Hasrat Akan Kepuasan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono

Malam itu di warung tenda pinggir jalan, tidak begitu jauh dari Jalan Abu Bakar Ali, Yogyakarta, ia memesan kerang hijau, kerang mahkota, udang bakar, kepiting saos tiram, dan ikan bakar. Kami duduk bersila, beralas tikar, di atas trotoar. Di bawahnya adalah saluran air. Lalu lalang kendaraan bermotor sudah berkurang.

“Tidak pakai nasi. Mas, tambah cah kangkung. Sama sambalnya ditambah cabainya,” kata teman itu. Mulutnya melepaskan asap rokok ke udara yang agak dingin. Ia melemparkan bungkus rokok di meja saji yang rendah. Juga tas pinggangnya yang tampak berisi. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Kepuasan: Dukkha

“Flexing” Religi

the-end-is-the-same-3368713323759Oleh Reza A.A Wattimena

Bayi itu menangis di pagi hari. Suara keras membangunkannya. Suara tidak datang dari dalam rumah, tapi dari luar. Ada orang berdoa sangat keras, memecah pagi dan merusak ketenangan hidup masyarakat sekitar.

Berdoa dan bernyanyi harus keras, bahkan sampai jarak 3 km, suara tetap terdengar. Begitu banyak orang terganggu. Katanya, ini untuk menyebarkan agama. Yang tercipta bukan cinta, tetapi benci yang membara. Ini flexing religi. Lanjutkan membaca “Flexing” Religi

Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…

61GWCuVqElL._AC_SX425_Oleh Reza A.A Wattimena

Jeanne Putri, keponakan perempuan yang paling besar, berkunjung ke rumah kemarin. Spontan, ia minta gendong. Namun, karena sudah besar, saya tidak bisa lagi melakukannya. Sekarang, tubuhnya sudah besar dan berat sekali.

Adiknya pun serupa. Walaupun, saya masih bisa menggendongnya. Si bayi yang dulu gendut sekali kini menjadi anak kecil yang langsing dan lucu. Betapa cepat waktu berlalu. Lanjutkan membaca Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…

Buku Terbaru: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam

Cover bukuOleh Reza A.A Wattimena

Tak bisa disangkal, Yesus adalah salah satu tokoh terpenting di dalam sejarah manusia. Ia menginjakkan kaki di dunia sekitar 2000 tahun yang lalu. Namun, pengaruhnya terasa sampai detik ini. Figurnya telah menyentuh banyak orang selama ratusan tahun belakangan ini.

Di kala krisis, sosoknya menjadi simbol harapan. Umat Kristen, terutama, menjadikan Yesus sebagai sandaran utama hidupnya. Umat beragama lain, termasuk yang tidak beragama, kerap mengagumi keberanian dan teladan hidupnya. Yesus telah menjadi guru dari banyak orang. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Yesus Lintas Peradaban: Yoga, Buddha dan Sufi Islam

Mengapa Kita Bodoh?

da84a4c5e17b2f6bd49f6abb3b708786Oleh Reza A.A Wattimena

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang. Namun, sampai detik tulisan ini dibuat, kita masih saja membeli garam dari negara lain. Padahal, laut di Indonesia jauh lebih luas dari daratan yang ada. Ini salah satu kebodohan kita.

Garis pantai kita sepanjang 54.716 km. Dengan garis pantai seluas itu, dengan mudah bangsa kita membuat tambak garam yang amat besar. Hanya kehendak politik dan kompetensi yang dibutuhkan. Namun, setiap tahunnya, kita masih saja impor garam. Lanjutkan membaca Mengapa Kita Bodoh?

Langit Biru dan Pohon Hijau Pagi Ini

Statue Surreal Large Sun Rays Moon Fantasy Sun
Statue Surreal Large Sun Rays Moon Fantasy Sun

Oleh Reza A.A Wattimena

Bentuk adalah kekosongan. Kekosongan adalah Bentuk.

Tidak ada Bentuk. Tidak ada kekosongan.

Bentuk adalah Bentuk. Kekosongan adalah kekosongan.

Form is emptiness. Emptiness is form.

No form. No emptiness.

Form is form. Emptiness is emptiness.

Minggu 6 Maret 2022. Jakarta Timur pagi ini diisi dengan cuaca yang cerah, serta udara yang segar. Pohon hijau bergoyang tertepa angin. Langit biru diselipi awan putih yang terus menari. Lanjutkan membaca Langit Biru dan Pohon Hijau Pagi Ini

Taman Kanak-kanak Itu Bernama “Politik Global”

child-and-cat-surreal-barroa-artworksOleh Reza A.A Wattimena

Saya punya pengalaman seru sewaktu TK (Taman Kanak-kanak). Tak banyak sekolah pada masa saya kecil. Jadi, kami harus sekolah di tempat yang agak jauh. Lingkungan sosialnya pun beragam.

Dulu, TK saya ada kelompok-kelompok. Secara alamiah, anak-anak kecil berusia 4-5 tahun itu membangun kumpulan kelompok kecil. Guru mendiamkan saja, karena itu dianggap tak berbahaya. Namun, dinamika antar kelompok ini menarik. Lanjutkan membaca Taman Kanak-kanak Itu Bernama “Politik Global”

Thich Nhat Hanh tentang Spiritualitas dan Perdamaian Dunia

WhatsApp Image 2022-02-22 at 08.01.59MENGKAJI PEMIKIRAN THICH NHAT HANH TENTANG SPIRITUALITAS DAN PERDAMAIAN DUNIA

Bersama Dr Reza Wattimena

Rabu, 23 Pebruari 2023

Pukul 19.00 – 21.00 WIB

Link: s.id/Esoterika23

Thích Nhất Hạnh  (11 Oktober 1926 – 22 Januari 2022) adalah seorang biksu Buddhisme Zen, penulis, penyair, dan aktivis perdamaian dan HAM, yang berasal dari Vietnam. Ia tinggal di Biara Desa Prem di wilayah Dordogne di Prancis Selatan. Puluhan tahun ia telah bepergian secara internasional untuk memberikan retret dan berbicara tentang pentingnya membangun petdamaian dunia. Lanjutkan membaca Thich Nhat Hanh tentang Spiritualitas dan Perdamaian Dunia

Beragam Budaya, Banyak Nama, Namun Satu Makna

img_8606_virtual_divorce_marital_love_surreal_bw_floating_two_headsOleh Reza A.A Wattimena

2014, derita menerpa hidup saya. Tak tertahankan, karena mereka datang bergerombolan pada waktu yang sama. Semua keadaan tak sesuai rencana. Kematian tak terduga dari keluarga sungguh membuka mata.

2014 juga, perjalanan Dharma saya dimulai. Saya meninggalkan mitos dan takhayul dari cara berpikir lama. Dharma adalah jalan pembebasan yang sesuai dengan alam sebagaimana adanya. Sedikit demi sedikit, mata saya terbuka. Lanjutkan membaca Beragam Budaya, Banyak Nama, Namun Satu Makna

Seri Seminar: Massa dan Ingatan

WhatsApp Image 2022-02-18 at 20.18.21Kajian yang selalu penting dan relevan

Info lebih lengkap disini:

https://ingatan.org/pendaftaran-siri-seminar-ikmas-2022-siri-kuliah-kajian-ingatan/

Berpikir Distingtif

istockphoto-1092089394-612x612

Oleh Reza A.A Wattimena

Sore itu, saya berjalan di trotoar Jalan Casablanca, Jakarta. Seperti biasa, Jakarta macet dan kacau. Saya hanya berjalan, dan tak menggunakan kendaraan apapun. Itu pun, ternyata, sulit.

Banyak orang berdagang di trotoar. Banyak supir ojol (ojek online) yang parkir sembarangan di trotoar. Naik kendaraan sulit, dan berjalan di trotoar juga sulit. Saya mesti bagaimana? Lanjutkan membaca Berpikir Distingtif

Zen untuk Deradikalisasi

4d4ae064710791.5adb43bfd4580Oleh Reza A.A Wattimena

Surabaya selalu dekat di hati saya. Selama kurang lebih empat tahun, saya tinggal disana. Pada 2018 lalu, Surabaya dihantam bencana. Teroris Islam dari aliran Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) membom tiga Gereja disana.

Tepatnya, pemboman Gereja terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur pada 13 dan 14 Mei 2018. Gereja yang dibom adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan. Tidak hanya Gereja yang menjadi korban. Rumah Susun Wonocolo di Taman Sidoarjo dan Markas Polrestabes Surabaya juga menjadi sasaran. 28 korban tewas, termasuk pelaku bom bunuh diri, serta 57 orang mengalami luka. Lanjutkan membaca Zen untuk Deradikalisasi

Dari Buang Kotoran Secara Cerdas, Vagina Publik sampai Rekomendasi Gaya Bercinta

Digital-surrealism-by-Martin-De-Pasquale-artists-i-lobo-you12Oleh Reza A.A Wattimena

Cukup berkata “buka!”, supaya toilet itu membuka alasnya. Tak perlu tangan untuk membukanya. Hanya kata, dan suara. Algoritma dari toilet cerdas (smart toilet) tersebut akan langsung menangkapnya, dan menjalankan operasi yang diinginkan.

Sambil menunggu kotoran dari perut dan saluran kencing keluar, toilet cerdas itu akan menganjurkan beberapa hiburan. Ada berita hari ini. Ada laporan cuaca. Ada musik, supaya kegiatan buang air menjadi menyenangkan. Lanjutkan membaca Dari Buang Kotoran Secara Cerdas, Vagina Publik sampai Rekomendasi Gaya Bercinta

Bunuh “Tuhanmu”, Bunuh “Orang Tuamu”, lalu…. Bunuh “Dirimu” Sendiri

5ac1a5cc173ad462474c68f84191de6e--science-illustration-weird-art

Oleh Reza A.A Wattimena

Percakapan di kafe sederhana itu memanas. Seorang teman minta dijelaskan, apa inti utama dari Zen. Saya menjawab: bunuh “tuhanmu”, “orang tuamu” lalu “dirimu” sendiri. Reaksinya bisa dimengerti: APA??!!

Reaksi anda pasti serupa, ketika membaca judul ini. Apakah Reza sudah gila? Apakah ia menyarakan orang untuk bertindak tak bermoral, dan melawan hukum? Beberapa penjelasan tentu diperlukan. Lanjutkan membaca Bunuh “Tuhanmu”, Bunuh “Orang Tuamu”, lalu…. Bunuh “Dirimu” Sendiri

Keadaan Demokrasi Kita

79bf9763a9747df3da54b1ce79994397Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam salah satu wawancaranya dengan BBC, kantor berita nasional Inggris, pada 2020 lalu, Presiden Jokowi menyinggung soal demokrasi. Baginya, demokrasi adalah keterbukaan pada ketidaksetujuan. Banyak orang yang mengritik kebijakannya, terutama terkait dengan penegakan HAM, dan kelestarian lingkungan. Itu sah, dan merupakan bagian dari demokrasi, begitu kata Jokowi.

Jawaban ini salah total. Demokrasi bukan hanya soal memperbolehkan ketidaksetujuan, lalu mengabaikannya. Ini namanya pemerintahan tuli. Sebaliknya, demokrasi tidak boleh tuli. Kritik diberikan ruang, didengarkan lalu dipelajari, apakah isinya bisa dan harus diterapkan, atau tidak. Lanjutkan membaca Keadaan Demokrasi Kita

Bisa Mudah, Bisa Sulit, Mau yang Mana?

12121212 (1)Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa kali, saya berbicara tentang Zen di acara publik. Ini sudah beberapa tahun terjadi. Ada yang di luar jaringan (offline), ada yang di dalam jaringan (online). Seorang teman pun berkomentar.

“Mengapa kamu tidak pernah mengutip teks-teks klasik? Mengapa tidak mengacu pada ortodoksi, terutama ortodoksi Dharma di dalam ajaran Vedanta, Hindu dan Buddhis?” Tidak sekali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jawaban saya pun selalu sama. Lanjutkan membaca Bisa Mudah, Bisa Sulit, Mau yang Mana?

Kelas Filsafat Komunitas Salihara: Antropologi, Manusia dan Dunia Digital

271819574_10159789444677017_1152463787548639722_n

Revolusi digital mempengaruhi berbagai hal dalam kehidupan kita, baik secara positif maupun negatif, sehingga kita juga hidup di dalamnya. Kita beradaptasi, memanfaatkannya dan terkadang terjebak di dalamnya. Sebenarnya bagaimana filsafat menanggapi perubahan ini?

Tema besar Kelas Filsafat tahun ini adalah bagaimana melihat fenomena dunia digital yang kita alami hari ini dari sudut filsafat dengan mengacu pada bidang antropologi, etika dan epistemologi.

Pada putaran pertama, dalam empat pertemuan, Reza A.A Wattimena membahas bagaimana eksistensi pikiran manusia ketika berhadapan dengan “kemayaan realitas” dalam dunia digital. Bagaimana filsafat Zen sampai pemikiran Nietzsche dapat menanggapi fenomena dunia digital?

271742465_10159789445102017_646227978522981985_n

Antropologi: Manusia dan Dunia Digital

Pengampu: Reza A.A. Wattimena

Setiap Sabtu, 05, 12, 19, 26 Februari 2022, 13:00 WIB

Tiket: Rp 300.000 (promo) | Rp400.000 (normal)

Zoom Webinar

Tunggu apalagi? Yuk perluas wawasanmu dengan belajar filsafat! Daftar sekarang di tiket.salihara.org 

Penyakit-Penyakit Lama dari “Negara Republik Oligarki” Indonesia

0_1opthal5_465_801_int-1Oleh Reza A.A Wattimena

PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) baru saja merayakan hari lahirnya yang ke 49 pada 10 Januari 2022 kemarin. Di dalam perayaan itu, Megawati Soekarno Putri, sebagai ketua umum, mengajukan beberapa kritik.

Salah satunya sungguh mengena di saya. Ia berkata, bahwa banyak Undang-undang di Indonesia tak sesuai dengan UUD. Secara langsung, ia menegur Puan Maharani, Ketua DPR RI, yang adalah putrinya sendiri. Lanjutkan membaca Penyakit-Penyakit Lama dari “Negara Republik Oligarki” Indonesia

Hasrat akan Penaklukan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono, Antropolog

Penaklukkan itu membawa luka. Membuat orang merasa hina!

“Bu, mungkin ibu bisa membuatkan rumah bangunan untuk saya berteduh. Ibu punya uang untuk itu. Tapi, ‘rumah’ bagi jiwa saya, biarlah saya menemukannya sendiri.” Kalimat itu diungkapkan dengan suara berat, beradu dengan isak tangis, di antara perdebatan penuh lupaan emosi seorang anak perempuan dengan ibunya.

Itu bukan satu-satunya perdebatan yang melibatkan mereka berdua. Dan, setelahnya pun masih terjadi beberapa perdebatan. “Sebagai orang tua, ibu kan ingin anak-anaknya ‘mapan’. Punya pekerjaan yang baik. Rumah yang layak. Setiap bulan menerima gaji. Saat tua nanti dapat pensiun. Seperti keluarga-keluarga yang lain, setelah beberapa tahun bisa membeli mobil. Tidak usah yang terlalu bagus, tapi cukup layak dipandang. Tidak membuat malu. Apakah itu salah? Normalnya orang hidup di masyarakat kan begitu.” Lanjutkan membaca Hasrat akan Penaklukan: Dukkha

Rumah Filsafat: Tshirt Pack Vol 1. 2022

WhatsApp Image 2022-01-07 at 12.15.48Sebuah Bingkisan Istimewa dari Rumah Filsafat

Rumah Filsafat
Tshirt Pack Vol 1 2022

Untuk pertama kalinya, setelah lebih dari lima belas tahun, kami memberikan sebuah bingkisan awal tahun.

Rumah Filsafat.com hadir di ruang digital sejak 2007. Kami menyajikan karya-karya yang membantu dunia lebih sadar dan bernalar sehat. Lanjutkan membaca Rumah Filsafat: Tshirt Pack Vol 1. 2022