Jika Sesuatu itu Busuk, Mengapa Kita tidak Melepasnya?

Modern day surrealism: Watch donuts defy the laws of physics in this freaky  3D animation | Boing BoingOleh Reza A.A Wattimena

Manusia memang mahluk yang unik. Di satu sisi, ia bisa begitu tercerahkan dan bijaksana. Nilai-nilai kehidupan dan peradaban agung dibangunnya. Namun, di sisi lain, ia bisa begitu jahat dan bodoh. Ia bisa begitu bebal di hadapan kebusukan.

Ada hal yang merusak. Namun, mereka tetap melakukannya. Mereka tidak melepasnya. Alhasil, hidupnya menjadi kacau, dan membuat orang lain juga susah.

Merusak Tapi Dipelihara

Ada lima contoh umum. Pertama, di dalam politik, budaya korupsi, kolusi dan nepotisme mengancam keutuhan bangsa. Rakyat menjadi miskin, dan terpecah belah. Negara pun terancam hancur.

Dua, di dalam berbagai organisasi, mental gila hormat juga terus lestari. Prestasi diabaikan. Yang diperhitungkan adalah pujian dan omong kosong palsu terhadap atasan. Akibatnya, organisasi diisi para penjilat, kinerja kacau, dan akhirnya juga terancam hancur.

Tiga, agama kematian juga tetap teguh dipegang. Padahal, agama tersebut sudah merusak budaya luhur bangsa, mengacaukan hidup bersama, membunuh rakyat tak bersalah dan memperbodoh masyarakat. Agama kematian juga membuat bangsa kita menjadi miskin berkepanjangan. Di tengah berbagai krisis, karena pengaruh agama kematian, kita tetap terpuruk semakin jauh.

Empat, kita terus menjilat bangsa asing. Kita merindukan investasi, alias suntikan modal asing. Kita melupakan sumber daya bangsa sendiri. Secara sistematik, pemerintah terus mempermiskin rakyatnya dengan berbagai kebijakan yang sesat.

Lima, secara keseluruhan, bangsa kita malas menggunakan nalar sehat. Kita bebal di hadapan kebusukan. Kita mendiamkan kerusakan. Masalah lama belum kelar, bahkan tambah besar, sementara masalah baru sudah muncul di depan mata.

Mengapa Kita Bebal?

Ada lima akar penyebab. Pertama, kita tidak berpikir kritis. Kita tidak melihat adanya kemungkinan lain dari keadaan yang ada. Kita terjebak pada kebiasaan-kebiasaan yang merusak, pada budaya bobrok, tanpa ada kehendak maupun keberanian untuk mempertanyakannya.

Dua, bangsa kita tidak terbiasa belajar. Kita tidak terbiasa menggali informasi yang berpijak pada nalar sehat dan sikap kritis. Akibatnya, kita tetap bodoh. Kita tetap terjebak pada kebiasaan-kebiasaan lama yang merusak.

Tiga, akar dari semua ini adalah mutu pendidikan yang amat sangat rendah. Menteri dan pejabat pendidikan tidak paham soal hakekat pendidikan yang sejati. Isi dan sistem pendidikan yang dibangun tidak cocok dengan perubahan jaman di abad 21 ini. Ini membuat kita miskin nalar sehat dan nalar kritis, sehingga tak mampu membuat perubahan-perubahan yang diperlukan. Di abad 21, kita tetap menjadi bangsa yang bodoh dan miskin, karena salah tata kelola.

Empat, banyak orang sudah menyadari berbagai kerusakan yang terjadi. Namun, mereka takut untuk berubah. Mereka takut untuk bersuara, karena tekanan sosial dari budaya dan agama kematian. Mereka takut dikucilkan, atau disingkirkan, dari pergaulan sosial, dan bahkan takut masuk penjara di dalam sistem hukum yang bobrok.

Lima, orang-orang yang sudah sadar tersebut juga kerap ditakut-takuti dengan ancaman neraka kosong. Jika bernalar sehat dan berpikir kritis, kata para penyebar agama kematian, orang bisa masuk neraka. Padahal, selama ribuan tahun keberadaan agama-agama, tidak ada satu pun bukti nyata, bahwa neraka itu ada. Justru para penyebar agama kematian inilah yang membuat hidup di dunia ini penuh kemiskinan dan kebodohan, seperti di „neraka“.

Lalu Bagaimana?

Jalan keluarnya adalah dengan membalik kelima penyebab di atas. Kita harus berani mempertanyakan kebiasaan-kebiasaan lama. Kita harus menjadi manusia yang terus belajar dengan akal sehat dan sikap kritis. Kita harus mendorong perubahan isi dan sistem pendidikan secara total di Indonesia ke arah pengembangan sikap kritis, akal sehat dan pengasahan nurani.

Kita harus berani menghadapi tekanan sosial. Kita harus menjadi agen perubahan di keluarga maupun pekerjaan kita. Kita harus berani untuk menolak ajaran-ajaran palsu dari agama kematian. Sudah terlalu lama bangsa ini diperbodoh dan dipermiskin oleh agama kematian. Sebaliknya, kita harus berani mengembangkan agama kehidupan, yakni agama yang ramah budaya, mencerdaskan umat, bersikap adil terhadap perempuan dan membangun kedamaian di dalam hidup bersama.

Orang bebal itu seperti makan buah busuk, namun tak mau sakit perut. Ini sikap bodoh. Jika diperpanjang, ia bisa mati, dan menyusahkan banyak orang. Sudah waktunya kita akhiri kebebalan ini. Ayo bangun!!

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

6 tanggapan untuk “Jika Sesuatu itu Busuk, Mengapa Kita tidak Melepasnya?”

  1. begitu pula pandangan saya.
    sangan membantu kalau kita belajar dari pengalaman kita sendiri tanpa pengaruh luar.
    sederhana ditulis tapi toch sulit utk di jalan kan.
    teringat saya cerita cucu dan kakek indian dgn 2serigala di kepala yg saling berlawanan.
    salam hangat dan salam sehat!!

    Suka

  2. Yg bahaya itu memang nalar yang tidak di didayagunakan. Bahkan menolak untuk diulas. Dampaknya, akan kian cepat memanggil kembali penjajah baru dtg ke indonesia.

    Suka

  3. teringat hannah arendt tetang banalitas menjustifikasi kebiasaan kita yang sudah terlalu memfosil, sehingga sesuatu kebebalan tidak dilihat sebagai kekeliruan melainkan pembenaran. nalar kritis, akal sehat sepertinya menjadi sesuatu yang langka di negara +62 ini, namun rasa optimis untuk mengubah kebusukan menjadi buah yang segar tetap di perjuangkan dengan kesadaran demi kesadaran yang di suarakan tanpa kenal lelah, seperti tulisan anda ini. salam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.