Antri Donk.. Pak.. Bu.. Mas.. Mbak

lavi.com
lavi.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Sudah sekitar seminggu ini, saya naik sepeda untuk kegiatan sehari-hari di München. Seringkali, saya harus berhenti, karena lampu merah. Pada saat itu, saya memperhatikan, sepeda pun ikut antri berjejer rapi di pinggir jalan, ketika lampu merah menyala. Ketika lampu berganti menjadi hijau, sepeda-sepeda yang berhenti rapi tersebut mulai berjalan pelan-pelan, tetap dengan pola semula yang antri dengan rapi.

Beragam orang menggunakan sepeda, mulai dari anak kecil yang hendak belajar ke sekolah, mahasiswa yang hendak ke kampus atau perpustakaan, ibu-ibu yang membawa bayinya yang juga diikat di boncengan sepeda, bapak-bapak yang lengkap dengan dasi dan jasnya untuk bekerja ke kantor, sampai dengan oma-oma yang mungkin hendak mengunjungi temannya. Mereka semua antri di lampu lalu lintas khusus untuk sepeda. Tentu saja, beberapa kali, ada orang bandel yang menyerobot lampu lalu lintas sepeda tersebut, biasanya mereka harus cepat-cepat pergi ke suatu tempat.

Sewaktu di Surabaya, saya berjumpa dengan teman lama di sebuah restoran. Ia berpendapat, bahwa belajar antri itu lebih penting daripada belajar matematika. Antri itu, menurutnya, mencerminkan sikap hidup yang luar biasa mendalam. Antri adalah keutamaan hidup yang penting, yang menyangkut sikap moral, yang jauh lebih penting daripada sekedar menguasai rumus-rumus matematika. Ketika saya bersepeda di München, saya teringat percakapan dengan teman saya di Surabaya itu. Lanjutkan membaca Antri Donk.. Pak.. Bu.. Mas.. Mbak

Buku Filsafat Terbaru: Dunia Manusia, Manusia Mendunia

1001909_10200886749028212_456482070_nBuku Filsafat Terbaru:

Dunia Manusia, Manusia Mendunia

oleh

Emanuel Prasetyono

Dosen Filsafat Manusia, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Buku ini mencoba memahami manusia dari sudut pandang fenomenologis, yakni sebagai mahluk yang sudah selalu ada dan tertanama di dunia, namun sekaligus menciptakan dunia melalui tindakannya. Buku ini amat cocok digunakan untuk memperkaya literatur terkait dengan kuliah Filsafat Manusia.

Buku bisa diperoleh di:

theo.dolorosa@yahoo.com atau hubungi 088804858799

Buku Filsafat Islam Terbaru: Kesadaran akan Immortalitas Jiwa sebagai Dasar Etika

cover immortalitas copyBuku Filsafat Terbaru:

Kesadaran akan Immortalitas Jiwa sebagai Dasar Etika

Pengantar Filsafat dalam Islam

Oleh

Agustinus Ryadi,

Dekan Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Buku referensi untuk kuliah ini menghubungkan beberapa argumen para filsuf Islam tentang ide keabadian jiwa manusia. Ide ini pula yang nantinya ditafsirkan oleh penulis sebagai dasar dari sikap etis manusia. Pemikiran tentang keabadian jiwa ini bisa juga dilihat sebagai upaya harmonisasi antara filsafat dan agama Islam.

Buku bisa diperoleh di:

theo.dolorosa@yahoo.com atau hubungi 088804858799

Zifatama Publishing - Kesadaran akan immortalitas -      978-602-17546-8-9

Filsafat dan Dunia yang tak Pernah Ada

ndr.de
ndr.de

Markus Gabriel dan Metafisika Dunia

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di München, Jerman

Saat ini, saya sedang membaca buku berjudul Warum es die Welt nicht gibt (mengapa dunia tidak ada), terbitan Ullstein Verlag 2009 lalu. Harga buku itu murah, sekitar 15 Euro, tergantung beli dimana, dan baru atau bekas. Penulisnya adalah Markus Gabriel, seorang Professor Filsafat di bidang Epistemologi dan Filsafat Modern di Universität Bonn. Di artikelnya di Der Spiegel yang berjudul Eine Reise durch das Unendliche, Romain Leick melakukan wawancara yang cukup mendalam dengan Gabriel terkait dengan bukunya tersebut.

Sejauh saya tangkap, tujuan buku itu adalah mengajukan satu argumen baru terkait dengan realisme, yakni bahwa dunia memiliki sifat tetap pada dirinya sendiri, lepas dari pikiran manusia. Pertanyaan penting disini adalah, bagaimana manusia bisa tahu dengan dunianya? Ini adalah pertanyaan dasar di dalam Filsafat Pengetahuan (Erkenntnistheorie), atau epistemologi. Pertanyaan ini sama mendasarnya dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis lainnya yang terus menggangu manusia sepanjang jaman, yakni dari mana kita berasal? Apa artinya hidup? Dan apa tujuan keberadaan kita di dunia ini? (Leick, 2013)

Gabriel juga menjelaskan, bahwa filsafat masih dapat memberikan sumbangan besar terkait dengan pertanyaan kosmologis, yakni apa artinya alam atau dunia tempat kita tinggal? Dalam arti ini, dunia bukanlah hanya dunia fisik material semata, tetapi juga dunia yang dihayati dan dihidupi oleh manusia. Fisika modern, beserta dengan ilmu-ilmu modern lainnya, seperti neurosains, sering melakukan penyempitan pemahaman atas dunia dengan melihatnya semata sebagai gejala material-fisik-biologis saja. Pola inilah yang kiranya ingin ditantang sekaligus dilampaui oleh Gabriel. Lanjutkan membaca Filsafat dan Dunia yang tak Pernah Ada

Filsafat Kritis untuk Anak Sekolah Dasar?

http://khezo.com
http://khezo.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Di tengah berbagai kasus korupsi yang menyerbu Indonesia, ada setitik harapan yang masih bisa dipegang, yakni harapan ke arah perubahan yang lebih baik, guna memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Harapan itu adalah pendidikan. Reformasi paradigma dan institusional di dalam pendidikan Indonesia akan membawa perubahan amat besar bagi bangsa ini.

Tentu saja, reformasi pendidikan (paradigma sekaligus institusi) adalah sebuah langkah besar. Kita perlu untuk membuat langkah kecil yang nyata, guna memulai proyek raksasa yang amat penting ini. Salah satunya, sebagaimana ditawarkan oleh Lydon (2013) di konteks Irlandia dalam artikelnya yang berjudul It’s time to start teaching philosophy as a formal subject in our secondary schools, adalah mencoba mengajarkan filsafat kritis formal sebagai salah satu mata pelajaran wajib untuk sekolah dasar. Ia yakin, dan saya sependapat dengannya, bahwa langkah ini akan secara langsung meningkatkan kualitas pemikiran anak-anak muda.

Lydon memberikan contoh yang menarik. Belajar berpikir tanpa belajar filsafat sama seperti belajar bahasa. Setiap orang akan melakukannya (berpikir dan juga berbahasa), tapi mereka akan melakukannya secara buruk. Filsafat dalam hal ini mendorong orang untuk secara sadar mengembangkan kemampuan manusia untuk bernalar jernih, guna membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup sehari-hari. Saya rasa, nalar argumen yang sama juga pas untuk situasi Indonesia. Lanjutkan membaca Filsafat Kritis untuk Anak Sekolah Dasar?

Kesenjangan yang Mencekik Jiwa

soxfirst.com
soxfirst.com

Oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Tidak sulit menemukan mobil-mobil mewah seri terbaru di jalan-jalan besar Surabaya. Setiap hari, saya berdecak kagum melihat kendaraan mewah berlalu lalang, seolah tanpa henti dan tak kenal waktu. Mall besar menjual barang-barang mewah, namun tetap tak pernah kekurangan pembeli di kota pahlawan ini. Namun, kemewahan ini tetap hanya satu sisi dari wajah Surabaya.

Di antara jajaran rel kereta api, pemukiman kumuh yang tak layak tinggal juga dapat dengan mudah ditemukan di Surabaya. Pinggir kali juga kerap menjadi tempat huni, dimana airnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci baju ataupun memasak. Anak-anak di bawah umur 10 tahun juga masih berjualan di jalan-jalan raya, supaya bisa membantu orang tuanya mencari nafkah. Surabaya bagaikan terbelah di antara dua dunia, yakni di antara orang-orang kaya bermobil dan berumah mewah di satu sisi, dan orang-orang miskin yang masih amat kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia yang bermartabat.

Di ujung Surabaya Timur dan Barat, rumah-rumah mewah berdiri bagaikan raksasa arogan yang tak malu menampilkan dirinya. Pagar besi dengan ukiran mewah menjulang tinggi. Harganya konon mencapai 300 juta rupiah, hanya untuk pagarnya saja. Kemewahan ini dipadu dengan berbagai aksesoris rumah mewah yang seringkali terlihat tak pas secara artistik.

Di Surabaya Barat sudah berdiri sebuah mall yang memang secara khusus menjual barang-barang mewah. Namun, mereka tak pernah kekurangan pembeli. Tas seharga 5 sampai 10 juta rupiah tetap laku, bak kacang goreng. Alat elektronik mewah juga menjadi target serbuan orang-orang kaya di Surabaya ini. Saya yakin, pemandangan yang sama juga mulai dapat ditemukan di kota-kota besar Indonesia lainnya. Lanjutkan membaca Kesenjangan yang Mencekik Jiwa

Dimana Harga Diri Kita?

http://barcelona.theoffside.com
barcelona.theoffside.com

oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Parkir di pasar-pasar kaget di Surabaya bisa menjadi masalah. Tiba-tiba, datang orang yang berlagak jadi tukang parkir, dan kemudian meminta uang parkir. Biasanya, saya bertanya, apakah ada karcis parkir resmi? Jika dia bilang ya, dan menunjukannya, saya dengan senang hati membayar. Jika tidak, yah selamat tinggal.

Menjelang Lebaran, kita juga banyak menemukan, banyak orang antri zakat di berbagai daerah di Jawa. Jumlahnya berkisar 20 sampai dengan 30 ribu rupiah. Namun, untuk uang itu, orang bersedia antri desak-desakan dari pagi sampai sore. Beberapa di antaranya ada yang pingsan, karena terdesak sehingga tak bisa bernapas, atau ada juga yang mengalami dehidrasi, sampai akhirnya pingsan di tengah kerumunan ratusan orang.

Juga seringkali dialami oleh para pengemudi kendaraan bermotor, bagaimana mereka harus menyuap polisi di jalan raya, supaya lolos dari hukuman tilang. Bahkan, polisi tersebut yang minta disuap, tanpa malu-malu, supaya mereka mendapat tambahan uang yang, tentunya, bebas pajak. Sikap minta disuap semacam ini juga banyak ditemukan di kalangan petugas kelurahan. Tanpa malu-malu, mereka meminta uang lebih untuk sekedar mengurus dokumen resmi yang sebenarnya merupakan bagian dari tanggung jawab resmi mereka. Lanjutkan membaca Dimana Harga Diri Kita?

Keberanian untuk Berpikir

arnhemncounter
arnhemncounter

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Berpikir adalah tindakan khas manusia. Sudah sejak sekitar 400 tahun yang lalu, Rene Descartes, filsuf asal Prancis, menyatakan, bahwa aku berpikir, maka aku ada. Artinya, keberadaan manusia menjadi unik dan nyata, ketika ia menggunakan pikirannya. Ketika ia berhenti berpikir, atau malas berpikir, maka jati dirinya menjadi tidak jelas.

Namun, berpikir memiliki banyak aspek. Banyak orang mengira, bahwa berpikir hanya melulu soal teknis, yakni soal menghitung, melihat guna, dan mencari keuntungan. Namun, berpikir teknis hanyalah satu bagian kecil dari tindak berpikir manusia. Ada pola berpikir lainnya, misalnya berpikir reflektif dan kontemplatif untuk memahami suatu hal di dunia secara mendalam.

Berpikir, pada pengertiannya yang paling mendalam, juga bergerak melampaui ilmu pengetahuan dan filsafat. Kedua bidang ini sekarang sudah menjadi begitu teknis. Begitu banyak konsep yang sangat rumit dan sulit dimengerti, sehingga justru membunuh kemampuan berpikir kritis manusia untuk mempertanyakan hal-hal yang ada, dan kemudian mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Dengan kata lain, tindak berpikir manusia lebih luas dari sekedar ilmu pengetahan dan filsafat. Lanjutkan membaca Keberanian untuk Berpikir

Membangun Idealisme

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Toni, bukan nama sebenarnya, sudah lama bercita-cita untuk menjadi seorang koki. Namun, menurut orang tuanya, pekerjaan sebagai koki tidak akan mampu memberikan uang yang cukup untuk hidup. Maka, mereka menghalangi cita-cita anaknya tercinta tersebut. Toni pun akhirnya menekuni pendidikan di bidang lain, dan mengalami banyak kesulitan karenanya.

Ini cerita yang begitu banyak terjadi di masyarakat kita di Indonesia. Orang harus menyerahkan mimpinya, atau ide tentang masa depannya, karena tekanan lingkungan. Dengan proses ini, dua hal kiranya dirugikan. Indonesia kehilangan calon koki berbakat di masa depan di satu sisi, dan Toni, dan ratusan ribu pemuda lainnya, harus hidup tidak bahagia, karena mengingkari panggilan hidupnya.

Idealisme dan Visi

Setiap orang pasti punya ide tentang hidup macam apa yang akan dijalaninya. Dalam arti ini, setiap orang adalah idealis. Artinya amat sederhana, orang perlu untuk hidup seturut dengan ide yang telah dipilih dan dipikirkannya. Ia bukanlah pemimpi yang tak punya tujuan, melainkan sebaliknya, orang yang memiliki visi tentang hidupnya dan hidup orang sekitarnya di masa depan.

Visi radikal tentang hidup semacam inilah yang sekarang ini amat kurang di Indonesia. Orang hidup sekedarnya. Orang bekerja seadanya, tanpa ambisi untuk mencapai sesuatu yang lebih baik untuk dirinya dan untuk lingkungan sekitarnya. Lalu, orang mati, tanpa meninggalkan jejak dirinya yang nyata dan bermakna untuk lingkungan sekitarnya. Lanjutkan membaca Membangun Idealisme

Jurnal Filsafat Wiweka: Vol. 2 no. 1

Wiweka 2Jurnal Filsafat Wiweka

Mahasiswa Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Vol. 2 no. 1 Mei 2013

ISSN: 2252-5025

Isi:

1. Sains harus Memelihara Alam

2. Jatuh Cinta Manusia: Materi dan Spiritual

3. Paradigma Metafisis dalam Pertanian Organik

4. Etika Tanggung Jawab Hans Jonas

dan masih banyak tulisan bermutu dan menarik lainnya!

bisa didapatkan dengan menghubungi Pak Theo di theo.dolorosa@yahoo.com (Kepala Tata Usaha Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya)

Buku Filsafat Terbaru: Menanggapi Relativisme

RelativismeBuku Filsafat Terbaru: Menanggapi Relativisme

ISBN: 978-602-17055-0-6

Editor: Xaverius Chandra

Buku ini bermaksud menyambut undangan untuk merefleksikan dan menanggapi relativisme di dalam kehidupan masyarakat. Ada berbagai aspek kehidupan yang dihantam oleh relativisme, dan beberapa di antaranya dihadirkan disini untuk dipikirkan bagaimana cara menanggapinya. Bidang-bidang yang direfleksikan di dalam buku ini adalah moral, iman, ilmu pengetahuan, kognitif, konseptual, seksualitas, politik, dan hukum.

Buku bisa didapatkan dengan menghubungi Pak Theo di theo.dolorosa@yahoo.com (Kepala Tata Usaha Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya)

Jurnal Arete: Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, Vol. 1, No. 2

Arete 2Jurnal Filsafat Arete

Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

vol. 1 Nomor 2 September 2012

ISSN: 2089-7804

Isi:

1. Skeptisisme Metodologis dan Jawaban Filsafat

2. Iman Tanpa Nalar: Bunuh Diri, Nalar Tanpa Iman: Delusi

3. Imagine There’s A Heaven: Reasonable Religion Religious Reason

4. Pendidikan Manusia-Manusia Demokratis: Noam Chomsky dan Indonesia

Resensi buku

Jurnal bisa didapatkan dengan menghubungi Pak Theo di

theo.dolorosa@yahoo.com (Kepala Tata Usaha Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya)

Politik Rasa Aman

cheekysecurity.co.za
cheekysecurity.co.za

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Bayangkan, kita hidup di suatu negara yang tak peduli pada rasa aman warganya. Jika warganya mengalami pemutusan hubungan kerja, negara tak berbuat apapun. Jika warganya sakit parah, negara diam tak bergerak. Jika warganya mati, negara juga diam saja.

Ketika harga kebutuhan pokok melambung tinggi, negara hanya marah, dan nyaris tak bertindak apapun. Ketika ongkos pendidikan mahal, para pejabat negara justru naik mobil mewah dan pergi keluar negeri dengan alasan studi banding. Ketika warganya dirugikan dan mengalami ketidakadilan, negara juga diam saja, malah justru seringkali menambah penderitaan rakyatnya. Ini jelas merupakan tanda negara gagal: politik yang gagal, politik yang merusak.

Politik Rasa Aman

Politik itu gampang sebenarnya. Kita cukup menciptakan rasa aman untuk semua, tanpa kecuali, lalu semua akan berjalan maju dengan sendirinya. Seluruh definisi politik mengarahkan kita pada tujuan mendasar yang terdengar sederhana ini, namun amat rumit penerapannya. Jika kita membaca berbagai buku tentang politik dan filsafat politik, setidaknya kita bisa melihat tiga definisi mendasar dari politik. Lanjutkan membaca Politik Rasa Aman

Martabat, Citra Diri, Hegemoni,….

mater.org.au
mater.org.au

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Hampir 12 jam setiap harinya, Amin (bukan nama sebenarnya) bekerja sebagai buruh tambang di pedalaman Aljazair, Afrika Utara. Pekerjaannya selalu melibatkan kekuatan fisik yang ekstrem. Bersama teman-temannya, ia menggali dan menutup galian dengan aspal setiap harinya. Ia menerima upah, namun sayang, upah itu tidak semestinya.

Untuk pekerjaan yang sama, rekannya yang berasal dari Inggris mendapat upah yang lebih tinggi. Kemampuan mereka sama. Bahkan, untuk beberapa situasi, kemampuan Amin lebih tinggi dari koleganya tersebut. Yang membedakan mereka dalam hal ini hanya satu: ras.

Karena ditekan situasi, Amin tak punya pilihan. Ia merasa, martabatnya sebagai manusia direndahkan, hanya karena ia berasal dari Indonesia. Menurut dia, bangsa Indonesia tak punya martabat di hadapan bangsa-bangsa lainnya di dunia. “Jika bekerja di Malaysia”, demikian katanya,”banyak perempuan Indonesia hanya akan menjadi pelacur. Sebagai pekerja, kami juga sering mengalami diskriminasi dari petugas resmi Malaysia, hanya karena kami orang Indonesia.”

Sistem politik dan ekonomi dunia memang memuliakan martabat satu ras tertentu, dan secara bersamaan merendahkan martabat ras lainnya. Di dalam politik, tindakan agresi satu bangsa tertentu dianggap sebagai pembebasan. Sementara, tindakan agresi bangsa lainnya dianggap sebagai terorisme. Di dalam bidang ekonomi, seperti yang dialami Amin, orang Indonesia seringkali mendapatkan upah yang jauh lebih rendah untuk pekerjaan yang sama, dibandingkan dengan orang yang berasal dari bangsa-bangsa lainnnya (Eropa, Amerika, Australia?) Lanjutkan membaca Martabat, Citra Diri, Hegemoni,….

Mimpi-mimpi yang Menyesatkan

dari Jack Skellington
dari Jack Skellington

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Ribuan orang naik kapal laut mengarungi laut Mediterania yang memisahkan antara Eropa dan Afrika. Mereka adalah orang-orang yang melarikan diri dari rumahnya, dan berharap bisa mendapatkan hidup baru yang lebih baik di tanah asing: Eropa. Mereka mendapat informasi, bahwa Eropa adalah surga, dimana orang bisa hidup dengan damai dan layak. Mimpi mereka adalah pergi ke Eropa, dan kemudian menetap. Sayang, kedamaian dan kemakmuran hidup yang mereka dambakan belum tentu menjadi kenyataan.

Di Indonesia, ratusan pelajar setiap tahunnya juga bermimpi yang sama: pergi ke Eropa, berharap mendapat pendidikan yang layak, dan bekerja disana. Orang tua mereka memeras keringat untuk membayar mahal demi pendidikan di Eropa yang, menurut mereka, lebih baik. Namun, anggapan umum tak selalu benar. Rasisme terselubung mengancam setiap orang yang merantau keluar dari tanah kelahirannya, begitu pula mutu pendidikan yang tak selalu unggul, juga sebagai dampak dari rasisme kultural ada.

Seorang teman sedang melanjutkan studi master di bidang teknik kimia di Jerman. Ia selalu mengeluh, karena dosennya tak punya waktu untuk berdiskusi (terlalu banyak mahasiswa dan terlalu banyak proyek), kuliahnya membosankan, dan asisten dosennya sama sekali tak ramah, mungkin karena ia adalah orang asing. Di tengah iklim semacam itu, lebih baik buat dia untuk belajar di Indonesia. Mimpi bahwa studi di Eropa selalu lebih baik adalah salah satu mimpi yang menyesatkan. Lanjutkan membaca Mimpi-mimpi yang Menyesatkan

Integritas dan Rabun Jauh

itb.ac.id
itb.ac.id

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di München, Jerman

Hampir setiap saat, kita dipaksa oleh situasi untuk membuat keputusan, mulai dari keputusan kecil tentang apa yang kita makan untuk sarapan, atau keputusan besar, seperti apakah kita akan menikah, atau tidak. Di dalam setiap keputusan, selalu ada pertimbangan-pertimbangan yang perlu untuk diperhatikan. Setidaknya, pertimbangan tersebut mencakup dua hal, yakni keadaan nyata yang ada, atau orang menyebutnya sebagai “data”, dan prinsip hidup seseorang, yakni nilai-nilai hidup yang ia yakini sebagai manusia. Dengan dua alat ini, setiap saat, hampir setiap detik, orang membuat keputusan.

Keadaan dan Prinsip

Dengan data, orang memperoleh informasi tentang keadaan di dunia, mulai dari harga saham, sampai bagaimana orang-orang lain membuat keputusan dalam keadaan yang sama. Dengan data, orang bisa belajar dari pengalaman orang lain, juga dari keadaan di luar, supaya ia bisa membuat keputusan yang tepat. Namun, data sama sekali tidak cukup untuk membuat keputusan. Sebaliknya, data bisa menipu kita, sehingga kita membuat keputusan yang salah, yang akhirnya tidak hanya merugikan kita, tetapi juga merugikan orang lain.

Inilah kecenderungan umum manusia pada umumnya, yakni membuat keputusan berdasarkan situasi, berdasarkan data. Keputusan yang diambil biasanya mengambil data jangka pendek, maka tujuannya pun untuk memperoleh keuntungan atau keberhasilan dalam jangka pendek pula. Ini juga yang menjadi hal terpenting di dalam metode penelitian ilmiah ilmu pengetahuan modern. Dengan cara berpikir ini, ilmu pengetahuan modern lalu menghasilkan penemuan-penemuan yang mengubah dunia (jadi lebih baik?). Lanjutkan membaca Integritas dan Rabun Jauh

Naluri dan Peradaban

http://fractalontology.files.wordpress.com
fractalontology.com

Sebuah Sketsa Singkat

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam diri setiap orang bercokol dua naluri purba, yakni naluri meraih kenikmatan, dan naluri untuk menguasai. Artinya, secara alamiah, setiap orang terdorong oleh nalurinya untuk mencari apa yang nikmat, apa yang enak, dan itu manusiawi, tak bisa dihindarkan. Di sisi lain, setiap orang terdorong dari dalam dirinya untuk menguasai, yakni pertama dengan memberi nama, memberi arti, lalu menggunakan (misalnya alam atau zat baru untuk kepentingan manusia itu sendiri).

Setiap detik, manusia mencari apa yang enak, entah tempat duduk yang enak di dalam bis, arah kursi yang enak di kantor atau di kampus, atau sekedar mencari makan yang enak sekaligus murah (nikmat). Setiap detik, manusia terdorong untuk menguasai. Zat baru diberi arti dan diperas fungsinya di laboratorium untuk kepentingannya, entah untuk kepentingan bisnis atau kepentingan kemanusiaan. Inilah dua naluri purba manusia yang selalu bercokol di dalam batin setiap orang, entah ia sadar, atau tidak.

Kini, kita hidup di dalam masyarakat hukum. Inilah yang disebut para ahli ilmu sosial sebagai peradaban, yakni suatu teknik untuk mengatur naluri-naluri manusia, sehingga ia tidak menyeruak keluar, dan menghancurkan manusia itu sendiri. Jadi, peradaban, dalam bentuk aturan, hukum, budaya, filsafat, dan agama, tidak menghancurkan naluri manusia, melainkan sekedar mengelolanya. Bisa dibilang, peradaban adalah jalan putar yang lebih tertata, walaupun tujuan akhirnya tetap sama, yakni memuaskan naluri manusia. Lanjutkan membaca Naluri dan Peradaban

Bunuh Diri Sosial dan Krisis Logos

weeklyvoice.com
weeklyvoice.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Manusia memang akan punah. Apa yang pernah ada, pasti suatu saat akan punah. Itu adalah hukum baja sejarah yang tak bisa dihindari. Pertanyannya kemudian, kapan kita akan punah? Menyimak beragam gejala dunia, rupanya waktunya tidak akan lama lagi.

Penyebabnya adalah diri kita sendiri. Sebagai satu spesies, kita seolah melakukan bunuh diri sosial, yakni bunuh diri spesies kita sendiri sebagai manusia. Kita saling membunuh. Kita merusak alam. Segala yang kita lakukan seperti tak habis-habisnya berusaha membunuh spesies kita sendiri.

Di Indonesia, korupsi bagaikan kanker yang merusak segalanya, mulai dari keadaan keuangan bangsa, sampai dengan moral hidup sehari-hari. Kekerasan dan ketidakmampuan hidup dalam perbedaan sudut pandang melahirkan perang dan penderitaan bagi semua. Konflik antar agama dan antar kelompok membuat hidup bersama menjadi amat sulit. Aku korupsi, maka aku ada, itulah kiranya yang menjadi semboyan sehari-hari para pejabat politik, hukum, maupun ekonomi kita di Indonesia. Lanjutkan membaca Bunuh Diri Sosial dan Krisis Logos

Merancang Budaya Unggul

nithyananda.org
nithyananda.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di München, Jerman

         Keunggulan suatu bangsa adalah karya tangan dari bangsa itu sendiri, dan bukan otomatis turun dari langit. Ratusan ribu doa akan percuma, jika orang tetap merampok dan bertindak merusak. Ini yang menurut saya harus ditekankan terlebih dahulu, sebelum kita berupaya merancang budaya yang melahirkan keunggulan di berbagai bidang di Indonesia.

         Di era globalisasi sekarang ini, kekuatan suatu bangsa bukan semata sumber daya alam atau luas wilayahnya, melainkan pertama dan terutama adalah kekuatan kultur yang melahirkan manusia-manusia yang kreatif dan luhur. Namun, seperti sudah dijelaskan sebelumnya, kultur tidak jatuh dari langit, melainkan hasil dari karya manusia. Kekuatan kultur dari suatu bangsalah yang mendorong bangsa itu mampu berkompetisi sekaligus bekerja sama untuk melahirkan kemakmuran bersama.

Kebebasan dan Rasa Aman

         Pertanyaan kunci berikutnya adalah, bagaimana membentuk kultur yang melahirkan manusia-manusia kreatif sekaligus luhur tersebut? Saya melihat setidaknya adalah lima hal yang bisa dan perlu untuk diusahakan. Yang pertama adalah kebebasan. Dalam arti ini, masyarakat mendorong setiap warganya untuk secara bebas mengejar panggilan hidup dan mengembangkan keahlian mereka, tanpa paksaan. Lanjutkan membaca Merancang Budaya Unggul

Pendidikan Manusia-manusia Kreatif

blogspot.com
blogspot.com

Pemikiran Ken Robinson

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Pendidikan kita di Indonesia memang dipenuhi dengan mitos, yakni pemahaman yang salah atas kenyataan kehidupan. Pertama, anak-anak berlomba untuk masuk jurusan IPA, atau ilmu alam, walaupun mereka tidak memiliki ketertarikan, apalagi bakat, dalam bidang itu. Tentu saja, pendidikan ilmu-ilmu alam amatlah penting. Akan tetapi, jelas, pendidikan semacam itu tidak cukup, karena hidup jauh lebih kaya dan rumit, daripada sekedar fakta-fakta matematis alamiah yang menjadi kajian ilmu-ilmu alam.

Sebaliknya, pendidikan perlu memberi kesempatan yang secukupnya untuk pelbagai bidang-bidang kehidupan lainnya yang juga amat penting, mulai dengan seni sampai dengan pendidikan olah raga. Ilmu pengetahuan adalah dunia yang amat luas dan kaya. Semuanya perlu diperkenalkan (bukan dikuasai!) kepada peserta didik, lalu mereka bisa memilih, bidang apa yang menjadi panggilan hidup mereka. Mitos, bahwa pendidikan ilmu-ilmu alam (bukan ilmu pasti, karena tidak ada ilmu pasti. Kalau itu pasti, maka itu pasti bukan ilmu, melainkan permainan saja) itu lebih tinggi, jelas harus ditinggalkan.

Metode Pendidikan

Kedua adalah soal metode, atau gaya mengajar, atau gaya penyampaian materi ajar. Peserta didik, terutama anak-anak, adalah mahluk yang amat dinamis. Tidak mungkin mereka diajak duduk berjam-jam, terkurung dalam ruang kelas yang seringkali tidak nyaman, dan melakukan pekerjaan yang hampir tidak membutuhkan kegiatan fisik apapun (hanya duduk dan menulis). Tak heran, banyak anak tak suka belajar, karena metode mengajar di kelas sama sekali tidak cocok dengan keadaan psikologis maupun fisik mereka. Mereka menjadi mahluk yang terasing di dalam dunia pendidikan. Lanjutkan membaca Pendidikan Manusia-manusia Kreatif