Terorisme dan Transendensi

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Sebagian Naskah Diskusi untuk Seminar “Beyond Terrorism: Understand The Past and Prepare for The Future” di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 17 Mei 2017

Terorisme sudah setua peradaban manusia itu sendiri. Sekelompok orang melakukan tindak merusak, demi menyebar teror, dan memecah belah, guna mewujudkan kepentingan politik, ideologis maupun religius tertentu. Landasan berpikir mereka bersifat sempit dan tertutup. Dengan landasan ini, mereka menghancurkan perbedaan, dan menyebarkan ketakutan.

Ada beragam penelitian tentang akar dan cara menanggulangi terorisme. Namun, ada satu hal yang menjadi kunci dari semuanya, yakni kemampuan transendensi. Ini adalah kemampuan manusiawi untuk melihat dunia dengan kaca mata yang lebih luas dari kepentingan diri, keluarga ataupun kelompoknya. Pendek kata, transendensi adalah kemampuan manusia untuk melampaui kepentingan sempit diri dan kelompoknya, lalu melihat dari sudut pandang orang lain, serta kepentingan yang lebih besar. Transendensi terkait erat dengan kemampuan dasar manusia lainnya, yakni empati.

Dua hal ini menjadi amat penting untuk dipahami lebih jauh, karena kita hidup di jaman yang penuh dengan teror. Ketidakpastian dan ketakutan mengepung hidup banyak orang. Beragam aksi teror di abad 21 ini, mulai dari bom Bali 1 dan 2, kehadiran Negara Islam Irak dan Suriah, sepak terjang kejam kelompok Boko Haram di Nigeria dan beragam aksi teror lainnya, menyebarkan ketakutan dan kecemasan di tingkat global. Pemahaman menyeluruh tentang aksi teror dan taktik menangkalnya jelas mutlak diperlukan.

Terorisme: Makna dan Tujuan

Di dalam tradisi pemikiran politik, terorisme dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah tindakan teror negara yang menyebarkan ketakutan, dan memecah belahnya rakyatnya demi tujuan penguasaan total. Hal ini banyak ditemukan di negara-negara yang menerapkan pemerintahan totaliter. Yang kedua adalah terorisme dari bawah yang dijalankan oleh sekelompok orang tertentu, bisa dengan dukungan ataupun justru melawan kepentingan pemerintah.[1]

Di dalam kata “terorisme”, ada penilaian moral yang berpijak pada sudut pandang tertentu. Ini menyebabkan terciptanya ragam tafsir. Bagi satu kelompok, sekelompok pelaku kekerasan dianggap sebagai teroris. Sementara, bagi kelompok lain, kelompok teroris tersebut dianggap sebagai pejuang kebebasan.[2]

Terorisme juga bukanlah merupakan kekerasan tanpa arah. Ia lahir dari dasar berpikir dan tata nilai moral tertentu. Ia juga lahir dari perencanaan yang canggih dan menyeluruh. Para pelaku terorisme kerap kali adalah orang-orang cerdas, namun miskin pemikiran kritis, dan lemah secara pribadi.[3]

Sejak 1970-an lalu, dunia menyaksikan lahirnya beragam kelompok teroris. Mereka memiliki beragam tujuan, baik itu tujuan politis, maupun tujuan religius. Semuanya memiliki pola sama, yakni tafsir semena-mena atas sebuah paham yang bersikap tertutup, sempit dan menindas perbedaan. Peter Waldmann, pemikir Jerman, membedakan tiga bentuk tujuan dasar dari tindakan teroristik, yakni tujuan-tujuan nasionalisme, seperti perang kemerdekaan, tujuan-tujuan revolusioner, seperti perubahan pemerintahan, dan tujuan-tujuan religius, seperti ingin mendirikan negara homogen yang berpijak pada satu agama tertentu.[4]

Tindak teroristik sendiri seringkali menggunakan dua taktik, yakni perang bersenjata langsung dengan menggunakan senjata, atau serangan-serangan kecil yang sulit ditebak, guna menyebarkan ketakutan di masyarakat luas. Yang pertama lebih merupakan serangan untuk merebut wilayah kekuasaan. Sementara, yang kedua lebih merupakan penaklukan mental dalam bentuk penyebaran ketakutan ke berbagai penjuru masyarakat, yang seolah tanpa pola.[5]

Menangkal Terorisme: Beberapa Langkah Taktis

Ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk secara taktis menangkal terorisme. Pertama, negara perlu meningkatkan kadar ketahanan nasional terhadap pengaruh asing yang ingin menyebarkan paham-paham radikal. Paham-paham radikal ini yang nantinya akan menjadi dasar berpikir bagi beragam aksi teror di masyarakat. Berbagai taktik intelijen negara perlu untuk semakin diperkuat, mulai dari penelusuran dana asing yang masuk ke Indonesia, infiltrasi ke kelompok-kelompok yang diduga terkait dengan kegiatan terorisme sampai dengan perumusan dasar hukum yang menyeluruh dari pelacakan, penangkapan sampai dengan penghukuman para teroris.[14]

Kedua, negara perlu mengubah metode dan paradigma pendidikan yang selama ini ada di Indonesia. Pendidikan yang mengedepankan kepatuhan buta dan hafalan mati harus dibuang jauh-jauh. Pola kuno ini adalah cikal bakal lahirnya pemikiran sempit dan tertutup yang menjadi dasar bagi terorisme. Pendidikan yang mengedepankan pemikiran kritis dan terbuka untuk berbagai kemungkinan harus dikembangkan sedini mungkin, guna melahirkan generasi yang kreatif dan terbuka pada perbedaan.

Tiga, para pimpinan negara dan masyarakat perlu menjadi teladan bagi masyarakat luas. Keteladanan ini berpijak pada dua hal, yakni sikap kritis pada diri sendiri dan terhadap berbagai paham yang tersebar di masyarakat, serta sikap terbuka di dalam menata hidup bersama yang penuh dengan perbedaan. Pendidikan kritis dan terbuka hanya menjadi omong kosong belaka, jika tidak ada keteladanan nyata dari para pimpinan negara dan masyarakat. Keteladanan semacam inilah yang amat kurang di Indonesia.

Empat, ini mungkin yang terpenting, yakni membongkar ketidakadilan struktural yang bercokol di masyarakat. Ketidakadilan struktural membuat orang tidak bisa keluar dari garis kemiskinan, walaupun ia telah berusaha keras. Ini juga menciptakan kesenjangan sosial antara kelompok kaya dan kelompok miskin. Keadaan penuh tegangan dan prasangka ini adalah tempat subur bagi berkembangnya paham-paham radikal, dan gerakan-gerakan terorisme.

Transendensi

Transendensi adalah kunci untuk menangkal terorisme. Kata ini berasal dari bahasa Latin transcendentia, yang berarti melampaui. Kata ini kerap dipergunakan di dalam filsafat, agama maupun teologi untuk menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya. Tuhan bersifat transenden, karena melampaui manusia yang menjadi ciptaanNya.

Kata transenden juga digunakan untuk menggambarkan pengalaman manusia yang melampaui batas-batas panca indera, serta menyatu dengan alam, maupun Tuhan. Lawan kata darin transenden adalah imanen, yakni sesuatu yang berjangkar pada dunia sehari-hari manusiawi, tanpa hubungan dengan sesuatu yang lebih besar darinya. Konsep transenden juga seringkali dikaitkan dengan “Kebenaran”, “Keabadian” dan “Kebaikan” itu sendiri, terutama di dalam Filsafat Yunani Kuno dan Filsafat Abad Pertengahan Eropa.

Di dalam filsafat, konsep transendensi terkait dengan tindakan melampaui batas-batas yang ada. Kata batas ini memiliki dua makna, yakni batas ruang maupun batas mental. Batas ruang adalah batas wilayah negara tertentu. Batas mental adalah batas wilayah keilmuan. Dalam arti ini, penelitian-penelitian lintas ilmu dapat dikatakan sebagai penelitian yang bersifat transenden.

Dalam hal hubungan sebab akibat, yang transenden dianggap sebagai dasar dari yang imanen. Yang transenden bersifat tak terkondisikan. Ia memungkinan yang imanen untuk hadir, yakni yang terkondisikan. Alam transenden adalah alam yang abadi, sementara alam yang imanen adalah alam yang sementara, dan hanya bisa ada, karena ada alam transenden tersebut.

Di dalam filsafat pengetahuan, transendensi menjadi ciri dari horison atau paradigma yang mendasari pengetahuan manusia. Horison adalah latar belakang yang memungkinkan pengetahuan manusia tercipta dan berkembang. Setiap penelitian ilmiah selalu berdiri di atas horison pemahaman tertentu. Ini berlangsung terus, sampai horison lama tidak lagi mampu menjawab berbagai tantangan yang muncul, sehingga harus mengalami perubahan.[15]

Jean-Paul Sartre, pemikir Perancis, melihat transendensi sebagai ciri dasar setiap orang. Orang mampu melampaui dorongan-dorongan alamiahnya, dan bertindak berbeda. Orang mampu memilih hakekat dirinya, sesuai dengan pikiran-pikiran dan tindakannya. Dengan transendensi, orang juga mampu melampaui kepentingan sempitnya, dan berpikir dengan sudut pandang yang lebih luas.[16]

Dalam arti inilah transendensi bisa menjadi obat penyembuh penyakit radikalisme dan terorisme. Orang berpikir tidak lagi melulu soal diri, keluarga ataupun kelompoknya, tetapi juga berpikir dari kaca mata keseluruhan. Transendensi juga membutuhkan empati, yakni kemampuan merasakan dan melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Keduanya merupakan unsur dasar bagi terciptanya kesadaran kosmopolitanisme.[17]

Kesimpulan

Terorisme adalah aksi menyebar teror dan ketakutan dengan menggunakan kekerasan fisik maupun mental ke masyarakat luas. Ia bisa dilakukan oleh negara ataupun kelompok-kelompok masyarakat, yang bisa saja mendapat dukungan negara tertentu. Tujuannya beragam, mulai dari tujuan politis, ideologis maupun religius. Terorisme lahir dari krisis transendensi, yakni ketidakmampuan orang untuk melampaui batas-batas kepentingan sempit diri, keluarga dan kelompoknya. Ada beberapa langkah taktis untuk menangkal terorisme, mulai dari meningkatkan ketahanan nasional, sampai dengan mengubah paradigma sistem pendidikan nasional. Namun, langkah paling mendasar dan jitu adalah dengan membangun pola pikir transendensi, yakni pola pikir yang melampaui sekat-sekat perbedaan, dan menyentuh sudut pandang keseluruhan.

Daftar Acuan

Behr, Hartmut, 2004, Entterritoriale Politik: Von den Internationalen Beziehungen zur Netzwerkanalyse. Mit einer Fallstudie zum globalen Terrorismus, VS Verlag.

Elter, Andreas, 2007, “Die RAF und die Medien” dalam: Wolfgang Kraushaar (Editor): Die RAF und der linke Terrorismus, Hamburger Edition HIS Verlag, Hamburg 2007.

Strassner, Alexander, 2008, Sozialrevolutionärer Terrorismus: Theorie, Ideologie, Fallbeispiele, Zukunftsszenarien, VS Verlag.

Wattimena, Reza A.A., Deradikalisasi, Keterbukaan dan Manusia Pembelajar, dalam Rumah Filsafat https://rumahfilsafat.com/2017/04/29/deradikalisasi-keterbukaan-dan-manusia-pembelajar/ diakses 8 Mei 2017.

Wattimena, Reza A.A., 2010, Bangsa pengumbar hasrat: Dari Filsafat Anti-Gosip sampai dengan Kaderisasi Terorisme, Rembang.

Wattimena, Reza A.A., 2016, Demokrasi: Dasar Filosofis dan Tantangannya, Kanisius.

Wattimena, Reza A.A, 2017, Manager/Filsuf: Mengelola Bisnis dan Dunia dari Sudut Pandang Filsafati, Ledalero.

Wattimena, Reza A.A., 2007, Melampaui Negara Hukum Klasik, Kanisius.

Wattimena, Reza A.A., 2008, Filsafat dan Sains, Grasindo.

Wattimena, Reza A.A., 2015, Filsafat sebagai Revolusi Hidup, Kanisius.

Wattimena, Reza A.A., 2015, Bahagia: Kenapa Tidak? Maharsa.

Wattimena, Reza A.A., 2017, “Wake Up and Live: Cosmopolitanism in Oriental Worldview”, Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Parahyangan, 2017.

http://www.bpb.de/geschichte/deutsche-geschichte/geschichte-der-raf/49218/definition-von-terrorismus?p=all diakses 8 Mei 2017.

—————————————————————–

[1] Lihat, Elter, Andreas, 2007, “Die RAF und die Medien” dalam: Wolfgang Kraushaar (Editor): Die RAF und der linke Terrorismus, Hamburger Edition HIS Verlag, Hamburg 2007.

[2] Lihat uraian tentang terorisme dalam http://www.bpb.de/geschichte/deutsche-geschichte/geschichte-der-raf/49218/definition-von-terrorismus?p=all diakses 8 Mei 2017.

[3] Lihat analisis lebih dalam soal ini: Wattimena, Reza A.A., Deradikalisasi, Keterbukaan dan Manusia Pembelajar, dalam Rumah Filsafat https://rumahfilsafat.com/2017/04/29/deradikalisasi-keterbukaan-dan-manusia-pembelajar/ diakses 8 Mei 2017.

[4] Lihat, Strassner, Alexander, 2008, Sozialrevolutionärer Terrorismus: Theorie, Ideologie, Fallbeispiele, Zukunftsszenarien, VS Verlag.

[5] Lihat, Wattimena, Reza A.A., 2010, Bangsa pengumbar hasrat: Dari Filsafat Anti-Gosip sampai dengan Kaderisasi Terorisme, Rembang.

[6] Saya mengacu pada tulisan saya Wattimena, Reza A.A., Terorisme dan Kegagalan Demokrasi dalam Rumah Filsafat https://rumahfilsafat.com/2010/03/19/terorisme-dan-kegagalan-demokrasi/ diakses 8 Mei 2017.

[7] Bdk, Wattimena, Reza A.A., 2016, Demokrasi: Dasar Filosofis dan Tantangannya, Kanisius.

[8] Bdk, Wattimena, Reza A.A, 2017, Manager/Filsuf: Mengelola Bisnis dan Dunia dari Sudut Pandang Filsafati, Ledalero.

[9] Bdk, Wattimena, Reza A.A., 2007, Melampaui Negara Hukum Klasik, Kanisius.

[10] Saya mengacu pada tulisan saya Wattimena, Reza A.A., Terorisme dan Cinta yang Gagal, https://rumahfilsafat.com/2010/10/13/terorisme-dan-cinta-yang-gagal/ diakses 8 Mei 2017.

[11] Saya mengacu pada tulisan saya Wattimena, Reza A.A., Filsafat, Terorisme dan Kebenaran dalam  https://rumahfilsafat.com/2009/09/21/filsafat-terorisme-dan-kebenaran/ diakses 8 Mei 2017.

[12] Lihat, Wattimena, Reza A.A., 2008, Filsafat dan Sains, Grasindo.

[13] Bdk, Wattimena, Reza A.A., 2015, Filsafat sebagai Revolusi Hidup, Kanisius.

[14] Lihat, Behr, Hartmut, 2004, Entterritoriale Politik: Von den Internationalen Beziehungen zur Netzwerkanalyse. Mit einer Fallstudie zum globalen Terrorismus, VS Verlag.

[15] Lihat, Wattimena, Reza A.A., 2008, Filsafat dan Sains..

[16] Bdk, Wattimena, Reza A.A., 2015, Bahagia: Kenapa Tidak? Maharsa.

[17] Lihat, Wattimena, Reza A.A., 2017, “Wake Up and Live: Cosmopolitanism in Oriental Worldview”, Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Parahyangan, 2017.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Transformasi Kesadaran dan Teori Tipologi Agama. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

12 tanggapan untuk “Terorisme dan Transendensi”

  1. kalau ada yg bertanya kenapa ada orang yg mau melakukan bom bunuh diri..cb tanya sm tentara kenapa mau ikut berperang

    Suka

  2. Kalo nafsu seseorang itu sudah tak terarah, hukum apapun dihalalkan atau di jadikan alat atsu dipakai demi pumuas nafsunya.

    Pintar tapi bodoh

    Mendingan bodoh tapi pintar

    Suka

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.