Publikasi Terbaru: Ubud dalam Pelukan Sintesis Jati Diri

Umat Hindu sedang melakukan upacara keagamaan di salah satu pura di Ubud, Bali.

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya pertama kali menyentuh Ubud, Bali pada 2018 lalu. Wangi dupa mengisi jalan raya. Warna warni adat dan agama memperkaya udara. Saya seperti di surga. Di Ubud, yang modern dan yang tradisional berpadu satu. Toko-toko modern dan restoran internasional berjamuran di sana. Pura-pura suci Bali dan adat asli Ubud juga hadir dalam keagungannya. Yang modern dan yang tradisional hidup bersama, saling memperkaya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Ubud dalam Pelukan Sintesis Jati Diri”, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2021/07/18/205454765/ubud-dalam-pelukan-sintesis-jati-diri?page=all#page2.

Editor : Wisnu Nugroho

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Publikasi Terbaru: Apakah Kita Bebas?

Just freedom by Helena Georgiou on 500px | Freedom pictures, Surreal art,  Art picturesRefleksi terhadap Penelitian-penelitian Neurosains

Tentang Otak dan Kebebasan

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di

Diterbitkan di The Ary Suta Center Series on Strategic Management Juli 2021, VOlume 54

Tulisan ini hendak memahami kebebasan manusia dari sudut pandang neurosains dan filsafat. Beberapa pendekatan di dalam neurosains tentang kebebasan akan dijabarkan. Lalu, beberapa refleksi filosofis atas tema itu akan diberikan. Kebebasan, pada titik ini, dipahami sebagai kompleksitas yang melahirkan ketidakpastian dari tindakan manusia. Kebebasan dipandang sebagai ketaktertebakan dari tindakan manusia sebagai hasil dari kompleksitas sistem saraf dan otaknya. Tulisan ini mengacu pada kerangka penelitian yang dikembangkan oleh David Eagleman dan penelitian-penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh penulis (Reza A.A Wattimena).

Artikel Lengkap di Jurnal Reza, Otak dan Kebebasan

Apa yang Harus Dilakukan, Jika Negara Memperbodoh dan Mempermiskin Rakyatnya Sendiri?

Influences of Surrealism | HiSoUR - Hi So You AreOleh Reza A.A Wattimena

Juli 2021, Indonesia di ambang bencana. Pandemik COVID 19 masih menghantui. Pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang salah total terkait bencana ini. Rakyat pun semakin sulit hidupnya.

Jutaan pandangan sudah diajukan. Namun, semua tampak diabaikan. Pemerintah terus mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Dewan perwakilan rakyat pun tidak pernah sungguh mewakili kepentingan rakyat, melainkan hanya memperkaya diri sendiri dan partai semata. Negara tampak tuli pada suara dan kepentingan rakyatnya. Lanjutkan membaca Apa yang Harus Dilakukan, Jika Negara Memperbodoh dan Mempermiskin Rakyatnya Sendiri?

CERIA di Hadapan Bencana

Born to be wild" by Joerg Peter Hamann, Landscapes: Sea/Ocean, Emotions: Joy,  Painting

Oleh Reza A.A Wattimena

Bencana bukanlah hal baru di dalam hidup manusia. Bencana juga bukan hal baru bagi bumi ini.

Sebenarnya, tidak ada yang disebut bencana. Itu hanyalah konsep yang dibuat oleh manusia.

Bumi hanya bergerak dan berubah. Ia hanya mengikuti hukum-hukum alam sebagaimana adanya. Lanjutkan membaca CERIA di Hadapan Bencana

Andaikan Saya Presiden RI di Masa Pandemi

Coronavirus crisis on the Earth. COVID-19 by Olga Nikitina (2020) :  Painting Oil on Canvas - SINGULARTOleh Reza A.A Wattimena

Saya kecewa sekali dengan cara pemerintah Indonesia menangani pandemi. Semakin hari, rasa gemas semakin menguat di dalam diri.

Pandemi ini tidak hanya mengancam nyawa rakyat, tetapi juga meruntuhkan moral bangsa. Semakin hari, semakin banyak orang yang tidak lagi percaya pada pemerintah.

Mereka juga hidup semakin miskin. Bukan karena gagal dalam persaingan bisnis, tetapi karena kesalahan kebijakan pemerintah yang membuat mereka hidup dalam ketakutan dan kemiskinan.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diturunkan menjadi 3,8% dari sebelumnya 4%. Ini terjadi, karena ketidakpastian ekonomi, akibat perubahan kebijakan pemerintah yang begitu drastis di dalam menanggapi pandemi COVID 19.

Itu bukanlah sekedar angka semata. Di tengah meningkatnya jumlah penduduk, yang kini sudah melampaui 270 juta serta terus bertambah, rendahnya pertumbuhan ekonomi berarti, pendapatan rakyat semakin rendah, dan kemiskinan juga meluas. Lanjutkan membaca Andaikan Saya Presiden RI di Masa Pandemi

Bali Belajar dari Sang Sunyi

Bali prices - How to enjoy Bali on any budget? - Love and RoadOleh Reza A.A Wattimena

Bali sedang bertapa. Ia sedang mengembalikan jiwa aslinya.

Bali kini sunyi. Keindahannya tetap tak terkalahkan. Kesunyian ternyata tidak menciptakan kesedihan, tetapi justru keindahan yang berbalut keagungan. 

Pertengahan Mei 2021, saya menyentuh Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Arsitektur yang agung langsung menyambut dengan senyum. Lanjutkan membaca Bali Belajar dari Sang Sunyi

Zen dalam Satu Untai Puisi

Sol, Nuptials of Zen (Talon Abraxas) ~ flying dakiniOleh Reza A.A Wattimena

Puisi yang tepat akan menghantarkan kita ke gerbang pencerahan. Itu yang kiranya saya rasakan.

Tak heran, begitu banyak Zen Master yang menulis puisi. Mereka menyampaikan pesan-pesan pencerahan di dalam untaian puisi yang menggetarkan hati.

Zen adalah jalan tanpa jalan. Tidak ada teori.

Tidak ada rumusan. Yang ada hanyalah upaya untuk mengekspresikan inti dari segala yang ada, yakni kekosongan yang maha luas. Lanjutkan membaca Zen dalam Satu Untai Puisi

Dipanggil Bali Ketika Pandemi

File:Danau Women, Bali.jpg - Wikimedia CommonsOleh Reza A.A Wattimena

Awalnya, bagi saya, pulau itu tak sungguh bernama. Saya mengunjunginya sekitar tahun 1993. Bersama ayah, saya berkunjung ke Pulau Bali, pulau dewata yang terkemuka di dunia. Waktu itu, yang tampil di kepala adalah kumpulan pantai yang membosankan, diselingi hutan dan gunung diantaranya. Yang teringat hanya bermain dengan para monyet di Monkey Forest Ubud.

Perjalanan kedua terjadi pada 2006. Kali ini, teman-teman pergi menemani. Tetap sama, karena tak ada yang istimewa. Panasnya pantai Kuta menjadi satu-satunya yang teringat di kepala. Lanjutkan membaca Dipanggil Bali Ketika Pandemi

Duri di dalam Daging

Bureaucrat 1969 Etching 22x15 by Salvador DaliOleh Reza A.A Wattimena

Spanduk itu bertebaran di seluruh sudut kota. Wajah tak dikenal dengan gelar akademik yang berlimpah. Biasanya, ia berasal dari partai politik tertentu yang memegang kekuasaan. Ini ditambah dengan senyum bergigi putih, serta slogan-slogan agamis hampa.

Inilah pemandangan berbagai kota di Indonesia, ketika pemilihan umum tiba. Tingkatnya beragam, mulai dari pemilihan kepala desa, sampai dengan pemilihan presiden. Ada pengandaian sederhana, bahwa dengan banyaknya gelar akademik yang diperoleh, orang menjadi semakin kompeten di dalam memimpin bangsa. Semua seolah tambah meyakinkan, jika gelar agamis diselipkan diantaranya. Lanjutkan membaca Duri di dalam Daging

Meditasi: Apa, Mengapa dan Bagaimana?

9,149 Broom Sweep Photos - Free & Royalty-Free Stock Photos from DreamstimeOleh Reza A.A Wattimena

Setiap harinya, puluhan email masuk ke saya. Sebagian bertanya tentang filsafat. Sebagian lagi bertanya soal Zen dan meditasi. Beberapa bisa saya jawab. Namun, tak semuanya bisa tersentuh.

Soal filsafat sudah sering saya bahas, baik di website, buku maupun seminar. Soal meditasi sebenarnya juga sudah. Namun, saya merasa perlu untuk membahas soal ini secara sistematik dan sederhana. Lahirlah tulisan ini. Lanjutkan membaca Meditasi: Apa, Mengapa dan Bagaimana?

Pencerahan Tentang Tubuhku

Surreal depictions of the human body by the 'Hannibal Lecter' of the art  world | Dangerous Minds | Modern surrealism, Surrealism painting, ArtOleh Reza A.A Wattimena

Ada pencerahan cukup besar dalam perjalanan pesawat dari Denpasar ke Jakarta 9 Juni 2021 lalu. Buku lama dibaca sambil terbang melintasi jarak Bali ke Jawa. Tertulis kalimat sederhana yang membuka mata, „Aku bukanlah tubuhku“. Tersentak, waktu terasa berhenti.

Ada hening dalam diri yang tampil ke depan. Tubuh seperti kapas. Ia tipis dan melayang (ini fakta, karena memang sedang di pesawat). Satu kunci kehidupan terbuka, dan membuka banyak pintu lainnya. Lanjutkan membaca Pencerahan Tentang Tubuhku

Ketika Hidup Tak Sesuai Rencana

Relativity: Surreal Paintings of Indecision and Uncertainty by Alex Hall |  Surrealism painting, Art, Surreal artOleh Reza A.A Wattimena

            Tiga kisah nyata di seputar hidup saya. Seorang teman bersemangat berbisnis kuliner. Ia merancang sebuah café yang diharapkan akan menjadi populer. Semua rencana disiapkan. Pinjaman modal sudah didapatkan.

            Tanpa diduga, pandemik tiba. Semua batal. Hutang memang mendapat keringanan. Tetapi, ia tetap menjadi beban yang harus dibayar. Café batal. Pemasukan nol, bahkan minus. Lanjutkan membaca Ketika Hidup Tak Sesuai Rencana

Memperebutkan Jiwa Bangsa

5 Pengertian Nilai Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa & NegaraOleh Reza A.A Wattimena

Jiwa bangsa kita sedang dipertaruhkan. Ini sebenarnya bukan hal baru. Identitas adalah sesuatu yang mengalir. Namun, apakah aliran memberikan keadilan untuk semua, atau justru menciptakan pola-pola penindasan baru?

Hal ini menjadi penting dipikirkan, terutama ketika kita menyentuh peringatan hari kemerdekaan ke 76 Republik ini. Di satu sisi, kita diterkam beragam bentuk kemunafikan. Ia seringkali bersembunyi di balik slogan-slogan suci agamis. Di sisi lain, kekuatan nasionalisme progresif tetap ada, namun seperti tiarap dan terserak. Alhasil, Indonesia diancam oleh setidaknya lima musuh ini. Lanjutkan membaca Memperebutkan Jiwa Bangsa

Karma, Samsara dan Nirvana

Little Buddha ☉ Painting by Sabina NoreOleh Reza A.A Wattimena

Apakah hidup ini adil? Apakah orang jahat akan berakhir dalam nestapa? Apakah perbuatan baik akan mendapatkan ganjaran setimpal? Banyak orang mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Satu tradisi menjanjikan surga bagi mereka yang berbuat baik. Neraka tersedia bagi mereka yang terus menyakiti mahluk hidup lain. Tradisi lain mengajarkan konsep karma. Ia pun dipahami sebagai ekonomi moral. Lanjutkan membaca Karma, Samsara dan Nirvana

Manifesto Progresif Indonesia

Stunning Spanish Illustrations for The Communist Manifesto – Brain PickingsOleh Reza A.A Wattimena

Saya lelah menyimak perdebatan publik di Indonesia. Pandangan-pandangan yang dilontarkan sangat berat sebelah. Tradisi dan agama dipuja, tanpa jarak dan sikap kritis yang sehat. Alhasil, banyak masalah tak kunjung usai, bahkan semakin parah, mulai dari korupsi, konflik bersenjata sampai dengan terorisme yang berpijak pada agama.

Inilah sikap konservatif yang menjajah Indonesia. Pandangan-pandangan kuno dilontarkan bagaikan kebenaran mutlak. Pemuka agama dan artis dipuja bagaikan dewa. Yang saya rindukan adalah pandangan-pandangan progresif yang dulu melahirkan Republik Indonesia, dan mengantarkan kita semua keluar dari cengkraman rezim militer Orde Baru. Lanjutkan membaca Manifesto Progresif Indonesia

Inti Dharma sebagai Jalan Pembebasan

Surrealist music | HiSoUR - Hi So You AreOleh Reza A.A Wattimena

Ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Begitulah kiranya pengalaman seorang teman. Demi mendapat pekerjaan yang layak, ia merantau ke Jakarta. Di Jakarta, di hadapan tikaman kesepian, kekacauan dan radikalisme agama, ia terpaksa menjalani kehidupan yang bermutu rendah.

Tekanan batin dihadapinya dengan susah payah. Dalam jangka panjang, depresi pun berkunjung. Hidup terasa hampa tak bermakna. Larangan mudik 2021 pun semakin memperuncing derita. Lanjutkan membaca Inti Dharma sebagai Jalan Pembebasan

Artikel di Kompas: Anatomi Tekanan Sosial, Sebuah Refleksi Kritis

Screenshot (502)Oleh Reza A.A Wattimena

Kita bisa sadar, dan memilih dalam hidup kita. Kita bisa belajar tentang berbagai hal baru secara sadar. Kita bisa membentuk cara berpikir dan kebiasaan hidup baru secara sadar. Di dalam dunia yang tak pernah asli, kita bisa mengambil keputusan yang memutus pola, dan mengubah kebiasaan.

Namun, di Indonesia, kesadaran untuk memilih ini nyaris dihabisi oleh agama maupun tradisi. Dari cara berpakaian sampai pola bercinta, semua sudah diatur dengan detil. Penyimpangan tak hanya dianggap melawan tradisi, tetapi juga diancam dengan api neraka (yang sesungguhnya tak pernah ada). Ketakutan dan hukuman semu, yang berpijak diatas tradisi maupun agama konservatif, nyaris membunuh kesadaran untuk memilih bangsa ini. Lanjutkan membaca Artikel di Kompas: Anatomi Tekanan Sosial, Sebuah Refleksi Kritis

Artikel di Kompas: Dua Kerinduan yang Ganjil

Screenshot (501)

Oleh Reza A.A Wattimena

Ide tulisan ini saya peroleh, setelah bercakap-cakap dengan F. Budi Hardiman, dosen saya di STF Driyarkara dulu, di media sosial Whatsapp. Ia mengajukan tesis menarik, bahwa manusia dicengkeram oleh dua kerinduan ganjil sekarang ini. Yang pertama adalah kerinduan untuk dikuasai. Yang kedua adalah kerinduan untuk ditipu.

Orang menyerahkan dirinya untuk dijajah oleh orang lain. Tubuh dan pikirannya lalu tidak lagi menjadi miliknya. Orang juga dengan sadar ditipu oleh orang lain dengan janji-janji palsu. Harta, dan bahkan nyawanya, siap jadi persembahan. Lanjutkan membaca Artikel di Kompas: Dua Kerinduan yang Ganjil

Mengapa Negara yang Terobsesi pada Agama Cenderung Miskin dan Terbelakang?

The Art Of Dimitri Kozma: Dementia - Surreal painting by Dimitri KozmaOleh Reza A.A Wattimena

Bilangan Kemang, Jakarta Selatan, sekitar jam 7 malam, Senin 26 April 2021, saya sedang parkir motor. Terdengar suara gaduh begitu keras dan begitu lama. Saya bertanya kepada tukang parkir, suara apakah itu. Suara orang berdoa, jelasnya.

Mengapa begitu keras? Saya sampai tak bisa mendengar suara tukang parkir itu. Saya bahkan tak bisa mendengar suara saya sendiri. Mengapa berdoa harus begitu keras? Lanjutkan membaca Mengapa Negara yang Terobsesi pada Agama Cenderung Miskin dan Terbelakang?

Spiritualitas Uang

Surreal money Stock Photos - Page 1 : MasterfileOleh Reza A.A Wattimena

Dua kata ini, yakni spiritualitas dan uang, kerap kali dipisahkan. Spiritualitas dilihat sebagai sesuatu yang terkait dengan hal-hal yang suci, jauh dari uang. Sementara, uang dilihat tidak hanya sebagai pemenuh kebutuhan manusia, tetapi juga lambang harga diri di mata masyarakat. Uang kerap dicari dengan penuh ambisi dan kerakusan.

Pemahaman ini berbahaya. Tanpa campur tangan spiritualitas, uang akan menjadi alat untuk menindas orang lain dan alam. Uang akan menjadi pemuas kenikmatan yang menggiring orang pada kekosongan dan kehancuran hidupnya. Dalam arti ini, spiritualitas adalah perluasan identitas manusia dari sekedar diri pribadi menjadi seluas semesta. Lanjutkan membaca Spiritualitas Uang