Untuk Para Pendidik: Publikasi Karya, atau Punah…

technorati.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Publish or perish, publikasikan karya, atau punah, itulah semboyan seorang pendidik dan peneliti. Sebagai seorang pendidik, kita punya kewajiban moral dan legal untuk menulis. Menulis itu berarti terutama menulis buku teks, atau menerbitkan karya penelitian yang telah dilakukan.

Menulis itu mengabdi pada tiga tujuan. Yang pertama adalah dengan menulis (buku teks), kita sebagai pendidik bisa membantu proses belajar peserta didik. Mereka memiliki panduan yang jelas tentang apa yang mereka pelajari. Mereka juga mendapatkan pengetahuan tentang kompetensi macam apa yang nantinya mereka dapatkan.

Sebagai peneliti, publikasi adalah jembatan antara peneliti dan masyarakat luas. Masyarakat luas bisa mendapatkan banyak hal berguna dari karya penelitian yang dipublikasikan. Di sisi lain, pemerintah juga memiliki sumber data maupun analisis yang kuat untuk membuat kebijakan-kebijakan publik yang bermutu.

Dua, publikasi juga adalah aktualisasi diri pendidik. Pendidik sejati banyak membaca dan menulis. Publikasi adalah bentuk nyata dari proses membaca dan menulis tersebut. Aktualisasi diri memberikan rasa kepenuhan hati yang membahagiakan.

Tiga, publikasi adalah alat pencerahan masyarakat. Tak dapat diragukan lagi, masyarakat Indonesia sekarang membutuhkan pencerahan di berbagai bidang. Pencerahan tersebut berupa terobosan ide, data baru, atau analisis baru yang bisa lebih menjelaskan permasalahan. Percuma penelitian dan pemikiran bermutu, tetapi tak pernah tersebar ke peserta didik, atau ke masyarakat luas.

Budaya Menulis

Sekarang ini, banyak media untuk menulis. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, seperti internet dan beragam gadget, kita bisa menulis kapan pun dan dimana pun. Kita bisa menulis di sekolah, kantor, rumah, bahkan menulis di kamar mandi (dengan tablet ataupun netbook). Segala fasilitas ada dan bisa digunakan, selama kita punya keinginan untuk menulis.

Kita bisa memublikasikan karya kita dengan medium tradisional, seperti buku (teks). Namun sekarang ini, kita juga bisa memublikasikan karya kita dalam bentuk blog di internet. Banyak fasilitas blog yang tersedia. Kita tinggal memilih, belajar sedikit teknis penggunaannya, dan mulai menulis. Peserta didik dan masyarakat luas bisa mendapatkan banyak hal baik dari blog yang kita tulis.

Budaya menulis harus menjadi kebiasaan hidup (habitus) para pendidik. Artinya menulis itu menjadi kebutuhan, sama dengan makan, minum, ataupun berpakaian. Kalau tidak menulis, rasanya badan sakit, bahkan seperti mau mati. Ingatlah bahwa sebagai pendidik, kita punya kewajiban luhur untuk menulis dan menyebarkan karya penelitian maupun pemikiran kita untuk para peserta didik kita, serta untuk masyarakat yang lebih luas.

Mulai dari Mana?

Biasanya, jika ditanya, mengapa para pendidik jarang menulis, jarang memublikasikan karya mereka, jawaban yang keluar adalah, bahwa mereka tidak tahu bagaimana caranya, bagaimana memulainya. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ini dengan beberapa langkah praktis.

Pertama, kita perlu membayangkan, untuk siapa kita menulis. Apakah untuk anak TK, anak SD, atau masyarakat intelektual yang lebih luas. Pada titik ini, menurut saya, ada satu prinsip universal yang bisa kita pegang bersama, usahakan agar orang yang paling “bodoh” di dunia pun bisa memahami isi tulisan kita. Tulisan kita harus dibuat seramah mungkin, terutama untuk mereka-mereka yang memang tak menekuni dunia intelektual.

Dua, kumpulkan data ataupun analisis teori yang sudah ada sebelumnya. Tentukan pembagian isi tulisan maupun buku dalam bentuk poin-poin yang jelas. Sedapat mungkin, data dan teori yang digunakan adalah data dan teori yang paling baru, sehingga pembaca mendapatkan data dan analisis yang paling akurat.

Tiga, jika data, analisis, dan poin-poin pemikiran sudah ada, mulailah menulis. Jangan terlalu ragu. Jangan terlalu banyak berpikir. Tumpahkan pemikiran dan bahan ke dalam tulisan sesegera mungkin.

Empat, di dalam menulis, gunakan kalimat-kalimat pendek. Jangan sampai kalimat yang anda buat beranak pinak, sampai bercucu dan bercicit. Titik dan koma adalah waktu pembaca untuk menarik nafas. Jika kalimat ditulis secara pendek, maka pembaca lebih nyaman membaca, karena mereka punya waktu untuk bernafas.

Lima, jangan gunakan kata serapan (kata dari bahasa asing, seperti fragmentasi, komponen, legibilitas). Gunakan kata-kata dalam bahasa Indonesia asli, kecuali memang kata itu belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Ini penting sekali, supaya tulisan bisa dipahami dengan mudah, dan menjadi enak dibaca.

Enam, di dalam menulis, gunakan banyak contoh. Contoh-contoh bisa diambil dari cerita yang sudah ada, pengalaman pribadi, ataupun pengalaman orang lain. Contoh semacam ini membuat tulisan memiliki daging dan darah. Tulisan menjadi terasa manusiawi.

Tujuh, menulislah dengan gaya yang mengajak berpikir. Gunakan bahasa-bahasa seperti berikut, “Bagaimana menurut anda? Apakah anda setuju?”. Dengan cara ini, pembaca tersentak dari keterlenaannya dalam tulisan, dan mencoba melakukan refleksi pemikiran. Ingatlah, bahwa pertanyaan yang tepat jauh lebih penting daripada jawaban yang tepat.

Delapan, jangan sampai terjebak dalam plagiarisme. Tulislah semua sumber tulisan anda dalam bentuk side note, misalnya (Susanto, 2012, 45). Kutipan langsung harus menggunakan tanda kutip buka dan kutip tutup. Kutipan langsung tidak perlu menggunakan tanda kutip, tetapi amat perlu untuk mencantumkan sumber tulisan dalam bentuk nama belakang pengarang, tahun karya yang dikutip, dan halamannya. Jangan sampai anda jatuh ke dalam plagiarisme, karena keteledoran semata.

Jika ide sudah tertuang, kalimat sudah dibuat secara singkat, dan tidak ada aspek plagiarisme dalam tulisan, maka seluruh tulisan (buku) perlu untuk dibaca secara perlahan dari awal. Perbaiki kalimat-kalimat rumit. Ganti kata-kata yang membuat bingung.

Dukungan Sistem

Menulis haruslah menjadi budaya, dan menjadi kebutuhan kita sebagai manusia. Tidak ada hari tanpa menulis. Usahakan agar sebagai pendidik, anda menulis paling minimal dua paragraf sehari tentang bidang ilmu pengetahuan yang anda tekuni. Ini harus dilakukan setiap hari. Tidak boleh ada alasan!

Sistem yang ada juga harus mendukung semua proses ini. Para pendidik tidak boleh memiliki jam mengajar yang mencekik, atau pekerjaan administratif yang bertumpuk. Sekolah harus menciptakan kesempatan bagi para gurunya untuk menulis, meneliti, dan memublikasikan karyanya. Alokasi dana untuk publikasi juga harus ada setiap tahunnya, termasuk pembelian buku, pencarian data, insentif penulis, dan penerbitan karya.

Saya amat sadar, himbauan seperti yang diberikan tulisan ini tidaklah cukup. Orang Indonesia tidak cukup hanya dengan dihimbau. Maka saya harap, proses berlatih menulis dan memublikasikan karya tetap berlangsung, walaupun himbauan sudah berlalu, dan tak ada penghargaan memadai untuk usaha yang dilakukan. Publikasikan karya anda sebagai pendidik, atau bersiap untuk punah….

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

5 thoughts on “Untuk Para Pendidik: Publikasi Karya, atau Punah…”

  1. Sangat menarik dan relevan sekali topik ini, terutama dalam iklim masa kini dalam proses mencerdaskan bangsa. Saya bukan praktisi pendidikan, saya wira usaha murni yang kebetulan dulu sering melalang buana ke daerah-2 pelosok Indonesia. Setiap kali saya ke daerah, rasanya ada perasaan yang sangat menonjol yaitu taraf hidup pendidikan daerah dengan di Jawa ini sangat berbeda, apalagi jika dibandingkan dengan negara-2 maju — beda taraf hidup dan proses pembelajaran (saya sengaja tidak memasukan istilah pendidikan formal–karena saat ini proses pembelajaran bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, secara formal atau non).

    Yang saya tahu Indonesia ini sangat kaya dengan sumber daya alamnya, percaya atau tidak ya, saya lahir di Indonesia, saat belajar di pendidikan formal selalu di ajar bahwa Indonesia itu negri yang kaya, karena begitu kayanya maka banyak orang asing menganggap tanah Indonesia ini “Promised Land” (Negri yang sangat menjanjikan) he he lalu yang paling konyol bagi saya adalah saya tidak pernah diajarkan oleh orang kita tentang kekayaan sumber daya alam kita he he, lebih dari satu dekade orang asing yang mengajar saya tentang kekayaan sumber daya alam kita.

    Saya terakhir ke Lombok, Sumbawa, Sulawesi dan Irian Jaya, saya menyempatkan bertanya kepada beberapa generasi muda di daerahnya, apa mereka tahu dan mengenal kekayaan mineral tanah mereka, he he ternyata sampai ke aparat yang berpendidikanpun jawabanya tidak tahu banyak he he makanya jangan menyalahkan siapa-2 jika setelah lebih dari 66 tahun Indonesia merdeka yang menikmati kekayaan sumber daya kekayaan alam kita — ya orang asing.

    Kemana ya arah pendidikan kita? Dimana ya para pengajar ilmu yang praktis dapat mencerdaskan dan menaikan taraf hidup anak bangsa kita? Dosa siapakah jika anak-2 autis generasi muda anak bangsa yang hanya mampu menatap kosong di gunung nan indah dan kaya yang sudah bogang jadi monumen di Irian Jaya, Sumbawa, Soroako, Kalimantan dll itu. Dan sementara itu para sinyo dan nonik yang pesolek perkotaan tidak pernah tahu itu bebatuan calcopyrite, rasa air asam tercemar, habitat cacing di rawa pelindung alam kita lenyap, ikan yang dulu berjaya sentosa menikmati danau terdalam di Asia Tengga (d Mintanau) hanya kenangan “old fashion people” doang.

    Dulu mencari informasi sangat sulit dan mahal sekali, banyak karya tulis dulu mampu merubah bangsa, di kamar ku sekarang bisa menampung ribuan ebook, bayang-bayang mayat hidup di daerah rasanya bisa dihidupkan lagi jika ada kemauan keras.

    Semoga banyak karya tulis yang mampu menghidupkan kegersangan alam kita, merubah menjadi lebih baik untuk negri ini,

    Suka

    1. Kegagalan pendidikan memang berdampak luas sekali. Kita menjadi budak di tanah air kita sendiri, karena kita bodoh. Pendidikan kita tidak mencerdaskan, melainkan menyiksa dan membelenggu. Ya, semoga banyak lahir para pendidik yang gemar menulis, berbagi ilmu, dan bersemangat mencerdaskan kehidupan bangsa di masa depan.

      Suka

  2. tapi masalahnya tidak semua orang bisa menulis dan tulisannya bisa menyampaikan pesan atau informasi yang dimaksud. mungkin semua orang bisa menulis tetapi membuat sebuah tulisan yang dapat memberikan informasi yang benar dan jelas kepada orang lain tidak mudah dan tidak semua orang bisa melakukannya. seperti saya contoh: saya ini tidak bisa mengarang dan menulis. jangankan menulis menggunakan bhs.inggris, menggunakan bhs.indonesia aja susah. saya lebih senang berbicara langsung bertatapan muka dengan orang yang bersangkutan daripada saya menulis. tetapi tidak banyak orang bisa mengerti itu. jadi waktu saya mengikuti kelas writing saya merasa kesulitan, apalagi dosennya tidak memberikan penjelasan letak kesalahan kita dalam membuat karangan. jadi terpaksalah saya berlatih sendiri dan saya meminta bantuan teman saya yang lulusan USA untuk koreksi grammar saya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s