Buku Terbaru: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

May be an image of text that says "KARANIYA SEGERA TERBIT Silakan Pesan. KARANIEA SINOPSIS Urban Zen PERIODE OKTOBER TAWARAN KEJERNIHAN UNTUK MANUSIA MODERN Karena batin kita rumit, maka hubungan kita dengan orang lain pun juga menjadi rumit. Keluarga terpecah. Orangtua tak lagi berbicara dengan anaknya. Rumah tangga pecah dan menyisakan trauma serta derita untuk semua anggotanya. REZA A.A WATTIMENA Pencerahan berarti orang menyadari siapa diri mereka yang sebenarnya. YAYASAN KARANIYA NMID :ID2020057206662 70.000 55.000 REKENING: BCA Yayasan Karaniya 335-3032-069 PESAN SEKARANG BEBAS ONGKIR KE SELURUH INDONESIA. Pesan: WA: 081-315-315-699 www.karaniya.com penerbitkaraniya penerbitkaraniya 081-315-315-699"

Zen adalah jalan pembebasan dari penderitaan. Inilah inti utama dari semua jalan spiritual di dunia ini. Zen juga adalah jalan hidup meditatif. Ia adalah sekumpulan metode dan pemahaman untuk melepaskan orang dari cengkeraman penderitaan kehidupan.

Penderitaan muncul karena orang mengira bahwa pikiran dan emosinya adalah kebenaran. Ia dipenjara oleh pikiran dan emosinya sendiri. Penderitaan yang muncul lalu menjadi sangat berat. Tak jarang orang terjebak di dalam berbagai penyakit mental, bahkan melakukan bunuh diri. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Panorama Filsafat Asia

May be an image of Reza Alexander Antonius Wattimena and text that says "KOMPi SURABAYA KOMUNITAS MILENIAL PEDULI INDONESIA STUDY CLUB OKTOBER 2021 via zoom Setiap Selasa, Pkl. 19.00 19. WIB 5: Filsafat Asia, Apakah Itu? 12: Advaita Vedanta, Yoga dan Jalan Pembebasan 19: Jalan Paradoks Tao dan Zen 26: Filsafat Nusantara Sebuah Upaya Perumusan AUA Partisipasi Peserta Rp, 100.000,- (4x pertemuan) Link Pendaftaran: https://bit.ly/studyclub-10 Informasi 0896 9687- 0638 (WA only) Dr der phil. Reza A. A. Wattimena PANORAMA FILSAFAT ASIA f KomunitasMileniaPeduilndonesian (ರ) kompiisurabaya"

Benua Asia telah lama mengembangkan pandangan dunia yang tidak hanya rasional dan kritis, tetapi juga melahirkan kebijaksanaan. Yang dituju lebih dari sekedar pemahaman, tetapi pencerahan batin yang melampaui akal budi. Pencerahan adalah pengalaman tanpa konsep. Di dalamnya, segala derita dan nestapa lenyap seketika. Bagaimana teori semacam itu bisa membantu kita mencapai pecerahan, terutama di tengah jaman yang terus dihantui krisis, seperti sekarang ini? Mari bergabung di kelompok ini, dan belajar bersama.

Menjilat Madu di atas Pisau Tajam

The Passion of Creation — Octavio Ocampo (1943-) “Kiss of the Sea”...Oleh Reza A.A Wattimena

Makanan enak itu membuat kenyang. Ratusan rasa menari di lidah. Nikmatnya sesaat. Harganya mahal, yakni uang banyak keluar, dan rasa berat di seluruh tubuh, akibat kenyang yang berlebihan.

Berpesta bersama teman tentu menyenangkan. Apalagi, jika kita berpesta semalam suntuk dengan ditemani makanan enak, maupun alkohol. Namun, di pagi hari, ada harga yang harus dibayar. Sakit kepala dan perut mual biasanya akan datang berkunjung. Lanjutkan membaca Menjilat Madu di atas Pisau Tajam

Jiwa Warga Jakarta

Landscape Town Jakarta - Free image on PixabayOleh Reza A.A Wattimena

Jakarta adalah ibu kota dari Republik Indonesia. Sampai detik ini, Jakarta masih menjadi pusat dari berbagai kegiatan politik, ekonomi maupun kebudayaan di Indonesia. Pada 2020 lalu, ada sekitar 36 juta orang yang resmi menjadi warga Jakarta, terutama akibat transmigrasi selama puluhan tahun. Kota ini pun menjadi kota terbesar kedua di dunia, setelah Tokyo di Jepang.

Saya sendiri sudah hidup sekitar 28 tahun di Jakarta. Sekitar 10 tahun, saya merantau di berbagai kota untuk bekerja dan belajar. Saya lahir dan besar di Jakarta, sehingga mengalami langsung pergaulan dengan warga Jakarta. Ada dorongan untuk memberikan gambaran umum yang berpijak pada pengalaman sekaligus analisis yang saya punya. Lanjutkan membaca Jiwa Warga Jakarta

Mengembalikan Dharma ke Nusantara

Dharma Painting by EM MODESTO | Saatchi ArtOleh Reza A.A Wattimena

Sekitar 1000 tahun yang lalu, Indonesia adalah rumah ilmu. Beragam orang dari berbagai bangsa datang dan belajar di sini. Tentu saja, waktu itu, belum ada Indonesia. Pada masa itu, Indonesia adalah kumpulan beberapa kerajaan yang memiliki pengaruh politik, budaya maupun ekonomi yang luas.

Bisa dibilang, pada masa itu, Nusantara kita, Indonesia, adalah negara Dharma. Hukum-hukum alam yang abadi diuraikan dengan jelas, dan diterapkan di dalam kehidupan. Manusia mencapai pencerahan moral, spiritual dan intelektual yang mengagumkan. Nusantara kita menjadi magnet bagi para pencari kebijaksanaan. Lanjutkan membaca Mengembalikan Dharma ke Nusantara

Mengapa Filsafat Gagal di Indonesia?

The Art of Surrealism: Poverty will be dangerous by Pawla KuczynskiegoOleh Reza A.A Wattimena

Saya menulis tema ini dengan rasa sedih dan cemas. Hampir 20 tahun, saya hidup dalam dunia filsafat Indonesia. Ada secuil harapan, bahwa filsafat akan menjadi lampu pencerah kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia. Begitu banyak hal baik di dalam filsafat yang bisa ditawarkan untuk kemajuan bangsa kita.

Namun, harapan tersebut tampak redup di 2021 ini. Filsafat gagal menghadirkan pencerahan bagi bangsa Indonesia. Harga yang harus dibayar pun mahal, yakni mutu kehidupan bersama yang semakin dangkal dan korup di Indonesia. Dalam jangka panjang, tanpa perubahan yang mendasar, bangsa kita bisa hancur. Lanjutkan membaca Mengapa Filsafat Gagal di Indonesia?

Menjadi Anjing, atau Singa?

hybrid lion surrealism Image by ZuleimaOleh Reza A.A Wattimena

PPKM tidak selesai-selesai. September 2021, kebijakan yang menyiksa itu masih berlanjut. Rakyat tersiksa dalam kemiskinan dan ketidakpastian. Sementara, para wakil rakyat di DPR dan para pemimpin politik hidup nyaman di rumah dinas mereka, dengan gaji pasti setiap bulan dari uang rakyat.

Itu kiranya yang menyiksa pikiran seorang kawan (dan saya juga). Di tengah hampanya kegiatan, pikirannya merantau ke masa lalu. Ia teringat perceraiannya yang berdarah-darah. Itu sudah terjadi belasan tahun lalu, namun terasa baru seperti kemarin terjadi. Lanjutkan membaca Menjadi Anjing, atau Singa?

Jika Sesuatu itu Busuk, Mengapa Kita tidak Melepasnya?

Modern day surrealism: Watch donuts defy the laws of physics in this freaky  3D animation | Boing BoingOleh Reza A.A Wattimena

Manusia memang mahluk yang unik. Di satu sisi, ia bisa begitu tercerahkan dan bijaksana. Nilai-nilai kehidupan dan peradaban agung dibangunnya. Namun, di sisi lain, ia bisa begitu jahat dan bodoh. Ia bisa begitu bebal di hadapan kebusukan.

Ada hal yang merusak. Namun, mereka tetap melakukannya. Mereka tidak melepasnya. Alhasil, hidupnya menjadi kacau, dan membuat orang lain juga susah. Lanjutkan membaca Jika Sesuatu itu Busuk, Mengapa Kita tidak Melepasnya?

Melukis Cover Buku Terbaru: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

May be an image of one or more people and text that says "KARANIYA CIPTA KREASI VISUAL Kami Penerbit Karaniya membutuhkan daya kreatifmu yang unik untuk sampul buku. JUDUL :URBAN ZEN SUB JUDUL: TAWARAN KEJERNIHAN UNTUK MANUSIA MODERN PENULIS :REZA A.A WATTIMENA SINOPSIS: Pencerahan berarti orang menyadari siapa diri mereka yang sebenarnya. Diri yang asli itu terletak sebelum pikiran dan emosi muncul. la terletak sebelum nama dan kata diucapkan. Jati diri manusia yang asli itu jernih dan kosong, seperti ruang yang penuh dengan kemungkinan. KIRIM: Email: karaniya@cbn.net.id Batas akhir: 16 September 2021 WA Karaniya (Hadi): 081-315-315-699 www.karaniya.com f penerbitkaraniya penerbitkaraniya 0813-1531-5699"

Cipta Kreasi Visual

Kami @penerbitkaraniya membutuhkan daya kreatifmu yang unik untuk sampul buku @rezaantonius!

Buku : Urban Zen

Sub Judul : Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Penulis : Reza A.A Wattimena

Sinopsis:

Zen adalah jalan pembebasan dari penderitaan. Inilah inti utama dari semua jalan spiritual di dunia ini. Zen juga adalah jalan hidup meditatif. Ia adalah sekumpulan metode dan pemahaman untuk melepaskan orang dari cengkeraman penderitaan kehidupan.

Penderitaan muncul karena orang mengira bahwa pikiran dan emosinya adalah kebenaran. Ia dipenjara oleh pikiran dan emosinya sendiri. Penderitaan yang muncul lalu menjadi sangat berat. Tak jarang orang terjebak di dalam berbagai penyakit mental, bahkan melakukan bunuh diri.

Zen mengajak orang untuk memahami inti dari pikiran dan emosi yang mereka punya. Keduanya adalah kosong, sementara, dan bersifat ilusif. Keduanya, yakni pikiran dan emosi, bukanlah kebenaran. Keduanya bukanlah kenyataan.

Jika kita bukanlah pikiran ataupun emosi kita, lalu siapa kita? Inilah pertanyaan terpenting di dalam hidup manusia. Zen mengajarkan bahwa diri kita yang asli berada sebelum semua pikiran dan emosi yang muncul. Namanya beragam, yakni kesadaran murni, jati diri sejati, hakikat Kebuddhaan, dan sebagainya. Namun, sesungguhnya ia berada sebelum nama, sebelum konsep.

Perhatikan Detail Ini:

Ukuran: (12.5 x 18.5 cm)

Format: CMYK (PSD)

Ada hadiah istimewa bagi yang beruntung.

Kirim materimu: karaniya@cbn.net.id

Batas akhir: 16 September 2021

WA Karaniya (Hadi): 081-315-315-699

Kriteria:

  1. Kirim desain buku sampul depan.
  2. Cantumkan akun Instagrammu/facebook.
  3. Setiap orang, maksimal mengirimkan tiga desain.
  4. Desain yang dikirim menjadi milik Karaniya dan Karaniya berhak merubah desain secara minor.
  5. Namamu akan dikukuhkan di dalam bukunya.

Kami tunggu karya terbaikmu!

Seni Membaca “Buku/Kitab Suci”

212 Surrealism Books Photos - Free & Royalty-Free Stock Photos from  DreamstimeOleh Reza A.A Wattimena

Kita beranggapan, ada yang disebut sebagai buku atau kitab suci. Buku tersebut ditulis oleh orang-orang suci. Bahkan, buku tersebut dianggap turun langsung dari Sang Pencipta. Isinya dianggap kebenaran mutlak, dan tidak boleh dipertanyakan lagi.

Anggapan ini salah besar. Tidak ada buku suci di dunia ini. Semua buku, tanpa kecuali, adalah karya manusia. Ia ditulis pada satu waktu dengan tujuan tertentu. Lanjutkan membaca Seni Membaca “Buku/Kitab Suci”

Apakah Hidup Ini Sia-sia?

Tibetan Monks Painstakingly Create Incredible Mandalas Using Millions of  Grains of Sand

Oleh Reza A.A Wattimena

Albert Camus, pemikir eksistensialis Perancis, punya pandangan menarik. Baginya, hanya ada satu hal yang penting untuk dipikirkan dalam hidup, yakni apakah kita harus bunuh diri, atau tidak? Apakah hidup layak dijalani, atau tidak? Ia bertanya seperti itu, karena hidup ini absurd. Ia tidak masuk akal.

Sejak kecil, kita belajar. Kita bekerja. Kita terus mengembangkan diri. Namun, akhirnya, kita harus sakit, menua dan kemudian meninggal. Bukankah ini absurd? Lanjutkan membaca Apakah Hidup Ini Sia-sia?

Ketika Nalar Redup, Apa Harga yang Harus Dibayar?

Surrealism—Art That Captures Your Imagination and Psyche · artd4Oleh Reza A.A Wattimena

Manusia adalah mahluk yang mampu bernalar. Ini semua terjadi, berkat evolusi jutaan tahun yang mengembangkan struktur otaknya. Bagian otak terbaru, yakni Prefrontal Cortex, hadir untuk memberikan kemampun bernalar bagi manusia. Dengan ini, manusia mampu melakukan analisis keadaan, mempertimbangkan secara rasional dan membuat keputusan yang sesuai dengan kebutuhan.

Dengan kemampuan ini pula, manusia mampu bertahan hidup. Fisik manusia lemah dibandingkan dengan mahluk lain. Alam cenderung kejam pada yang lemah. Namun, dengan daya nalarnya, dan kemampuannya bekerja sama, manusia mampu bertahan hidup di tengah ganasnya alam. Lanjutkan membaca Ketika Nalar Redup, Apa Harga yang Harus Dibayar?

Dzogchen: Mutiara dari Tibet untuk Dunia

Introducing the Natural State of Mind from the Bön Tradition of Dzogchen  (Great Perfection) - 9 Session Course — BCCPOleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di dunia yang sedang dicekam ketakutan. Keluarga dan kerabat terancam hidupnya oleh pandemik COVID 19. Berita kematian menggempur setiap harinya, juga dari saudara dan kerabat dekat. Setiap detik, hidup kita terasa seperti di ujung tanduk.

Di samping hidup sehat, kita juga perlu untuk tetap waras. Keduanya, sebenarnya, tak bisa dipisahkan. Waras berarti kita tetap bisa bernalar sehat, walaupun keadaan terus berubah. Kita bisa tetap tenang dan jernih di hadapan krisis yang terus menghantui. Lanjutkan membaca Dzogchen: Mutiara dari Tibet untuk Dunia

Tak Semua Agama Baik untuk Kehidupan

Jacob wrestling with the Angel": contemporary, Christian mythology,  biblical theme, abstract religious painting, abstract surrealism, Judaism,  famous Old testament scene, acrylic painting #9139, 2010 | Kazuya Akimoto  Art Museum

Gambar karya TatiTheOverlord

Oleh Reza A.A Wattimena

Tak semua agama baik untuk kehidupan. Sama seperti tak semua makanan baik untuk dimakan. Ada banyak agama di dunia. Namun, tak semuanya cocok untuk perkembangan kehidupan.

Semakin saya mendalami agama-agama dunia, semakin saya melihat adanya dua macam agama. Yang pertama adalah agama kematian. Yang kedua adalah agama kehidupan. Agama kematian merusak kehidupan. Agama kehidupan melestarikan kehidupan. Sesederhana itu. Lanjutkan membaca Tak Semua Agama Baik untuk Kehidupan

Cermin, Cangkir, Langit dan Laut

Untold Tales of Surreal Sky Russia based artist... - TumbexOleh Reza A.A Wattimena

Diri kita yang sebenarnya itu selalu damai, dan selalu berada dalam sukacita. Namun, pikiran dan emosi menutupinya, sehingga kita menderita. Karena sudah terjadi bertahun-tahun, maka pikiran dan emosi itu semakin tebal. Ia semakin sulit untuk dilihat secara nyata sebagai ilusi yang datang dan pergi.

Di dalam tradisi kontemplatif-meditatif, ada banyak cara untuk menjelaskan hal ini. Salah satunya dengan menggunakan analogi. Pemahaman ini, bahwa diri kita yang asli itu selalu damai dan bersukacita, tidak datang dari keyakinan buta. Ia datang dari pengalaman yang bisa diuji langsung. Lanjutkan membaca Cermin, Cangkir, Langit dan Laut

Dalam Pelukan Negeri Di Atas Awan

IMG20210520064408Oleh Reza A.A Wattimena

Pertengahan Mei 2021, saya masih melanjutkan perjalanan di Bali. Tidak ada rencana yang dibuat. Tidak ada jadwal tetap. Kemana hati mengarah, kesana kaki melangkah.

Setelah tenggelam dalam pesona alam dan budaya Ubud, Bali, saya memilih untuk pergi ke gunung. Yang terdekat adalah Gunung Batur, Kintamani, Bali.

Di hati saya, gunung selalu memiliki tempat yang istimewa. Di sekitar, atau di puncak, gunung, saya selalu merasa damai, dan menyatu dengan segala yang ada.

Saya memutuskan untuk berangkat jam 6 pagi. Perjalanan antara Ubud ke Gunung Batur ditemani cuaca dingin yang menusuk tulang.

Jaket saya kurang tebal untuk perjalanan semacam ini. Alhasil, setiap beberapa kilometer, saya berhenti di pinggir jalan. Lanjutkan membaca Dalam Pelukan Negeri Di Atas Awan

Timeo Ergo Sum (Aku Takut, Maka Aku Ada)

When I have fears 14. Acrylic on canvas, 80 x 60 c... - TumbexOleh Reza A.A Wattimena

Di dalam sebuah wawancara oleh Deutsche Welle, Televisi Nasional Jerman, Heinz Bude, pemikir Jerman, diajukan pertanyaan yang singkat namun tajam. Apa lawan dari rasa takut? Jawabnya: Harapan. Mengapa?

Harapan, kata Bude, berpijak pada pemahaman, bahwa keadaan saat ini bukanlah keadaan terakhir. Perubahan ke arah yang lebih baik masih mungkin terjadi. Saat ini, yang mungkin merupakan saat yang menyakitkan, masih bisa dilampaui. Harapan adalah musuh terbesar dari rasa takut, begitu tegas Bude. Lanjutkan membaca Timeo Ergo Sum (Aku Takut, Maka Aku Ada)

Publikasi Terbaru: Bali yang Selalu Mempersembahkan Diri

Warga membawa sejumlah sesaji saat perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan di Pulau Serangan, Bali, Sabtu (26/9/2020). Hari Raya Kuningan yang digelar beberapa hari setelah Galungan ini dimaksudkan untuk merayakan saat Dewa-dewa dan leluhur kembali ke surga setelah bertemu keturunannya.Oleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat: Untuk Dunia yang Sadar dan Bernalar Sehat 

Pertengahan Mei 2021, cuaca dingin pagi hari di Ubud, Bali menusuk ke tulang. Namun, tekad saya sudah bulat. Saya akan berangkat di pagi hari, ketika sepi, untuk mengunjungi Gunung Batur di Kintamani, Bali. Matahari baru saja tampil menampakkan diri. Pada saat yang sama, warga Bali sudah bangun, dan sibuk berkegiatan. Kebanyakan berkegiatan di sekitar Pelinggih, yakni tempat pemujaan yang ada di setiap rumah Bali, jalan raya maupun sawah. Mereka mebanten, atau menghaturkan saji kepada Yang Mahakuasa. Persembahan dihanturkan sebagai simbol syukur sekaligus mohon perlindungan bagi kehidupan selanjutnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Bali yang Selalu Mempersembahkan Diri “, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2021/07/27/140043865/bali-yang-selalu-mempersembahkan-diri.

Editor : Wisnu Nugroho

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Persembahan Abadi dari Bali

Fungsi dan Makna Filosofi Sesajen Canang Sari di Bali | Kintamani.idOleh Reza A.A Wattimena

Maka, memberi berarti menerima, karena sesungguhnya, tak ada perbedaan antara si pemberi dan penerima. Pengorbanan pun, sesungguhnya, tak pernah ada.

Hal serupa terjadi, jika kita menyakiti orang lain. Menyakiti orang lain, atau mahluk lain, berarti kita menyakiti diri sendiri.

Pertengahan Mei 2021, cuaca dingin pagi hari di Ubud, Bali menusuk ke tulang. Namun, tekad saya sudah bulat.

Saya akan berangkat di pagi hari, ketika sepi, untuk mengunjungi Gunung Batur di Kintamani, Bali. Matahari baru saja tampil menampakkan diri. Lanjutkan membaca Persembahan Abadi dari Bali

Spiritualitas Musik Chrisye

Melanggengkan Jejak ChrisyeOleh Reza A.A Wattimena

Haji Chrismansyah Rahadi. Lahir 16 September 1949, dan meninggal 30 Maret 2007. Ia lebih banyak dikenal sebagai Chrisye, salah satu penyanyi populer terbaik di dalam sejarah musik Indonesia. Karyanya tidak hanya mendapatkan begitu banyak penghargaan, tetapi juga mengubah hidup banyak orang.

Sejak kecil, ia suka dengan musik. Berbagai band dibentuknya bersama beberapa teman dan saudara. Ia juga memiliki pengalaman bermusik di New York, Amerika Serikat. Ciri khas suaranya yang halus dan unik langsung terdengar, ketika ia bernyanyi. Lanjutkan membaca Spiritualitas Musik Chrisye