Tubuh dan Glorifikasi Kenikmatan

William Farges

Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa data dari United Families International di bawah ini mungkin bisa mencengangkan kita semua. 12% dari seluruh situs yang ada di internet berisi pornografi. Jumlahnya hampir menyentuh 25 juta situs. Jika dibedah lebih lanjut, setiap detiknya, ada hampir 30.000 orang sedang menyaksikan pornografi di internet. Dengan jumlah sebesar itu, industri pornografi kini menyentuh angka 4,9 Trilyun Dollar AS di seluruh dunia.

Banyak pula yang mengira, bahwa hanya pria yang doyan menonton video dengan isi pornografi. Anggapan ini bertentangan langsung dengan data yang ada. 1 dari 3 orang yang menyaksikan pornografi adalah perempuan. 13% perempuan mengaku, bahwa ketika bekerja di kantor, mereka menyaksikan video dengan isi pornografi. Pornografi merupakan salah satu tantangan besar di balik perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi yang melahirkan dunia siber.

Pornografi

Secara etimologis, pornografi berakar pada dua kata, yakni porne yang berarti pelacur, dan graphein yang berarti menulis. Maka, pornografi, secara harafiah, berarti menulis tentang pelacur. Definisi ini lalu berkembang menjadi pornografi pada abad 19 lalu. Ia dimaknai sebagai tindakan seksual yang dimuat di media, baik tulisan maupun video, dengan tujuan membangun rangsangan seksual di mata penontonnya.

Ada empat hal yang kiranya penting untuk diperhatikan. Pertama, pornografi adalah sebentuk eksploitasi tubuh. Tubuh manusia dilihat sebagai obyek pemuas kenikmatan semata, dan dilucuti dari unsur-unsur lainnya. Disini terjadi penurunan martabat kemanusiaan yang mudah sekali tergelincir pada perbudakan seksual dan perdagangan manusia (pelacuran dan pornografi banyak lahir dari perdagangan manusia lintas negara).

Dua, pornografi adalah soal kenikmatan sesaat. Kenikmatan dilihat sebagai nilai tertinggi, bahkan dengan mengabaikan nilai-nilai kehidupan lainnya. Korbannya pun diabaikan, demi tercapainya kenikmatan sesaat yang dikejar. Pornografi menyiratkan paham, seolah hidup adalah kumpulan kenikmatan sesaat yang dirangkai secara berurutan, tanpa memikirkan kepentingan dan hidup orang lain.

Tiga, para penikmat pornografi beralasan, bahwa itu lebih sehat, daripada berhubungan dengan pelacur. Tidak ada resiko penyakit kelamin, maupun resiko lainnya. Namun, cara berpikir keduanya adalah sama, yakni menjadikan manusia sebagai obyek pemuasan semata. Transaksi ekonomi tetap juga tak bisa membenarkan tindak menjadikan seseorang sebagai benda pemuas gairah semata.

Empat, tersebar luas pornografi di masyarakat juga merupakan tanda dari kegagalan pendidikan seks publik. Di Indonesia, seks ditabukan atas dasar ajaran agama tertentu. Akibatnya, hasrat seks yang terpendam tak terkelola dengan baik, dan pecah dalam keadaan-keadaan yang tepat. Ini, misalnya, tampil dengan jelas dalam merebaknya pornografi, pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap perempuan, baik di jalan raya, kendaraan umum, sekolah sampai dengan tempat kerja.

Sisi Gelap Pornografi

Pornografi mesti diwaspadai, karena ia memiliki bahaya-bahaya tertentu yang melekat padanya. Ia merusak tidak hanya pikiran pribadi, tetapi juga hubungan antar manusia. Seperti sedikit sudah disinggung, pornografi adalah gunung es bagi persoalan yang lebih besar, mulai dari ketimpangan ekonomi global, penyakit jiwa yang terabaikan, perbudakan sampai dengan perdagangan manusia antar negara. Ada empat hal yang kiranya mesti diperhatikan.

Pertama, pornografi merusak pandangan kita tentang tubuh. Seperti dijelaskan oleh Merleau-Ponty, filsuf Prancis, tubuh adalah alat manusia untuk mendunia. Dengan tubuhnya, manusia bisa berada di dunia dalam hubungan dengan tubuh-tubuh lainnya. Di dalam pornografi, ciri ini disempitkan sedemikian rupa, sehingga tubuh hanya menjadi mesin seks pemuas dahaga kenikmatan sesaat semata.

Kedua, pornografi merupakan bentuk luar dari komodifikasi tubuh. Ini kiranya semakin kuat terasa di era neoliberalisme ini, dimana segala sesuatu diukur dan bahkan bisa dibeli dengan uang. Ketika tubuh bisa dihargai, bahkan ditukar, dengan uang, maka harkat dan martabat manusia menjadi tercoreng. Inilah kiranya makna harafiah dari korupsi, yakni kemerosotan atau pembusukan arti dari sesuatu.

Tiga, pornografi sejatinya meninggalkan trauma yang tersembunyi di balik kenikmatan sesaat. Di dalam tradisi Zen, ini seperti menjilat madu di atas pisau yang sangat tajam. Perih dan luka adalah harga yang mesti dibayar, persis setelah kenikmatan sesaat lenyap. Pornografi tidak hanya merusak pandangan kita tentang tubuh, tetapi menumpulkan orang dari makna seks yang sesungguhnya.

Empat, pornografi juga menumpulkan orang dari intimitas yang sejati. Seks adalah ekspresi dari perasaan intim antara manusia. Di dalamnya, ada kepedulian, cinta dan tanggung jawab. Semua ciri luhur itu dilucuti oleh pornografi, dan kegiatan seks pun menjadi semata pengejaran kenikmatan sesaat yang jauh dari memberikan rasa puas yang sesungguhnya. Orang yang tenggelam dalam pornografi sulit untuk membina hubungan intim yang penuh hormat antar manusia, karena pikirannya telah teracuni oleh sisi gelap pornografi itu sendiri.

Melampaui Pornografi     

Sebagai sebuah gejala sosial, pornografi jelas membutuhkan tanggapan yang tepat. Kutukan moral hanya akan menjadi buih yang tak berguna, ketika dilontarkan begitu saja ke pornografi. Puritanisme atas dasar agama hanya akan menjadi buih kemunafikan, ketika tidak dipadu dengan langkah-langkah strategis menanggapi pornografi. Tiga hal kiranya penting untuk diperhatikan.

Pertama, akar dari merebaknya pornografi adalah kesalahan berpikir mendasar soal seks dan tubuh manusia. Maka dari itu, jalan keluar yang paling tepat adalah dengan melakukan pendidikan seks yang waras. Seks dan tubuh adalah bagian dari kehidupan yang mesti dimaknai secara tepat melalui kesadaran dan aturan hidup bersama yang masuk akal.

Dua, pandangan Zen kiranya tepat menjadi bagian penting dari pendidikan seks dan tubuh. Inti utama dari Zen adalah hidup dari saat ke saat dengan kesadaran penuh, walaupun nikmat dan derita datang silih berganti. Ketika hasrat seksual muncul, karena itu merupakan bagian alami dari manusia, maka hasrat itu tidak ditolak, ataupun dikejar. Ia cukup disadari sebagai bagian dari kehidupan.

Kesadaran ini adalah tanda dari kebebasan. Pornografi secara khusus, dan seks secara umum, pun tak lagi menjadi kecanduan yang memenjara diri. Mengembangkan kesadaran adalah proses yang sulit, namun mungkin dan amat penting untuk dipelajari. Ini juga menjadi kunci untuk keluar dari beragam kecanduan lainnya, mulai dari kecanduan rokok, belanja sampai dengan kecanduan narkoba.

Tiga, pornografi adalah industri yang dibangun atas dasar yang meragukan. Banyak artis pornografi hidup dalam kemiskinan, sehingga mereka terpaksa menjadi artis porno, karena tuntutan ekonomi. Ketimpangan global menjadi akar dari masalah ini, terutama karena banyak artis porno yang meninggalkan negara asalnya, persis karena himpitan ekonomi tersebut. Jika ketimpangan ekonomi, baik dalam masyarakat maupun di tata politik global, bisa dikurangi, maka industri pornografi juga pasti akan kehilangan unsur kuncinya.

Pornografi adalah persilangan antara tubuh dan glorifikasi kenikmatan. Kenikmatan dilihat sebagai jalan hidup satu-satunya, pun dengan mengabaikan banyak nilai-nilai berharga kehidupan lainnya. Tubuh pun direndahkan menjadi obyek yang bisa dibayar dengan uang, demi menghasilkan kenikmatan-kenikmatan sesaat semata. Khotbah dan himbauan moral sama sekali tak berguna di dalam upaya melampaui pornografi. Kesadaran dan pemahaman adalah satu-satunya jalan.

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

9 tanggapan untuk “Tubuh dan Glorifikasi Kenikmatan”

  1. sepakat dgn tulisan diatas, ingin saya tambahkan, pengaruh “bayangan, impian dsb dsb” di kepala yg menyelimuti kehausan pornografie, apalagi kalau agama “melarang” nya. kita lihat di negara2 barat pornografie bisa didapat dimana2 dalam bentuk ada, dibandingkan dgn negara2 timur yg sok “suci dan taat agama”, tapi di balik tirai, pornografie mengganas , bahkan tanpa batas, seperti mahluk tak bermoral, hanya nafsu sex belaka.
    banya salam !

    n.b.: – bernie glasmann meninggal
    (peacemaker.org)
    – minggu lalu thay kembali ke
    kuil, tempat dia memulai zen.
    domisil terachir. (bisa diliat di
    youtube)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.