Solidaritas yang Belum Menetas

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ia sibuk mengejar karir. Hari-harinya dihabiskan untuk mengumpulkan harta, supaya ia bisa membeli banyak harta lainnya. Banyak hal yang ia punya sebenarnya tak ia butuhkan. Ia terjebak di dalam ilusi konsumtivisme, yakni membeli barang demi membeli barang itu sendiri, tanpa tujuan di luarnya.

Ia tak peduli, jika ada orang lain yang membutuhkannya. Ia tidak peduli dengan kemiskinan yang terjadi di sekitarnya. Ironisnya, ketika ia jatuh, ia pun sendiri. Semua harta tak dapat menolongnya, ketika depresi menghampiri, dan godaan bunuh diri mengintip di pintu hati. Lanjutkan membaca Solidaritas yang Belum Menetas

Buku Filsafat Terbaru: Antara Ingatan Kolektif, Pengakuan dan Rekonsiliasi

Buku terbitan terbaru dalam bahasa Jerman. Bisa diperoleh di

Versi kindle bisa diperoleh di

Mengembangkan Filsafat Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Cukup lama, saya mengunjungi berbagai kelas filsafat di Eropa. Tentu saja, filsafat Barat amat kental berkembang di sana. Banyak ahli yang mendalami satu bidang tertentu di dalam filsafat Barat, misalnya filsafat Yunani kuno atau filsafat Jerman, lalu mengajar di berbagai universitas. Dengan cara ini, filsafat Barat, atau lebih tepatnya filsafat Eropa, mampu memelihara dan mengembangkan identitasnya.

Namun, di Eropa, pemahaman tentang filsafat Asia amatlah kurang. Belahan dunia lainnya, seperti Asia, Amerika, Afrika dan Australia memang dianggap tidak menelurkan pemikiran filsafat tertentu. Jika pun ada kuliah ataupun penelitian filsafat tentang peradaban di luar Eropa, nuansa orientalisme masih amatlah kuat. Dalam arti ini, orientalisme adalah pandangan yang berusaha memahami kebudayaan lain dengan menggunakan kaca mata pemikiran Eropa. Pola ini tentu akan jatuh ke dalam kesalahpahaman.

Lalu, bagaimana dengan filsafat Indonesia? Apakah mungkin Indonesia mempunyai ajaran filsafat tersendiri? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami arti dari Indonesia dan arti dari filsafat itu sendiri. Lanjutkan membaca Mengembangkan Filsafat Indonesia

Agama dan Instrumentalisasi Agama

‘Prayer’ – Stephen Rothwell

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Agama memainkan peranan besar di dalam perkembangan peradaban manusia. Agama berasal dari kata bahasa Latin Religare yang berarti mengikat. Agama mengikat manusia menjadi satu kesatuan komunitas. Komunitas itu lalu dibimbing oleh nilai-nilai yang sama di dalam menjalani kehidupan.

Agama dan Kehidupan

Sejatinya, agama lahir dari pengalaman mistik manusia. Pengalaman mistik, dalam arti ini, adalah pengalaman kesatuan dengan seluruh alam semesta, sekaligus kesatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari manusia itu sendiri. Pengalaman ini biasanya menyentuh satu atau sekelompok orang, lalu berkembang menjadi sebuah organisasi di dalam masyarakat. Beberapa agama berkembang menjadi agama dunia, dan bergerak melintasi batas-batas peradaban. Lanjutkan membaca Agama dan Instrumentalisasi Agama

Yang Indah di dalam Sistem Pendidikan Finlandia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

“Siapa disini yang ingin menjadi guru?”, begitulah pertanyaan Pasi Salhberg, pakar pendidikan asal Finlandia, ketika ia mengunjungi Amerika Serikat. (Anderson, 2011) Kelas itu berisi 15 orang. Sayangnya, hanya dua orang yang mengangkat tangan. Sisanya hanya terdiam membisu.

Di Finlandia, pertanyaan yang sama akan dijawab dengan amat antusias. Kurang lebih, 25 persen peserta didik di Finlandia memilih untuk menjadi guru. Memang, Finlandia kini menjadi negara acuan terkait dengan sistem dan paradigma pendidikan. Peserta didik disana memperoleh peringkat satu di dalam berbagai indikator internasional terkait dengan prestasi pendidikan. Lanjutkan membaca Yang Indah di dalam Sistem Pendidikan Finlandia

Seperti Naik Sepeda

Dimuat di Harian Kompas 11 November 2017 hal 25

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Naik sepeda memang nikmat. Badan bergerak, sambil diterpa angin sepoi-sepoi mengarah ke tempat tujuan. Ketika naik sepeda, orang justru menjaga keseimbangan dengan terus bergerak. Ketika ia berhenti, ia bisa terjatuh. Inilah keutamaan hidup yang penting di awal abad 21 ini: mencari keseimbangan dengan terus bergerak.

Di abad 21 ini, seluruh peradaban manusia mengalami perubahan yang begitu cepat. Dunia bagaikan berlari kencang, tanpa mempedulikan hal-hal lainnya. Tak berlebihan kiranya, bahwa Anthony Giddens, pemikir asal Inggris, mengatakan, bahwa dunia kita adalah dunia yang tunggang langgang (runaway world). Siapa yang tak siap ikut berlari, pasti akan tertinggal.   Lanjutkan membaca Seperti Naik Sepeda

Memori, Tolong Daku…

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

“Memori, kau membuka luka lama, yang kuingin lupa. Memori, tolong daku, pergi jauh, janji takkan kembali memori..”, begitulah petikan lirik lagu Memori, yang pernah dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya, lebih dari 20 tahun yang lalu. Ketika menulis artikel ini, saya sedang menikmati lagu tersebut. Lantunan lirik indah dipadu dengan musik yang bermutu sungguh menggetarkan hati. Makna yang ditawarkan pun juga sangat dalam.

Memang, memori, selanjutnya saya sebut sebagai ingatan, amatlah penting di dalam hidup manusia. Ingatan berisi segala yang kita ketahui tentang diri maupun dunia yang kita tinggali. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa ingatan adalah unsur terpenting bagi identitas kita sebagai pribadi. Aku menjadi aku, karena ingatan yang kupunya. Lanjutkan membaca Memori, Tolong Daku…

Hantu itu Bernama Primordialisme…

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Kurang lebih dua ratus tahun yang lalu, Karl Marx pernah menulis, “Ada hantu yang bergentayangan di Eropa…. Hantu komunisme.” Di jaman kita, kalimat ini harus dirumuskan ulang. Ada hantu yang bergentayangan di dunia… hantu itu bernama primordialisme.

Primordialisme adalah paham yang menekankan ikatan-ikatan primordial sebagai dasar utama bagi hubungan antar manusia. Ikatan-ikatan primordial tersebut adalah suku, ras, ikatan keluarga dan agama. Kedekatan primordial menjadi unsur utama dari hubungan pertemanan, percintaan sampai dengan hubungan bisnis. Tanpa dasar primordial semacam ini, hubungan manusia menjadi amat sulit, bahkan tidak mungkin. Lanjutkan membaca Hantu itu Bernama Primordialisme…

Racun-Racun Pendidikan Kita

Void Mirror

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Pendidikan merupakan urusan bersama. Ia bukanlah hanya urusan para ahli ataupun praktisi pendidikan. Masyarakat sebagai keseluruhan, sebenarnya, merupakan sebuah institusi pendidikan. Pendidikan terjadi setiap saat di dalam kehidupan bersama, melampaui sekat-sekat ruang kelas.

Pendidikan tertinggi datang dari keteladanan hidup. Rumusan moral maupun ilmu pengetahuan akan menjadi percuma, tanpa keteladanan hidup yang nyata. Ketika keteladanan meredup, maka kemunafikan akan bertumbuh. Buih moral nan suci akan dibarengi dengan hasrat akan uang, kuasa dan kenikmatan seksual yang tak terbendung. Lanjutkan membaca Racun-Racun Pendidikan Kita

Gedankenlosigkeit

                                                                    Pinterest

atau tentang Ketidakberpikiran

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Gedankenlosigkeit… Jangan khawatir, karena istilah ini bukanlah sebuah mantra sihir. Ia tidak memiliki kekuatan gaib untuk menyihir orang, seperti misalnya di film Harry Potter. Ini merupakan kata yang lahir dari rahim filsafat Jerman, terutama dari pemikiran Hannah Arendt dan Martin Heidegger. Artinya sederhana, yakni ketidakberpikiran, atau sebuah keadaan, dimana orang tidak lagi menggunakan pikirannya, sehingga ia hidup hanya mengikuti apa yang ada, tanpa tanya.

Gedankenlosigkeit dialami oleh seseorang, ketika ia tidak lagi berpikir kritis. Ia gampang sekali percaya pada apa yang dikatakan orang, tanpa kecurigaan apapun. Ia gampang disetir, sehingga gampang sekali dipergunakan oleh orang lain untuk tujuan-tujuan yang tidak baik. Ia bagaikan robot yang diprogram untuk patuh buta pada tuannya. Lanjutkan membaca Gedankenlosigkeit

Di Hadapan Ketidakadilan

pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Di satu sisi, ada orang yang hidupnya baik, namun terjebak dalam kemiskinan. Beragam usahanya selalu gagal. Ia bekerja dengan jujur dan rajin. Sayangnya, bencana selalu menimpanya, sehingga ia kembali terjebak ke dalam lubang kemiskinan.

Di sisi lain, ada orang yang rakus dan licik. Ia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan, bahkan dengan merugikan teman dan kerabatnya. Ironisnya, ia justru menjadi orang yang kaya dan berpengaruh di lingkungannya. Keberuntungan tampak selalu datang di pangkuannya. Lanjutkan membaca Di Hadapan Ketidakadilan

Mengembalikan “Manusia” ke dalam Ilmu-ilmu Manusia

dev.null.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Sejujurnya, tidak ada satu pun orang yang memahami seluruh pendekatan metodik di dalam  ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu sosial, seperti ilmu politik, pendidikan, sosiologi, ekonomi, manajemen, antropologi, hubungan internasional, psikologi, sejarah dan beragam cabangnya, hendak memahami manusia di dalam konteks sosialnya. Ia merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar, yakni ilmu-ilmu manusia, atau humaniora. Kesemuanya itu sudah mengembangkan beragam metode yang rumit, canggih dan sangat terspesialisasi.

Di era komputer seperti sekarang, beragam angka dan algoritma digunakan tidak hanya untuk memahami perilaku manusia, tetapi juga untuk meramalkannya. Tentu saja, kepastian adalah sesuatu yang selalu lolos dari genggaman. Namun, berkat kecanggihan dan kerumitan metode penelitian yang telah dikembangkan, orang bahkan berani memastikan temuan dari penelitiannya. Statistik dan algoritma seolah menjadi rumus pasti di dalam memahami manusia dengan segala dimensinya. Lanjutkan membaca Mengembalikan “Manusia” ke dalam Ilmu-ilmu Manusia

Nalar Sehat, Dimanakah Dirimu?

Huffington Post

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Sejarah manusia memang tidak selalu bergerak maju. Yang kerap kali terjadi, tiga langkah maju ke depan diikuti dengan dua langkah mundur ke belakang. Inilah yang kiranya seringkali dialami oleh bangsa Indonesia. Pemahaman sejarah tak selalu berkembang ke arah kedewasaan, tetapi juga kerap mundur ke arah pembodohan.

Kesalahpahaman tentang apa yang terjadi pada 30 September 1965 dan tahun-tahun berikutnya masih saja tersebar. Fitnah dan kebohongan masih menjadi senjata utama untuk memecah belah dan memperbodoh rakyat luas. Tak heran, ketika banyak bangsa sudah mulai bergerak ke arah eksplorasi ruang angkasa, kita masih saja ribut soal isu komunis yang sudah ketinggalan jaman. Nalar sehat seolah menjadi barang langka di Indonesia. Lanjutkan membaca Nalar Sehat, Dimanakah Dirimu?

Tubuh, Pikiran dan Kehidupan

Ryohei Hase

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta 

Apa teknologi yang paling canggih di muka bumi ini? Sebagian orang akan bilang, pesawatlah teknologi tercanggih di dunia ini, apalagi pesawat luar angkasa. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, ada satu teknologi lagi yang lebih canggih dari pesawat luar angkasa. Jawabannya mungkin tak terduga, yakni tubuh manusia.

Tubuh, Pikiran dan Emosi

Tubuh manusia memiliki beragam mekanisme yang amat kompleks. Sistem pencernaan berjalan harmonis dengan sistem pernafasan, sekaligus sistem saraf. Semuanya saling terhubung dan mendukung satu sama lain. Tubuh manusia juga mampu secara alami mengubah semua jenis makanan menjadi bagian dari dirinya. Lanjutkan membaca Tubuh, Pikiran dan Kehidupan

Penjilat, Pengecut dan Pejuang

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Apa yang membuat manusia menjadi mahluk “terkuat” di bumi sekarang ini? Secara otot, ia jauh lebih lemah daripada singa, serigala bahkan anjing. Fisik manusia lemah, jika dibandingkan banyak mahluk hidup lainnya. Setiap manusia memerlukan waktu hampir 20 tahun, supaya ia bisa bertahan hidup secara mandiri sebagai manusia dewasa.

Yang membuat manusia menjadi mahluk unggul di bumi adalah kemampuannya untuk bekerja sama dengan manusia lainnya. Pendek kata, manusia mampu berorganisasi. Dengan kemampuan ini, manusia menciptakan berbagai alat yang membantu pelestarian diri sekaligus perkembangan dirinya. Kerja sama di dalam sebuah organisasi mampu mendorong manusia melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukan, jika ia bekerja sendiri. Lanjutkan membaca Penjilat, Pengecut dan Pejuang

Kejujuran dan Kepercayaan

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Tunggu dulu. Dua kata ini, yakni kejujuran dan kepercayaan, memang tampak terkait erat. Sekilas, orang akan mengira, bahwa tulisan ini akan mengajarkan hal-hal luhur terkait moralitas, yakni bahwa orang yang jujur akan mengundang kepercayaan. Saya tidak mau membahas soal itu.

Sejujurnya, dua hal ini, yakni kejujuran dan kepercayaan, bisa dilihat dengan cara berbeda. Keduanya saling bertentangan, bahkan meniadakan satu sama lain. Kejujuran terkait kebesaran hati seseorang untuk menyatakan sesuatu sebagaimana adanya. Kepercayaan terkait dengan sikap keras kepala untuk yakin pada sesuatu yang sama sekali belum jelas.   Lanjutkan membaca Kejujuran dan Kepercayaan

Paranoia Global

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Ia selalu gelisah. Di dalam kepalanya, seluruh dunia adalah musuhnya. Ia merasa, semua orang membencinya. Mereka siap untuk bersekongkol untuk menjatuhkan semua usahanya.

Pikiran-pikiran semacam itu amat menyiksanya. Ia sulit untuk tidur. Makan pun terasa tidak nikmat. Karena kekalutan pikirannya ini, ia cenderung bersikap kejam tidak hanya kepada teman-temannya, tetapi juga pada keluarganya. Lanjutkan membaca Paranoia Global

Pemimpin Tanpa Kepemimpinan

2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita memang hidup di dunia yang menarik. Banyak hal justru semakin diminati, karena ia kehilangan isi utamanya. Misalnya; bir tanpa alkohol, kopi tanpa kafein, sekolah tanpa pendidikan, hubungan percintaan tanpa komitmen, dan, yang paling menarik, pemimpin tanpa kepemimpinan. Semuanya adalah kerangka tanpa isi, namun justru menjadi gejala umum yang banyak terjadi di masyarakat kita. Tentu saja, dampaknya juga beragam.

Pemimpin adalah jabatan formal. Biasanya, orang menyebutnya sebagai manajer, bos atau direktur. Kepemimpinan adalah isi utama dari seorang pemimpin, termasuk nilai-nilai yang ia miliki di dalam membuat keputusan. Pemimpin tanpa kepemimpinan sama seperti sekolah tanpa pendidikan, itu tak berguna, dan justru menghambat perkembangan. Lanjutkan membaca Pemimpin Tanpa Kepemimpinan

Krisis Kewarasan Global

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Pendiri Program “Sudut Pandang”, Peneliti di Bidang Filsafat Politik dan Pengembangan Organisasi

Beberapa minggu belakangan, beberapa belahan dunia diguncang beberapa peristiwa besar. Spanyol masih berkabung, karena serangan teroris di beberapa kotanya. Jumlah korban masih terus bertambah. Rasa takut masih tersebar luas tidak hanya di Spanyol, tetapi juga di berbagai negara Eropa.

Timur Tengah juga masih menjadi kawasan yang penuh dengan konflik. Konflik Israel dan Palestina meruncing beberapa minggu belakangan. Tindak balas dendam memperbesar skala konflik, dan menimbulkan lebih banyak korban. Perang saudara di Suriah, yang meliputi ketegangan regional sekaligus global antara Rusia dan Amerika Serikat,  juga masih jauh dari berakhir. Lanjutkan membaca Krisis Kewarasan Global

Kepemimpinan Primitif di Abad 21

                              Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di abad 21. Segala kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat kita nikmati bersama. Ilmu-ilmu sosial tentang tata kelola negara dan organisasi pun sudah berkembang begitu pesat. Organisasi yang menerapkannya berkembang menjadi perusahaan multinasional yang memiliki aset milyaran dollar AS.

Abad 21 juga dipandang sebagai masa keterbukaan dan kesalingterkaitan antar bangsa. Segala bentuk diskriminasi yang diwariskan oleh tradisi, baik itu diskriminasi ras maupun gender, kini dipertanyakan ulang. Demokrasi menjadi sistem pemerintahan yang digemari di seluruh dunia. Bahkan, wacana terkait terciptanya pemerintahan demokratis global juga terus berkembang. Lanjutkan membaca Kepemimpinan Primitif di Abad 21