Guru atau Buruh?

school-clipart.com

Oleh Dedy Suryadi

Pemerintah berencana menambah jam mengajar guru PNS dari 24 jam pelajaran per minggu menjadi 27,5 jam pelajaran.

Rencana itu akan direalisasikan awal Januari 2013. Pemerintah beralasan, jam kerja guru selama ini lebih sedikit daripada para birokrat sehingga banyak guru PNS yang keluyuran di mal atau di pasar selama jam kerja. Keinginan pemerintah ini telah menimbulkan kegusaran di kalangan pendidik. Bukan karena merasa terusik waktu santainya, melainkan karena beban guru yang sesungguhnya tak dipahami oleh para pembuat kebijakan. Lanjutkan membaca Guru atau Buruh?

Solusi bagi Universitas Publik

Oleh Andri G Wibisana

Dalam tulisan berjudul ”A New Vision of the Public University”, Michael Burawoy—Guru Besar Sosiologi di UCLA, Amerika Serikat—menyatakan bahwa saat ini universitas publik di berbagai belahan dunia sedang mengalami krisis.

Menurut dia, krisis itu terjadi karena ada benturan berbagai kepentingan dengan kebijakan negara. Pada satu sisi, posisi penting universitas publik melahirkan keinginan agar universitas mampu mengeluarkan gagasan dan solusi berguna bagi masyarakat. Di sisi lain, pemotongan anggaran negara dan invasi konsep ”pasar” pada setiap dimensi universitas telah mendorong universitas publik melakukan komersialisasi pendidikan. Lanjutkan membaca Solusi bagi Universitas Publik

Parasit Demokrasi

Oleh Yasraf Amir Piliang

 

api.ning.com

Proses demokratisasi yang berlangsung lebih dari satu dekade membawa banyak kemajuan dengan terciptanya iklim kebebasan dalam aneka ruang kehidupan berbangsa.

Namun, perkembangan demokrasi akhir-akhir ini diancam tindakan, perilaku, dan gerakan ”kontrademokrasi”, yang menggerogoti bangunan demokrasi dari dalam: korupsi, politik uang, kekerasan, terorisme, dan aneka konflik horizontal.

Ada semacam ”parasit” tumbuh di atas pohon demokrasi, merusak sistem metabolisme, mengacau arus sirkulasi, dan menghancurkan jejaring akarnya. Inilah para ”politikus parasit”, zoon politicon, yang menggerogoti tempat hidup mereka (partai, parlemen, departemen, dan negara) serta saling mengisap sesama di ruang komunitas politik. Dalam sepak terjangnya, parasit politik tak hanya individu, tapi juga membentuk kelompok atau jejaring. Lanjutkan membaca Parasit Demokrasi

Kepemimpinan, Sikap Produktif, dan Kontrol Diri

blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap hari kita membuat rencana. Rencana itu mencakup apa yang akan kita lakukan hari ini. Harapannya semua rencana tersebut bisa terlaksana dengan baik. Namun harapan tak selalu sesuai dengan kenyataan, bukan?

Ada orang-orang yang memang amat produktif. Mereka memiliki target kerja yang jelas di awal hari. Mereka pun bekerja rajin seharian penuh, fokus pada rencana mereka, dan pada akhir hari, mereka telah memenuhi target kerja mereka sesuai rencana. Orang-orang semacam ini bisa menciptakan hal-hal besar dengan melakukan hal-hal kecil secara sempurna setiap harinya. Lanjutkan membaca Kepemimpinan, Sikap Produktif, dan Kontrol Diri

Guru di Negeri Bohong

blogspot.com

Oleh SIDHARTA SUSILA

Keteladanan adalah metode efektif dalam pendidikan karakter. Keteladanan menjadikan dinamika pendidikan membumi, konkret, dan kontekstual.

Bagaimanakah jadinya pendidikan jika harus dijalankan di negeri yang penuh kebohongan?

Pendidikan seharusnya membangun rasa bangga dan cinta peserta didik kepada negerinya. Ini hanya bisa berlangsung bila kualitas para pengelola negeri unggul dan berkarakter. Mereka layak diteladani karena menjadi pribadi yang merdeka dari kepentingan pribadi dan kelompok. Keadilan dan kesejahteraan hidup segenap rakyat adalah satu-satunya yang diperjuangkan. Lanjutkan membaca Guru di Negeri Bohong

Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah

Francis Bacon dalam blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Pola berpikir induksi berkembang pesat dalam konteks revolusi saintifik pada abad 16 dan 17.[1] Pada masa itu pula lahirlah apa yang sekarang ini kita kenal sebagai ilmu pengetahuan modern.[2]Disebut revolusi karena pada masa itu, segala pandangan-pandangan lama di dalam masyarakat dengan sangat cepat dibuang, dan segera digantikan dengan pandangan-pandangan baru yang didasarkan pada metode penelitian ilmiah. Perubahan besar ini dimulai dengan karya-karya Galileo Galilei (1564-1642), dan mencapai puncaknya dalam karya Isaac Newton (1642-1727) tentang fisika. Bahkan dapat dikatakan bahwa perkembangan di dalam fisika adalah tanda majunya seluruh ilmu pengetahuan pada masa itu. Fisika adalah garda depan perkembangan ilmu pengetahuan modern.[3]Hal ini terjadi karena ilmu fisika mampu memberikan penjelasan, dan bahkan prediksi, yang kuat atas terjadinya berbagai fenomena alam. Juga di dalam fisika terjadi perkembangan teknologi yang amat pesat, seperti lahirnya teleskop, mikroskop, dan berbagai peralatan lainnya. Lanjutkan membaca Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah

Negeri Seribu Misteri

murdermysterymadness.com

Oleh Kurnia JR

Negeri ini tak ubahnya ruang tanpa jendela. Salah satu dindingnya adalah kaca satu arah: dari dalam layaknya cermin, dari luar kaca tembus pandang. Melalui kaca itu, mereka yang ada di luar dapat mengamati kita yang menghuni ruang ini.

Orang yang prihatin meyakini mereka yang ada di balik dinding kaca tersebut adalah penguasa sesungguhnya republik ini. Para pemimpin yang bersama kita di dalam kamar adalah boneka-boneka yang nyaris tanpa otoritas menangani berbagai masalah kebangsaan dan kenegaraan. Lanjutkan membaca Negeri Seribu Misteri

Budi Pekerti Elite Politik

acuvuecolorcontactlenses.net

Oleh Indra Tranggono

Seusai peristiwa pengeroyokan terhadap wartawan (19/9), seorang pelajar sebuah SMA di Jakarta melalui Twitter-nya mengaku puas memukuli wartawan.

Kata ”puas” mengindikasikan sang pelaku menganggap kekerasan sebagai kebenaran dan ”prestasi” yang wajib dirayakan. Ironisnya, pola pikir yang mengagungkan kekerasan fisik dan nonfisik itu kini kian menggejala dalam masyarakat dan negara.

Hukum harus menindak pelaku kekerasan. Siapa pun pelakunya, termasuk para pelajar. Lanjutkan membaca Budi Pekerti Elite Politik

Indonesia, Bisnis, dan Kepemimpinan yang Memanusiakan

google pictures

Oleh Reza A.A Wattimena

Anda pasti ingin bekerja di perusahaan (ataupun organisasi-organisasi dalam bentuk lainnya) atau mendirikan perusahaan yang baik. Siapa yang tidak?

Dalam arti ini perusahaan yang baik adalah perusahaan yang terdiri dari orang-orang yang bekerja secara produktif, mampu memberikan kepuasan maksimal pada pelanggan, dan, pada akhirnya, menjadi nomor satu di bidang usahanya. Menarik bukan?

Namun sebagaimana dicatat oleh Tony Schwartz (2011), kontributor resmi Harvard Business Review, hanya 20 persen dari seluruh pekerja di dunia yang menyatakan, bahwa mereka bekerja di perusahaan yang baik. Logikanya, 80 persen lainnya merasa, bahwa mereka bekerja di perusahaan yang tidak baik. Lanjutkan membaca Indonesia, Bisnis, dan Kepemimpinan yang Memanusiakan

Munir dalam Kerangka Keindonesiaan

blogspot.com

Oleh Mochtar Pabottingi

Ada tiga pertimbangan penting mengapa kita harus teguh menuntut keadilan bagi saudara kita, Munir.

Pertama, jika Munir yang namanya menasional-mendunia itu bisa dizalimi begitu keji secara terang-terangan, apatah lagi tiap kita, warga negara lainnya. Kedua, pembunuhan keji terhadap Munir bisa berefek melecehkan atau menegasikan makna sosok perjuangannya, yang bagi kita sungguh mulia. Ketiga, dan terpenting, sosok perjuangan Munir sama sekali tak bisa dilepaskan dari ideal-ideal tertinggi yang melahirkan, menjadi tumpuan, sekaligus menjadi tujuan negara kita. Lanjutkan membaca Munir dalam Kerangka Keindonesiaan

Kepemimpinan yang “Tak Pernah Lupa”

Oleh Reza A.A Wattimena

Saat ini Indonesia tengah mengalami krisis kepemimpinan. Di berbagai sektor kehidupan sangat sulit dijumpai seorang pimpinan yang bisa sungguh mengarahkan organisasi yang dipimpinnya untuk mencapai kegemilangan secara manusiawi. Yang banyak ditemukan adalah pemimpin yang permisif. Mereka mencari popularitas dengan bersikap ramah dan baik, namun tidak memiliki ketegasan untuk membuat keputusan. Akibatnya organisasi menjadi tidak memiliki arah yang jelas, dan ketidakpastian menghantui aktivitas organisasi tersebut. Dalam hal ini negara dan masyarakat bisa dipandang sebagai sebuah organisasi yang, juga, mengalami krisis kepemimpinan. Lanjutkan membaca Kepemimpinan yang “Tak Pernah Lupa”

Menelisik Idealisme Teror

goodreads.com

Oleh F Budi Hardiman

Sampai hari ini, siapa pun yang berakal sehat akan mengutuk serangan Al Qaeda pada 9/11. Menara kembar WTC, simbol kedigdayaan ekonomi AS, itu roboh. Reruntuhannya terus terbakar sampai seratus hari.

Lebih dari 17.000 orang dievakuasi dan sekitar 3.000 orang mati. Lawrence Wright, penulis buku Sejarah Teror ini, mencoba menelisik isi pikiran dan sepak terjang orang-orang yang terkait dengan peristiwa itu.

Wartawan The New Yorker ini bercerita bagaimana Osama bin Laden, Ayman Zawahiri, dan para islamis (Islam radikal) lain memandang dunia dari sudut idealisme ”moral” yang tinggi. Cara hidup mereka mengundang simpati dalam suatu zaman yang telah digilas oleh materialisme dan hedonisme. Terdidik, berduit, dan mampu bepergian ke luar negeri, mereka hidup seperti seorang ”rahib” yang berdoa semalaman, menangis dan berpuasa atau hanya makan kurma, roti dan air.

Bin Laden, pendiri dan cukong Al Qaeda, digambarkan sebagai pemalu, bertangan halus seperti wanita, dan saat tertawa menutupi bibirnya dengan tangan (hal 133). Zawahiri juga sosok saleh dengan keinginan ”menyenangkan Allah”. Lanjutkan membaca Menelisik Idealisme Teror

Dendam dan “Bagaimana Jika?”

layoutsparks.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dendam adalah sesuatu yang amat problematis. Konfusius –seorang filsuf asal Cina kuno- pernah menyatakan, “Sebelum anda melakukan balas dendam, galilah dua kuburan.” Yang satu mungkin untuk korban balas dendam anda. Namun yang kedua untuk siapa? Untuk anda?

Dendam

Menurut Simon Critchley, seorang filsuf asal Inggris, balas dendam adalah suatu “hasrat untuk membalas suatu luka ataupun kesalahan yang diciptakan oleh orang lain, dan seringkali dengan jalan kekerasan.” (Critchley, 2011) Logika balas dendam adalah, jika kamu memukul saya, maka saya akan memukulmu kembali.

Pertanyaan kritisnya adalah apakah luka dalam diri saya hilang, ketika saya membalas memukul orang yang sebelumnya memukul saya? Critchley melanjutkan jika kita bertindak dengan motivasi membalas dendam, bukankah diri kita sendiri pada akhirnya menjadi semacam perwujudan dari rantai kekerasan yang, kemungkinan, akan berjalan tiada akhir? Lanjutkan membaca Dendam dan “Bagaimana Jika?”

Kita Mau ke Mana?

2.bp.blogspot.com

Oleh Franz Magnis-Suseno

Dua tahun dalam kepresidenan kedua Susilo Bambang Yudhoyono, bangsa Indonesia seperti tenggelam dalam lumpur rawa egoisme, kepicikan, dan keputusasaan. Sebelas tahun sesudah gerakan reformasi menuliskan pemberantasan KKN di atas panji-panjinya, ternyata korupsi, kolusi, dan nepotisme merajalela seperti belum pernah tersentuh.

Kelas politik memberikan tontonan yang memalukan dan mengkhawatirkan kepada masyarakat. Sejauh kita layangkan pandangan, tak kelihatan sebuah visi, cita-cita luhur, bahkan sekadar keberanian dalam kepemimpinan. Lanjutkan membaca Kita Mau ke Mana?

11/9

encuentos.com

Oleh Goenawan Mohamad

Sudah sepuluh tahun lewat. 11 September 2001. Tapi saya ingat: malam itu, sembilan jam setelah dua pesawat itu ditabrakkan ke Menara Kembar di New York dan seluruh dunia terguncang, saya berdiri di tepi Bleecker Street, Greenwich Village.

Saya bersama Komponis Tony Prabowo. Kami terdampar di New York. Berdua dalam perjalanan ke sebuah kota kecil di California untuk menyiapkan revisi opera kami Kali, kami tak bisa bergerak oleh kejadian 11 September itu: tak ada pesawat boleh terbang dari kota ini, masuk ke kota ini. Lanjutkan membaca 11/9

Marx, Kapitalisme, dan Masalah Kepemimpinan

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sekitar dua abad yang lalu, Karl Marx, seorang filsuf asal Jerman di abad 19, sudah meramalkan, bahwa kapitalisme akan mengalami masalah besar. Beberapa ramalannya tidak terjadi. Namun beberapa telah terjadi. Di dalam tulisannya Umar Haque (2011) memberikan beberapa catatan.

Ramalan Marx

Yang pertama Marx menyatakan, bahwa kapitalisme akan memiskinkan kaum buruh. Kaum buruh akan diperlakukan semata sebagai alat, dan akan diekspoitasi habis-habisan oleh para pemilik modal. Gaji akan tetap sementara harga barang-barang kebutuhan akan terus meningkat, dan situasi kerja akan semakin tidak manusiawi. Lanjutkan membaca Marx, Kapitalisme, dan Masalah Kepemimpinan

Buku Filsafat Terbaru: Bapa-bapa Gereja Berfilsafat

Karya dari Agustinus Ryadi

Dekan Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Buku yang akan Anda baca ini, Bapa-Bapa Gereja Berfilsafat, lahir dari materi kuliah Sejarah Filsafat Abad Pertengahan, terutama zaman Patristik yang penulis berikan mulai tahun 2010 sampai sekarang di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya. Dengan meningkatnya minat terhadap filsafat Abad Pertengahan, hadirnya buku referensi yang dapat menghubungkan pemikiran para pemikir zaman Patristik, dalam hal ini Bapa-Bapa Gereja, sangatlah diharapkan, khususnya tentang penafsiran para Bapa Gereja yang sangat berharga mengenai pokok iman (Tritunggal). Entah mengapa buku referensi filsafat para Bapa Gereja sangat minim di pustaka filsafat Indonesia. Hadirnya buku ini merupakan upaya untuk menambah referensi filsafat abad pertengahan, khususnya Bapa Gereja di bumi kita ini. Lanjutkan membaca Buku Filsafat Terbaru: Bapa-bapa Gereja Berfilsafat

Filsafat untuk Para Pemimpin

learningleader.weebly.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Apa yang dibutuhkan untuk membuat sebuah notebook? Saya membayangkan ada ratusan ribu orang yang diperlukan, mulai dari pengumpul material plastik, penjaga keamanan, tukang masak, supir, distributor, desainer, sampai penjaga toko. Sebuah produk apapun bentuknya adalah hasil dari kerja sama ratusan ribu pihak.

Hasil karya nyata dari sebuah peradaban adalah sebuah “produk” yang merupakan hasil dari berbagai anggota masyarakat yang ada. Produk tersebut bisa berupa buku, komputer, pesawat, dan sebagainya. Produk tersebut harus cukup rumit dan indah, sehingga mampu mencerminkan keindahan sekaligus kerumitan dari masyarakat yang menciptakannya. Lanjutkan membaca Filsafat untuk Para Pemimpin

Menara Gading

barnesandnoble.com

Oleh Sulistyowati Irianto

Peristiwa penganugerahan doctor honoris causa oleh Universitas Indonesia kepada Raja Arab Saudi adalah sebuah cermin yang menggambarkan terputusnya hubungan antara dunia akademik dan masyarakat luas, sekaligus juga peradaban global.

Apakah ini terkait dengan problem politik dan sistem pendidikan di Indonesia secara luas, yang menyebabkan universitas seperti teralienasi dari konteks kemasyarakatan? Apakah salah arah dalam dunia pendidikan kita sudah demikian kronisnya, sampai tak diketahui lagi ke mana universitas akan dibawa?

Mengherankan, UI yang menempatkan dirinya sebagai world class university justru melakukan hal yang bertentangan dengan kepedulian global terhadap isu kemanusiaan. Kecenderungan ilmu pengetahuan global saat ini makin menyatukan pandangan akan pentingnya pendekatan interdisipliner, di mana perspektif kemanusiaan yang dianut bersama di kalangan ilmuwan. Dengan demikian, terbentuklah perspektif dan sensitivitas kolektif bila bersinggungan dengan isu kemanusiaan. Lanjutkan membaca Menara Gading

Membedah Industri Pendidikan Tinggi

Oleh : Anita Lie

sexysocialmedia.com

KOMPETISI global juga sudah melanda dunia pendidikan. Setiap tahun, saat lulusan SMA dan SMK bersaing untuk mendapatkan institusi pilihan, perguruan tinggi pun berlomba-lomba mempromosikan diri dan menjaring calon-calon mahasiswa potensial. Potensial bisa berarti mampu secara akademis atau finansial.

PERGURUAN tinggi dari luar negeri pun tidak mau kalah, dan gencar berpromosi. Begitu pula perguruan-perguruan tinggi swasta (PTS) melakukan berbagai upaya pemasaran dan menjadikan dunia pendidikan tinggi seperti bisnis dan industri. Lanjutkan membaca Membedah Industri Pendidikan Tinggi