Bukan Filsafat Kematian

Oleh Dhimas Anugrah

Pendiri Lingkar Filsafat (Circles) Indonesia, sebuah komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains. Studi di Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris.

Kabar wafatnya mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif di Yogyakarta pada Jumat 27 Mei 2022 mendatangkan duka bagi seluruh negeri. Sementara pada Minggu 29 Mei 2022 kabar duka kembali datang menyelimuti. Kali ini bagi komunitas Kristen Injili di Tanah Air. Pdt. Daniel Lucas Lukito, mantan Ketua Sekolah Tinggi Teologi SAAT di Malang, dikabarkan meninggal pada pukul 02.39 dini hari. Almarhum disebut-sebut sebagai salah satu pemikir besar dari kalangan Injili Indonesia. Kepergian kedua tokoh ini selain mengundang duka, juga mengajak kita melihat kembali realitas yang tak terelakkan: suatu hari kita akan berpulang. Lanjutkan membaca Bukan Filsafat Kematian

Bukan Filsafat Penderitaan

WhatsApp Image 2022-05-18 at 9.28.48 PMOleh Dhimas Anugrah

Pendiri Lingkar Filsafat (Circles) Indonesia, sebuah komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains. Studi di Oxford Center for Religion and Public Life, Inggris.

Penderitaan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Pepatah India Kuno mengatakan, “Sebelum kita dapat melihat arah dengan benar, kita harus terlebih dahulu meneteskan air mata untuk membersihkan jalan.” Artinya, ada perjuangan yang tidak selalu mudah untuk mencapai tujuan hidup setiap insan. Ada tantangan penderitaan yang perlu diatasi. Ia melingkupi dan mewarnai hayat setiap orang. Tidak ada orang yang mau menderita, tetapi realitas hidup tidak selalu seperti yang diharapkan. Penderitaan secara lugas menemani setiap manusia yang terlahir ke dunia, sehingga mau tidak mau, kita hanya bisa menerima kenyataan bahwa hidup di dunia ini memiliki warna yang khas: penderitaan. Lanjutkan membaca Bukan Filsafat Penderitaan

Tiga Pertemuan: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

WhatsApp Image 2022-05-18 at 6.43.17 PMWebinar bersama Forum Kader Pemikir Islam Indonesia dan Lembaga Studi Agama dan Filsafat 

Bagaimana menemukan kejernihan di tengah jaman yang semakin membingungkan ini? Bagaimana mendapatkan kedamaian hati dan arah hidup yang tepat di tengah cengkraman politik korup, bencana ekologis, krisis ekonomi bergantian, radikalisme agama dan ancaman perang dunia ketiga? Di dalam tiga pertemuan ini, kita akan belajar bersama untuk menjawab dua pertanyaan itu sampai tuntas.

Pertemuan 1: Sejarah dan Dasar Filosofis Zen (4 Juni 2022)

Pertemuan ini membahas sejarah dan filsafat Zen. Akan dibahas arti dasar kata Zen, dan bagaimana ia berkembang di dalam sejarah. Akan dibahas juga ontologi, epistemologi dan aksiologi dari Zen. Pertemuan ini memberikan dasar pemahaman konseptual untuk Zen. Lanjutkan membaca Tiga Pertemuan: Urban Zen, Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern

Hidup Mengalir, Tanpa Rintangan

jardin-zen-en-miniatura-1024x682Oleh Reza A.A Wattimena

Jam 11 malam, Jumat 13 Mei 2022. Perut melilit. Sakitnya nyaris tak tertahankan. Saya pun terbangun.

Cuaca sejuk dan nikmat. Semuanya sempurna, kecuali perut yang berteriak. Perpaduan kopi, susu, arak, babi guling pedas dan bir memang mematikan. Saya sudah menduganya. Lanjutkan membaca Hidup Mengalir, Tanpa Rintangan

Apakah Pria Indonesia Berotak Kotor?

Surreal-portraits-of-women-painted-by-an-Iranian-artist-5710dae922d86__880Oleh Reza A.A Wattimena

Seorang teman bercerita. Ia berjalan di bilangan Pasar Baru, Jakarta. Ini tempat belanja klasik. Banyak barang yang menarik untuk dilihat.

Tiba-tiba terdengar suara pria. Hei, cewek, dari mana? Pertanyaan itu dibarengi dengan siulan yang terkesan kurang ajar. Teman saya kaget. Hari gini, masih ada orang “kampungan” yang suka menggoda perempuan di jalan? Lanjutkan membaca Apakah Pria Indonesia Berotak Kotor?

Zen Pengembara Menuju Yogyakarta

IMG-20211225-WA0008Oleh Reza A.A Wattimena

Tegangan mesin itu terasa di tangan. Angin dingin menerpa seluruh tubuh. Ramai lalu lintas membuat semua terasa hidup. Semua bergerak dengan satu tujuan: Yogyakarta.

Semua sudah rapih. Jam 9 malam, badan segar. Motor sudah siap. 24 Desember 2021, saatnya berangkat. Untuk pertama kalinya, saya merayakan Natal di atas dua roda sepanjang malam. Lanjutkan membaca Zen Pengembara Menuju Yogyakarta

DUNGU

unnamedOleh Reza A.A Wattimena

Alkisah, seorang pemuda hendak melihat mentari terbit. Katanya, setiap jam 3 pagi, ia sudah bangun, dan mempersiapkan diri. Matahari, baginya, adalah sumber kehidupan. Setiap hari, ia pun menantinya terbit.

Setelah bangun, ia mandi. Segera, ia memakai baju yang baru, supaya tampak sopan di hadapan sang sumber kehidupan. Ia pun menghadap Barat. Sabar menanti, ia terus berdiri, dan terus berharap. Lanjutkan membaca DUNGU

Hidup Seutuhnya

Complicity-Teresa-MeierOleh Reza A.A Wattimena

Hampir jam 8 malam. Hujan mendadak tiba. Dari pelan, secara perlahan, ia menjadi keras. Suara orang berteriak-teriak di rumah ibadah terdekat terdengar keras.

Beberapa teman berkumpul di depan rumah. Ada yang merokok. Ada yang membawa cemilan. Saya duduk dari dalam rumah, mengamati mereka. Lanjutkan membaca Hidup Seutuhnya

Seminar: Etika dan Moral di dalam Dunia Digital

Eposter_Kelas Filsafat Mei 1Eposter_Kelas Filsafat Mei 2
Masih dalam tema besar “Manusia dan Dunia Digital”, kelas filsafat pada putaran kedua ini membahas bagaimana pemikiran Kant, pemikiran kaum Stoa, pemikiran Karl Marx, hingga Buddhisme dapat memecahkan soal etika di dunia digital. Daftar sekarang melalui https://tiket.salihara.org/event/etika-moral-dan-dunia-digital/ 

Zen itu Seperti Kamar Kosong

jptkA1Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa teman bercerita. Mereka sudah belajar Zen. Mereka juga sudah aktif Yoga. Namun, derita dan kecewa tetap berkunjung, seolah tak ada yang berubah.

Akhirnya, mereka lelah. Ada perasaan putus asa muncul. Hidup memang penderitaan, begitu kata seorang teman. Ucapan serupa keluar dari mulut Gautama, Sang Buddha, lebih dari 2400 tahun yang lalu. Lanjutkan membaca Zen itu Seperti Kamar Kosong

Hasrat Akan Kepuasan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono

Malam itu di warung tenda pinggir jalan, tidak begitu jauh dari Jalan Abu Bakar Ali, Yogyakarta, ia memesan kerang hijau, kerang mahkota, udang bakar, kepiting saos tiram, dan ikan bakar. Kami duduk bersila, beralas tikar, di atas trotoar. Di bawahnya adalah saluran air. Lalu lalang kendaraan bermotor sudah berkurang.

“Tidak pakai nasi. Mas, tambah cah kangkung. Sama sambalnya ditambah cabainya,” kata teman itu. Mulutnya melepaskan asap rokok ke udara yang agak dingin. Ia melemparkan bungkus rokok di meja saji yang rendah. Juga tas pinggangnya yang tampak berisi. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Kepuasan: Dukkha

Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…

61GWCuVqElL._AC_SX425_Oleh Reza A.A Wattimena

Jeanne Putri, keponakan perempuan yang paling besar, berkunjung ke rumah kemarin. Spontan, ia minta gendong. Namun, karena sudah besar, saya tidak bisa lagi melakukannya. Sekarang, tubuhnya sudah besar dan berat sekali.

Adiknya pun serupa. Walaupun, saya masih bisa menggendongnya. Si bayi yang dulu gendut sekali kini menjadi anak kecil yang langsing dan lucu. Betapa cepat waktu berlalu. Lanjutkan membaca Seperti Ombak dan Pelangi: Ada, Tapi Tak Sungguh Ada…

Thich Nhat Hanh tentang Spiritualitas dan Perdamaian Dunia

WhatsApp Image 2022-02-22 at 08.01.59MENGKAJI PEMIKIRAN THICH NHAT HANH TENTANG SPIRITUALITAS DAN PERDAMAIAN DUNIA

Bersama Dr Reza Wattimena

Rabu, 23 Pebruari 2023

Pukul 19.00 – 21.00 WIB

Link: s.id/Esoterika23

Thích Nhất Hạnh  (11 Oktober 1926 – 22 Januari 2022) adalah seorang biksu Buddhisme Zen, penulis, penyair, dan aktivis perdamaian dan HAM, yang berasal dari Vietnam. Ia tinggal di Biara Desa Prem di wilayah Dordogne di Prancis Selatan. Puluhan tahun ia telah bepergian secara internasional untuk memberikan retret dan berbicara tentang pentingnya membangun petdamaian dunia. Lanjutkan membaca Thich Nhat Hanh tentang Spiritualitas dan Perdamaian Dunia

Hasrat Akan Pengakuan: Dukkha

3685179-HSC00002-6

Oleh Johanes Supriyono, Antropolog

Suatu ketika, saya berjumpa seorang teman yang libido sekolahnya tinggi. Di ruang kerjanya ia setengah pamer tentang rencana sekolahnya. “Saya selesai S2 tepat waktu. Nilai saya A semua. Saya lulusan terbaik. Tesis saya sangat layak dibukukan. Kamu tertarik untuk membacanya? Ada banyak referensi yang saya rujuk untuk membahas topik penelitian saya.” Kemudian bla bla bla bla bla…. Sangat panjang. Aura bangga menguar dari mulut; mengiringi setiap kata.

“Saya sedang menyiapkan proposal penelitian S3 saya. Ke luar negeri,” katanya lagi. Lagi-lagi ia menggarisbawahi alasan bahwa ia sangat spesial dan penting untuk masuk ke pergaulan internasional. Ia merasa dirinya selayaknya menjadi bagian dari komunitas ilmuwan trans-nasional. Ia suka mengutip kalimat-kalimat dari buku yang ia pernah baca. Juga ia suka mengubah kalimatnya ke dalam bahasa Inggris yang terdengar sangat fasih. Sekurang-kurangnya di telinga saya. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Pengakuan: Dukkha

Tentang Relasi Manusia dan Alam

Mesangat - HomeOleh Johanes Supriyono, Antropolog

Pak Yus seorang pemancing ikan di Danau Mesangat. Ketika ditanya nama panjangnya, jawab singkat: Iyus. “Nama panjang-panjang pun yang diingat orang pasti yang pendek,” kelakarnya. Sehari-hari, jika tidak sedang tidak enak badan, ia pergi memancing. Itulah pekerjaannya.

Pagi hari, ia menajur. Puluhan kail berumpan ikan-ikan kecil atau katak kecil ia pasang di permukaan Danau Mesangat. Danau itu dipenuhi ikan-ikan toman (Channa micropeltes)—ikan toman dikenal sebagai predator buas. Danau itu juga adalah habitat bagi buaya badas kuning dan buaya sepit (Tomistoma schlegelii). Meski ada spesies ikan yang lain, target utama tajur Pak Yus adalah ikan toman. Lanjutkan membaca Tentang Relasi Manusia dan Alam

Alkisah, Sebuah Negeri Terjebak di Abad Kegelapan

beingindonesian | Bepergian, Indonesia, DanauOleh Reza A.A Wattimena

Alkisah, hadirlah sebuah negeri indah di Khatulistiwa. Para dewa tersenyum, ketika negeri ini tercipta. Ribuan pulau terurai ditemani oleh sinar mentari yang tak ada habisnya. Jika sungguh ada surga, maka negeri ini adalah surga terindah yang pernah ada.

Alamnya begitu kaya. Ini mengundang iri dari seluruh dunia. Apapun yang ditabur begitu mudah tumbuh. Tanpa perawatan dari manusia, semua tercipta begitu indah, dan begitu nyata. Lanjutkan membaca Alkisah, Sebuah Negeri Terjebak di Abad Kegelapan

Kekuasaan dan Hakekat Manusia

Gambar dari Detik.Com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ibu-ibu pejabat itu kurang ajar. Dia menggunakan pengawalan polisi untuk membelah kemacetan ibu kota.

Semua orang terganggu. Suara sirene dan sikap supir pejabat yang agresif membahayakan pengguna jalan lain.

Padahal, ia hanya mau ke mall untuk arisan dengan ibu-ibu pejabat lain. Begitulah perilaku pejabat yang merasa berkuasa di Indonesia.

Kemungkinan besar, ia bukan orang jahat. Bahkan, mungkin ia suka beragama, yakni menggunakan tampilan dan sikap religius di hadapan umum. Lanjutkan membaca Kekuasaan dan Hakekat Manusia

Mahluk Apakah Kita Sesungguhnya?

The Eternal Kiss" : New symbolism, man and woman love theme ...
Kazuya Akimoto

Oleh Reza A.A Wattimena

            Bodohnya saya. Jam 2 pagi terjebak di jalan raya Jakarta. Jalanan kosong. Bensin motor habis. Saya boncengan bersama seorang teman. Motor mogok.

            Ini terjadi untuk kedua kalinya. Di kedua kesempatan tersebut, saya meminjam motor teman. Keduanya tak ada sensor bensin. Akibatnya, bensin menipis, tanpa sepengetahuan saya. Lanjutkan membaca Mahluk Apakah Kita Sesungguhnya?

Doa dan Bungkam yang Mulia

When Silence happens in the Marketplace Painting by Melinda Matyas ...
Melinda Matyas

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Indonesia, kita gemar sekali berdoa. Setiap ada bencana, kita berdoa. Setiap ada perayaan, kita berdoa. Doa dianggap mampu menyelesaikan segala tantangan kehidupan.

Gaya berdoanya pun macam-macam. Ada yang berdoa dengan berteriak-teriak ke seluruh penjuru arah. Ada yang berdoa sampai menangis-nangis. Bahkan, ada yang berdoa sampai pingsan, sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Lanjutkan membaca Doa dan Bungkam yang Mulia

Bukan Apa-apa Sekaligus Segalanya

WhatsApp Image 2020-03-31 at 20.41.55
Ilustrasi dari Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa minggu ini, kita semakin sadar, bahwa hidup manusia itu rapuh. Sedikit penyakit, hidupnya bisa berakhir. Sedikit terjatuh, cacat langsung menimpanya. Sudah mencapai segalanya, harta dan kuasa, namun manusia harus mati meninggalkan semuanya.

Virus nan kecil bisa menganggu kesehatan badannya. Tak hanya itu, sang virus kecil kini menciptakan kepanikan dunia. Ekonomi ambruk. Politik kacau. Masyarakat hidup dalam kecemasan akan kematian. Lanjutkan membaca Bukan Apa-apa Sekaligus Segalanya