Membongkar Jeroan “Gerombolan”

The Austin Chronicle

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Indonesia, kebenaran rupanya kerap tunduk pada tekanan gerombolan. Jika banyak orang berkumpul menuntut sesuatu, biasanya akan dituruti, walaupun itu bertentangan dengan akal sehat. Beragam kasus bisa dideret, mulai dari ketidakadilan yang menimpa Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) pada 2017 lalu, sampai tekanan para supir ojol terhadap petugas keamanan salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Mengapa gerombolan bisa mendikte kebijakan?

Di abad 21 ini, gerombolan bisa dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah gerombolan nyata. Ini adalah gerombolan orang yang berdemo di jalan menuntut sesuatu. Gerombolan ini dapat dengan mudah dilihat dengan mata. Lanjutkan membaca Membongkar Jeroan “Gerombolan”

Menimbang Irasionalitas

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Indonesia. 2019. Irasionalitas menjadi raja. Indonesia terbelah di antara dua kubu calon presiden. Permusuhan terasa di udara, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Keluarga dan pertemanan terpecah, karena perbedaan pilihan politik. Ini ditambah dengan mutu yang amat rendah dari salah satu calon presiden dan wakil presiden yang penuh dengan korupsi, kolusi, nepotisme, kriminalitas dan kerakusan.

Indonesia. 2019. Kesenjangan ekonomi ikut menambah irasionalitas yang terjadi. Pemukiman kumuh bersandingan dengan pemukiman kaya. Gerobak busuk bersandingan dengan mobil mewah. Saya masih heran, mengapa orang miskin, yang jumlahnya ratusan juta itu, tidak merampas kekayaan orang-orang kaya yang rakus dan korup? Lanjutkan membaca Menimbang Irasionalitas

Cyborg dan Biopolitik (Antara Jürgen Habermas, Yuval Harari dan Thomas Lemke)

Fiveprime

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di dunia para cyborg. Cyborg adalah manusia yang bergabung dengan mesin, guna menjalani hidup kesehariannya. Di berbagai tempat, kita melihat para cyborg bergerak menjalani hidupnya. Sebagian besar mereka tak sadar, bahwa mereka telah menjadi cyborg.

Mesin, dalam arti ini, bisa berupa kaca mata, alat kesehatan sampai dengan ponsel cerdas yang kini tak lagi bisa terpisah dari hidup manusia di abad 21. Tanpa alat-alat canggih ini, para cyborg tak bisa hidup. Mereka cacat dan ketergantungan pada teknologi. Sebagian dari diri mereka sudah menjadi robot. Lanjutkan membaca Cyborg dan Biopolitik (Antara Jürgen Habermas, Yuval Harari dan Thomas Lemke)

Publikasi Terbaru: Belajarlah Sampai Ke Finlandia

Bendera Finlandia

Strategi Keamanan Siber yang Menyeluruh dan Perubahan Budaya

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di The Ary Suta Center Series On Strategic Management Januari 2019 Lanjutkan membaca Publikasi Terbaru: Belajarlah Sampai Ke Finlandia

Kekuasaan dan Kesementaraan

Dave Lebow

Oleh Reza A.A Wattimena

2019 ini, banyak orang harus berpisah dengan kekuasaan. Anggota legislatif akan berakhir pada jabatannya. Kemungkinan besar, banyak yang tidak lagi terpilih. Pemilihan presiden masih tetap mengarah pada petahana. Namun, semua kemungkinan selalu terbuka.

Di tengah semua ini, banyak orang harus berpisah dari uang yang mereka punya. Para caleg yang akan mengalami depresi, karena gagal terpilih, walaupun sudah mengeluarkan uang banyak untuk kampanye. Para donor dan partai politik yang harus kalah, walaupun sudah mengeluarkan uang banyak juga untuk kampanye jagoan mereka. Kita mungkin kerap lupa, bahwa kekuasaan, seperti segala yang ada, akan berakhir.   Lanjutkan membaca Kekuasaan dan Kesementaraan

Pengakuan Seorang Marxis-Zennist

Ricardo Levins Morales

Oleh Reza A.A Wattimena

Di dalam filsafat, Marxisme adalah cinta pertama saya. Saya masih ingat buku tulisan Franz Magnis-Suseno yang berjudul Pemikiran Karl Marx. Seingat saya, buku itu terbit pada 1999. Itu merupakan salah satu buku filsafat pertama yang saya baca sampai selesai.

Sewaktu itu, saya masih di bangku SMA. Saya masih ingat perasaan saya waktu itu. Pikiran begitu tercerahkan. Dada begitu berkobar oleh semangat untuk membuat perubahan. Sejak itu, saya menjadi seorang Marxis. Lanjutkan membaca Pengakuan Seorang Marxis-Zennist

Karya dan Derita

19bb88bee29f4398401f8d53d88c031d
Jan Zrzavy – The Suffering

Oleh Reza A.A Wattimena

Ketika derita menyengat kuat, sebuah karya pasti lahir. Begitulah yang diyakini para artis sekaligus pekerja kreatif seluruh dunia. Beberapa artis dan pemikir besar, Hemingway, Nietzsche bahkan Michaelangelo, mengalami masa-masa depresif yang cukup panjang dalam hidupnya. Di akhir hidupnya, Nietzsche bahkan sudah kehilangan kewarasannya.

Berbagai penelitian juga menunjukkan, ada kaitan cukup erat antara derita depresi dengan lahirnya sebuah karya kreatif. Ini juga berlaku di berbagai bidang karya kreatif, mulai dari penulis, pematung, musisi dan sebagainya. Mengapa ini terjadi? Apakah ini tak terhindarkan? Lanjutkan membaca Karya dan Derita

Dilema “Generasi Aku”

vincentfink

Oleh Reza A.A Wattimena

Dewasa ini, kita sering mendengar istilah “Generasi Aku”, atau “Me Generation”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pola pikir sekaligus pola perilaku manusia-manusia jaman ini. “Generasi aku” dianggap sebagai generasi yang egois. Mereka hanya mementingkan kepentingannya sendiri, tanpa peduli pada persoalan-persoalan yang lebih besar.

Generasi aku ini juga dianggap sebagai generasi narsis. Mereka senang dipuji. Mereka senang memamerkan diri mereka. Jika tidak ada prestasi nyata, yang dipamerkan adalah wajah ganteng dan cantik hasil polesan aplikasi ponsel cerdas terbaru. Lanjutkan membaca Dilema “Generasi Aku”

Selalu Jatuh Cinta

Adam Martinakis

Oleh Reza A.A Wattimena

Ah, jatuh cinta memang berjuta rasanya. Tanya saja kepada mereka yang pernah, atau sedang, jatuh cinta. Setiap detik, hanya si dia yang muncul di kepala. Rasa rindu terus menusuk di dada, sampai waktunya tiba untuk berjumpa dengan si dia.

Di Jakarta, cinta datang tanpa diduga. Ia menyelinap masuk, ketika hati ditikam kesepian yang membara. Pasangan berganti begitu cepat, bagaikan cuaca yang tak pernah bisa tertebak. Ketika peluang untuk mendapatkan cinta menjadi begitu besar, ironisnya, kemungkinan untuk terlepas dari cinta pun juga meningkat. Lanjutkan membaca Selalu Jatuh Cinta

Tarian Kematian

Daniel Johnson

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup ini memang seperti menari. Kita bergerak, sering tanpa pola, tanpa arah. Namun, intinya, kita terus bergerak. Kita bekerja. Kita menjalin hubungan dengan orang lain. Kita bahagia, dan kita pun menderita.

Namun, menyimak keadaan dunia di akhir 2018 ini, tarian kita seolah berubah menjadi tarian kematian. Kita menari bukan untuk merayakan kehidupan, melainkan untuk merusak dan menebarkan petaka. Di berbagai bidang kehidupan, kita bergerak, tidak ke arah kebaikan bersama (common good), melainkan ke arah kehancuran bersama (common destruction). Di banyak bidang kehidupan, kehancuran terjadi secara perlahan, namun pasti. Lanjutkan membaca Tarian Kematian

Atas Nama Iwan: Sebuah Kisah Cinta

Oleh Reza A.A Wattimena

Sabtu, 15 Desember 2018. Perjumpaan antara teman lama terjadi di Blok M Square, Jakarta. Kita berjumpa untuk saling berbagi cerita. Kita berjumpa untuk saling mendukung dalam nestapa.

Ada teman lain yang akan datang. Namun, ia terhalang. Kami paham, dan berjanji untuk tetap saling berhubungan. Percakapan pun dilanjutkan di tengah gemeriuh Blok M Square yang begitu kaya akan kehidupan. Lanjutkan membaca Atas Nama Iwan: Sebuah Kisah Cinta

Ada dan Hibrida

WallHere

Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam salah satu acara untuk masyarakat luas di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) minggu lalu, saya mendengarkan satu ide yang amat menarik dari Komaruddin Hidayat, salah satu pemikir publik terbesar di Indonesia saat ini. Ia berkata, bahwa generasi sekarang adalah generasi hibrida (bercampur aduk). Latar belakang orang tua datang dari beragam suku dan ras. Ini membuat identitas etnis dan ras menjadi begitu cair di Indonesia sekarang ini.

Pernyataan itu langsung menyentil diri saya. Saya memang hibrida, baik dari segi fisik maupun pemikiran. Kedua orang tua saya adalah kumpulan dari beragan suku, etnis dan ras. Ayah saya keturunan Ambon, Belanda, Portugis dan Batak, mungkin masih ada yang lainnya. Sementara, ibu saya keturunan Cina, Padang dan sedikit percikan Jawa Surabaya. Akhirnya, lahirlah manusia yang berambut keriting, bermata sipit, dan berbadan besar. Lanjutkan membaca Ada dan Hibrida

“Tuhan”

Justin Peters

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah lama, saya menghindari berbicara tentang konsep tuhan. Terlalu banyak konsep ini dibicarakan di berbagai tempat. Seringkali, tuhan dibicarakan dengan penuh sikap sok tahu. Semakin tidak tahu, orang justru semakin percaya diri, dan semakin sok tahu.

Dalam sejarah, konsep tuhan memang banyak mengundang kontroversi. Berbagai agama mencoba memahami dan menjelaskannya. Beragam tafsiran muncul. Di dalam proses, pengaruh politik kekuasaan pun semakin terasa, ketika orang berbicara tentang tuhan. Lanjutkan membaca “Tuhan”

Publikasi Terbaru: Mendidik Integritas

Marisol García Pulgar

KONSEP KESATUAN PRIBADI (EINHEIT DER PERSON) DI DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN JULIAN NIDA-RÜMELIN

Oleh Reza A.A Wattimena

dimuat dalam 

Studia Philosophica et Theologica, Vol. 18 No. 1, Maret 2018

Abstrak

Tulisan ini menjabarkan inti pandangan Julian Nida-Rümelin tentang konsep kesatuan pribadi sebagai proses pendidikan integritas di dalam tradisi pendidikan humanis. Metode yang digunakan adalah analisis kritis terhadap tulisan Nida-Rümelin di dalam buku Philosophie einer humanen Bildung, sekaligus dengan mengacu pada penelitian yang telah dilakukan oleh penulis artikel ini sebelumnya. Beberapa tanggapan kritis juga akan diberikan terhadap pandangan Nida-Rümelin ini. Mendidik integritas berarti mendidik manusia dalam keseluruhan unsur dirinya. Ia menciptakan keseimbangan yang merupakan hal yang amat penting di dalam tradisi pendidikan humanis.

Kata-kata kunci: Integritas, Kesatuan Pribadi, Pendidikan Humanis

Silahkan diunduh disini: Mendidik Integritas, Studia vol 18 no. 1 Maret 2018-29-39-1-10

Berdamai dengan Diri Sendiri

Etsy

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di era teknologi canggih. Komunikasi, transportasi dan hidup sehari-hari menjadi begitu mudah dan murah. Bahkan, manusia kini mulai mencari jalan untuk menciptakan kehidupan dengan teknologi yang ada. Tak berlebihan jika dikatakan, dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada, manusia kini menjadi „tuhan“ atas bumi.

Sayangnya, semua kemajuan itu tidak sejalan dengan kemajuan kebahagiaan manusia. Dengan kata lain, manusia tidak lebih bahagia, walaupun hidup di dunia yang penuh dengan kemudahan. Sebaliknya, berbagai penelitian menunjukkan, tingkat depresi dan bunuh diri justru meningkat di abad 21 ini. Pertanyaannya, apa guna semua kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, jika manusia justru semakin menderita? Lanjutkan membaca Berdamai dengan Diri Sendiri

Dunia yang Terus Mencari Bentuk

Andhika Zanuar

Oleh Reza A.A Wattimena

Dunia kini berada di persimpangan peradaban. Kita mencari pola yang paling sesuai untuk mengelola masyarakat dunia dengan segala perbedaan nilai dan ideologi yang ada. Jika gagal, perang berkepanjangan dan berbagai bentuk bencana lingkungan akan terjadi. Salah satu bentuk tata kelola masyarakat yang paling berhasil dalam sejarah adalah demokrasi liberal.

Di Indonesia, kata liberal memiliki makna yang jelek. Kata ini kerap disamakan begitu saja dengan peradaban Eropa yang menjadi pelaku penjajahan dan perbudakan di berbagai belahan dunia selama ratusan tahun. Namun, demokrasi liberal haruslah dibedakan dari imperialisme Eropa yang terwujud dalam berbagai bentuk penindasan tersebut. Ada lima hal yang kiranya perlu diperhatikan. Lanjutkan membaca Dunia yang Terus Mencari Bentuk

Tubuh dan Glorifikasi Kenikmatan

William Farges

Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa data dari United Families International di bawah ini mungkin bisa mencengangkan kita semua. 12% dari seluruh situs yang ada di internet berisi pornografi. Jumlahnya hampir menyentuh 25 juta situs. Jika dibedah lebih lanjut, setiap detiknya, ada hampir 30.000 orang sedang menyaksikan pornografi di internet. Dengan jumlah sebesar itu, industri pornografi kini menyentuh angka 4,9 Trilyun Dollar AS di seluruh dunia.

Banyak pula yang mengira, bahwa hanya pria yang doyan menonton video dengan isi pornografi. Anggapan ini bertentangan langsung dengan data yang ada. 1 dari 3 orang yang menyaksikan pornografi adalah perempuan. 13% perempuan mengaku, bahwa ketika bekerja di kantor, mereka menyaksikan video dengan isi pornografi. Pornografi merupakan salah satu tantangan besar di balik perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi yang melahirkan dunia siber. Lanjutkan membaca Tubuh dan Glorifikasi Kenikmatan

Indonesia yang Timpang

Creative Resistance

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Indonesia, kita hidup di negara yang timpang. Cukup pengamatan sederhana akan membawa anda pada kesimpulan tersebut. Ketimpangan mewujud secara nyata dalam hidup sehari-hari, mulai dari perilaku menggunakan kendaraan sampai dengan kebijakan presidensial. Ketimpangan tersebut juga memiliki dampak amat luas yang merusak.

Ketimpangan juga bukan merupakan masalah Indonesia semata, tetapi juga masalah dunia. Sharan Burrow, aktivis asal AS, menegaskan, bahwa “ketimpangan menghancurkan penghidupan seseorang, menghancurkan martabat diri dan keluarga dan memecah belah komunitas.” Hal serupa dikatakan oleh Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan. “Selama kemiskinan, ketidakadilan dan ketimpangan besar ada di dalam dunia kita, maka kita tidak akan pernah bisa sungguh tenang dan beristirahat.” Lanjutkan membaca Indonesia yang Timpang

Menyiasati Trauma dan Kebencian

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Dylan Roof membunuh sembilan orang di sebuah gereja di South Carolina, Amerika Serikat. Alasannya adalah karena ia membenci orang-orang kulit hitam. Robert Bowers, menurut dugaan, membunuh sebelas orang Yahudi yang sedang berdoa di Pittsburg, karena ia membenci orang Yahudi. Cesar Sayoc juga diduga mengirim belasan bom ke kantor-kantor Partai Demokrat AS dan kantor berita CNN, karena ia juga membenci mereka.

Di Indonesia, kita pun tak luput dari serangan mematikan yang berpijak pada kebencian semacam ini. Kota-kota besar Indonesia sudah kenyang dengan tragedi pembunuhan massal berdarah. Pertanyaan yang mendesak untuk dijawab adalah, apa akar dari semua kebencian ini? Pemikiran Gabor Mate, sebagaimana diulas oleh Abraham Gutman, kiranya bisa membantu kita. Lanjutkan membaca Menyiasati Trauma dan Kebencian

Tentang “Ketololan”

Louis Boshoff

Oleh Reza A.A Wattimena

Apakah anda tahu George Carlin, seorang komedian terkenal asal Amerika Serikat? Jika belum, coba cari tahu. Gaya komedinya tidak hanya lucu, tetapi juga amat sangat mendidik. Saya teringat satu perkataannya, “Jangan remehkan kekuatan orang-orang tolol dalam jumlah besar.”

Satu orang tolol saja sudah menyusahkan banyak orang. Apalagi, jika orang-orang tolol itu berkumpul, dan menyuarakan ketololannya? Itu pasti menjadi bencana besar. Walaupun begitu, kita perlu tahu terlebih dahulu, apa itu tolol? Lanjutkan membaca Tentang “Ketololan”