Pemimpin Tanpa Kepemimpinan

2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita memang hidup di dunia yang menarik. Banyak hal justru semakin diminati, karena ia kehilangan isi utamanya. Misalnya; bir tanpa alkohol, kopi tanpa kafein, sekolah tanpa pendidikan, hubungan percintaan tanpa komitmen, dan, yang paling menarik, pemimpin tanpa kepemimpinan. Semuanya adalah kerangka tanpa isi, namun justru menjadi gejala umum yang banyak terjadi di masyarakat kita. Tentu saja, dampaknya juga beragam.

Pemimpin adalah jabatan formal. Biasanya, orang menyebutnya sebagai manajer, bos atau direktur. Kepemimpinan adalah isi utama dari seorang pemimpin, termasuk nilai-nilai yang ia miliki di dalam membuat keputusan. Pemimpin tanpa kepemimpinan sama seperti sekolah tanpa pendidikan, itu tak berguna, dan justru menghambat perkembangan.

Di Indonesia, berulang kali, saya menyaksikan sendiri hadirnya sosok pemimpin tanpa kepemimpinan. Orang memegang jabatan tinggi di berbagai organisasi, baik itu pemerintah, bisnis ataupun institusi pendidikan tinggi, namun tak memiliki nilai-nilai kepemimpinan. Biasanya, mereka menduduki jabatan tinggi itu bukanlah karena prestasi yang baik, melainkan karena politik menjilat yang mereka lakukan dengan gencar kepada pemimpin sebelumnya.

Apa saja yang merupakan nila-nilai dasar kepemimpinan? Saya melihat tiga hal mendasar. Pertama, seorang pemimpin harus memiliki jiwa ksatria. Ia berani berkorban untuk orang-orang yang ia pimpin, demi kebaikan bersama seluruh organisasi, dan masyarakat luas. Tanpa sikap ini, seorang pemimpin akan jatuh menjadi pengecut kerdil yang mengancam keberadaan seluruh organisasi.

Dua, seorang pemimpin sejati perlu memiliki dua hal, yakni visi panjang ke depan yang terumuskan secara baik dalam strategi jangka panjang, serta sikap pragmatis untuk mewujudkan visi tersebut secara nyata dan bertahap dalam kerja sehari-hari. Tanpa visi yang jelas, kebijakan sehari-hari menjadi tanpa arah. Tanpa sikap pragmatis, visi yang dicantumkan hanya menjadi mimpi semata. Keduanya terjadi, ketika seorang pemimpin tidak memiliki nilai-nilai kepemimpinan.

Tiga, sikap ilmiah juga merupakan unsur penting dalam kepemimpinan. Ada dua sikap ilmiah dasar, yakni sikap kritis dan keberanian menguji ide-ide baru. Sikap kritis berarti kemauan untuk mempertanyakan setiap informasi yang ada, sehingga orang tidak menggunakan fitnah dan gosip sebagai dasar pembuatan keputusan. Keberanian menguji ide-ide baru berarti keberanian bereksperimen untuk menemukan cara yang paling tepat, guna mengembangkan organisasi.

Pada akhirnya, seorang pemimpin sejati, yakni pemimpin yang memiliki nilai-nilai kepemimpinan, harus bisa menyebarkan inspirasi ke lingkungan sekitarnya, dan masyarakat luas. Inspirasi itu lalu melahirkan beragam kepemimpinan baru di berbagai tingkat kehidupan masyarakat. Inilah yang disebut kepemimpinan kolektif. Jika ini bisa berkembang, maka nilai-nilai kepemimpinan akan menjadi nilai-nilai bersama yang melahirkan budaya unggul dan sistem yang berkesinambungan di masyarakat.

Untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran bersama di masyarakat, kehadiran seorang pemimpin sejati amatlah diperlukan. Sebaliknya, kehadiran para pemimpin organisasi yang tak memiliki nilai-nilai kepemimpinan bagaikan parasit yang merusak kehidupan bersama. Mereka menghisap sumber daya organisasi, namun kinerjanya amatlah rendah, dan bahkan merugikan organisasi.

Pertanyaannya, mau sampai kapan kehadiran para pemimpin parasit ini dibiarkan?

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

10 thoughts on “Pemimpin Tanpa Kepemimpinan”

  1. Baru ini saya dan teman saya berfikir bahwa Pancasila menjawab pertanyaan tujuan berbangsa bernegara dan kami mencoba mencari maksud dan esensi dari setiap sila tersebut satu-persatu, menurut kami bahwa tujuan bernegara dijelaskan dalam sila ke lima, dan hal tersebut akan tercapai apabila sila ke 1 sampai 4 terpenuhi, pertanyaan yang mungkin timbul, apakah negara ini sudah dipimpin sesuai sila ke 4? 😊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s