Bukan Apa-apa Sekaligus Segalanya

WhatsApp Image 2020-03-31 at 20.41.55

Ilustrasi dari Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa minggu ini, kita semakin sadar, bahwa hidup manusia itu rapuh. Sedikit penyakit, hidupnya bisa berakhir. Sedikit terjatuh, cacat langsung menimpanya. Sudah mencapai segalanya, harta dan kuasa, namun manusia harus mati meninggalkan semuanya.

Virus nan kecil bisa menganggu kesehatan badannya. Tak hanya itu, sang virus kecil kini menciptakan kepanikan dunia. Ekonomi ambruk. Politik kacau. Masyarakat hidup dalam kecemasan akan kematian.

Virus nan kecil pun tak pilih-pilih. Orang kaya dihantamnya. Orang muda dan tua diserangnya. Orang berkuasa, dengan kuasa politik dan uang, pun tak berdaya.

Begitulah hidup manusia. Amat gemilau, sekaligus juga amat rapuh. Setelah usaha seumur hidup membangun harta dan kuasa, kematian lalu menjemputnya. Kematian bisa memicu derita, namun juga bisa membangunkan kita dari tidur yang sia-sia.

download

wallpapersafari.com

Pada dasarnya, manusia hanyalah debu di alam semesta. Keseluruhan semesta amatlah tua dan luas. Tak ada ukuran pasti. Bahkan, penelitian terbaru menyatakan, bahwa alam semesta terus berkembang dan meluas, tanpa henti.

Sebagai debu semesta, kita tak berdaya. Berbagai peristiwa menghantam kita. Tahun 2020 ini sudah bisa menjadi alat berkaca. Banjir di awal tahun, kini Korona datang menghadang. Semuanya membuat kita panik dan bertanya-tanya.

Sebagai debu semesta, kita penuh dengan derita. Ini semua berlanjut, sampai kita paham, siapa kita sebenarnya. Aliran filsafat dan spiritual berulang kali mengajarkan, bahwa kita harus “bangun”. Kita harus bangun pada kenyataan tentang siapa kita yang sebenarnya.

Gautama, manusia yang hidup lebih dari 2500 tahun yang lalu, menjalani hidup yang serupa. Ia kaget dan cemas melihat usia tua, sakit dan kematian manusia. Ia juga terbangun, ketika melihat sang pertapa mencari yang sejati di tengah hidup yang fana. Perjalanan Gautama adalah perjalanan kita semua.

Derita bisa membuat manusia patah. Namun, ia bisa menjadi titik balik untuk berubah. Di dalam tradisi Yoga, derita mendorong manusia untuk menemukan Mukti, yakni pembebasan dari derita dan bahagia. Setelah melampaui derita dan bahagia, manusia menyatu dengan semesta.

Agama-agama Timur Tengah, yakni Yahudi, Kristen dan Islam, juga mengajarkan hal serupa. Manusia harus melebur ke dalam sesuatu yang lebih besar darinya. Lepas dari beragam aturan yang ketinggalan jaman, agama-agama Timur Tengah memiliki unsur mistik yang dalam. Sayangnya, di berbagai belahan dunia, unsur itu kini terlupakan.

Kita memang debu semesta. Tetapi, kita juga adalah alam semesta. Begitulah temuan terbaru di berbagai bidang penelitian fisika. Manusia adalah alam semesta kecil yang rumit dan perkasa.

Kita harus sadar dan bangun sepenuhnya pada hal ini. Ini bisa dilakukan, asal kita tidak terjebak pada pikiran dan emosi yang muncul. Kita masuk ke dalam keadaan sebelum pikiran (before thinking arises). Inilah jati diri kita yang asli, yang juga adalah alam semesta itu sendiri.

Berbagai laku spiritual, seperti meditasi dan yoga, adalah upaya untuk kembali ke keadaan sebelum pikiran ini. Jika pikiran muncul, kita cukup secara lembut menyadarinya (gentle awareness). Ketika emosi dan perasaan muncul, kita hanya perlu dengan lembut mengamatinya (gentle observation). Kata “lembut” menjadi amat penting disini.

Kita adalah debu semesta. Namun, kita juga seluas dan seagung alam semesta itu sendiri. Inilah kebenaran yang tertinggi. Dengan ini, kita bisa keluar dari derita kehidupan yang selama ini mencekik.

Rasa sakit kita adalah rasa sakit semesta. Derita kita adalah derita semesta. Dengan kesadaran ini, ada rasa lega di dada. Ada solidaritas yang muncul dengan segala yang ada.

Kita bukanlah apa-apa, sekaligus segalanya. Saat demi saat, hal ini perlu untuk disadari. Saat demi saat, kita perlu bangun seutuhnya pada kebenaran ini. Selamat mencoba. Jika perlu, sampai seribu tahun lamanya.

 

 

 

 

6 thoughts on “Bukan Apa-apa Sekaligus Segalanya

  1. Setuju untuk paparan Mas Reza ,karena saya yakin setiap manusia memiliki *Kehadiran Keberadaan* di dalam dirinya (bahwa setiap orang telah mewarisi dalam dirinya kerinduan akan kebebasan, kebahagiaan, pengetahuan, keadilan, kesejahteraan, cinta, keindahan, kebenaran, yang membuktikan bahwa manusia telah mewarisi dalam dirinya suatu merindukan ketakberhinggaan), tetapi tidak memiliki pengalaman akan hal itu, dalam arti bahwa ia tidak tahu apa kerinduan akan ketakterbatasan ini secara konkret, meskipun ia memiliki kehadiran yang minimal. Dia tertarik padanya dan mencoba bergerak ke arah itu melalui komitmen untuk memperbaiki kondisi kehidupan di mana dia sekarang menemukan dirinya sendiri. Dengan cara ini dia memastikan bahwa dia lebih bebas, lebih bahagia, untuk menambah pengetahuan, untuk menjadi lebih adil, untuk merasa baik, untuk mencintai lebih banyak, untuk mencari kecantikan, untuk kebenaran. Manusia memiliki kerinduan ini, meskipun dalam banyak kasus ia tidak sadar memilikinya. ‘kerinduan adalah keinginan untuk mengatasi batasan seseorang saat ini (untuk memiliki lebih banyak kebebasan, lebih banyak kebahagiaan, lebih banyak pengetahuan, lebih banyak keadilan, lebih banyak perasaan baik, lebih mencintai, lebih cantik, lebih banyak kebenaran) yang mengarah pada keinginan untuk tidak memiliki batasan (tetapi tidak tahu apa yang diinginkannya) katakan untuk tetap berada di luar batas itu) yaitu mengatakan keinginan untuk tidak memihak. Secara khusus, itu adalah keinginan untuk mengetahui segala sesuatu yang perlu diketahui dalam keberadaan agar selalu berusaha untuk mendapatkan kondisi kehidupan yang Anda anggap lebih baik daripada kondisi kehidupan di mana Anda saat ini.Secara khusus, itu adalah keinginan untuk mengetahui segala sesuatu yang perlu diketahui dalam keberadaan agar selalu berusaha untuk mendapatkan kondisi kehidupan yang dianggap lebih baik daripada kondisi kehidupan saat ini. Ini adalah keinginan untuk tidak puas dengan dipindahkan ke gua, itu adalah keinginan untuk pergi ke luar, untuk melanggar batas-batas di mana dia sekarang merasa dikurung, di mana dia sekarang dipaksa. Kerinduan ini adalah keinginan untuk menempatkan diri keluar dari kondisi kehidupan di mana ia sekarang ditemukan, itu adalah keinginan untuk menempatkan dirinya keluar dari gua di mana ia sekarang menyadari bahwa ia hidup. Manusia mungkin tidak memiliki kesadaran akan kerinduan ini, tetapi setiap kegiatan sehari-hari, yaitu mencoba memperbaiki kondisi kehidupan, untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, bahkan jika ia diidentifikasi dengan baik di gua itu, membawa kerinduan itu. infinity, itu muncul dari kerinduan yang tak terbatas, semoga kerinduan itu selalu ada._

    Suka

  2. sepakat sekali dgn karya diatas.
    benar2 jitu, mudah dimengerti.
    cukup mencicip sedikit, membuat peminat jadi kecanduan !!
    terima kasih dan salam hangat !!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.