Filsafat Tata Kota

http://www.sanya.gov.cn

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Sekarang ini di Indonesia, segala sesuatu harus dikelola secara demokratis. Artinya segala sesuatu sungguh harus dibicarakan bersama, lalu keluar keputusan dari proses pembicaraan tersebut. Keputusan tersebut akan mengikat semua pihak yang sebelumnya bersama-sama berdiskui untuk membuatnya. Inilah mekanisme standar demokrasi yang kini menjadi paradigma dunia.

Kegagalan menciptakan tata kelola demokratis akan menciptakan ketidakpatuhan sah (legitimate disobedience). Artinya ketidakpatuhan pada suatu keputusan ataupun kebijakan, atas dasar rasionalitas yang bisa diterima dengan akal sehat. Ketidakpatuhan muncul, karena orang tidak diajak ambil bagian dalam keputusan yang telah dibuat.

Sekarang ini Jakarta sebagai ibu kota Indonesia sedang mencari pemimpin yang baru. Jelas pemimpin yang baru ini harus terbiasa dengan tata kelola demokratis, sebagaimana saya jabarkan sebelumnya. Ia harus mampu mengajak berbagai pihak di Jakarta untuk bekerja sama menghadapi permasalahan-permasalah kota yang memang amat rumit. Jakarta yang baru, yang lebih baik, harus dikelola secara demokratis dengan melibatkan berbagai pihak yang ada di dalamnya.

Orkestra dan Harmoni

Bentuk nyatanya adalah sang pemimpin, gubernur, harus mampu berperan sebagai dirigen orkestra. (Kasali, 2012) Ia mampu mengajak dan mengatur berbagai pemain orkestra yang ada untuk menciptakan harmoni. Para pemain orkestra ini adalah berbagai kelompok yang hidup dan beraktivitas di Jakarta. Harmoni adalah integrasi dari berbagai kelompok tersebut, dengan gubernur sebagai pemimpinnya, untuk mencapai tujuan bersama yang lebih besar.

Kerja sama yang terintegrasi tersebut juga harus memiliki fokus yang jelas. Visi yang ingin dicapai harus jelas. Langkah-langkah kerja yang harus dilakukan pun harus jelas dan fokus, serta urut dari prioritas yang paling mendesak, sampai yang tidak terlalu penting. Untuk itu calon gubernur Jakarta yang baru perlu memiliki people skills untuk menggalang kerja sama berbagai pihak, menentukan fokus kerja yang jelas, dan bekerja dengan fokus.

Apa itu people skills? People skills adalah kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain secara baik untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditentukan sebelumnya. (Margaretha, 2012) Kemampuan ini amat penting dalam kehidupan. Para pemimpin mutlak memiliki kemampuan ini. Tanpa kemampuan ini, banyak hal tidak akan bisa berjalan, dan banyak tujuan akan terabaikan.

Empati

Langkah pertama untuk membangun people skills adalah dengan membangun sikap empati. Empati adalah kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain dari sudut pandang orang lain. Dengan kata lain empati adalah kemampuan mengambil alih posisi orang lain dalam satu konteks tertentu. Empati adalah kunci utama dalam komunikasi yang bermutu.

Empati adalah pikiran sekaligus perasaan. Namun empati juga harus terwujud dalam tindakan, yakni bertindak secara empatik. Bertindak secara empatik berarti bertindak dengan memperhatikan pikiran serta perasaan orang lain yang terkena dampak dari tindakan yang kita ambil. Seorang pemimpin harus mampu bertindak secara empatik dalam segala keputusan maupun tindakan yang ia lakukan.

Bentuk nyata dari bertindak empatik adalah berbicara dengan orang lain. Berbicara berarti sungguh-sungguh hadir, dan mengungkapkan ide-ide yang memperhatikan pikiran dan perasaan lawan bicara. Berbicara bukan hanya soal menyampaikan ide, tetapi juga berbicara untuk mengajak bekerja sama.

Untuk bisa berbicara secara efektif, orang juga perlu untuk mendengar. Mendengar tidak hanya apa yang terucap, melainkan justru yang tak terucap, yang tersembunyi di balik kata-kata. Inilah yang disebut sebagai tindak mendengar secara empatik. Mendengar secara bijak.

Sikap empatik, tindakan empatik, berbicara dan mendengar secara empatik adalah hal-hal yang amat mutlak ada di dalam diri pimpinan, mulai dari level keluarga, kota, sampai dengan negara. Semua ini menjadi semakin manusiawi, jika dibalut dengan humor dan tawa dalam berkomunikasi. Humor menjadi semakin hidup, jika dibalut dengan sikap informal yang anti feodalisme.

Para pejabat mengira, bahwa humor dan sikap informal itu tidak perlu. Mereka menyangka, itu adalah sikap yang kurang hormat. Namun sebaliknya untuk menciptakan hubungan dan komunikasi yang bermutu, humor dan sikap informal jelas amat diperlukan. Untuk mencapai visi yang jelas, dan mewujudkan kerja yang fokus, orang perlu untuk memiliki selera humor yang tinggi, dan bersikap informal di dalam kesehariannya.

Pemecahan Masalah

Di dunia ini, tidak ada keputusan yang bisa memuaskan semua orang. Selalu ada orang yang puas, dan ada yang tidak, sebaik apapun keputusan yang kita ambil. Namun ada satu prinsip yang perlu terus ada, yakni prinsip meeting in the middle, atau bertemu di tengah. Ketika dua pihak berbeda tajam dalam memandang masalah, maka keduanya harus belajar untuk mengalah, dan berjumpa di tengah demi kebaikan yang lebih tinggi.

Semua ini adalah upaya-upaya yang perlu diambil untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di dalam kehidupan kita. Paradigma pemecahan masalah (problem solving paradigm) itu bertindak kecil untuk menyelesaikan masalah-masalah kecil, namun berkontribusi dalam pemecahan masalah-masalah yang lebih besar. Indonesia menantikan orang-orang yang mampu bekerja seperti ini.

Masalah bisa selesai, jika orang bisa bekerja fokus untuk menyelesaikan masalah. (Widodo, 2012) Kerja fokus menuntut kesetiaan dan konsistensi pada perjanjian ataupun keputusan yang telah dibuat. Pemecahan masalah membutuhkan akurasi dan relasi erat antara kata dan tindakan. Kemendalaman berpikir dan analisis, serta kemampuan untuk bertindak fokus dan pragmatis, adalah dua kunci keberhasilan suatu rencana kerja.

Biasanya, masalah muncul, karena kualitas komunikasi yang lemah, sehingga kerja sama terputus, pembuatan keputusan terhambat, rencana kerja terbengkalai, dan masalah tetap ada, bahkan membesar. Namun seperti berulang kali dinyatakan oleh Habermas, seorang filsuf Jerman terkemuka, kegagalan komunikasi tidak dapat diatasi dengan melepaskan komunikasi, atau menggantinya dengan kekuatan otot, melainkan dengan upaya untuk melakukan komunikasi secara intensif dan berkualitas.

Apa yang saya tulis di atas bisa digunakan sebagai model tata kota untuk berbagai kota di Indonesia, baik yang besar maupun yang kecil. Visi jelas, kerja sama yang fokus, dan kesetiaan pada komitment, itulah kunci keberhasilan. Semua itu harus dijalankan dengan mekanisme-mekanisme demokratis yang mengedepankan people skills yang juga mantap. Jadi tunggu apa lagi?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Filsafat Tata Kota”

  1. Kayaknya ini semua bukan (atau belum) menjadi core values perpolitikan negeri ini Za. Jangankan gubernur, pemilihan ketua kelas di SD aja tidak berdasar valeu seperti ini. Tidak aneh kemudian masyarakat jadi asing terhadap value-value tersebut 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s