Apakah Kita Tinggal di “Dunia” yang Sama?

surrealist-art-illustrations-05Oleh Reza A.A Wattimena

Antri memang hal yang sangat membosankan. Setidaknya buat saya. Saya sudah coba berbagai cara, mulai dari membaca buku, sampai dengan meditasi, ketika sedang antri. Rasa bosan tak juga kunjung pergi.

Dua orang di depan saya tampak punya pengalaman berbeda. Mereka antri sambil berpegangan tangan. Terkadang, mereka berbicara, lalu tertawa. Kita sama-sama antri. Namun, pengalaman mereka jauh lebih indah, daripada apa yang saya alami.

Dunia Kita

Pengalaman kecil ini kiranya penting untuk didalami. Apakah kita hidup di dunia yang sama? Apakah kesamaan ruang fisik menentukan isi dunia yang kita alami? Para ahli neurosains dan filsuf sudah lama berdiskusi soal hal ini.

Tubuh manusia berbeda-beda. Tidak ada satupun yang sungguh sama. Bahkan, orang yang kembar identik pun memiliki ciri uniknya masing-masing. Hal serupa dengan dunia yang dialami manusia. Tak ada yang sama.

Sekilas, kita mengira, dunia tampil ke panca indera kita begitu saja. Semua orang mengalaminya. Berarti, semua orang punya pengalaman yang sama. Mereka, dengan kata lain, tinggal di dunia yang sama.

Pandangan ini sudah dipatahkan oleh para filsuf. Setiap orang melihat dunia, dan membentuk persepsi (Wahrnehmung) mereka masing-masing. Persepsi adalah konteks yang mempengaruhi cara pandang kita terhadap dunia, dan juga terhadap hidup kita. Ini seperti mata kita yang selalu dipengaruhi cahaya, terutama ketika hendak menentukan, warna apa yang kita lihat.

Tidak berlebihan jika dikatakan, konteks adalah segalanya. Satu tindakan yang sama memiliki arti berbeda di konteks yang berbeda. Misalnya, orang berteriak. Di satu konser musik dan di kamar, teriakan tersebut memiliki arti yang berbeda, karena konteks yang juga berbeda.

Anil Seth, seorang neurosaintis asal Inggris, bergerak lebih jauh. Tidak hanya konteks yang mempengaruhi persepsi manusia. Persepsi amat dipengaruhi oleh aliran informasi dari panca indera yang kemudian sampai ke otak. Otak lalu mengelola informasi tersebut, dan merumuskan “tebakan paling tepat” (best guess)  tentang dunia di luar diri manusia.

Manusia tak pernah bisa mengetahui dunia nyata yang sesungguhnya. Yang bisa ia ketahui hanyalah hasil tebakan terbaik otak tentang dunia nyata tersebut. Seth menyebutnya sebagai “halusinasi yang terkontrol” (controlled hallucination). Halusinasi ini terhubung dengan kenyataan lewat prediksi yang terus diperbaiki. Namun, ia tidak pernah sama persis dengan kenyataan.

Dunia yang Jamak

Setiap orang memiliki tubuh fisik yang berbeda. Bentuk otak setiap orang pun berbeda. Maka, hasil prediksi dan tebakan atas kenyataan pun berbeda-beda. Kita memiliki persepsi yang berbeda-beda, walaupun menghadapi kenyataan yang sama. (Seth, 2022)

Contoh paling sederhana adalah persepsi orang soal warna. Warna biru tampil berbeda bagi orang yang berbeda. Rasa juga memiliki pola serupa. Rasa buah jeruk, yang dimakan oleh orang yang berbeda, akan memiliki rasa yang berbeda pula.

Perbedaan persepsi adalah sesuatu yang sangat halus. Ia terjadi di dalam rahasia dan ketersembunyian. Ia bahkan terjadi di balik bahasa sehari-hari yang digunakan manusia. Perbedaan persepsi adalah bagian paling intim dari ruang privat.

Para filsuf dan ilmuwan sudah lama berbicara soal halusinasi dan delusi dari pikiran manusia, ketika berhadapan dengan kenyataan. Biasanya, keduanya dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya. Dengan kekuatan akal budinya, manusia diminta untuk melampaui halusinasi dan delusi mereka. Hanya dengan begitu, manusia bisa sampai pada pengetahuan yang benar.

Para ilmuwan neurosains juga terus meneliti hal ini. Mereka sampai pada konsep neurodiversitas (neurodiversity), atau keberagaman pengalaman fisik manusia, ketika berhadapan dengan dunia. Perbedaan tersebut begitu besar, sehingga layak menjadi bahan kajian lebih jauh. Dalam arti ini, setiap bentuk halusinasi dan delusi bukanlah sesuatu yang selalu harus ditakuti, tetapi hanya merupakan sebentuk keberagaman pemahaman semata.

Pada kasus ekstrem, perbedaan pemahaman ini bisa membahayakan. Ini tentu harus dihadapi dengan seksama. Namun, dalam banyak kasus, perbedaan ini adalah sesuatu yang alamiah. Tidak hanya itu, ia bahkan sesuatu yang mesti dihargai, serta dirayakan.

Keberagaman Persepsi

Setiap orang hidup di dunianya masing-masing. Ruang fisik bisa sama. Bentuk dan gerak tubuh bisa hampir serupa. Namun, penghayatan dunia pribadi, atau persepsi, bisa amat sangat berbeda.

Seth menyebutnya seagai keberagaman perseptual (perceptual diversity). Tidak ada persepsi yang salah, dan tidak ada persepsi yang benar. Tidak ada persepsi yang lebih baik, atau lebih buruk. Tidak ada satu ukuran universal untuk membandingkan keberagaman persepsi yang ada. Keberagaman perseptual adalah satu kodrat manusia.

Kita pun bisa belajar untuk rendah hati. Tak selamanya, pikiran dan pendapat kita benar. Tak selamanya juga, persepsi kita sesuai dengan kebenaran dari kenyataan. Ada orang-orang lain yang memiliki persepsi yang sama sekali berbeda dengan kita.

Persepsi akan mendorong perilaku. Ini lalu menciptakan budaya tertentu. Memahami keberagaman persepsi akan mendorong lahirnya pemahaman akan perbedaan secara lebih mendalam. Dengan ini, peluang komunikasi untuk perdamaian di tengah keberagaman persepsi bisa menjadi lebih terbuka.

Dunia tidak hanya semakin damai, tetapi juga semakin kaya. Hidup akan lebih berwarna, dan lebih indah. Di depan keindahan alam yang ada, setiap orang melihatnya dengan cara yang beragam, dan bisa sama sekali berbeda. Kita tidak tinggal di dunia yang sama, dan itu adalah sesuatu yang sungguh indah.

Di tengah antrian yang panjang, saya membayangkan banyaknya ragam dunia yang ada di ruang-ruang batin setiap orang. 100 orang memiliki 100 dunia yang berbeda. Sungguh hebat dan agung alam semesta kesadaran kita. Saya hanya bisa terdiam, dan… tersenyum.

***

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.