Ada dan Hibrida

WallHere

Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam salah satu acara untuk masyarakat luas di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) minggu lalu, saya mendengarkan satu ide yang amat menarik dari Komaruddin Hidayat, salah satu pemikir publik terbesar di Indonesia saat ini. Ia berkata, bahwa generasi sekarang adalah generasi hibrida (bercampur aduk). Latar belakang orang tua datang dari beragam suku dan ras. Ini membuat identitas etnis dan ras menjadi begitu cair di Indonesia sekarang ini.

Pernyataan itu langsung menyentil diri saya. Saya memang hibrida, baik dari segi fisik maupun pemikiran. Kedua orang tua saya adalah kumpulan dari beragan suku, etnis dan ras. Ayah saya keturunan Ambon, Belanda, Portugis dan Batak, mungkin masih ada yang lainnya. Sementara, ibu saya keturunan Cina, Padang dan sedikit percikan Jawa Surabaya. Akhirnya, lahirlah manusia yang berambut keriting, bermata sipit, dan berbadan besar.

Pemikiran saya juga amat hibrida. Saya dididik di Jakarta, Indonesia, dengan segala kerumitan dan keanehannya . Saya mendalami pemikiran dan ilmu pengetahuan Eropa cukup lama, terutama filsafat dan teori-teori sosial Jerman. Empat tahun terakhir, saya menelusuri jejak-jejak kebijaksanaan Asia, mulai dari India, Cina, Jepang dan Korea.

Namun, jika dipikir lebih dalam, apa yang bukan hibrida di alam semesta maha luas ini? Bahkan bisa dibilang, bahwa hibrida adalah karakter dari keberadaan, atau eksistensi semesta. Dalam kosa kata filsafat Jerman abad 20, „Hibrida sebagai Ada“. Atau dengan memainkan judul buku Martin Heidegger, „Sein und Zeit“ (Ada dan Waktu), rumusannya menjadi „Ada dan Hibrida“.

Ada dan Hibrida

Apa yang disebut sebagai manusia, atau Homo Sapiens, juga adalah sebuah campuran dari beragam hal yang sudah ada sebelumnya. Manusia berkembang dari organisme bersel satu, yang kemudian berevolusi jutaan tahun dalam hubungan dengan beragam mahluk hidup lainnya, sehingga memiliki kompleksitas sistem biologis yang luar biasa. Dari kompleksitas tersebut lahirlah kesadaran. Sel terkecil diri kita, manusia, secara harafiah diramu di dalam bintang-bintang maha besar alam semesta.

Hal serupa terjadi pada hewan. Reptilia, seperti buaya, cicak dan ular, berkembang dari Dinosaurus yang sudah punah jutaan tahun lalu. Beberapa penelitian arkeologi juga menunjukkan, bahwa burung pun juga merupakan keturunan dari beberapa jenis Dinosaurus di masa lalu. Hibrida sudah selalu merupakan ciri dasar dari semua hewan yang ada.

Bagaimana dengan tumbuhan? Pola yang serupa pun bisa ditemukan. Jejak-jejak spesies tumbuhan kuno dari jutaan, bahkan milyaran tahun yang lalu, masih bisa ditemukan di beragam tumbuhan yang ada sekarang ini. Sampai batas tertentu, perbedaan antara tumbuhan masa kini dengan tumbuhan yang sudah punah pun amatlah kecil, nyaris tak terlihat.

Kebudayaan manusia juga merupakan hibrida. Pada dasarnya, kebudayaan adalah cerita yang dirangkai manusia untuk memahami hidupnya. Cerita itu lalu menciptakan nilai-nilai dan pola perilaku tertentu. Sedikit penelitian akan menunjukkan, bahwa kebudayaan yang baru merupakan campuran dari beragam kebudayaan yang telah ada sebelumnya.

Agama pun juga merupakan hasil dari kebudayaan. Setiap agama, pada hakekatnya, adalah hibrida. Dua agama yang sangat dekat dengan hati saya saat ini, yakni Zen Buddhis dan Katolik. Keduanya adalah campuran dari beragam ajaran maupun kebudayan yang sudah ada sebelumnya.

Zen Buddhis adalah campuran dari ajaran Tao yang berkembang di Cina, dan ajaran Buddha yang berkembang di Nepal. Katolik merupakan campuran antara ajaran Yesus, ajaran Yahudi dan budaya Romawi Kuno. Keduanya adalah hibrida dari akar sampai tampilan fisiknya. Di dalam ajaran Katolik, misalnya, kita bahkan masih bisa menemukan jejak-jejak filsafat Mesir Kuno, bahkan filsafat India Kuno.

Kelupaan Akan Ada (Seinsvergessenheit)

Jika hibrida adalah ciri dari segalanya, mengapa masih ada orang yang takut akan keberagaman? Mengapa masih ada kelompok yang menghendaki keseragaman mutlak atas dasar agama ataupun ideologi tertentu? Disini, kiranya kita bisa belajar dari Heidegger. Alasan dari ini semua adalah kelupaan akan ada (Seinsvergessenheit), yakni kelupaan akan hibrida.

Ada tiga hal yang kiranya perlu diperhatikan. Pertama, kelupaan akan ada terjadi, karena ketidakberpikiran (Gedankenlosigkeit). Artinya, orang berpikir secara terbatas, yakni hanya untuk memanfaatkan apa yang ada. Berpikir, dalam arti sebenarnya, adalah memahami dengan menyatu dengan apa yang sedang dipikirkan. Ia adalah sebuah tindakan melebur, dan bukan hanya mencari manfaat semata.

Dua, ketidakberpikiran ini lalu menjadi kebiasaan, dan membudaya. Orang melupakan asal muasal dan hakekatnya sendiri, serta menjadi buta oleh keseragaman. Orang melupakan ciri hibrida dari segala yang ada. Ini juga berarti, orang melupakan kehidupan itu sendiri.

Tiga, sayangnya, keseragaman kini menjadi kecanduan. Di banyak tempat di dunia, kita menyaksikan gerakan yang ingin menyeragamkan masyarakat. Ini jelas bertentangan dengan ciri dasar dari alam dan kehidupan itu sendiri. Yang terjadi kemudian adalah konflik dan penderitaan yang berkelanjutan.

Bagaimana kita bisa keluar dari tiga hal ini? Jawabannya bisa diperoleh dari tradisi Zen, yakni dengan melihat kenyataan sebagaimana adanya. Artinya, kita bangun dari konsep-konsep dan ilusi yang bercokol di kepala, dan melihat kenyataan sebagaimana adanya disini dan saat ini, dengan segala kompleksitasnya. Ciri hibrida akan jelas tampak, beserta dengan kejernihan yang menjadi latar belakangnya.

Jadi, tunggu apa lagi?

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Ada dan Hibrida”

  1. karya diatas sepakat dengan apa yg saya alami.
    untuk benar2 mengerti dan menjalani kesadaran bahwa hidup itu hibrida, ada baik nya kita memupuk kehidupan spiritual setapak demi setapak. kita lihat dikehidupan sehari2 manusia berpendidikan tinggi tetapi buta nalar.
    karya diatas mudah dimengerti, sebab penjelasan begitu sederhana dan menyakinkan, tetapi untuk benar2 mendalami dan menjalankan makna nya kita memerlukan waktu.
    salam hangat !!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.