Reza A.A Wattimena kali ini menyuguhkan bukunya yang terbaru berjudul Urban Zen. Buku ini akan memberi tawaran kejernihan bagi manusia modern. Ditulis dengan ringkas dan padat, langsung ke inti pokok masalah. Bagaimanakah selengkapnya? Selamat menyimak diskusi bersama penulisnya.
Penulis: Reza A.A Wattimena
Sejarah dalam Tarian Ketidakpastian
Oleh Reza A.A Wattimena
Goenawan Mohamad (GM) merupakan salah satu tokoh terpenting di dalam sejarah filsafat, jurnalisme, seni dan sastra Indonesia. Karya-karyanya merentang kurang lebih selama 60 tahun. Ia menulis soal politik, filsafat, sastra bahkan tentang film. Kini, di usianya yang ke 80, satu buku lagi terbit atas namanya.
Buku ini berjudul Pembentuk Sejarah, Pilihan Tulisan Goenawan Mohamad yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada September 2021 dalam kerja sama dengan Freedom Institute dan Komunitas Salihara. Penyusunnya adalah Zaim Rofiqi, Candra Gautama, Akhmad Sahal dan Rustam F. Mandayun. Tebalnya sekitar 372 halaman. Isinya merentang luas, mulai dari refleksi tentang tokoh bangsa, sampai dengan analisis arah kemajuan Indonesia. Lanjutkan membaca Sejarah dalam Tarian Ketidakpastian
Menjadi Sejati
Oleh Reza A.A Wattimena
Ini bukan saran motivator. Ini bukan stiker bemper motor. Ini ajakan untuk menjadi asli dan sejati. Tak lebih dan tak kurang.
Jaman Tipuan
Kita hidup di jaman penuh tipuan. Politisi mengumbar janji palsu. Mereka janji memberikan kesejahteraan dan keadilan. Namun, justru mereka yang mencuri dan menindas rakyat. Lanjutkan membaca Menjadi Sejati
Menyingkap Kebenaran di Tengah Genangan Fitnah

Oleh Reza A.A Wattimena
Apa jadinya, jika kebohongan dan fitnah dianggap lebih berharga dari kebenaran? Jika kebohongan menjadi pijakan pembuatan kebijakan? Apa jadinya, jika emosi dan kebencian lebih berperan, daripada ketepatan data, akal sehat dan nurani yang jernih? Yang terjadi kemudian adalah hadirnya jaman post truth (pasca kebenaran) yang penuh kekacauan, sebagaimana dijabarkan di dalam buku Demokrasi di Era Post Truth ini.
Buku ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada April 2021. Penulisnya adalah Jenderal Polisi (P) Prof. Dr. Budi Gunawan dan Komisaris Besar Polisi Dr. Barito Mulyo Ratmono. Keduanya adalah tokoh penting di dalam penegakan hukum sekaligus pendidikan kepolisian di Indonesia. Isinya menyentuh langsung salah satu masalah terpenting di abad XXI, yakni kebohongan yang menyebar luas melalui media sosial dan internet, serta mempengaruhi kehidupan politik berbagai negara.
selanjutnya: https://www.kompas.id/baca/opini/2021/10/10/menyingkap-kebenaran-di-tengah-genangan-fitnah/
Kompas Bebas akses. Dukung jurnalisme bermutu.
Mengalami Tuhan, Lalu Pulang ke Rumah
Oleh Reza A.A Wattimena
Sejatinya, tujuan kita hidup adalah untuk mengalami Tuhan. Karena dengan ini, kita menemukan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan semacam ini tidak berubah-ubah. Ia tidak terganggu oleh perubahan keadaan dunia.
Sadar atau tidak, kita merindukan Tuhan. Tuhan itu seperti rumah sejati kita. Kita betah, ketika memasukinya. Kita menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Lanjutkan membaca Mengalami Tuhan, Lalu Pulang ke Rumah
Rayuan untuk Membaca
Oleh Reza A.A Wattimena
Pada 7 Oktober 2021 lalu, saya berkunjung ke Pasar Baru, Jakarta. Saya kerap mengunjungi tempat ini bersama almarhum ayah dan ibu saya, ketika saya masih kecil. Saya berkunjung ke toko buku masa kecil saya, yakni Gramedia Pasar Baru. Terkaget, toko itu hampir tutup: hidup segan, mati tak mau.
Penyejuk udara sudah mati. Yang ada hanyalah kipas-kipas yang digantung di sudut-sudut ruangan. Tata buku juga amat terbatas. Yang dijual mayoritas novel-novel. Lanjutkan membaca Rayuan untuk Membaca
Urban Zen: Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Batas-batas Kebebasan
Oleh Reza A.A Wattimena
Di Jakarta, supir angkot adalah penguasa jalan. Mereka berhenti sembarangan. Mereka berbelok semaunya. Ditegur, mereka cuek, bahkan cenderung lebih galak. Alasannya: kami cari uang, jangan ganggu kami!
Lima tahun belakangan, ada gejala cukup baru, yakni motor melawan arah di jalan raya. Biasanya, mereka malas untuk memutar, walaupun dekat. Ini sangat berbahaya, dan banyak menimbulkan kecelakaan. Jika ditegur, mereka juga cuek, bahkan berani melawan. Alasannya: kami cari uang, jangan ganggu kami! Lanjutkan membaca Batas-batas Kebebasan
Zen untuk Derita Karena Bahasa
Oleh Reza A.A Wattimena
Orang lain berbuat sesuatu. Ia memaki. Ia menghina. Bisa juga, ia mencuri, sehingga membuat saya terluka.
Ia menantang. Ia memprovokasi. Ia memancing amarah. Ia memicu emosi yang bergejolak. Lanjutkan membaca Zen untuk Derita Karena Bahasa
Ancaman Berbisa Ular Kobra
Oleh Reza A.A Wattimena
Kerajaan Inggris menguasai India di abad 19 yang lalu. Pada masa itu, ada masalah besar di Delhi. Ular Kobra menjadi wabah di sana. Begitu banyak ular Kobra berbisa racun yang berkeliaran di kota, sehingga mengancam kehidupan masyarakat umum.
Pemerintah Inggris berupaya mencari jalan keluar. Mereka menawarkan hadiah bagi orang yang berhasil menangkap ular Kobra beracun tersebut, dan membawanya ke pihak yang berwajib. Kebijakan itu sukses besar. Begitu banyak ular kobra yang ditangkap, dan diberikan ke pemerintah. Lanjutkan membaca Ancaman Berbisa Ular Kobra
Lebih dari Sekedar Agama
Oleh Reza A.A Wattimena
Sudah beberapa kali saya mendapat pertanyaan, apakah Mas Reza seorang Buddhis? Apakah Zen yang mas dalami adalah sebuah agama? Saya sendiri lahir dari tradisi Gereja Katolik Roma yang kaya dengan tradisi dan filsafat yang sarat rasionalitas. Kini, saya menjadi seorang praktisi Zen di dalam keseharian.
Apakah ajaran Buddha, terutama Zen, adalah sebuah agama? Jawaban saya sederhana, Zen, dan ajaran Buddha secara umum, itu lebih dari sekedar agama. Agama adalah institusi yang berpijak pada kepercayaan tertentu. Ia mengikat (religare) manusia dengan seperangkat aturan yang baku. Tujuan agama adalah menciptakan keteraturan (A-Gama: tanpa kekacauan) di dalam hidup bersama. Lanjutkan membaca Lebih dari Sekedar Agama
Patriarki Keji yang Menolak Mati
Oleh Reza A.A Wattimena
Perempuan… Dari rahimnya, kita semua dikandung, dan terlahir ke dunia. Namun, di masyarakat yang rusak, perempuan terus menjadi korban. Di berbagai bidang kehidupan, perempuan mengalami ketidakadilan. Di setiap konflik, perempuan menjadi korban terbesar. Mereka tidak hanya dibunuh, tetapi diperkosa dan disiksa, sebelum dipaksa menerima ajal.
Beberapa Data
Kommas Perempuan melaporkan adanya 299.911 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Ini yang tercatat resmi. Kasus tersebut ditangani berbagai lembaga, mulai dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama sampai dengan lembaga rujukan Komnas Perempuan. 79% kasus adalah Kasus Dalam Rumah Tangga/Ranah Personal (KDRT/RP). Jumlahnya 6480 kasus. Di dalamnya, ada 50% Kekerasan Terhadap Istri (KTI) yang berjumlah 3221 kasus. Lanjutkan membaca Patriarki Keji yang Menolak Mati
Buku Terbaru: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Zen adalah jalan pembebasan dari penderitaan. Inilah inti utama dari semua jalan spiritual di dunia ini. Zen juga adalah jalan hidup meditatif. Ia adalah sekumpulan metode dan pemahaman untuk melepaskan orang dari cengkeraman penderitaan kehidupan.
Penderitaan muncul karena orang mengira bahwa pikiran dan emosinya adalah kebenaran. Ia dipenjara oleh pikiran dan emosinya sendiri. Penderitaan yang muncul lalu menjadi sangat berat. Tak jarang orang terjebak di dalam berbagai penyakit mental, bahkan melakukan bunuh diri. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern
Panorama Filsafat Asia

Benua Asia telah lama mengembangkan pandangan dunia yang tidak hanya rasional dan kritis, tetapi juga melahirkan kebijaksanaan. Yang dituju lebih dari sekedar pemahaman, tetapi pencerahan batin yang melampaui akal budi. Pencerahan adalah pengalaman tanpa konsep. Di dalamnya, segala derita dan nestapa lenyap seketika. Bagaimana teori semacam itu bisa membantu kita mencapai pecerahan, terutama di tengah jaman yang terus dihantui krisis, seperti sekarang ini? Mari bergabung di kelompok ini, dan belajar bersama.
Menjilat Madu di atas Pisau Tajam
Oleh Reza A.A Wattimena
Makanan enak itu membuat kenyang. Ratusan rasa menari di lidah. Nikmatnya sesaat. Harganya mahal, yakni uang banyak keluar, dan rasa berat di seluruh tubuh, akibat kenyang yang berlebihan.
Berpesta bersama teman tentu menyenangkan. Apalagi, jika kita berpesta semalam suntuk dengan ditemani makanan enak, maupun alkohol. Namun, di pagi hari, ada harga yang harus dibayar. Sakit kepala dan perut mual biasanya akan datang berkunjung. Lanjutkan membaca Menjilat Madu di atas Pisau Tajam
Jiwa Warga Jakarta
Oleh Reza A.A Wattimena
Jakarta adalah ibu kota dari Republik Indonesia. Sampai detik ini, Jakarta masih menjadi pusat dari berbagai kegiatan politik, ekonomi maupun kebudayaan di Indonesia. Pada 2020 lalu, ada sekitar 36 juta orang yang resmi menjadi warga Jakarta, terutama akibat transmigrasi selama puluhan tahun. Kota ini pun menjadi kota terbesar kedua di dunia, setelah Tokyo di Jepang.
Saya sendiri sudah hidup sekitar 28 tahun di Jakarta. Sekitar 10 tahun, saya merantau di berbagai kota untuk bekerja dan belajar. Saya lahir dan besar di Jakarta, sehingga mengalami langsung pergaulan dengan warga Jakarta. Ada dorongan untuk memberikan gambaran umum yang berpijak pada pengalaman sekaligus analisis yang saya punya. Lanjutkan membaca Jiwa Warga Jakarta
Mengembalikan Dharma ke Nusantara
Oleh Reza A.A Wattimena
Sekitar 1000 tahun yang lalu, Indonesia adalah rumah ilmu. Beragam orang dari berbagai bangsa datang dan belajar di sini. Tentu saja, waktu itu, belum ada Indonesia. Pada masa itu, Indonesia adalah kumpulan beberapa kerajaan yang memiliki pengaruh politik, budaya maupun ekonomi yang luas.
Bisa dibilang, pada masa itu, Nusantara kita, Indonesia, adalah negara Dharma. Hukum-hukum alam yang abadi diuraikan dengan jelas, dan diterapkan di dalam kehidupan. Manusia mencapai pencerahan moral, spiritual dan intelektual yang mengagumkan. Nusantara kita menjadi magnet bagi para pencari kebijaksanaan. Lanjutkan membaca Mengembalikan Dharma ke Nusantara
Mengapa Filsafat Gagal di Indonesia?
Oleh Reza A.A Wattimena
Saya menulis tema ini dengan rasa sedih dan cemas. Hampir 20 tahun, saya hidup dalam dunia filsafat Indonesia. Ada secuil harapan, bahwa filsafat akan menjadi lampu pencerah kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia. Begitu banyak hal baik di dalam filsafat yang bisa ditawarkan untuk kemajuan bangsa kita.
Namun, harapan tersebut tampak redup di 2021 ini. Filsafat gagal menghadirkan pencerahan bagi bangsa Indonesia. Harga yang harus dibayar pun mahal, yakni mutu kehidupan bersama yang semakin dangkal dan korup di Indonesia. Dalam jangka panjang, tanpa perubahan yang mendasar, bangsa kita bisa hancur. Lanjutkan membaca Mengapa Filsafat Gagal di Indonesia?
Menjadi Anjing, atau Singa?
Oleh Reza A.A Wattimena
PPKM tidak selesai-selesai. September 2021, kebijakan yang menyiksa itu masih berlanjut. Rakyat tersiksa dalam kemiskinan dan ketidakpastian. Sementara, para wakil rakyat di DPR dan para pemimpin politik hidup nyaman di rumah dinas mereka, dengan gaji pasti setiap bulan dari uang rakyat.
Itu kiranya yang menyiksa pikiran seorang kawan (dan saya juga). Di tengah hampanya kegiatan, pikirannya merantau ke masa lalu. Ia teringat perceraiannya yang berdarah-darah. Itu sudah terjadi belasan tahun lalu, namun terasa baru seperti kemarin terjadi. Lanjutkan membaca Menjadi Anjing, atau Singa?
Jika Sesuatu itu Busuk, Mengapa Kita tidak Melepasnya?
Oleh Reza A.A Wattimena
Manusia memang mahluk yang unik. Di satu sisi, ia bisa begitu tercerahkan dan bijaksana. Nilai-nilai kehidupan dan peradaban agung dibangunnya. Namun, di sisi lain, ia bisa begitu jahat dan bodoh. Ia bisa begitu bebal di hadapan kebusukan.
Ada hal yang merusak. Namun, mereka tetap melakukannya. Mereka tidak melepasnya. Alhasil, hidupnya menjadi kacau, dan membuat orang lain juga susah. Lanjutkan membaca Jika Sesuatu itu Busuk, Mengapa Kita tidak Melepasnya?
