Nalar Sehat, Dimanakah Dirimu?

Huffington Post

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Sejarah manusia memang tidak selalu bergerak maju. Yang kerap kali terjadi, tiga langkah maju ke depan diikuti dengan dua langkah mundur ke belakang. Inilah yang kiranya seringkali dialami oleh bangsa Indonesia. Pemahaman sejarah tak selalu berkembang ke arah kedewasaan, tetapi juga kerap mundur ke arah pembodohan.

Kesalahpahaman tentang apa yang terjadi pada 30 September 1965 dan tahun-tahun berikutnya masih saja tersebar. Fitnah dan kebohongan masih menjadi senjata utama untuk memecah belah dan memperbodoh rakyat luas. Tak heran, ketika banyak bangsa sudah mulai bergerak ke arah eksplorasi ruang angkasa, kita masih saja ribut soal isu komunis yang sudah ketinggalan jaman. Nalar sehat seolah menjadi barang langka di Indonesia.

Di sisi lain, korupsi juga masih terus menjadi masalah yang tak terselesaikan di Indonesia. Berbagai upaya untuk memerangi korupsi sampai ke akarnya selalu saja dihalangi oleh para politisi busuk. Lembaga penegak hukum pun seringkali tak mampu mempertahankan kebebasan dan wibawanya. Ia jatuh ke dalam politik kotor, dan kehilangan ketajamannya sebagai ujung tombak di dalam perang melawan korupsi.

Di Jerman, negara dengan pengaruh politik dan ekonomi terkuat di Eropa, bangkitnya kaum radikal juga menjadi tanda krisis nalar sehat. Ketakutan terhadap orang asing dijadikan alat politik untuk memecah belah dan memperoleh suara. Partai dengan paham radikal konservatif kini memperoleh kekuasaan besar di dalam politik Jerman. Ketika nalar sehat menjadi barang langka di dalam politik, masa depan seluruh bangsa pun menjadi suram.

Di belahan dunia lainnya, tegangan politik membawa kemungkinan terjadinya perang nuklir. Korea Utara dan Amerika Serikat masih terlibat konflik yang sama sekali tak mencerminkan kedewasaan politik. Caci maki dan saling hina terjadi di antara dua kepala negara yang memiliki kekuatan nuklir tersebut. Seluruh dunia pun menyaksikan semua ini dengan perasaan campur aduk, yakni antara tertawa melihat dua ulah anak kecil yang mengaku kepala negara, sekaligus takut dengan kemungkinan terjadinya perang dunia ketiga.

Pada tingkat yang lebih luas, umat manusia juga tak kunjung belajar dari kesalahannya sendiri. Alam dirusak demi kenikmatan dan kekuasaan sesaat. Binatang dibunuh tanpa mempertimbangkan, bahwa mereka juga merupakan mahluk hidup yang memiliki rasa dan martabat. Gaya hidup kita di abad 21 sama sekali tidak mencerminkan rasa prihatin terhadap kerusakan alam dan krisis energi yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Semakin dilihat, semakin banyak keputusan manusia jauh dari nalar sehat. Emosi dan sikap rakus justru menjadi daya dorong utama pembuatan keputusan. Tak heran, banyak masalah lama tak selesai, sementara masalah baru sudah muncul. Tanpa nalar yang sehat di dalam menjalani kehidupan, hidup manusia hanya menjadi kumpulan masalah dan penderitaan yang tak kunjung berakhir.

Sejarah Nalar

Nalar adalah bagian dari kodrat manusia. Begitulah pendapat Aristoteles, filsuf Yunani, lebih dari 2000 tahun yang lalu. Manusia adalah mahluk bernalar. Dengan nalarnya tersebut, manusia mampu bertanya, serta memahami dunia dengan menggunakan akal budinya.

Pemahaman itu lalu berbuah menjadi filsafat. Filsafat menjadi sebuah upaya untuk memahami segala yang ada dengan berpijak pada penalaran, dan bukan pada iman ataupun tradisi. Filsafat lalu berkembang menjadi ilmu pengetahuan modern dengan metode penelitian ilmiah yang menjadi ciri khasnya. Teknologi pun lalu berkembang dari rahim ilmu pengetahuan modern, dan menjadi bagian besar hidup manusia modern.

Bernalar berarti memahami sebab akibat yang terjadi di dunia ini secara jernih. Fakta bahwa dua hal terjadi secara berurutan, tidak berarti, bahwa ada hubungan sebab akibat disitu. Pola berpikir inilah yang kerap kali melahirkan kesalahpahaman. Bernalar berarti berusaha melihat hubungan sebab akibat sebagaimana adanya di dunia, dan bukan dengan berpijak pada pengandaian-pengandaian atau bahkan prasangka di dalam pikiran manusia.

Di dalam filsafat modern, terutama di dalam pemikiran Immanuel Kant, nalar juga dipadukan dengan moralitas. Di dalam kebudayaan kuno, moralitas diletakkan di atas iman dan ajaran teologis agama tertentu. Pola ini kemudian dipatahkan dengan penegasan, bahwa pandangan-pandangan moral haruslah dapat diterima dengan nalar sehat. Pandangan ini diuraikan lebih dalam di dalam karya Immanuel Kant: Grundlegung zur Metaphysik der Sitten.

Kant juga lebih jauh menegaskan, bahwa nalar haruslah menjadi dasar dari hidup bersama. Nalar sehat haruslah menjadi panduan dari kehidupan politik. Pandangan ini kemudian dikembangkan oleh Jürgen Habermas dengan konsep nalar komunikatifnya (kommunikative Vernunft). Segala bentuk perbedaan pandangan di dalam politik, termasuk konflik yang kerap kali terjadi, bisa dijembatani melalui komunikasi yang berpijak pada akal sehat.

Melampaui Nalar

Nalar sehat amatlah penting bagi hidup manusia. Ini tentu tak dapat disangkal lagi. Nalar berguna untuk menata hidup pribadi maupun hidup bersama. Di Indonesia, dan juga di banyak negara lainnya, banyak bidang kehidupan tidak dikelola dengan menggunakan nalar sehat. Akibatnya, banyak tata kehidupan, mulai dari agama, pendidikan sampai dengan politik, mengalami kekacauan, dan terjebak pada beragam masalah, tanpa henti.

Walaupun penting, nalar tetaplah bukan segalanya. Ia adalah alat yang penting untuk pelestarian diri manusia. Namun, kehidupan manusia yang sesungguhnya lebih luas dan lebih dalam dari sekedar nalar. Ini merupakan salah satu pelajaran terpenting dalam hidup manusia.

Ketika nalar menjadi Tuhan, acuan hidup manusia lalu hanyalah akal, ilmu pengetahuan dan teknologi. Nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi diabaikan, bahkan dianggap tak ada. Dua perang dunia di abad ke 20 menjadi contoh yang jelas akan hal ini. Akal tanpa panduan nilai akan bermuara pada perang dan penghancuran alam.

Jika diperhatikan lebih dalam, seturut dengan ajaran filsafat India, nalar manusia adalah bentukan lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, nalar manusia adalah hasil dari programming. Ia tidak bersifat obyektif dan universal, melainkan tertanam pada pengandaian-pengandaian tertentu sebuah masyarakat yang seringkali tidak dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, nalar penting untuk digunakan, namun ia tetaplah perlu untuk dilampaui.

Nalar yang sehat adalah nalar yang bersikap kritis terhadap pengandaian-pengandaiannya sendiri. Ia tidak berpijak melulu pada pengandaian-pengandaian sosial tertentu, melainkan bergerak secara jernih untuk melampauinya. Inilah yang disebut sebagai nalar kosmopolit. Nalar ini bergerak melampaui sekat-sekat agama dan budaya, serta mengantarkan manusia pada kesadaran dasar sebagai mahluk semesta.

Sayangnya, nalar semacam ini menjadi barang langka. Pendidikan, yang seharusnya mengembangkan nalar sehat ini, justru berubah total menjadi pembodohan sistematis. Pertanyaan dan kreativitas dibunuh atas nama kepastian mutlak yang sebenarnya palsu. Pertanyaan ini kiranya menjadi sah untuk diajukan: nalar sehat, dimanakah dirimu?

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 tanggapan untuk “Nalar Sehat, Dimanakah Dirimu?”

  1. Saya jadi teringat dengan salah satu ungkapan Albert Einstein :

    “Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta, ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh”.

    Saya modifikasi menjadi :

    “Moral tanpa nalar adalah bodoh, nalar tanpa moral adalah jahat”.

    Suka

  2. seluruh thema ini , saya se pemikiran dengan pak wattimena, kita tidak bisa lepas dari pengandaian2 (vorstellung), sangat menolong, kalau kita tidak terikat dengan pengandaian. erst den kopf leer machen , dann ist der mensch handlungsfähig. saya alami dalam kehidupan sehari2, dengan hasil yang menakjubkan. dalam hidup spiritual semua nya harus di alami sendiri, tidak bisa di terang kan dengan kata 2 apa pun. dalam keadaan sulit, sangat menolong kalau kita focus ke pernapasan dan hidup “in hier und jetzt”, bahkan “geh meditation” bisa di terap kan setiap kali kita berjalan…seiring dgn pernapasan dan langkah kaki kiri kanan, kita kata kan “hier, jetzt, hier, jetzt usw usw”. untuk peminat kehidupan spiritual saya hanya bisa anjur kan , untuk menjalan i dan tetap menjalan i, walau begitu “berat”.
    salam hangat dari köln

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s