurani adalah kemampuan manusia untuk melihat ke dalam dirinya, dan membedakan apa yang baik dan apa yang buruk.[3] Lepas dari segala kekurangan dan cacatnya, manusia adalah mahluk yang mampu menentukan apa yang harus, yang baik, dilakukan, dan membuat keputusan berdasarkan pertimbangannya tersebut.

Melatih dan mengembangkan kepekaan hati nurani adalah bagian dari keutamaan moral yang dianggap luhur oleh berbagai filsuf di dalam sejarah. Salah satunya adalah filsuf Eropa yang bernama Bonaventura.

Bonaventura berpendapat hati nurani manusia terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah bagian dari hati nurani yang secara alamiah bisa sampai pada kebenaran-kebenaran dasar dalam hidup manusia, seperti kebenaran yang terkandung pada perintah-perintah moral dasar; hormati orang tuamu, dan jangan menyakiti mahluk hidup lain.

Setiap orang bisa sepakat tentang hal ini, karena ini tertanam jauh di dalam diri manusia. Bahkan manusia-manusia yang sudah “korup” sekalipun tetap bisa mengenali, bahwa ini adalah perintah-perintah moral yang layak untuk dipatuhi.

Bagian kedua dari hati nurani adalah kemampuannya untuk menerapkan perintah-perintah moral di atas di dalam konteks kehidupan sehari-hari manusia. Bagian kedua ini juga merupakan bagian yang alamiah dari hati nurani manusia, walaupun bisa mengalami kesalahan, karena berbagai hal, seperti kurangnya informasi, ataupun kesalahan penarikan kesimpulan di dalam berpikir. Dua hal inilah yang menurut Bonaventura menjadi awal dari kejahatan.

Berpijak pada dua bagian dari hati nurani tersebut, Bonaventura menegaskan, bahwa manusia perlu terus untuk mengembangkan kepekaan hati nuraninya, terutama bagian kedua dari hati nuraninya, supaya ia tidak terjebak pada perilaku-perilaku jahat. Ia perlu untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, sebelum membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya, apalagi yang secara langsung berdampak pada orang lain.

Ia juga perlu untuk berlatih berpikir logis, kritis, reflektif, dan analitis di dalam memahami dunia, sehingga tidak terjebak dalam penarikan kesimpulan yang salah. Dalam arti ini menurut Bonaventura, hati nurani manusia adalah sesuatu yang dinamis, yang bisa berkembang seturut dengan upaya dari manusia terkait.

Filsuf Eropa lainnya, Thomas Aquinas, memiliki pandangan tentang hati nurani yang lebih bersifat rasional. Baginya hati nurani adalah penerapan dari pengetahuan rasional manusia ke dalam tindakan.

Pengetahuan ini diperoleh manusia dari kodrat alamiah manusia yang selalu mengarahkannya pada kebenaran dan kebaikan. Pengetahuan ini lalu diterapkan dalam pelbagai konteks kehidupan manusia.

Setiap orang memerlukan keutaman yang tepat untuk bisa menerapkan pengetahuan hati nuraninya di dalam berbagai konteks kehidupan yang amat dinamis. Salah satunya yang cukup penting, menurut Aquinas, adalah sikap bijaksana, atau yang disebutnya sebagai prudence.

Di tengah himpitan relativisme, yang sekaligus baik namun juga berpotensi besar untuk merusak kehidupan, apa yang bisa disumbangkan oleh pemahaman kita tentang hati nurani? Mampukah hati nurani kita sebagai manusia menjadi makna hidup pribadi di tengah badai relativisme dewasa ini?

Mampukah hati nurani kita sebagai manusia memberikan titik pijak untuk bisa hidup bersama dalam keadilan, harmoni, dan kemakmuran? Bagaimana cara mengasah kepekaan hati nurani? Ataukah ada alternatif selain berpijak pada hati nurani kita sebagai manusia? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang masih perlu terus menjadi pergulatan kita bersama di dalam Extension Course dan Simposium Filsafat ini.


[1] Saya mengikuti uraian dari Stanford Encyclopedia of Philosophy, http://plato.stanford.edu/entries/relativism/ diakses pada Jumat 24 Februari 2012 pk. 7.05

[2] Wattimena, Reza A.A., Filsafat Ilmu Pengetahuan, Sebuah Pendekatan Kontekstual, Pustakamas, Surabaya, 2011.

[3] Untuk selanjutnya saya mengikuti uraian dari http://plato.stanford.edu/entries/conscience-medieval/ diakses pada 25 Februari 2012 pk. 8.57.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

26 tanggapan untuk “Relativisme dan Hati Nurani”

  1. Cukup menarik. Biasanya hati nurani ditutupi oleh mekanisme pertahanan diri yaitu ego, saat itu sudah kuat maka hati nurani bisa jarang muncul, melepaskan mekanisme pertahanan diri secara keseluruhan bukan hal yang bijaksana karena ancaman dari luar, bisa besar. Melepaskan mekanisme pertahanan diri pada hal-hal yang substansial tetap diperlukan untuk menjaga hati nurani tetap ada, bisa dengan cinta. Permasalahan yang paling substansial adalah ketika pribadi berujung pada apa yang dilakukannya dianggap benar yang tidak lepas dari mekanisme pertahanan diri, psikoanalisa lacan membahas juga tentang hal apa yang etis dan mana yang tidak etis, ahkirnya etika adalah berujung pada keberanian si individu itu sendiri, apakah dia tetap pada pribadinya atau dia berani untuk berubah.

    Suka

    1. Saya setuju dengan anda. Seringkali masalah utama hati nurani adalah tembok ego individu. Dan memang yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mendengarkan hati nurani, sekaligus bertindak atas dasar hati nurani tersebut. Terima kasih atas idenya.

      Suka

  2. teori ttg hati nurani sebenarnya menurut gue gugur dlm fenomena anak autis loh,,,apakah mnurut lo anak autis bisa diajarin punya otonomi moral kaya yg diomongin Kant? atau mungkin ga mereka punya hati nurani yg bisa diasah?pertanyaan besarnya..(yg mngkin bs jg diaplikasikan ke org normal),,Apakah hati nurani (otonomi moral-nya Kant) bisa diajarkan?,,mareee dibahas di kuliah extention nya bapak dosen,,,nanti kl uda ada hasil diskusinya,,bolehh dikabarken ke saya,,,hhehehehe,,,,

    Suka

    1. Saya ikut nimbrung ya mbak biar lebih ramai. Menurut Bruno Battleheim dengan teori psikoanalisisnya yang banyak menangani anak-anak autisme, si anak meyakini bahwa ia tidak memiliki dampak apapun pada dunia, kemudian menciptakan “benteng kekosongan” autisme untuk melindungi dirinya dari penderitaan dan kekecewaan. Dari situ tidak heran dia sulit untuk empati, hati nuraninya jadi sulit digunakan. Disini pointnya yaitu perawatan-perawatan, tujuannya untuk mengembangkan berbagai kemungkinan dalam berbagai batasan, dengan kata lain mempersiapkan si anak tersebut untuk menghadapi kehidupan ketika dia dewasa sehingga dia bisa berintegrasi dalam masyarakat dengan sebaik yang dia bisa.

      Suka

      1. Saya kurang lebih setuju dengan anda. Namun menurut saya kita tetap harus memperlakukan anak autis dengan standar mereka sendiri, dan bukan dengan standar orang-orang “yang tidak autis”. Bagaimana menurut anda?

        Suka

      2. thanku buat kurniawan atas pendapatnya…saya terus terang blm membaca baik2 karya dr orang yg anda sebutkan diatas..tp kok menurut pengamatan saya selama bekerja dg anak autis (terutama yg low function),,rasanya mereka “ga sampe” untuk bisa “memunculkan” sendiri atutisme nya yaitu yg anda blg dg membuat benteng yg bs melindungi mereka dari kekecewaan. menurut saya,,,teori psikoanalisa ini lebih cocok diterapkan pada terjadinya gangguan jiwa..jd mereka menimbulkan simptom2 gangguan jiwa seperti halusinasi dan delusi untuk membentengi diri mereka dr dunia yg dianggap mengancam,,tp thanku atas pendapatnya,,,nanti saya baca2 lg dulu ttg pak Battleheim yg anda sebutkan tadi…

        Suka

      3. saya setuju dg reza kalau anak2 autis tdk dipaksakan untuk mengikuti standar “orang normal” karena memang mereka menurut saya pada hakikatnya berbeda atau special. namun, dalam soal moral dan tata krama standar, terpaksa kita mengajarkan sesuai dg apa yg sudah berlaku umum contohnya seperti memberi salam, cara mengekspresikan keingingan dg cara yg proper,dll…tp rasanya konyol kalau memaksakan mereka untuk mengikuti semua standar “orang normal” tanpa modifikasi, yg penting adalah mencegah dorongan2 yg berpotensi “agresif” (jika ada) agar tidak berkembang dg cara mencoba mengajarkan mereka empati…(nilai moral universal yg basic paling tidak) karena g setuju sama reza kl mereka rasanya punya “bibit” hati nurani…tp ini sekali lg rasanya hanya mungkin untuk anak2 autis yg high function, yg masih bisa sedikit diajak untuk berlogika sederhana… lagipula, menurut saya, anak autis yg low function rasanya tidak punya dorongan untuk menyakiri orang lain,,mereka murni dan tidak terkontaminasi apapun,,istilahnya krn kemampuan berpikirnya sangat terbatasa,mereka “ga nyampe” untuk punya pikiran menyakiti orang lain,,,, bagaimana2?hehehehe,,,,

        Suka

      4. setuju cu. Tapi menyakiti tidak selalu dengan sadar. Kita juga seringkali menyakiti dengan tidak sadar. Ini berlaku juga untuk anak2 autis, ataupun kita semua. Gua sih prinsipnya tetap cu, perlakukan yang sama secara sama, dan yang berbeda secara berbeda… itu prinsip keadilan menurut Derrida…

        Suka

      5. setuju g,,,,emang itu prinsip kita (Gue dan teman2 yg sealiran..ehhehe..) memperlakukan anak special needs,,persis kata derrida ituh,, namanya jg special,,,jd perlakuannya jg tentunya special…hehehehehe,,,, iya jg sih emang kita sering tdk sengaja menyakiti org lain ya,,, bener jg,, tp g sih merasa kalaupun anak2 autis (atau anak special lainnya) melakukan hal yang nampaknya menyakiti orang lain,,itu gaada intensi secara sengajanya…cuma karena modelling dr orang lain atau hanya berupa luapan emosi aje,,,tp gatau jg sih kebenerannya,,,it’s just my opinion..hehehehhe(gaya ga tuh bahasa gue?hihihihi..)

        Suka

    2. heheheh.. menurut gua cu ya, hati nurani itu melekat pada setiap orang, namun sebagai potensi, bukan sebagai aktus. Artinya hati nurani itu tertanam sebagai benih yang harus disirami terus, supaya bisa tumbuh. Tinggal kita menemukan metode yang pas untuk menyirami benih hati nurani tersebut. Gua rasa ini juga berlaku untuk setiap orang cu. Gimana menurut lo?

      Suka

  3. Pertanyaan saya, adakah hati nurani yang benar-benar bersih dan pekah terhadap kebutuhan vital manusia? Bisakah hati nurani menuntun manusia untuk mencapai Kehidupan yang lebih baik? Terima kasih

    Suka

    1. Hati nurani itu selalu bersih, dan terarah pada kebaikan. Namun memang ia selalu tercemar oleh hasrat-hasrat berkuasa, dan jahat manusia. Itu membuat hati nurani tak terdengar. Maka kita perlu untuk melatih diri untuk mendengar hati nurani di balik segala cemaran yang ada.

      Suka

      1. Menurut saya hati nurani tidak selalu memecahkan permasalahan. Misalnya ketika manusia dalam 2 pilihan sulit dalam penggunaan hati nurani maka apa yang dipilihnya, misalkan situasi anda oleh penjahat diberikan pilihan ingin si A atau si B yang hidup. Disini anda dihadapkan pada apa yang disebut pilihan, bagaimana menurut anda?

        Suka

  4. Coblos Hanura!! hehehe jd politis. Trus apa ada kaitannya antara konsep hati nurani dan eksistensialisme? Hati nurani itu real (nyata) ato ideal? Universal ato epistemik? (Maaf kalo terkesan memaksakan oposisi biner). Derrida menawarkan konsep “tak ada petanda akhir” sbg legitimasi relativisme yg kemudian dibantah oleh filsuf fideis termasuk Mohammed Arkoun dgn “petanda transedental”. Sy memaknainya “Tuhan yg diimani” bkn “hati nurani” Ato keduanya similiar?
    Jgn lupa pergunakan hati nurani andauntuk memfollow acc twitter sy ya. Heheheh.. Salam kenal..

    Suka

    1. Hati nurani terkait dengan kehidupan batin subyektif manusia, jadi memang sangat terkait dengan eksistensialisme. Hati nurani menyatakan yang ideal, bukan yang real. Hati nurani juga bersifat universal, walaupun sering digilas oleh beragam hal, sehingga tak terdengar. Saya kurang tahu kaitan hati nurani dengan Tuhan, karena itu bukan wilayah filsafat. Itu wilayah teologi. Salam kenal juga…

      Suka

  5. Oke2 1:1 Saya setuju kalau Relativisme dijelaskan 2 sisi binairnya.Mas reza memahami benar kelemahan pendapatnya sendiri.Tapi kalu saya pribadi berangkat dari filsafat Nietschean yang lebih mengetengahkan “Ubermensch” Manusia yang melampaui.
    Melampaui dalam arti manusia yang terbuka terhadap segala hal,kembali memiliki jiwa anak kecil lagi.
    cenderung untuk tidak mendominasi,mengakali,menguniversalkan,memukul rata semua konteks,(biasanya sifat2 saintifik yang memetodologikan pencarian ontologi filsafat lewat caranya yang khas),dogmatis,puritan,ujung2nya fanatik buta.
    Bahwa pengetahuan/pemahaman akan sesuatu didapat oleh pengalaman subjek 1 orang yang tidak bisa dihindari selebihnya cuma ikut2-an,dalam hal ini karena filsafat plato yang cenderung Idealistik,metafisik dan agak semena-mena.(dalam hal menentukan landasan moral etika) menurut saya sudah usang.
    Diijaman “Postmodern” atau “Posthuman”(dalam teknologi) filsafat dan agama tidak kemana-mana, kelakuan kita (manusia:saya,anda) tidak banyak berubah moral dan etikanya bahkan tidak bisa lebih baik dari sebelum filsafat plato atau penyaliban kristus karena kita masih mendasarkan landasan etika dan moral yang lemah.(etika abad pencerahan/aufklarung/renaisance sudah gagal)
    Kebanyakan filsafat sekarang sudah agak maju dengan wacana “Paradoksalnya” (sebenarnya lebih mirip dialektikanya Martin Heidegger,Karl marx,Hegel)
    Tapi dari uraian diatas sebenarnya juga bukan sebuah bentuk dogmatisme baru.
    Lebih kepada keterbukaan terhadap segala hal.Anda tidak bisa mengabaikan tangan kiri alih2 menyanjung tangan kanan dan lupa bahwa akan berfungsi baik jika digunakan keduanya.
    kita harus terbagi diantara keduanya,bahkan dalam nietsche;beyond good and evil;
    “Segala perbuatan Cinta selalu diluar kebaikan dan kejahatan”
    Tantangan filsafat sekarang (dijaman ruwet) lebih kepada melihat seperti anak kecil lagi yang harus mengorbankan kedewasaan dan pengalaman kita.
    Bukan absolutisme atau relativisme tapi yang bisa melihat dari atas bahwa manusia harus melampaui dirinya sendiri untuk menjadi manusia bijaksana(manusia2 luhur).
    Maaf menurut saya manusia sekarang terjebak dalam kerumitan sel2 saraf otaknya sendiri sehingga sesuatu yang sederhana jadi bebal atau malah mau dirumit-rumitkan sendiri.
    Dari sini mas Reza saya adalah orang yang mau melepaskan jangkar2 saya (keyakinan,pengetahuan,pengalaman) meninggalkan pelabuhan usang yang terberi(given) dari orang tua dan leluhur saya,bahwa segala hal sudah pada ruang dan waktunya sendiri(historis) memperbarui penglihatan sehingga bisa lebih melihat matahari atau pelangi bukan dari warna atau terangnya tetapi kepada cinta dan esensinya.
    Sepertinya Descartes benar mas Reza bahwa segala sesuatu “ada” adalah karena kita “berpikir”.berpikir bisa jadi dua “mata” pedang,sama2 tajam tapi berlawanan.
    Bukan menggurui lho mas……….just share………

    Suka

  6. wah, ini dia yang saya cari-cari dari dulu. Saya sampai saat ini masih “merasa” terjebak dengan relativisme etis, mengenai baik dan buruk di mata seseorang(perspektif satu orang).
    Namun dengan tambahan, saya selalu memposisikan diri saya sebagai orang lain dengan kondisi yang sama,
    “kalau saya jadi dia, saya pasti melakukan hal yang sama”,
    sehingga tidak ada alasan untuk saya berkata:
    “kalau saya jadi dia, saya tidak akan seperti itu”,
    karena setiap orang punya kondisi dan penyebab yang berbeda-beda untuk melakukan suatu hal.
    numpang share ya…
    http://fachrirezakusuma.wordpress.com/2012/03/17/karena-kita-bukan-mereka-vice-versa/

    Suka

  7. Apabila relativisme dapat membawa kita pada kebenaran yang lebih dalam, bukankah itu berarti relativisme menjadi bagian dari suatu kebenaran?
    (The investigation of the truth is in one way hard, in another easy. An indication of this is found in the fact that no one is able to attain the truth adequately, while, on the other hand, no one fails entirely, but every one says something true about the nature of things, and while individually they contribute little or nothing to the truth, by the union of all a considerable amount is amassed… Perhaps, as difficulties are of two kinds, the cause of the present difficulty is not in the facts but in us. For as the eyes of bats are to the blaze of day, so is the reason in our soul to the things which are by nature most evident of all.)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s