Timeo Ergo Sum (Aku Takut, Maka Aku Ada)

When I have fears 14. Acrylic on canvas, 80 x 60 c... - TumbexOleh Reza A.A Wattimena

Di dalam sebuah wawancara oleh Deutsche Welle, Televisi Nasional Jerman, Heinz Bude, pemikir Jerman, diajukan pertanyaan yang singkat namun tajam. Apa lawan dari rasa takut? Jawabnya: Harapan. Mengapa?

Harapan, kata Bude, berpijak pada pemahaman, bahwa keadaan saat ini bukanlah keadaan terakhir. Perubahan ke arah yang lebih baik masih mungkin terjadi. Saat ini, yang mungkin merupakan saat yang menyakitkan, masih bisa dilampaui. Harapan adalah musuh terbesar dari rasa takut, begitu tegas Bude.

Di tengah gempuran pandemi COVID 19, dan kebijakan pemerintah yang membunuh rakyatnya, masihkah ada harapan? Pemerintah dan media terus menghantam rakyat dengan berita buruk yang merusak batin. Kebijakan yang dikeluarkan pun penuh dengan lubang akal sehat yang menghina kecerdasan sekaligus mempermiskin rakyat. Ini bukan sekedar wacana abstrak, namun langsung menghantam hidup saya pribadi.

Dipermiskin secara Sistematik

Awal Juni 2021, saya positif COVID 19. Setidaknya begitulah hasil tes PCR yang saya lakukan. Tidak ada gejala. Tidak ada keluhan sama sekali.

Saya melakukan tes PCR, karena harus ke Bali. Begitu persyaratan yang diminta oleh Jokowi, Presiden Indonesia. Harganya mahal sekali. Namun, karena ada keperluan mendesak, saya tetap melakukannya.

Katanya, saya adalah OTG (Orang Tanpa Gejala). Nalar kritis saya bekerja. Orang yang tidak bergejala bukankah berarti orang yang sehat? Jika saya sama sekali tak bergejala, lalu mengapa saya positif COVID 19, dan harus isolasi mandiri? Seluruh argumen tentang COVID 19 ini memang sangat mencurigakan.

Ternyata, saudara saya juga mengalami hal serupa. Tak ada gejala sama sekali. Sehat dan perkasa, namun tercatat positif COVID 19. Ia terpaksa tes PCR, karena diwajibkan kantornya.

Dia dan keluarganya merasa takut. Apalagi digempur setiap hari oleh berita COVID 19 di berbagai media. Jika bukan COVID 19, mungkin rasa takut itulah yang akan membuat ia sakit nantinya. Saya sendiri sama sekali tak merasa takut.

Saya makan sehat (selalu). Saya olahraga (selalu). Saya bermeditasi dan Yoga (selalu). Setelah 7 hari, saya sudah dites negatif (setelah kembali membayar sangat mahal), dan terbang ke Bali.

Berita seram lain kembali datang. Saudara saya tetap positif COVID 19, setelah tes kedua kalinya. Dia kembali bingung. Badan sehat dan segar, namun dicap sakit. Dikovidkan?

Kembali ia harus isolasi mandiri. Setelah sekitar 2 minggu, ia kembali tes PCR, dan hasilnya negatif. Bayangkan, berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan? Berapa keuntungan industri farmasi dan alat-alat kedokteran dari ini semua?

Bencana rupanya tak kunjung selesai. Setelah kembali bekerja, ia justru diberhentikan. Bayangkan tekanan psikologis yang ia dan keluarganya hadapi? Baru dicap negatif oleh tes PCR yang mahal sekali, kemudian diberhentikan dari tempat kerja.

Ini untuk ke sekian kalinya ia harus berpindah kerja. Saya teringat ayah saya, Roy Wattimena. Ia bekerja di perusahaan yang sama selama 40 tahun, sejak lulus SMA. Perusahaannya adalah keluarganya, bahkan lebih dekat dari keluarga sendiri.

Bandingkan pengalaman ayah saya dengan saya dan saudara saya. Selama 20 tahun terakhir, saya sudah berpindah kerja empat kali. Sekarang pun saya bekerja di beberapa tempat. Di masa pandemik, ancaman pemecatan selalu nyata di depan mata.

Tidak ada pekerjaan yang aman sekarang ini. Karir belasan tahun bisa hancur begitu saja. Bisnis hasil rintisan puluhan tahun bisa bangkrut begitu saja. Keadaan semakin tak pasti, dan penuh dengan ketakutan.

Ini bukan sekedar teori abstrak buat saya. Saya mengalaminya langsung. Saya juga mendengar dari orang-orang yang mengalaminya secara langsung. Jika tidak dipecat atau bangkrut, orang bisa terlilit hutang begitu dalam.

Dunia Penuh Rasa Takut

Hal ini dikupas dengan dalam oleh Heinz Bude, seorang pemikir Jerman. Ia menulis buku dengan judul Gesellschaft der Angst (Masyarakat Rasa Takut) pada 2014 lalu. Di tengah jaman yang ditikam pandemik dan kebobrokan penguasa, buku ini menjadi amat penting di 2021. Ada empat argumen penting yang diajukannya.

Pertama, rasa takut kini menjadi pengalaman dasar dari manusia. Ia bukan lagi perkecualian, misalnya rasa takut di hadapan bahaya, tetapi sudah menjadi pengalaman rutin sehari-hari. “Rasa takut”, demikian tulis Bude, “menunjukkan dengan jelas kepada kita, apa yang sesungguhnya terjadi pada kita.” Ini terhubung dengan pandangan berikutnya.

Dua, di dalam masyarakat modern, rasa takut adalah tema untuk semua. Ia tidak mengenal batas. Justru, keberadaan rasa takutlah yang memberi getar dunia modern. Peradaban modern lahir dari dan untuk mengolah rasa takut yang dialami manusia. Angst als Erklärungsprinzip (Rasa takut sebagai prinsip penjelas), begitu kata Bude.

Tiga, rasa takut kini adalah gejala sosial. Ia bukan lagi gejala kejiwaan seseorang. Rasa takut merupakan konsep yang bergerak di tingkat sosial, politik dan ekonomi. Ia adalah sebuah kategori politis.

Pola serupa ditemukan di tingkat global. Dunia bergerak dengan rasa takut. Semua kebijakan dibuat tidak lagi dengan nalar sehat dan nurani yang jernih, tetapi dengan rasa takut. Timeo ergo sum, aku takut maka aku ada, kiranya tak berlebihan.

Empat, sebagai gejala global, rasa takut juga menguat, karena hancurnya stabilitas sosial dan ekonomi kelas menengah di berbagai negara. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin besar. Bude menulis, sebelum pandemi COVID 19 terjadi. Di 2021, analisis ini semakin menemukan kenyataannya.

Keempat hal ini jelas terjadi, karena kegagalan tata kelola politik dan ekonomi di berbagai negara. Dari segi ekonomi, dunia bergerak ke arah kanan, yakni semakin konservatif. Hak-hak pekerja disikat. Para pengusaha bermodal raksasa, yang bermain korupsi dengan pejabat negara, semakin menjadi istimewa.

Hal serupa terjadi di Indonesia. Politik dikuasai para pengusaha kaya semata. Mereka tidak memiliki wawasan kebangsaan dan kepemimpinan politik yang memadai untuk menata sebuah republik yang amat muda dan majemuk, seperti Indonesia. Alhasil, pemerintah tidak bisa memberi rasa aman pada rakyatnya. Sebaliknya, di Indonesia, pemerintah menjadi teroris (penyebar ketakutan dan ketidakpastian) bagi warganya sendiri.

Ini semua ditambah dengan pandemik yang tak berkesudahan. Virus COVID 19 terus bermutasi, sehingga menjadi semakin berbahaya. Di Indonesia, pandemik ini membongkar kegagalan pemerintah selama ini di dalam proses pembangunan, terutama di bidang pendidikan (pola pikir rakyat) dan kesehatan (sistem kesehatan). Namun, seperti biasa, rakyat yang harus membayar akibatnya dengan pemiskinan dan teror COVID 19 yang terus disebar setiap harinya.

Pandangan Heinz Bude di dalam buku Gesellschaft der Angst kiranya bisa disandingkan dengan pandangan Steven Pinker di dalam buku The Better Angels of Our Nature: A History of Violence and Humanity. Pinker berpendapat, bahwa di jaman ini, manusia menjadi semakin manusiawi. Semakin sedikit orang yang meninggal, akibat kekerasan brutal. Manusia menjadi semakin baik dari hari ke hari.

Bude menangkap paradoks di dalam pandangan ini. Di satu sisi, dari data yang ada, kekerasan brutal semakin berkurang di abad 21 ini. Namun, di sisi lain, rasa takut justru semakin besar, justru ketika dunia semakin aman. Artinya, kehadiran rasa takut tak sejalan dengan kenyataan yang ada. Bagaimana kita harus menanggapi semua ini?

Apa yang Bisa Dilakukan?

Menyimak berbagai keadaan ini, ada empat hal yang kiranya bisa dilakukan. Pertama, kita perlu dengan jernih serta kritis membaca berita. Mayoritas berita di media massa dan media sosial tidaklah seimbang. Mereka hanya bertujuan untuk menciptakan sensasi belaka, termasuk rasa takut, untuk mengundang keuntungan ekonomi semata.

Pandangan ini kiranya sudah dibahas secara mendalam oleh Edward Herman dan Noam Chomsky di dalam bukunya Manufacturing Consent: The Political Economy of Mass Media. Pandangan masyarakat dibentuk oleh pemberitaan media yang penuh dengan kepentingan sempit. Tak heran, walaupun dunia jauh lebih aman, namun rasa takut masyarakat secara global justru meningkat tajam.

Peringatan Rutger Bregman di dalam bukunya Utopia For Realist: How Can We Build Ideal World Today kiranya perlu diperhatikan. Sesuatu menjadi berita, karena itu jarang terjadi. Kejahatan menjadi berita, karena kejahatan jarang terjadi. Yang banyak terjadi adalah kebaikan antara manusia. Jika kejahatan terus terjadi, ia tidak lagi menjadi berita, karena ia sudah menjadi biasa.

Dua, kontrol terhadap kinerja pemerintah kiranya terus perlu dilakukan. Inilah jantung demokrasi. Masyarakat secara giat berkomunikasi dengan pemerintah tentang berbagai isu, supaya bisa mencari akar masalah, dan menemukan jalan keluar bersama. Seperti diungkapkan Jürgen Habermas dalam bukunya Faktizität und Geltung: Beiträge zur Diskurstheorie des Rechts und des demokratischen Rechtsstaats, bahwa demokrasi adalah sebuah percakapan yang bebas, rasional dan terbuka tanpa henti.

Secara khusus, mutu pendidikan bangsa mesti dibenahi. Pendidikan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi soal isi dan roh pendidikan itu sendiri. Pejabat pendidikan, terutama menteri pendidikan, harus diganti dengan orang yang sungguh kompeten. Pendidikan, mengutip kata Julian Nida-Rümelin dalam bukunya Philosophie einer humanen Bildung, haruslah membangun keseluruhan dimensi manusia, serta membebaskan manusia dari berbagai macam belenggu.

Tiga, di masa yang digempur rasa takut ini, orang perlu untuk mengolah batinnya sendiri. Ia perlu menemukan dimensi yang lebih dalam, supaya bisa tetap damai dan tenang di tengah dunia yang semakin tidak pasti. Disinilah arti penting spiritualitas yang melampaui agama. Spiritualitas menyatukan kita semua dengan semua mahluk hidup, sementara agama memisahkan kita satu sama lain.

Harapan hanya dapat ada, jika kita jernih melihat dunia. Kejernihan tidak hanya muncul dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari spiritualitas. Inilah yang kiranya kurang di Indonesia sekarang ini. Untuk itu, kita kiranya perlu belajar dari Willigis Jäger di dalam bukunya yang berjudul Westöstliche Weisheit: Visionen Einer Integralen Spiritualität.

Jäger menegaskan, bahwa di dalam diri manusia, ada latar belakang kesadaran yang selalu stabil. Ia menjadi latar dari semua emosi dan pikiran yang muncul. Ia tak berubah, dan selalu dalam keadaan tenang. Kita semua harus belajar untuk mengenali latar belakang kesadaran itu, supaya tetap bisa tenang, ketika badai kehidupan melanda.

Latar belakang kesadaran ini bagaikan langit dengan awan yang terus berubah. Ia bagaikan layar film dengan adegan film yang terus berganti. Ia bagaikan cermin dan obyek pantulan yang terus berganti. Hanya dengan menyentuh latar belakang kesadaran ini, manusia bisa sungguh terbebaskan dari rasa takut. Hanya dengan hidup tenggelam di dalam latar belakang kesadaran yang tak berubah ini, manusia bisa membangun harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Timeo Ergo Sum (Aku Takut, Maka Aku Ada)”

  1. Bung Reza pasti sudah membaca buku Indonesia: The Archipelago of Fear karya Andre Vltchek. Saya sangat sepakat dengan tulisan ini. Kalau tidak salah, saya pernah menemukan paper dan buku tentang the republic of fear and republic of hope dalam konteks Irak dan Spanyol. Terima kasih untuk tulisan keren ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.