Dipanggil Bali Ketika Pandemi

File:Danau Women, Bali.jpg - Wikimedia CommonsOleh Reza A.A Wattimena

Awalnya, bagi saya, pulau itu tak sungguh bernama. Saya mengunjunginya sekitar tahun 1993. Bersama ayah, saya berkunjung ke Pulau Bali, pulau dewata yang terkemuka di dunia. Waktu itu, yang tampil di kepala adalah kumpulan pantai yang membosankan, diselingi hutan dan gunung diantaranya. Yang teringat hanya bermain dengan para monyet di Monkey Forest Ubud.

Perjalanan kedua terjadi pada 2006. Kali ini, teman-teman pergi menemani. Tetap sama, karena tak ada yang istimewa. Panasnya pantai Kuta menjadi satu-satunya yang teringat di kepala.

Perjalanan ketiga terjadi pada 2018. Inilah perjalanan yang mengubah hidup saya. Pesona Bali menjadi terasa jelas. Keagungan budaya dan alamnya menyentuh langsung ke dalam jiwa.

Ini terjadi, karena sejak 2014, saya mengalami perubahan besar di dalam diri. Filsafat dan ilmu pengetahuan Eropa yang begitu menuhankan akal budi kini sudah terlampaui. Saya pun terbuka ada dimensi kehidupan yang lebih dalam, yakni dimensi tak bernama yang penuh cinta dan seluas semesta. Perubahan ini yang membuat saya begitu erat berpelukan dengan segala yang ada di Bali.

Di masa pandemik, tepatnya di 2021, Bali kembali memanggil. Sudah terlalu lama ia mengetuk hati, dan diabaikan oleh kesibukan. Keadaan memang tak ideal. Pandemi COVID 19, dan kegagalan pemerintah mengelolanya, menghantui tidak hanya Bali, tetapi seluruh dunia.

Namun, panggilan itu terus terasa di hati. 18 Mei 2021, saya berjalan berkeliling Gelora Bung Karno, Jakarta. Harapan saya sederhana, panggilan Bali yang berkobar bisa menjadi teduh oleh keringat di sana. Namun, sebaliknya yang terjadi. Panggilan itu semakin menggetarkan jiwa.

Sorenya, saya menjalankan tes COVID 19. Hasilnya baik, dan tangan langsung bergerak mencari tiket serta akomodasi di Bali. Tanggal 19 Mei 2021, jam 8 pagi, saya mendarat di pulau dewata. Ah, rasanya seperti pulang ke rumah.

Wangi dupa berkobar sepanjang jalan Denpasar, lalu Kuta dan menuju Ubud. Wanginya terasa seperti di surga. Semuanya seperti mengucapkan selamat datang kepada jiwa-jiwa yang sedang merana. Yang ditawarkan hanyalah satu, yakni harapan untuk sembuh dari luka-luka yang mengoyak jiwa.

Warna warni Bali juga menjadi penyambut yang bermakna. Warna dari berbagai Pura yang terlihat agung dan berwibawa. Warna baju wanita yang tengah memuja Dewanya. Warna orang-orang yang sedang bersembahyang kepada Tuhannya. Tak heran, Bali tidak hanya dikenal sebagai pulau Dewata, tetapi juga pulau Surga.

Di berbagai tikungan jalan, para perempuan berjalan bagaikan bidadari khayangan. Semua terlihat begitu indah dan cantik. Mereka terlihat begitu anggun dengan Kebaya dan Banten di tangan. Sempurna, tak ada kata lain yang sanggup menggambarkannya.

Pemudanya pun tak kalah gagah perkasa. Dengan Kamen dan Udeng yang dikenakan, aura wibawa langsung tampil ke muka. Di beberapa pemuda, guratan tato menambah kesan gagah dan perkasa. Di mata mereka, ada api menyala, sekaligus semangat untuk melestarikan tradisi agung leluhur mereka.

Bali, Indonesia | El famoso templo Tanah Lot, totalmente dis… | Flickr

Budaya Bali memang tak terkalahkan indahnya. Saya sudah berkeliling Eropa. Keindahan memang ada, namun tak berada di tingkat yang sama dengan apa yang ditawarkan Bali. Ada kesucian dan keagungan di sana. Ada kebijaksanaan yang mencipta rindu untuk selalu kembali ke sana.

Alamnya pun tak kalah mempesona. Garis pantai yang begitu menakjubkan telah lama menjadi daya tarik dunia. Barisan sawah, hutan dan gunung melengkapi keindahan yang sudah sempurna sebelumnya. Pura-pura Agung yang mempesona batin terlihat di seluruh pulau Bali, dari kota sampai pinggir jurang.

Tak heran, keagungan budaya dan keindahan alam ini melahirkan manusia-manusia yang juga indah. Keramahan dan keterbukaan Bali menaungi jiwa-jiwa yang terluka dari seluruh dunia. Tentu saja, ada yang kurang di sana. Budaya patriarki yang menekan perempuan tampak menempel begitu erat, enggan untuk sirna diterpa perubahan dunia. Ini pekerjaan rumah untuk masyarakat Bali, yakni menghidupkan pembebasan dan pencerahan yang sejati di pulau surgawi.

Sejak awal 2020, seperti seluruh dunia, Bali dihantam pandemi. Pariwisata seolah mengalami mati suri. Banyak keluarga terjebak di dalam krisis ekonomi. Sampai pertengahan 2021 ini, belum ada perubahan yang meneguhkan harapan.

Namun, kedatangan saya memang tak bisa lagi ditunda. Walaupun datang seorang diri, saya ingin berguna untuk rakyat Bali yang saya cintai. Berkeliling Bali diharapkan mampu menyediakan sedikit rejeki untuk mereka yang terlilit krisis ekonomi. Jika pun tak bisa, kiranya saya ingin ikut menderita bersama rakyat Bali yang sungguh saya cintai.

Panggilan Bali di tengah pandemi itu tetap menjadi misteri. Mengapa tarikannya begitu kuat? Tak ada alasan yang masuk akal. Mungkin ada hutang batin yang perlu dibayar. Ah, siapa yang sungguh tahu?

Bagi saya, Bali sangatlah mempesona, karena ia menawarkan surga untuk seluruh dunia. Ia adalah rumah bagi para pencari spiritual dunia. Ia adalah rumah untuk orang-orang yang luka diterkam trauma kehidupan. Tak heran di tengah pandemi, orang-orang dari berbagai bangsa memutuskan untuk menetap di Bali, melepaskan tanah kelahirannya sendiri.

Mungkin, mereka merasa terasing di dunia modern yang serba cepat dan rakus. Mungkin, mereka merasa terasing dengan kampung halamannya yang miskin dari pesona spiritualitas. Kedua alasan itu sungguh saya bisa pahami. Jauh di lubuk hati, keterasingan semacam itu pasti pernah kita hadapi.

Bali juga adalah pulau yang menyembuhkan. Ia menawarkan kelegaan bagi mereka yang tercekik dilema kehidupan. Ia menawarkan senyum di tengah tetesan air mata petaka dan nestapa. Ia menawarkan kesucian dan keagungan di tengah dunia modern yang semakin dicekik oleh radikalisme agama dan korupsi nurani.

Sungguh, Bali adalah rumah untuk semua. Ini terlihat jelas dari ritual agama yang mereka lakukan. Bhuta Kala, yang dianggap kejam dan mengerikan, pun diberikan persembahan pada hari-hari tertentu. Bagaimanapun, ia adalah ciptaan Tuhan, maka ia mesti diberikan ruang. Ia tidak dibenci dan dibasmi, melainkan secara tulus diberikan persembahan, supaya bisa hidup damai bersama kita semua.

Bagi pencinta pantai, Bali adalah surga dunia. Bagi pecinta gunung dan hutan, Bali tak kalah mempesona. Bagi para pencari spiritual, Bali menyediakan ruang terbuka seluas semesta. Bagi para pencari rejeki, pesona pariwisata Bali adalah peluang untuk semua. Memang, Bali adalah rumah bagi kita semua.

Terkadang, jauh di dalam hati, saya merasa, Indonesia tak layak memiliki Bali. Di negeri yang diterkam korupsi tanpa henti dan radikalisme agama yang merusak, Bali menjadi contoh bagi kita semua. Beberapa kali, Bali dibom oleh kaum radikalis Islam. Namun, Bali tetap hening, sembahyang dan melanjutkan kehidupan secara damai dengan semua yang ada.

Ia tetap terbuka. Ia tetap ramah. Kini, ia kembali memanggil saya. Pandemi pun tak menjadi halangan bagi saya untuk menelusurinya, dan menggali kebijaksanaan hidup dari pulau Dewata yang menjadi rumah untuk semua. Astungkara.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.